logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Because of You

Because of You

Winda Pio


Prolog

Ruangan perpustakaan masih sepi pagi ini, mungkin karena belum terlalu banyak siswa yang datang. Biasanya setiap hari Selasa Murid sepuluh akan berhamburan ke sini untuk mengambil buku pelajaran yang akan dibahas oleh Guru mata pelajarannya. Atau sekedar mengambil buku cerita kekosongan di kelas.
Sepi seperti ini, suasana yang pas untuk hati Naura. Setidaknya ia bisa menenangkan dirinya di perpustakaan. Tanpa mendengarkan teman-teman sekelasnya. Bukan hanya itu. Naura tidak mau mendengar berbagai pertanyaan yang orang-orang lemparkan tentang putusnya hubungan ia dengan Surya. Meski sudah diperingatkan untuk tidak mengikut campuri. Kebiasaan kepo tetap tidak bisa dihilangkan. Bagi Naura menjelaskan sedetail apapun orang hanya akan ber'oh' kemudian berlalu seolah tidak peduli. Itu hanya akan membuat Naura semakin tertekan dengan rasa sakitnya.
Naura melangkah menyusuri setiap lorong demi lorong. Raut wajahnya datar. Matanya menatap jejeran buku yang tersusun rapi itu dengan hampa. Sampai akhirnya berhenti pada salah satu rak paling ujung, tempat favoritnya dengan Surya kala itu. Dimana mereka menghabiskan waktu dengan tumpukan novel-novel lama dan beberapa artikel-artikel yang menurut pihak sekolah sudah tidak diminati Para Siswa. Di sinilah tawa dan canda selalu menjadi pengisinya. Namun hari ini ....
Naura mengambil salah satu Novel yang terletak di rak kedua dari atas. 'PROMISE' salah satu Novel yang pernah Surya tunjukan padanya. Kisah dimana seorang lelaki berusaha sekuat tenaga untuk menepati janjinya pada Sang Kekasih.
"Aku ingin seperti lelaki di kisah itu. Selalu menepati janjinya meski di situasi tersulit sekali pun. Bahkan rela menerjang maut hanya untuk menepati janjinya itu." Surya kala itu berkata begitu serius dan penuh ketulusan. "Aku ingin menjadi Lelaki sejati di hidupmu, Ra."
Naura tersenyum kecut saat kembali mengingat kalimat dua bulan ke belakang itu. Air matanya kembali menetes, kendati dengan cepat ia mengusap air matanya. Naura tidak boleh melihatkan lagi kesedihannya pada Dunia. Naura tidak boleh menangisi orang yang sudah jelas-jelas membuangnya tanpa sepatah penjelasan apapun. Sudah cukup.
"Hal pertama yang harus dilakukan saat melupakan seseorang adalah, mengingat lalu melepaskan kenangannya."
Naura terdiam saat mendengar perkataan dari suara berat yang entah berasal dari mana. Naura mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Kendati tidak menemukan siapa pun di sana.
"Gue ngga salah denger, kan?" gumamnya. Naura kembali membuka tiap lembar novel di tangannya dengan acak.
"Lo cari gua?"
Spontan Naura menoleh ke belakang, matanya terkesiap mendapati lelaki yang berseragam sama dengannya tengah berdiri di hadapannya. Lelaki itu tersenyum sebelum akhirnya mengambil Novel bersampul hitam yang berada di genggaman Naura.
Lelaki itu sekilas membaca blurb yang ada di belakang sampul buku. Kepalanya mengangguk beberapa kali. "Udah dikenangnya?" Naura tidak menjawab. Tapi dengan refleks kepalanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan lelaki itu.
"Berarti saatnya di lepaskan." Lelaki itu melempar novelnya ke belakang Naura. Tepat masuk ke dalam sudut rak yang tak mungkin bisa dijangkau lagi, kecuali jika rak itu dipindahkan.
Naura masih terdiam. Bahkan dengan jarak wajah yang kini semakin dekat. Karena saat melempar novel tadi, lelaki itu sedikit membungkukkan tubuhnya. Hingga detik berikutnya Naura mengerjap dan sedikit memundurkan tubuhnya hingga menyentuh rak yang ada di belakangnya.
"Si--siapa Lo?" Tanya Naura sedikit gugup. "Gue belum pernah liat Lo di Sekolah ini," lanjutnya.
Lelaki itu menyunggingkan senyum, kemudian mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. "Gue Arpan, Siswa baru kelas sebelas IPS-1. Gue baru masuk kemarin."
Naura terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk seraya membalas jabatan tangan Arpan. "Gue---"
"Lo Naura, kan anak sebelas Fisika." Lagi-lagi Naura dibuat terdiam. Matanya menatap intens Arpan yang juga tengah menatapnya. Seakan tahu maksud dari tatapan Naura, Arpan tersenyum kecil. Ia melepaskan jabatannya.
"Ngga perlu bingung kek gitu. Btw, Sorry Novelnya gue lempar, demi kebaikan hati Lo. Seenggaknya satu kenangan bisa Lo lepasin hari ini."
"It's okay. Udah ngga penting juga buat gue. Udah gue baca beberapa kali jadi udah nggga penasarin lagi juga sama isinya." Arpan hanya menjawabnya dengan anggukan. "Bisa mundur sedikit?" Pinta Naura.
Arpan yang sadar lantas mundur dua langkah, memberikan jarak pada Naura agar bisa bernapas lega.
"Done. Kalo gitu gue duluan, bye!"
Arpan melangkah menjauhi tempat di mana Naura berdiri. Namun sebelumbenar-benar hilang dari pandangan Naura, Arpan menghentikan langkahnya. Ia kembali menoleh kepada Naura yang masih berdiri di tempat semula. Netranya saling beradu. Antara kesenduan juga tatapan yang tidak bisa diartikan. Namun Naura dengan cepat memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Oh, iya ... jangan nangis lagi, cantik Lo ilang kalo nangis. Btw, semoga kita bisa ketemu lagi dan jadi teman akrab."
Arpan melemparkan senyum simpul, sebelum akhirnya berbelok ke lorong lain dan hilang dari pandangan Naura.
Naura mengerjap, menarik napas perlahan. Tubuhnya berbalik, menatap rak buku yang ada di belakangnya. Tepatnya pada Novel yang terperangkap di sudut belakang rak yang tinggi itu. Perlahan senyumnya mulai terukir. Perkataan Arpan benar. Melepaskan kenangannya dengan Surya adalah hal pertama yang harus ia lakukan. Sedikit demi sedikit. Sampai benar-benar hilang dari ingatan.
"Tapi ... Kenapa dia bisa tahu nama gue?" Naura menunduk, melihat name tag yang terpasang di dada sebelah kirinya. "Ahh ... Kok gue bisa lupa."
Naura membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia kembali menghela napas, sebelum akhirnya melangkah keluar dari perpustakaan.
Baru saja sampai di ambang pintu Perpustakaan, lagi-lagi Naura harus dikagetkan dengan kedatangan Ayu (Teman sebangkunya) yang tiba-tiba ada di hadapannya.
"Ya Allah, Ra gue cariin Lo kemana-mana taunya Lo di perpus," cerocosnya.
"Lo, tuh bisa ngga Dateng ngga sambil ngaggetin. Hampir jantungan gue," cerca Naura yang kesal. Kenapa banyak sekali orang yang tiba-tiba ada di hadapannya secara mendadak. Kalau dia mati di tempat karena serangan jantung gimana? Apa orang itu mau tanggung jawab.
"Lagian udah mau bel masuk masih betah aja di Perpus." Ayu mengamati wajah temannya itu dengan intens. "Oh, gue tahu ... Lo lagi kangen sama Arpan, ya makannya ke Perpus Mulu."
"Ngga perlu dibahas juga bisa, kan?" Ayu hanya menimpali perkataan Naura dengan senyum mengejeknya.
"Sorry, Ra, sorry ...," ucap Ayu yang mulai mensejajarkan langkahnya dengan Naura. "Gue tau Lo pasti ngga mau denger nama dia. Gue ngerti, kok perasaan Lo. Tapi kalo Lo butuh temen curhat, butuh temen buat ngeliatin Lo nangis. Lo ada gue, Ra."
"Makasih, Yu, tapi gue bener-bener lagi ngga pengen cerita masalah itu." Naura menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Ayu. "Gue pasti cerita kalo masalah itu ngga lagi bikin hati gue sakit."
"Yaudah, gakpapa. Tapi Lo gak boleh nangis lagi, ya. Gue ngga suka liat sahabat gue ini nangis, jelek."
Naura terdiam, ia teringan akan perkataan Arpan beberapa menit yang lalu.
"Woy! ... Malah bengong, nih anak."
"Eh, udah yuk ah ke kelas."

Komento sa Aklat (120)

  • avatar
    Bwang Mrh

    bagus

    18/04

      0
  • avatar
    Anna14Anna

    keren banget ceritanya

    23/03

      0
  • avatar
    AdeliaSela

    ceritanya sangat menarik sekali

    14/02

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata