Jalanan kota Bandung terlihat padat oleh kendaraan yang berlalu-lalang. Seperti biasa, tidak ada kata lengang di Kota penuh cerita ini. Kota yang selalu disebut sebagai Kota indah untuk bercinta. Mungkin karena cerita Dillan dan Milea salah satunya. Namun tak bisa dipungkiri berbagai tempat menakjubkan dan romantis bisa kita jumpai di Kota ini. Seperti tak pernah habis setiap harinya. Selalu penuh dengan orang yang sekedar menongkrong atau yang hanya berniat menenangkan pikirannya. Terlebih lagi waktu sore adalah waktunya para pencari nafkah untuk pulang ke rumah peristirahatannya. Kendaraan para pekerja yang memenuhi jalanan, semakin membuat riuh suasana Kota. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang Naura maupun Arpan obrolkan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Ya, benar apa yang kalian pikirkan. Sore ini Naura diantar pulang oleh Arpan (Lelaki yang Naura temui di Perpustakaan pagi tadi). Entah bagaimana Naura bisa mengiyakan ajakan Arpan. Kejadiannya seperti memang sudah diatur oleh takdir. Awalnya .... Bel pulang sekolah sudah berlalu setengah jam yang lalu. Namun, Naura harus pulang terlambat karena ada beberapa kegiatan yang harus ia selesaikan. Apalagi butuh beberapa menit untuk mencari buku paket yang Naura butuhkan untuk pekerjaan Rumahnya. Ayu yang sudah dijemput orang tuanya karena ada acara keluarga. Akhirnya mengharuskan Naura untuk ke Perpustakaan sendiri. Untungnya masih banyak Kakak kelas yang masih berkeliaran di dalam Perpus atau sekitarnya. Meskipun bukan cerita horor tetap saja ketika harus ke Perpustakaan Sekolah di Waktu Sore seperti ini siapa yang tidak akan takut. Langkah Naura terhenti oleh seseorang yang tiba-tiba berada tepat di hadapannya, dengan motor trail berwarna antara perpaduan hijau dan hitam. Detik yang lalu, Naura hampir dibuat jantungan karena suara klakson milik motor Arpan (Pemilik motor trail itu). Naura mengetahui saat Arpan membuka helm jpx yang berwarna selaras dengan warna motornya. "Sorry, gue ngga bermaksud buat ngaggetin Lo," ucap Arpan saat Naura melangkah ke arahnya. "Iya gapapa," potong Naura dengan senyum kecilnya. "Eh, tunggu!" Langkah Naura lagi-lagi terhenti. Ia kembali menoleh ke arah Arpan yang kini sudah kembali mensejajarkan posisinya dengannya. "Lo, pulang naik apa?" Tanya Arpan. "Gue pulang naik Bis," jawab Naura seadanya. Naura kembali melangkah, kendati lagi-lagi Arpan menahannya.Keduanya saling terpaku satu sama lain, saat tangan kiri Arpan mencekal tangan kanan Naura. Sadar akan hal itu, Naura buru-buru memalingkan pandangannya, diikuti oleh Arpan yang juga melepaskan cekalannya pada Naura. "Gue yang nganter Lo pulang! Jam segini mana ada Bis lewat. Kalaupun ada pasti bakal sampe malem Lo nunggu di sini." "Ngga perlu, gue pulang sendiri aja. Bisa naik taksi atau pesen ojek online," tolak Naura dengan halus. "Ngga, bahaya!" Arpan turun dari motornya, melepas pengikat helm cadangan dari jok belakang kemudian memasangkannya pada Naura. Naura membatu di tempat, ia bahkan belum sempat menolak. Sorotan dari netra tajam berwarna hitam pekat itu terlihat jelas kali ini. "Ayo naik!" Naura mengerjap, tersadar dari lamunannya. Ia bahkan tidak tahu Arpan sudah menaiki motornya lagi. Memalukan sekali. "Lo masih betah di sini?" Tanya Arpan. "Eh ...." Tanpa berpikir lama Naura langsung menaiki jok belakang motor Arpan. *** Kawasan arah Rumah Naura cukup lengang. Tidak ada lagi bunyi klakson atau polusi udara yang membuat sesak napas. Namun suasana di keduanya masih sama, hening. Naura menatap sendu keindahan matahari yang mulai terbenam. Warna keemasannya yang begitu indah. Di temani Gunung-gunung yang menjulang tinggi. Senja yang indah. Senja yang selalu ditunggu Makhluk Bumi. Namun .... Semuanya berbeda. Tidak ada lagi canda. Tidak ada lagi saling berbagi cerita dalam harapan. Tidak ada lagi kebiasaan-kebiasaannya dengan Surya dulu. Senja kali ini, adalah kehilangan yang akhirnya membawanya pada kehampaan. Tanpa Naura sadari Arpan memperhatikannya di balik spion. Arpan tau, Wanita yang kini bersamanya tengah merasakan bagian paling menyakitkan dari sebuah percintaan. Sorot matanya tidak bisa terus-terusan membohongi semua orang. Ada sesak di sana yang perlahan semakin merobek luka. Ada luapan emosi yang ingin Naura lontarkan tapi terpaksa ditahan. Dibiarkan menggumpal dalam rongga hatinya. Arpan tahu, cairan bening dari pelupuk matanya terus meronta meminta dikeluarkan. Kendati sang pemilik menolak dengan berpura-pura tegar. "Ra," panggil Arpan mencairkan suasana, agar Naura tidak lagi mengingat kenangan-kenangannya dengan lelaki yang telah menyakitinya. "Iya?" "Lo mau beli sesuatu dulu, atau---" "Ngga ada, pulang aja, " jawab Naura seadanya. "Lo kenapa pulang sore?" tanya Arpan lagi. Masih berusaha untuk mencairkan suasana. "Nyari buku buat tugas. Lo sendiri kenapa pulang sore?" Naura memaksakan diri untuk balik menanyai Arpan. Tak enak juga sudah baik diantarkan pulang. Tapi ditanya hanya dijawab iya, ngga, dan sebagainya. "Keasikan eskul musik, hehe." Kali ini Naura hanya menjawabnya dengan ber'hmm' saja. Arpan menarik napas perlahan. Sebaiknya ia tidak mengatakan hal apapun lagi. Dari caranya menjawab sudah bisa diartikan jika Naura tak ingin banyak ditanya. Wanita hanya butuh keheningan saat sesak tengah menjalar di Rongga Hatinya. Tidak diganggu. Tidak juga dilempari berbagai pertanyaan yang hanya akan membuat keadaan hatinya semakin memburuk. Selang beberapa menit, motor milik Arpan tepat berhenti di depan gerbang berwana hitam yang tingginya hanya sebahu orang dewasa. Nampak jelas Rumah minimalis dengan warna cat dinding putih gading. Tak lupa di sekitar halaman rumah pot-pot bunga berukuran kecil tersusun dengan rapi. Tampak subur dan terawat. Sudah jelas pemilik Rumah itu sangat menyukai tanaman. Naura turun dari motor Arpan dengan mimik muka kebingungan. Pasalnya Naura sama sekali tidak mengarahkan jalan pada Arpan karena sepanjang perjalanan ia hanya melamun. Bahkan Naura tidak merasa Arpan menanyai arah jalan Rumahnya. Lantas kenapa Arpan bisa sehafal itu? Padahal baru satu kali Arpan mengantar Naura pulang. "Kok, Lo bisa tahu rumah gue? Gue kan ngga ngasih tahu Lo jalan---" "Gue pamit." Belum selesai Naura berbicara Motor yang dikendarai Arpan telah melaju kencang meninggalkan pekarangan rumahnya. Bahkan Naura belum sempat mengembalikan helm cadangan Arpan. Siapa laki-laki itu? Ah, sudahlah ... Mungkin gue terlalu mikirin Surya. Naura meletakan tas sekolahnya di meja belajar. Membuka sepatu yang seharian tadi membuat kakinya sesak. Ia mengambil benda pipih yang ada di saku seragamnya. Ia membuka ikon hijau bergambar gagang telepon. Tampak beberapa pesan masuk. Kendati tak ada perubahan pada satu kontak yang Naura sematkan. Masih dengan centang satunya. 'Kita putus ya, Ra. Lupain aku. Kamu pasti bahagia.' Begitulah kira-kira pesan terakhir dari Surya. Setelahnya nomor itu bak hilang ditelan Bumi. Mendadak tak bisa dihubungi. Naura menyimpan ponselnya di meja. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya memilih bangkit menuju kamar mandi.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
18/04
0keren banget ceritanya
23/03
0ceritanya sangat menarik sekali
14/02
0Tingnan Lahat