logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Mencintai Pembunuh Ayah

Mencintai Pembunuh Ayah

Yaya Syam


Bab 1. Rumah Sejuta Kenangan

🍁🍁🍁
Langkah kaki Aira bergema sepanjang koridor rumah sakit. Raut wajah gadis berjilbab panjang berwarna pink Salem itu terlihat khawatir. setelah beberapa saat, ia berbelok menuju ke sebuah kamar perawatan yang terletak di sudut lorong.
Gegas ia membuka pintu. Dalam ruangan serba putih dengan aksen biru pada gorden itu terdapat beberapa orang selain dokter dan perawat.
"Nenek!" Aira segera menghambur ke ranjang perawatan tanpa memedulikan orang-orang yang ada di dalam ruangan.
Mata gadis berparas manis itu mulai berkaca-kaca ketika melihat tubuh ringkih yang tergolek tertutup kain jarik. Perlahan ia membuka penutup putih yang menutup wajah tubuh itu. Bulir bening kini tak terbendung lagi di mata Aira, kini mengalir membasahi pipinya yang pias.
"Nenek ...,"panggil Aira, lirih. Ia tak percaya jika nenek yang selama ini membesarkan kini pergi meninggalkannya seorang diri. Kini ia benar-benar sebatang kara. Ia sangat menyesal hari ini tak meminta izin untuk menemani neneknya di rumah sakit. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
"Mohon maaf, nona Sarah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Tuhan berkehendak lain." Suara seseorang menyadarkan Aira jika ia tak sendirian.
Gegas ia menghapus jejak air mata yang mengalir di pipinya. Ia harus selalu terlihat kuat, apapun yang terjadi, seperti itulah pesan neneknya setiap saat. Ia berbalik melihat dokter yang tadi berbicara.
"Terima kasih, dokter," sahut Aira dengan suara bergetar.
"Kami akan membantu prosesi pemakaman nenekmu, Nak." Terdengar suara lain di seberang tempat tidur. Aira baru menyadari bahwa selain dokter ada beberapa orang lain yang asing baginya.
Ia melihat lelaki setengah baya yang beberapa saat tadi berbicara segera menghampiri dokter yang bertugas dan berjalan beriringan keluar kamar. Entah apa yang mereka bicarakan. Aira saat ini hanya diliputi kepedihan yang dalam.
Aira berbalik menghampiri tubuh kaku neneknya. Ia memeluk dengan rasa sayang. Isak tertahan terdengar dari bibirnya, ia benar-benar merasa kehilangan.
Aira sedikit berjengit ketika ada sebuah sentuhan halus di pundaknya. Ia mendongak menatap seraut wajah keibuan yang sedang balas menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Sabar, ya, Nak. Ikhlaskan nenekmu, Bu Sutina orang yang sangat baik. Beliau pasti mendapatkan tempat terbaik di sana," ujar wanita setengah baya itu pada Aira.
Mendengar ucapan wanita itu, tangis Aira semakin menjadi. Ia memeluk pinggang wanita yang berada di hadapannya. Entah mengapa, ia merasa sangat nyaman berada di dekat wanita yang mungkin berusia sama dengan ibu kandungnya.
Saat ini ia tak mampu lagi berpikir. Ia menyerahkan semuanya pada kedua orang asing yang baru hari ini ia temui di kamar neneknya. Kedua orang yang ternyata suami istri itu akhirnya mengambil alih prosesi pemakaman neneknya.
🍁🍁🍁
Aira hanya bisa pasrah saat melihat jenazah neneknya diturunkan ke liang lahat. Tak ada sanak saudara lain yang menghadiri, hanya beberapa tetangga dekat rumah Aira yang datang sekaligus mengucapkan belasungkawa.
Aira duduk terpekur di makan neneknya. Tak ada lagi air mata yang mengalir, yang ada hanya kesunyian melingkupi jiwanya. Ia mengingat semua kenangan manis yang dilalui bersama neneknya. Sebulir air bening menetes dari sudut matanya, kala mengingat perjuangan nenek dalam membesarkannya. Aira memang yatim piatu sejak berusia enam tahun. Kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Sejak saat itu Aira dalam pengasuhan neneknya.
Nenek dan kakek Aira merupakan keluarga pendatang yang mencoba mengadu nasib di ibu kota negara.
Ibunya pun lahir di kota ini dan saat dewasa bertemu dengan ayahnya yang besar di panti asuhan. Sehingga saat kedua orang tuanya meninggal, otomatis Aira diasuh oleh orang tua sang ibu.
"Sudah sore, Nak. Ayo, kita pulang."
Sebuah suara membuyarkan lamunan Aira. Sosok lelaki dan wanita yang membantu penguburan neneknya masih setia menunggunya ketika semua pelayat telah berlalu.
Aira mengangguk dan segera beranjak meninggalkan kuburan neneknya. Mereka bertiga kemudian kembali ke mobil yang telah menunggu di luar pekuburan. Sepanjang perjalanan Aira hanya terdiam. Ia tak tahu bagaimana nasibnya ke depan setelah neneknya meninggal, yang ia ketahui kini dia benar-benar sendiri di dunia ini. Memikirkan hal itu semakin membuat Aira bersedih.
Mobil berwarna hitam yang membawa mereka akhirnya tiba di pekarangan rumah Aira. Ketiga orang yang berada di dalam mobil kemudian turun dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Silakan masuk, Pak ... Bu ...," sahut Aira dengan lirih. Walau dalam keadaan berduka, ia tak mungkin menyuruh kedua orang yang membantunya itu untuk segera pergi.
Setelah mempersilakan tamunya masuk, Aira segera duduk di kursi ruang tamu rumahnya yang sederhana, begitu pula sepasang suami istri itu.
Kedua sosok paruh baya itu kemudian saling berpandangan. Tampak jelas dari raut wajah mereka seperti dilanda kebingungan dalam mengolah kata. Akhirnya, setelah hening sejenak, lelaki itu menghela napas panjang lalu menatap lekat pada wajah Aira yang sembab.
"Mohon maaf, Nak. Sebelumnya perkenalkan nama saya Wijaya Hendarto dan ini istri saya, Rusmini," ujar lelaki yang ternyata bernama Hendarto. Lelaki itu tersenyum lembut menatap Aira.
Aira yang sedari tadi menunduk lekas menatap lelaki yang sedang memperkenalkan diri itu.
'Wijaya? Wijaya Hendarto?' batin Aira bertanya. Gadis berginsul itu seakan tak asing dengan nama yang disebutkan pasangan di hadapannya saat ini.
"Kami ditelpon oleh pihak rumah sakit ketika nenekmu dalam keadaan gawat. Asuransi kesehatan kalian berdua sejak dulu menjadi tanggung jawab kami." Aira menyimak dengan hati-hati setiap kata yang diucapkan Hendarto padanya.
Aira kemudian teringat ucapan neneknya jika sekolahnya dibiayai oleh keluarga Wijaya. Gadis itu lalu menegakkan posisi duduknya. Ia memandangi kedua sosok dihadapannya secara bergantian. Kedua pasangan suami istri Wijaya itu menyunggingkan senyum ramah.
"Jadi ... Bapak yang bernama Pak Wijaya?" tanya Aira dengan hati-hati. "Apa benar Bapak yang selama ini membiayai pendidikan saya?" lanjutnya.
"Benar, Nak ... Oiya, nama kamu siapa?" sahut Hendarto.
"Nama saya Sarah Humairah. Biasa dipanggil Aira, Pak."
"Sarah Humairah ... nama yang cantik, seperti orangnya, ya, kan, Pak?" celetuk Rukmini yang diamini oleh suaminya.
Aira yang mendengar hal itu menunduk malu. Ia tak terbiasa mendapat pujian dari orang lain.
"Kami mohon maaf sebelumnya, Nak Aira. Mungkin ini terlalu cepat kami sampaikan. Tetapi, sesuai dengan wasiat Bu Sutini, nenekmu. Sekarang kamu menjadi tanggung jawab keluarga kami," ujar Hendarto.
Aira yang mendengar ucapan Hendarto kembali menatap lelaki paruh baya di hadapannya dengan kebingungan.
"Maksud Bapak, apa?"
"Begini, Nak Aira. Kami harap agar Nak Aira bisa pulang bersama kami dan tinggal di rumah kami. Ini juga untuk menjaga agar tidak terjadi hal yang tidak baik menimpa Nak Aira jika tingga seorang diri."
"T–tapi, Pak. Rumah ini peninggalan orang tua saya. Tidak mungkin saya meninggalkan rumah ini." Tubuh Aira mendadak tegang mendengar perkataan Hendarto.
Ia tak pernah membayangkan meninggalkan rumah neneknya yang menyimpan sejuta kenangan. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu merasa tidak bisa merelakan jika harus berpisah dengan rumah tempatnya dibesarkan.
Rukmini yang berada di samping suaminya kemudian bergeser ke sebelah Aira. Ia memegang tangan gadis itu dengan lembut.
"Bukan begitu, Nak. Kami hanya tidak mau meninggalkanmu tinggal sendiri di tempat ini. Apalagi kamu seorang gadis. Pamali tinggal sendiri," ujar Ratmi lembut. Wanita itu memang masih memegang teguh adat istiadat leluhurnya.
"Jangan khawatir, rumah nenekmu akan selalu terawat. Saya akan membayar seseorang untuk datang setiap hari membersihkannya," timpal Hendarto.
Aira memandang lekat pada wajah Rukmini. Sosok ibu yang tidak pernah didapatnya terlihat pada diri Rukmini. Saat ini pikirannya sangat kacau, tetapi ia juga tak mungkin untuk tinggal sendiri di rumah neneknya. Kawasan rumah tempat tinggalnya termasuk rawan dalam kejahatan. Aira terdiam cukup lama. Ucapan Hendarto dan Rukmini ada benarnya, saat ini keselamatan jiwanya setelah menjadi sebatang kara seharusnya diprioritaskan. Setelah beberapa saat lamanya, gadis cerdas itu akhirnya mengangguk.
"Baiklah, Bu. Saya akan tinggal di rumah Ibu dan Bapak. Bagaimanapun saat ini saya tidak punya siapa-siapa lagi," ujar Aira lirih.
Rukmini yang mendengar kesediaan Aira segera memeluk gadis itu. Ia sangat bahagia mendengar keputusan Aira, begitu pula Hendarto.
"Terima kasih, Nak Aira. Sebaiknya malam ini juga kita berangkat ke rumah saya. Bawa saja barang yang Nak Aira perlukan. Kapan-kapan kamu bisa kembali mengambilnya ke rumah ini," ucap Hendarto lega.
Aira lalu beranjak membereskan beberapa barang yang ingin dibawanya ke rumah keluarga Wijaya. Saat kembali ke ruang tamu, matanya melihat sebuah pigura kecil yang berisi foto keluarga. Foto saat Aira berumur lima tahun di mana ayah, ibu, kakek dan neneknya masih bersama. Ia lalu mengambil pigura itu dan memasukkannya ke dalam pelukan.
Aira melangkah keluar rumah. Rukmini menggandeng lengan Aira, menuntunnya ke arah mobil. Sekali lagi Aira berbalik, menatap rumah yang menjadi saksi perjalanan hidupnya hingga dewasa. Tak terasa kedua pipinya telah basah oleh air mata.
"Mari kita pergi, Bu," ujar Aira pada Rukmini. Ia segera naik ke mobil dengan langkah cepat yang sejak tadi menunggu. Hatinya seakan diiris-iris. Ia tak mampu menahan, hatinya terlalu terpaut pada rumah yang memiliki sejuta kenangan milik mendiang neneknya.
Hendarto mengangguk tanpa suara, ia lalu menjalankan mobilnya membela kegelapan malam.
Sepanjang perjalanan mereka bertiga hanya terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing. Aira kini hanya bisa pasrah pada takdir hidup yang ditentukan untuknya. Ia memeluk erat foto keluarganya. Kejadian yang tiba-tiba pada hari ini membuat jiwa dan raganya letih. Aira akhirnya tertidur dengan menyisakan isak tangis di sudut bibirnya.
***

Komento sa Aklat (18)

  • avatar
    ZaskiaKia

    bgsπŸ˜‹

    23/08/2024

    Β Β 0
  • avatar
    MulyaniNeng

    sangat tidak masuk akal

    04/05/2023

    Β Β 0
  • avatar
    AlfhiaNabila

    Sangat menyedihkan πŸ₯Ή

    28/12/2022

    Β Β 0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata