logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Arpansyah Grysvian

Bel kebebasan menggema ke setiap sudut ruangan, membuat para siswi yang sedari tadi menatap lesu ke papan tulis bersorak ria. mata yang tadi begitu terlihat sayu berubah penuh binar. Guru yang sedari tadi memberi pasokan ilmu fisika mau tak mau harus menghentikan tugasnya. Para siswi berhamburan keluar kelas setelah guru pergi, tujuannya adalah mengisi perut yang sudah minta jatah.
"Kantin yuk!" ajak Ayu pada Naura yang masih sibuk memasukkan alat tulisnya ke dalam ransel.
Naura hanya mengangguk, lantas bergegas membereskan peralatan sekolahnya itu. Setelah dirasa tak ada yang tertinggal mereka berdua lantas bergegas pergi menyusul siswi yang lain ke kantin.
"Lo tahu, pelajaran yang diterangin sama Bu Siska bikin kepala gue pusing. Bisa-bisanya gue dulu daftar IPA. huh!" keluh Ayu saat mereka berdua telah sampai di antrian kantin. "Ngantri lagi!"
"Ngeluh mulu kerjaan lo, Yu. Udah, khusus minuman gue yang bayarin, deh."
Mendengar itu sontak membuat Ayu mengembangkan senyum dengan sempurna. wajah kusutnya tadi mendadak hilang.
"Ah ... Lo emang sahabat gue, deh. Gue mau es taro ya, Ra," pintanya.
"Iya."
Naura pun lantas mengambil note yang diberikan pelayan kantin, menuliskan beberapa pesanannya. lantas pelayan itu dengan senang hati menerima dan menyiapkan pesanannya.
Di tengah-tengah antrian itu, Naura mendadak menghentikan atensinya pada seorang cowok yang berdiri di pintu masuk kantin. Cowok itu berjalan seperti menuju ke arahnya berdiri. Naura terus menajamkan atensinya, hingga akhirnya ia mengenali cowok itu. ya, Arpan. Cowok yang tadi pagi ia temui di perpustakaan.
ah, kenapa harus bertemu lagi di sini.
"Hai! baru pesan ya?" tanya Arpan saat ia sudah berdiri persis di samping Naura. Membuat Ayu mengernyitkan alis.
"Lo kenal dia, Ra?" tanya Ayu. "Perasaan gue belum pernah liat lo di sekolah ini."
"Gue murid baru di kelas IPS," jawab Arpan.
Ayu mangut-mangut mengerti. "Pantesan gue baru lihat. oh iya, kok kalian bisa saling kenal."
Naura menatap sahabatnya yang juga tengah menatapnya dengan penuh pertanyaan. Sesaat kemudian Ayu menyunggingkan senyum jail. Tangannya mencolek lengan Naura.
Tak berapa lama pesanan mereka berdua telah siap, mereka pun mengambilnya. Naura bergegas mengajak Ayu untuk cepat-cepat pergi mencari meja.
"Kita duluan, ya."
Arpan hanya mengangguk seraya menyunggingkan senyum. matanya terus awas pada Naura yang sudah melangkah menjauhinya dan duduk di salah satu kursi kantin. seulas senyum kecil terbesit di bibirnya.
"Kok, lo bisa kenal murid baru itu, Ra? kenal di mana? Atau jangan-jangan lo ada something sama tuh anak baru?"
Ayu langsung melemparkan banyak pertanyaan saat mereka baru saja mendapatkan tempat duduk. Naura duduk di kursi yang langsung menghadap ke arah sahabatnya itu.
"Apa, sih! Gue enggak ada hubungan apa-apa sama Arpan," pungkas Naura.
"Hah!" Ayu memekik. Membuat beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. "Eh, sorry, sorry."
Naura hanya menghela napas pelan. Kebiasaan sahabat satu-satunya itu, tidak bisa mengecilkan suaranya yang cempreng.
"Lo udah kenal namanya juga?" tanya Ayu.
Naura hanya mengangguk. Ia lebih fokus pada mie ayam di hadapannya.
"Ceritain dong!" Ayu mengguncangkan tangan Naura yang berada di atas meja.
Lagi-lagi Naura menghel napas pelan. "Gue ketemu sama dia tadi pagi di perpus," ucap Naura.
"Terus?"
"Ya kenalan. udah."
"Udah gitu aja?"
Lagi-lagi Naura hanya mengangguk.
"Enggak ada adegan kayak di film-film gitu? atau kayak di cerita? Enggak sengaja ketabrak, atau enggak sengaja ngambil buku yang sama. Atau enggak sengaja nyenggol rak sampe buku-buku pada jatuh terus tuh cowok ngelindungin Lo."
Naura menggeleng-geleng kepala. Ayu hanya tidak tahu saja apa yang tadi pagi terjadi di perpustakaan, itu lebih menegangkan dari yang Ayu sebutkan. Bahkan Naura masih mengingat jelas bagaimana tatapan Arpan yang begitu dekat, hingga Naura dapat melihat dengan jelas bola mata coklat muda milik cowok sok kenal itu.
***
"Naura!"
Naura mengehentikan langkahnya saat tiba-tiba Arpan memanggil namanya. Arpan melangkah mendekatinya dengan senyum yang tak pernah hilang di wajahnya yang tampan itu.
"Iya. kenapa?"
"Lo tahu ruang kepala sekolah?" tanya Arpan yang dibalas anggukan oleh Naura.
"Gue mau ke ruang kepsek, mau ngasih berkas yang diminta sama kepsek. Lo mau 'kan anterin gue ke ruangannya?"
Naura tampak berpikir. Apa Naura harus berbaik hati dan mengantarnya.
"Mau ya, pliss!"
Tak butuh waktu lama akhirnya Naura pun mengangguk.
"Yaudah. Ikut gue!"
Arpan tersenyum senang. "Makasih, Ra."
Naura hanya mengangguk. Lantas mereka berjalan beriringan menuju ruang kepala sekolah. Sepanjang langkah Arpan terus berusaha menciptakan obrolan hangat pada Naura. Namun Naura hanya menjawab seadanya tanpa berniat bertanya kembali.
"Lo masih galau?" tanya Arpan kemudian.
Naura menoleh ke arahnya sekilas. Kemudian menggeleng kuat.
"Kata siapa gue galau," sahut Naura. "Gue enggak galau. Lo nya aja yang tadi pagi sok kenal."
Arpan terkekeh. "Udah jelas-jelas gue lihat lo nangis sambil pegang tuh novel. Kelihatan banget kalo buku itu banyak kenangan sama seseorang."
"Itu bukan urusanmu," jawab Naura datar.
Arpan berdecak kecil. "Gue tahu emang bukan urusan gue, tapi gue enggak suka kalo lihat cewek nangis. Apalagi nangisin cowok."
Naura menghela napas pelan. Tak mau menimpali ia lantas menghentikan langkahnya.
"Udah sampai," ucapnya.
"Oh, oke."
"Kalo gitu gue ke kelas, ya."
Naura kembali berbalik, namun langkahnya terhenti saat Arpan kembali memanggilnya.
"Thanks."
Naura hanya menanggapi dengan anggukan dan senyuman.
"Jangan ngegalauin cowok. Kalo orang itu pergi, berarti itu pertanda bahwa bahagiamu bukan terletak di orang itu. Lo pasti bisa dapat yang lebih baik dari dia."
Naura tertegun. Sedangkan Arpan tersenyum ke arahnya. Meraka saling pandang selama beberapa detik. Sebelum akhirnya Naura mengerjap saat Pak kepala sekolah hendak keluar dari ruangannya. Arpan pun masuk ke dalam ruangan itu setelah melambaikan tangan pada Naura.
'Arpansyah Grysvian'
Begitu tadi yang terdengar oleh Naura saat Pak Kepsek menyebut namanya. Naura menyunggingkan senyum. Ah, apa yang terjadi. Kenapa setiap kali Arpan mengeluarkan kalimat majasnya selalu berhasil membuat Naura merasa tenang.
Naura dengan cepat menggelengkan kepalanya. Tangannya mengusap wajahnya, lantas kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti.

Komento sa Aklat (120)

  • avatar
    Bwang Mrh

    bagus

    18/04

      0
  • avatar
    Anna14Anna

    keren banget ceritanya

    23/03

      0
  • avatar
    AdeliaSela

    ceritanya sangat menarik sekali

    14/02

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata