logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Misi Pertama

Naura dibuat terperangah dengan seseorang yang tiba-tiba mengambil bukunya dengan tidak sopan. Naura mendongakkan kepalanya. Ia mendengus, lagi-lagi cowok itu. Arpan dengan coolnya duduk berseberangan dengan Naura. Matanya tampak pokus membaca belakang sampul buku yang ia rebut dari tangan Naura.
"Lo mau apa, sih? Balikin buku gue!" Naura bangkit, berusaha merebut kembali buku yang kini ada digenggaman Arpan.
Arpan semakin menjauhkan tangannya dari Naura. Mau tak mau Naura akhirnya menyerah juga. Ia kembali duduk di kursinya, melipatkan kedua tangan di atas meja. Sedangkan matanya menyorot tajam ke arah Arpan yang tengah fokus membuka tiap lembar bukunya.
"Lo ngga bosen apa, baca novel galau yang ujungnya malah membuat luka di hati Lo semakin bersarang? Malah makin betah sakit itu berada di hati Lo."
Naura tidak menjawab. Menurutnya Arpan terlalu mengikut campuri urusan pribadinya. Padahal mereka baru saling kenal seminggu yang lalu. Naura mendelikkan mata, lebih memilih fokus pada ponselnya. Arpan masih asik membuka lembar demi lembar halaman. Hingga sampai pada bagian tengah Arpan menemukan sebuah foto berukuran sedang yang ia yakini itu adalah Naura dan yang di sampingnya adalah kekasihnya. Foto yang romantis. Surya merangkul pundak Naura dengan senyum simpulnya, dan Naura yang tampak bahagia di foto itu.
"Lo masih nyimpen, nih foto?" Arpan tersenyum sinis mengamati foto itu dengan intensnya. Bahkan kepalanya sampai dimiringkan untuk bisa melihat jelas setiap objek yang terpotret kamera.

