Aku hanya menebak saja sebenarnya. Soalnya kemarin bunda bilang mereka berdua terus. "Iya, siapa lagi kalau bukan itu. Ya sudah Nak, Bunda tutup telponnya. Adik kamu Neyra lagi minta makan." "Iya Bunda. Assalamualaikum." "Waalaikum salam." Aku menutup telpon. Kalau Bunda sudah bicara tentang Neyra selalu yang terbelesat di benakku adalah ketika Neyra pertama kali memanggilku dengan sebutan Kak. Waktu itu dia masih kecil dan memanggil Ayah pun masih belum bisa. Hanya manggil Bunda bisanya. Itupun manggilnya selalu Nda saja, jadi Bunnya entah hilang ke mana. *** POV; Mustofa "Bu, izinkan Mustofa kerja!" Ibu seketika memusatkan pandangan tajam ke arahku. Aku hanya menatapnya dengan penuh ragu. Aina dan Aini kali ini bermain mainan yang diberikan Ayah lusa kemarin. Wajah imut mereka yang seperti memberikan cahaya semangat untuk aku dan Ibu agar terus bertahan dalam angin cobaan ini. Namun sampai kapan kesedihan yang seperti tiada berlalunya ini menerpa kami? "Kamu mau kerja?" Tanya Ibu tidak percaya. Kebetulan aku memiliki teman yang namanya Syafiq. Dia ahli dalam bidang membuat kerjinan dari bambu. Kemarin dari status WAnya aku lihat kalau, dia mengatakan kalau sedang membutuhkan karyawan baru. Siapa tau aku bisa gabung dan bekerja disana. Aku yakin, meskipun aku oemula untuk bekerja di sana. Syafiq akan membimbing lebih lanjut, karena aku kenal sekali. Kalau Syafiq itu orang yang peduli. Namun sebelum langkah niat itu, aku lanjutkan. Apa salahnya aku membicarakan baik-baik ini ke Ibu. Sebaiknya aku saja yang kerja dan bukanlah Ibu. Karena aku tahu, Aina dan Aini sangat amat membutuhkan Ibu. Mereka berdua juga masih membutuhkan Asi dari Ibu. Kalau Ibu akan kerja. Maka mereka bagaimana? "Iya Bu, Ibu di Rumah saja. Jaga Aina dan Aini sementara Mustofa akan kerja untuk menggantikan Ayah, Bu." Aku membalas tatapan Ibu lebih penih dari sebelumnya. Namun muncullah air mata di kelopak Ibu. Apakah Ibu masih mengingat kejadian yang paling menitikkan luka terbanyak itu? "Kalau Ayahmu tidak menyapu sampah-sampah itu pasti ini tidak akan terjadi Nak ...." Ibu menutup wajah dengan ke dua tangannya. Lalu aku mendengar tangis ya meledak. Aku yakin, Ibu mengingat kembali kepahitan itu. Apalagi Ibu oasti sangat merasakan hidup tanpa suaminya seperti ini bagaiamana. Aku berdiri dan memeluk erat-erat Ibu yang semakin menangis. Rasanya aku ingin menangis, namun aku takut Ibu akan semakin sedih. Aku anaknya, aku harus menjadi penguatnya. Tuhan, kuatkan kami. Tangan Ibu yang menutupi wajahnya itu memegang erat lenganku. Aku rasakan air mata Ibu jatuh keseluruhan di kemejaku yang berwarna orenge ini. "Ibu jangan menangis," Tangan kananku mengusap air mata Ibu, lalu aku kembali mendekap Ibu dengan erat. Aini dan Aina masih bermain, namun aku lihat tangan Aina memegang ujung kemeja Ibu. Apa Aina sedang haus? "Sudah Ibu, jangan menangis ya. Insyaallah akan baik-baik saja. Ayah pasti pulang Bu." Mataku terasa berkaca-kaca. Namun tolonglah jangan menetes dulu. "Nak, kalau kamu kerja lalu sekolah kamu gimana nak?" Aku seperti tidak memikirkan sekolah kalau kondisinya seperti ini. Yang aku pikirkan dari kemarin. Bagaimana cara Ibu dan dua adikku ini bertahan saat Ayah masih di sana dan belum pulang ke Rumah. Tapi kalau aku sekolah, siapa yang akan membiayayaiku? Sekolah juga butuh uang, mana ada kita belajar di Sekolah geratis. Semua yang menuntut ilmu itu pasti harus ada bekal uang, bahkan di kitab Alala telah tertulis seperti itu. "Entahlah Ibu, aku tidak ingin egois memikirkan diri sendiri. Apalagi seperti saat-saat seperti ini Bu." Ibu melepas pelukan, lalu menyuruhku duduk di sebelahnya kembali. "Dengar Nak, kamu harus tetap sekolah biar Ibu yang mencari uang. Ingat nak, sekolah itu tidak bisa diulang lagi. Hanya bisa sekali dalam seumur hidup. Ibu tidak mau kalau masa depanmu tidak cerah karena kamu tidak menyelesaikan sekolah kamu." "Aina sama Aini butuh Ibu. Mereka membutuhkan Asi dan sayangnya Ibu. Kalau Ibu kerja bagaimana dengan mereka berdua? Biarlah Mustofa saja Bu." "Nak, salah satu cara agar kamu bisa sekolah dan Ibu bekerja. Kita harus pindah rumah Nak." Aku terkejut Ibu mengatakan itu? Apa dampaknya kalau pindah Rumah? Yang ada nanti para tetangga akan menganggap, kalau kami bersalah. Tapi bukankah sama saja kalau pindah rumah. Apa akan ngontrak? "Ibu, kita ngontrak di Rumah baru?" Ibu menggenggam tanganku. Lalu menatapku tajam. "Kita tidak ngontrak Nak. Tapi kita akan tinggal di rumah Kakek sama Nenek kamu untuk lima bulan ke depan. ibu tahu akan merepotin Nenenk sama Kakek. Tapi Ibu yakin, beliau berdua tau kalau kita sedang menghadapi masalah. Kalau Ibu kerja, mungkin Nenek bisa mengurus Aina dan Aini. Soal ASI, ibu akan memenuhi dua puluh dot itu dengan ASI Ibu. Biar adik kamu tidak sampai kelaparan. Lalu kalau kamu selesai sekolah, kamu jaga adik kamu ya Nak. Ibu melakukan ini demi kebaikan kalian. Bisa kan?" Aku menunduk. Kalau Ibu sudah mengatakan semua itu mana bisa aku melawan keputusannya. "Iya Ibu, bisa. Tapi Ibu, apakah aku pindah sekolah?" Aku menanyakan yang mengganjal di benakku. Apa yang akan di jawab Ibu, itulah akan menjadi keputusan bulatnya. "Iya, nanti Ibu carikan sekolah yang kebih bagus ya nak. Ibu akan urus lagi data untuk mengurus semua itu." *** Salsa "Ma, boleh Salsa ke lantai atas buat milih baju?" Mama dari tadi sama Papa ya sukanya milih-milih batik tapi tidak ada satupun pilihannya cocok dengan selera yang sedang diincarnya. Entahlah, Dewi sibuk apa kalau di sana. Lihat, dia mencoba seluruh pakaian batik yang dipilihnya lalu tersenyum puas didepan kaca besar dekat pegawai mall. "Iya, tapi jangan jauh-jauh ya." Papa sendiri yang menjawab. Aku rasanya ingin lari secepatnya untuk menuju eskalator yang mengarah ke lantai atas. Lihatlah orang-orang di sana yang sydah naik eskalator, mereka seperti terasa enak banget bisa menuju ke lantai atas sana tanpa menaiki tangga yang menetap. Sepertinya sangat seru. Aku naik eskalator. Ini sudah tiga kali. Namu aku sepeti anak kecil yang barusan diberikan mainan dari Papa. Padahal aku sekarang ini hanya menaiki tangga yang bisa bergerak menuju keatas saja. Sampai lantai atas, aku langsung seperti orang yang benar-benar bahagia sampai melihat semuanya senyam-senyum sendiri. Aduh, bagaimana kalau orang lain tau kalau aku senyum tidak jelas begini. Apa batinnya? Aku menuju pakaian dengan corak bunga-bunga yang bewarna merah jambu. Ada banyak macamnya. Ada yang lengan panjang, lengan pendek. Tapi yang aku mantapkan dihatiku itu ada disebelah barat, dekat sama pakaian laki-laki yang ada di sana. Braaak!!!! Nyaris aku terjatuh. Namun aku tidak jadi jatuh karena berpegangan erat sama lengan kananya. Memang ini siapa yang tidak sengaja aku tabrak? Kenapa aku jadi teringat Mas Angga? Sebentar, apa ini Mas Angga? Atau bukan ya?
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
04/07/2024
0baikkk
03/07/2024
0asyik cerita nya bro
21/06/2024
0Tingnan Lahat