"Ini." Queen menyodorkan kotak berwarna biru pada Dewa. Dewa menatap kotak itu dan Queen secara bergantian. "Gue masih mimpi deh kayaknya, Ran coba cubit gue," pinta Dewa. Dengan senang hati Randra mencubit Dewa dan tidak tanggung-tanggung Randra mencubit Dewa. Dia mencubit pipi Dewa dengan kekuatan yang ada sambil pipi sahabatnya itu menjadi merah akibat ulahnya. "Sakit tau, loe nafsu banget cubit pipi gue!" protes Dewa sambil memukul dan mencubit tangan Randra sebagai balasannya. Dewa kemudian terdiam beberapa saat meresapi kesakitan yang ditimbulkan akibat cubitan Randra, detik berikutnya Dewa berdiri dan mencoba memeluk Queen. "Heh, kutu hamil enak aja loe main nyosor-nyosor ke cewek seenak jidat," ucap Randra sambil menarik seragam Dewa. Queen mundur beberapa langkah. "Makasih Randra," tutur Queen. Randra mengangguk sambil tersenyum, sedangkan Dewa mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil sedang ngambek. "Elah, pelit amat 'kan dia calon pacar plus masa depan gue juga," kata Dewa ngambek. "Heh, makhluk astral jangan dikira gue baik sama loe terus loe jadi ngelunjak ya! Gue kasih ini sebagai ucapan terima kasih dan permintaan maaf gue atas kejadian kemarin gak lebih, jadi jangan loe berpikiran yang macem-macem!" Queen menatap Dewa dengan tajam, kemudian pergi dari kelas Dewa setelah meletakkan kotak makan siang berwarna biru itu. Dewa tertegun di tempatnya, kemudian memegangi dadanya dan terduduk di kursi. Tidak lupa Dewa memandangi kotak yang ada di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. "Kenapa loe, Wa!" seru Randra panik. "Cinta gue bertambah kadarnya, Ran menjadi lebih besar dari monas," cicit Dewa ngaco. Randra menepuk jidatnya. *** "Aciee yang dikasih kue, aciee yang disamperin ke kelas sama Queen, aciee, aciee," goda Randra untuk ke sekian kalinya. Dewa hanya senyam-senyum sambil terus memegangi kotak makan siang biru itu seperti takut akan dicuri. "Bagus kalau udah gini enak diporotin nih bocah." Randra tersenyum senang. "Makan gratis gue datang!" soraknya dalam hati. "Ehem kalau gitu makan-makannya dong bos," tagih Randra sambil menaik-turunkan alisnya. "Oh, tenang aja itu mah aman, nanti malem kita makan besar di rumah gue, khusus kita berdua aja. Karena orang ketiganya belum pulang," jawab Dewa sambil terus mengelus kotak yang berisi kue yang diberikan oleh Queen dengan pipinya. *** "Ras, Laras," panggil Queen dengan hati-hati. "Hmm," sahut Laras singkat. "Loe masih marah ya? Maaf deh, yaudah gak gue anggep itu sebagai hutang tapi sebagai traktiran ya, tapi nanti harus gue traktir balik gimana, ya, ya, ya," bujuk Queen sambil menggoyangkan-goyangkan lengan sahabatnya itu. Laras membentuk huruf O dengan dua jarinya, lalu kemudian keluar kelas. Queen hanya memandangi kepergian Laras, lalu mengeluarkan bekal makan siangnya dan beberapa roti yang kemarin Laras berikan karena masih banyak tersisa kemudian memakannya. Jika sudah marah begini percuma kalau Queen bujuk, tunggu amarahnya reda barulah dia akan bujuk kembali. *** "Wah, wah, wah." Laras mengibas-ngibaskan tangannya dengan heboh. "Kenapa?" tanya Queen. Pasti akan ada gosip atau berita yang akan disampaikan Laras, di samping itu juga Queen senang akhirnya Laras tidak lagi marah padanya. "Si Dewa traktir semua anak yang di kantin, katanya karena seneng karena loe kasih dia kue," jelasnya menyampaikan berita yang mampu membuat Queen melongo. "Gue juga gak mau ketinggalan traktirannya ah, gue ke sini cuma mau kasih tau itu doang sama loe. Nanti gue bawakin makanan yang banyak," tambah Laras setengah berteriak kemudian kembali ke luar kelas. "Dasar orang kaya," ujar Queen. *** "Malam, Om, Tante maaf mengganggu seperti biasa Randra mau numpang makan di sini," ujar Randra seraya masuk kemudian menuju meja makan tanpa malu. Nyonya Dewi seperti biasa tersenyum hangat saat menyambut tamu, walau itu Randra yang hampir setiap hari wajahnya terlihat di rumah itu. Tuan Antara tidak menyahut dan terus menonton telivis, serial kesukaannya yaitu Upin & Ipin. "Loe kalau ke sini cuma numpang makan doang gak pernah bawa makanan!" protes Cila. "Yeee, Kakak bocil gak boleh gitu sama sahabat adek sendiri," jawab Randra bermaksud mengejek. "Apa maksud loe ngomongin gue bocil, hah!? Gue lebih tua dari loe berdua ya!" Cila menunjuk Randra dan Dewa secara bergantian. "bantuin ini dong nyusunin piring masa numpang makan gak ikutan bantuin si, seenggaknya tau diri dikit kek!" sindir Cila. "Kakak cebol gak usah sok ngatur, Tante Dewi aja gak nyuruh kok," ejek Randra. "Apa loe bilang, cebol!" Cila hendak melempar Randra dengan sendok, namun dengan cepat Randra perpindah tempat ikut menonton serial Upin & Ipin dengan Tuan Antara. Dewa cekikikan saat Randra mengejek Cila cebol. "Apa loe cekikikan, dasar Adek laknat! Bukannya belain gue!" Cila melotot ke arah Dewa. "Papa 'kan liat serial Upin & Ipin, nah tadi barusan gue liat serial Tom & Jerry nyata pula," kata Dewa sambil terkekeh. "Dasar loe ya!" Cila sudah siap dengan sendok yang akan melayang ke arah Dewa. Dewa dengan jurus seribu bayangan kabur dari amukan Cila, yang awalnya dia ikut menata meja langsung ia tinggalkan menuju kamar untuk berganti pakaian. Randra melihat sekilas ke arah Cila yang masih berwajah kesal dan merah padam. Mereka berdua memang selalu saja membuat Cila darah tinggi.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
seruu
1d
0bagus
29/06
0bagus
28/04
0Tingnan Lahat