"Pantesan fokus banget. Kirain emang bener baca buku, taunya lagi mandangin nih foto." Naura mendengus. Ingin membantah kendati kenyataannya begitu.
"Gue pernah ngomong apa sama Lo?" tanya Arpan seraya menyodorkan kembali buku yang tadi ia rebut. "Lo boleh mengingat kenangan Lo sama dia, tapi setelahnya lepasin kenangan itu. Bukan terus dikenang." Arpan memundurkan tubuhnya, punggungnya ia sandarkan di bahu kursi. "Kayaknya gue harus bantuin Lo ngelepasin kenangan Lo."
Naura yang sedari tadi masih fokus pada ponselnya kini beralih menatap Arpan dengan kening berkerut. "Bantuan, Lo?" Tanya Naura. "Lo pakar cinta emangnya? Sampai-sampai orang yang ngga Lo kenal sama sekali, Lo urusin hidupnya."
Arpan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia balas menatap tatapan tajam Naura. "Karena gue pernah ada di posisi Lo, jadi gue tau caranya agar Lo bisa move on dari dia.
Mau sampe kapan Lo mikirin cowok yang jelas-jelas ngga mikirin Lo di sana. Bahkan ngasih penjelasan ke Lo lewatpesan WhatsApp atau email Lo juga dia ngga ada niat kayaknya."
Naura tersontak kaget, kenapa Arpan bisa tau kalo Surya sama sekali tidak menghubunginya untuk memberi penjelasan.
"Tebakan gue bener, kan?" Mendengar pertanyaan Arpan, Naura kembali menetralkan ekspresi wajahnya.
"Iya, Lo bener," jawab Naura dengan nada malas.
Arpan merogoh saku seragamnya dan mengambil selembar kertas juga bolpoin yang selalu ia selipkan. Arpan menyodorkannya pada Naura membuat gadis di hadapannya itu mengerutkan kening, bingung. Tidak mengerti dengan kertas yang Arpan berikan padanya.
"Tulis tempat yang paling sering Lo kunjungi sama mantan Lo itu," titahnya. "Tempat yang penuh dengan kenangan."
"Buat apa?" tanya Naura sinis. "Lo sebegitu inginnya ngebantu gue move on? Kita baru kenal, dan gue ngga bisa percaya gitu aja sama Lo."
"Tulis dulu aja, apa yang gue suruh tulis!"
Naura mendengus sebal, ia paling tidak suka berdebat. Akhirnya Naura terpaksa melakukannya. Ia meraih kertas dan bolpoin yang tadi Arpan sodorkan padanya.
Naura mulai menulis beberapa tempat yang ia yakini itu adalah tempat yang paling menyimpan kenangannya dengan Surya. Tak berapa lama Naura kembali mengembalikkan kertas serta bolpoinnya pada Arpan dengan ketus. Tanpa melirik sedikitpun ke arahnya.
'Perpustakaan'
'Taman Kota'
'Bukit Bintang'
"Gue tebak, Bukit Bintang pasti tempat jadian kalian. Secara tempatnya romantis buat nembak cewek. Disaksikan benda langit malam dan, keindahan Kota Bandung di bawahnya. Iya, kan?" tanyanya seperti orang yang tengah mengintrogasi.
Naura hanya mengangguk. Karena kenyatannya memang benar Bukit Bintang adalah tempat yang menjadi saksi bisu kisahnya dengan Surya di mulai. "Terus?"
"Kita mulai dari sana. Lo siap, kan?" tanya Arpan, tangannya sibuk melipat kertas dan kembali memasukkan pada saku seragamnya.
Naura melipatkan kedua tangannya di atas meja. Matanya menatap Arpan dengan Alis yang saling bertautan. Naura masih tidak mengerti arah pembicaraan yang dimaksud Arpan. Apa yang harus di mulai? Kenapa Naura harus ke Bukit Bintang itu lagi?
"Maksud Lo apa, sih?" Tanya Naura yang mulai jengah dengan sikap sok ikut campur Arpan.
"Bantuin Lo," jawab Arpan tak kalah ketus. "Sore nanti gue ke rumah Lo." Naura bersiap untuk kembali melayangkan pertanyaan. Namun Arpan sudah terlebih dahulu memberi isyarat agar Naura tidak bertanya lagi.
"Jangan bertanya apa-apa lagi! Lo mau move on, kan?" Naura mengangguk. "Kalo gitu coba ikutin saran gue. Apa salahnya mencoba, kan?"
Naura terdiam sejenak, mencoba berpikir. Memang benar, Naura sangat ingin terbebas dari bayang-bayang rasa sakit yang disebabkan oleh Surya. Terlebih sudah sebulan lamanya tidak ada tanda-tanda Surya akan kembali dan memberinya penjelasan.
"Oke, gue ikutin saran Lo. Tapi kalo ini ngga berhasil, Lo harus stop ikut campur masalah di hidup gue." Naura menatap Arpan yang tengah tersenyum kecil kepadanya.
"Good, girl! Gue jemput Lo nanti sore!"
Arpan bangkit dari duduknya, berniat pergi kendati perkataan Naura membuatnya menahan niatnya.
"Mm ... gue cuma mau bilang makasih udah nganterin gue pulang. Helm Lo---"
"Simpen di Lo aja. Dari mulai hari ini Lo bakal sering keluar sama gue. Gue duluan, bye!"
Arpan melenggang pergi, meninggalkan Naura yang masih terdiam dengan pikirannya. Antara ragu dan yakin. Naura baru mengenal lelaki itu, tapi kenapa kedatangan Arpan seperti telah direncanakan takdir.
***
Seperti yang diperintahkan Arpan tadi siang di sekolah. Kini Naura tengah bersiap-siap untuk pergi keluar bersama lelaki itu. Sebenarnya Naura sangat malas untuk pergi keluar, apalagi ke tempat di mana baginya adalah sejarah kisahnya dengan Surya. Sejarah yang akan membuat hatinya semakin teriris. Kendati mau bagaimana pun Naura harus melupakan Surya. Semoga saja Arpan benar-benar bisa membantunya.
Suara khas motor trail terdengar dari pekarangan rumah Naura. Naura bangkit dari kursi rias, membenarkan beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan. Kemudian ia melangkah ke arah kasur dan mengambil tas selempang dan helm milik Arpan, sebelum akhirnya keluar dari kamar untuk menemui Arpan.
Sesampainya di ruang depan, Naura melihat Arpan yang tengah duduk ditemani Tia--Mama Naura. Mereka terlihat tengah berbincang-bincang.
"Eh, Ra ini ada temen kamu, katanya mau ngajak kamu pergi. Mamah, sih boleh aja, tapi jangan pulang larut malem yah," ucap Tia saat Naura baru saja datang.
Naura menatap Arpan lekat. Penampilannya berbeda drastis dengan penampilannya jika sedang mengenakan seragam sekolah. Penampilannya kali ini benar-benar cool. Dengan postur tubuh yang tinggi dan berat badan yang tidak terlalu kurus. Kulit putih, dengan mata tajamnya serta, senyum yang manis menurut Naura. Arpan menggunankan jaket bomber dengan kaus putih sebagai dalamannya. Rambutnya dibiarkan sedikit acak-acakan. Hari ini Arpan benar-benar TAMPAN. Ah ... Apa yang Lo pikirin Naura.
Tidak hanya Naura, Arpan pun sama terpikat nya dengan penampilan Naura hari ini. Rambut sebahunya dibiarkan terurai, tak lupa Naura menyelipkan jepitan berbentuk kupu-kupu di sisi kiri rambutnya. Polesan make up yang natural dengan lesung pipi di pipi kanannya. Dagunya yang membentuk seperti patahan semakin membuatnya terlihat cantik dan manis.
"Kok kalian berdua malah pada bengong? Jadi jalan gak?" Tanya Tia yang sedari tadi memperhatikan Naura dan Arpan yang tengah saling pandang.
Naura mengerjap, tersenyum kikuk lantas menyalami Tia. "Naura berangkat dulu ya, Ma."
"Iya sayang, hati-hati di jalannya. Nak Arpan jagain anak Tante, ya," ucap Tia saat Arpan.
"Siap, Tan." Arpan bangkit dari duduknya. "Kalo gitu kita berdua pamit dulu ya, Tan." Arpan kembali menyalami Tia.
"Kita mau ngapain di sana?" Tanya Naura saat hendak menaiki motor Arpan.
"Naik aja dulu, nanti juga Lo tau," jawab Arpan yang sudah lebih dulu naik ke motornya. Ia memasang helm jpxnya.
Dengan pasrah Naura pun memakaikan helm yang ia bawa ke kepalanya, kemudian menaiki motor Arpan. Motor itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan pekarangan rumah Naura.
Entah apa yang harus Naura lakukan nanti di sana. Apa Naura akan sanggup menginjakkan kaki ke tempat yang pernah menjadi tempat terindah dalam hidupnya. Apa ia sanggup menahan tangisnya agar tidak jatuh di depan Arpan (Lelaki yang baru ia kenal). Perasaan Naura kali ini benar-benar tak menentu.

Komento sa Aklat (120)

  • avatar
    Bwang Mrh

    bagus

    18/04

      0
  • avatar
    Anna14Anna

    keren banget ceritanya

    23/03

      0
  • avatar
    AdeliaSela

    ceritanya sangat menarik sekali

    14/02

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata