Aku menulis beberapa puisi yang ada dipikiranku. Aku tidak tahu juga, rasanya aku seperti muak mendengar kelasku yang lagi ramai jadi aku putuskan istirahat di sini saja. Namun aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba menulis "Mas Angga". Apa mungkin efek dari tadi aku memikirkannya. Karena masih belum habis pikir kenapa kemarin Mas Angga mencariku. Tidak mungkin juga kalau mama kemarin malam berbohong. Lalu entah kenapa pikiranku masih pada kejadian aku hampir jatuh tapi Mas Angga mencegahnya. Aku mengingat itu seperti barusan saja terjadi. "Kamu mau krupuk Sal?" Ilham menyodorkan kerupuk di sebelah kiri bukuku. Kemudian Ilham duduk disebelah kiriku. Agak geser lebih jauh sedikit. Dia Ilham, teman kelasku yang paling sulit dimengerti. Kalian perlu tahu, dia memang laki-laki tetapi kalau melihat dia berjalan kebanyakan semua orang mengira kalau gaya berjalannya seperti perempuan. Tapi selain itu, Ilham itu siswa yang suka peduli. Pantasan saja kalau dia dipilih wali kelas kami untuk menjadi OSIS di sekolahan kami. Dia sebagai OSIS kebersihan. "Iya, terima kasih!" Ilham menghentikan sendok yang berisi nasi itu, lalu kembali menaruhnya ke mangkok lalu menatapku sambil senyum tipis. "Sama-sama, ayo makan!" Aku mengangguk, kemudian diam dan membuka krupuk yang dia beri. Ilham ini ramah. Tapi, banyak teman-teman yang kurang memahaminya bahkan selalu menganggap kalau dia itu seperti perempuan jadi banyak yang menjauhinya. Kalau aku dari dulu tidak pernah membedakan teman entah itu karena beda gender atau yang lain. Bagiku sama saja, penting kami bisa menjaga batasan-batasan yang ada. "Kamu tadi tumben buku pekerjaan rumahmu ketinggalan, jadi kena hukuman kamu tadi!" Ilham menelan sisa makanan yang ada dimulutnya, lalu menghadapakan wajah ke arahku sambil sebentar meneguk es teh yang ada didepannya. "Iya.., tadi malam lagi hujan lebat. Dikotaku lagi mati lampu sebagian. Jadi setelah mengerjakannya langsung tidur. Lalu paginya lupa tidak aku masukan!" Aku menggeleng, sambil menyimak penjelasannya. "Ooooh begitu, kamu memang kalau belajar malam?" Aku menanyai hal lain dan karena itu ilham nggak jadi makan. "Iya.., kalau aku belajar mulainya habis sholat isya' sampai aku ngantuk. Memang kalau kamu?" Ilham menanyaiku, sebenarnya kalau aku pikir-pikir aku jarang sekali belajar. Setiap hari yang aku urus hanyalah cerita, cerita dan cerita. Atau mungkin kalau bukan itu aku mengurus puisi-puisi. Dari dulu entah kenapa aku lebih suka dengan dunia kepenulisan. Aku lebih suka dengan khayalan yang itu seperti tidak akan pernah terjadi. "Hmm, aku jarang belajar!" "Apa?" Ilham terkecat seperti tidak percaya. "Kalau kamu tidak belajar bagaimana kamu bisa aktif bertanya seperti saat kamu ada dikelas seperti tadi?" Ilham benar-benar tidak percaya kalau aku jarang belajar. Mungkin yang Ilham lihat hanyalah keaktifanku dalam kelas, yang selalu banyak tanya. Dari dulu aku orangnya seperti itu, banyak bertanya. Namun terkadang kalau aku disuruh menjawab rasanya seperti bingung mengolah kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Padahal aku sendiri faham, jawaban apa yang harus aku jawab. Namun aneh saja aku seperti sulit mengolah kata untuk menyampaikan. "Entahlah, aku juga kurang tahu soal diriku sendiri. Aku kalau dipaksa belajar justru malah materi tidak akan pernah bisa masuk. Tapi kalau aku belajar kemauanku ssndiri seperti bosan menatap huruf-hruf. Tapi kalau aku menulis, rasanya cair semua pemikiranku!" "Aku salut sama kamu Sal, aku saja tidak seperti itu!" "Tapi dibalik itu aku juga menyesal Ham!" Aku menengok ke arahnya kembali, selekas memeriksa sudah siap apa belum nasi pecel pesananku. Karena mungkin kalau ramai, suara Mbah Gimah agak sulit terdengar. "Menyesal karena apa?" Wajahnya penuh tanya. "Karena aku tidak bisa mencapai rangking satu. Rasanya semua itu sulit Ham, aku ingin belajar. Tapi aku tidak ingin dipaksa!" Aku mengeluarkan semua yang ada dalam batinku. "Yang maksa kamu belajar siapa memang?" "Tidak ada sih, cuman aku menyesal saja. Karena aku tidak bisa seperti yang lain bisa belajar dan tidak bosan sama yang namanya buku!" "Mbak.., ini pecel pesananya!" Mbah Gimah memanggil, aku langsung datang dan meninggalkan Ilham sebentar. lagian Ilham juga tahu, aku mau kemana. "Kamu tidak suka membaca?" Tanya Ilham kembali, setelah aku kembali duduk disebelah kananya. Aku sedikit menggeser buku sama bolpoinku ke sebelah kanan, jadi tidak akan bisa mengangguku untuk makan. "Aku kan sudah bilang, aku jarang sekali membaca Ilham. Belum sampai sepuluh menit. Aku sudah seperti mual-mual dengan melihat tulisan buku!" Jawabku menjelaskannya. Ilham mengangguk, sambil memakan nasi yang ada disendoknya. Aku juga mulai memakan nasi pecelnya Mbah Gimah, rasanya enak sekali kalau dilihat. Ada peyek, ada kangkung, cambah, ada telur lalu nasi putih dan tidak lupa ada sambel pecel sama kemangi. Lezat banget, rasanya aku ingin cepat-cepat melahapnya. "Kalau kamu tidak membaca, bagaimana kamu bisa menulis puisi sama cerita?" Entah, aku sendiri tidak bisa menjawab untuk hal itu. Memang benar ada orang berkata tidak ada orang yang bisa menulis awalnya tidak membaca. Aku tidak menyalahkan kalimat itu, namun sangat beda denganku. Aku ini orangnya sangat suka menulis namun jarang sekali yang namanya membaca. Bahkan aku tidak tahu pikiran-pikiran yang setiap kali membekali cerita-ceritaku agar lebih lengkap itu dari mana asalnya aku tidak tahu. Tapi benar, aku sangat bosan yang namanya membaca. Sampai-sampai bisa terjuluki sehari tanpa membaca. Aku kalau membaca, mungkin lagi ingin tahu sekali. Namun setelah tahu dan belum sampai sepuluh menit aku kembali menaruh buku. "Aku tidak tahu pemikiran itu dari mana, tapi aku jarang sekali membaca. Apalagi novel, sebelum aku baca semua saja melihatnya malas membaca karena buku itu tebal banget Ilham!" Aku tersenyum kecut, sambil melihatnya yang sedang meminum es teh menyimak omonganku. "Kamu itu lucu ya.., tidak pernah membaca tapi bisa merangkai kata!" "Entahlah, percaya atau tidak. Aku memang aneh dan aku dari dulu seperti itu!" Aku tidak tahu Nabila tadi kemana, setelah aku cuekin karena aku lagi malas ngomong saja. Dan malas bilang alasanku cemberut dari pagi kenapa.
Sebenarnya cukup sederhana mengapa aku malas bicara, karena waktu tadi dikelas tidak ada yang mendengarkanku bicara soal keuangan bendahara. Mereka aku ajak berdiskusi malah tidak ada yang mau jawab. Sebenarnya maunya mereka apa? Mereka yang tidak mau membayar uang kas itu karena apa? Alasannya apa? Apa uang mereka tidak cukup? Padahal aku lihat mereka jajan itu lima kali lipatnya kas yang harus mereka bayar. Karena mereka yang belum membayar, wali kelasku Ibu Astutik memarahiku. Dikira aku belum menagih mereka.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
04/07/2024
0baikkk
03/07/2024
0asyik cerita nya bro
21/06/2024
0Tingnan Lahat