"Kamu udah baikan, rubah galak?" tanya Dewa pada Queen. "Siapa yang loe panggil rubah galak, ha!?" "Itu panggilan sayang aku buat kamu, lho." Dewa menaik turunkan alisnya. Queen menatap Dewa dengan tajam, "Gue gak sudi loe punya panggilan apapun buat gue! Apalagi panggilan sayang, panggil nama gue. Nama gue Queen tau!" sewot Queen tidak terima. "Gitu dong marah jangan diem aja, aku lebih suka kamu marah-marah daripada diem aja," ungkap Dewa sambil tersenyum. Queen tertegun, dia berhenti mengepel. "Makasih, gue juga minta maaf soal yang tadi," sesal Queen sambil menundukkan kepalanya. "Yang mana ya? Gue eh maksudnya aku kok gak inget si." Dewa berpose pura-pura berpikir, dia meletakkan jari telunjuk di dagu sambil memajukan bibirnya. "Oh, iya aku inget sekarang panggilan sayang kamu ke aku 'kan, yang makhluk astral itu." Dewa menjentikkan jarinya sambil melihat ke arah Queen. "Itu bukan panggilan sayang tau, tapi gue ngejek loe!" geram Queen heran dengan kelakuan Dewa. Jika orang lain sudah pasti akan marah jika diejek begitu dan juga Queen tidak habis pikir kenapa cowok satu ini bisa berpikir itu panggilan sayang untuknya. "Ya bagi aku itu panggilan sayang kamu ke aku," cetus Dewa sambil tersenyum. Lagi-lagi Queen tertegun dengan jawaban tidak terduga dari Dewa atau lebih tepatnya tidak habis pikir dengan pemikiran cowok di sampingnya ini yang terlampau ajaib untuknya. "Pokoknya gue minta maaf soal yang tadi dan terima kasih karena loe udah nolongin gue waktu gue pingsan, apalagi sampai loe mau gantiin hukuman gue." Queen memalingkan wajahnya, "dan mau gendong gue ke UKS. Padahal 'kan gue berat," cicitnya melanjutkan. "Itu bukan apa-apa kok, sebagai calon pacar yang baik itulah yang harus dilakukan, dan kamu gak berat kok cuma kebayakan dosa aja kayak aku," ucap Dewa lagi sambil nyengir, lalu mulai fokus membersihkan toilet. *** Tidak ada percakapan antara mereka lagi setelah itu, Queen hanya diam saja tidak tau mau bilang apa lagi. Dia sungguh malu pada Dewa, walau dia telah mengejek dan membentak Dewa tapi Dewa tetap mau menolongnya. Dewa juga tidak mau terlalu banyak biacara takut membuat Queen tidak nyaman, namun dia juga tidak suka kesunyian. Mulutnya seakan gatal ingin mengatakan banyak hal. Setengah mati Dewa mencoba mengunci mulutnya untuk tidak berbicara, namun akhirnya gagal. "Lalalala, uyeye, uhuy-uhuy, lululu," nyanyi Dewa dengan nada tidak jelas, dia membuat alat pel sebagai mikrofon. "Anu ... makhluk astral, eh maksudnya Dewa boleh gak gue minta satu permintaan sama loe?" tanya Queen membuat konser tidak jelas Dewa terhenti. "Apa aja boleh, akan aku lakukan dengan sepenuh hati iniii, uye," jawab Dewa dengan bernada dan mata berbinar-binar. "Jangan panggil gue pakai aku-kamu bisa? Pakai lo-gue aja soalnya gue gak nyaman," pinta Queen. "Dan jangan panggil gue rubah galak, gue gak suka!!!" "Oke," jawab Dewa singkat, padat, jelas. "kalau gitu gue panggil lo ikan cupang aja, 'kan ikan cupang suka berantem kayak loe," tambah Dewa. "Jangan coba-coba," titah Queen dengan sorot mata tajam seperti hendak menerkam Dewa. Seketika bulu kuduk Dewa berdiri, "Seram," gumamnya, "tapi cantik." Dewa kemudian tertawa kecil. Queen dan Dewa melanjutkan membersihkan toilet, Dewa tetap melanjutkan konsernya yang tidak jelas sedangkan Queen berjalan lurus lalu mengambil ember berisi sabun di dekat Dewa. "Eeeh itu masih licin soalnya tadi aku eh gue nuangin sabun keba ...." Dewa menghentikan perkataannya karena Queen sudah terlanjut meluncur bebas karena terpeleset. Dewa membuang alat pelnya lalu dengan sengaja menabrakkan tubuhnya dengan tubuh Queen agar Queen berhenti. Queen membuka matanya perlahan, dia merasakan ada yang aneh kenapa tubuhnya tidak merasakan sakit. Karena Queen berpikir dia berhenti karena membentur dinding toilet. "Mahkluk astral!" seru Queen kaget, saat tubuhnya menimpa tubuh Dewa. "Hei bangun, mahkluh atstal bangun dong," ujar Queen dengan panik sambil menepuk-nepuk pipi Dewa. "Aduh gimana ni? Aduh berdarah gak tuh kepala ya, tapi gak ada darah yang keluar kok. Aduh apa keras banget kepalanya ngebentur lantai ya, aduh apa dia pingsan ya?" Queen menggigit kukunya sambil berseru panik. *** Dewa membuka mata perlahan, kepalanya masih terasa pusing. Sepertinya kepalanya terbentur agak keras ke lantai dan tubuhnya ke dinding toilet. "He!" kaget Dewa saat melihat Queen menangis. "Lo kenapa? Ada yang sakit ya?" Dewa memegang dan melihat dengan teliti tangan Queen. "Akhirnya loe sadar juga makhluk astral," lirih Queen sesenggukan. "Gue kenapa emang? Oh, oh gue tau apa tadi gue berubah jadi ironman karena makan odading mang oleng," canda Dewa berharap dapat membuat Queen berhenti menangis, tapi tetap saja Queen masih terus menangis. "Udah dong jangan nangis mulu sakit gue liatnya, gue baik-baik aja kok sehat walafiat, segar dan bugar rohani, jasmani." Dewa berdiri walau agak sempoyongan lalu menunjukkan ototnya yang tidak ada sama sekali. "Dasar otot malu-maluin, habis ini gue mau olahraga biar ada ototnya ah," kata Dewa dalam hati. Dewa lalu berjongkok menghapus air mata Queen. "Udah ya jangan nangis, makhluk astral mana bisa sakit apalagi mati 'kan, buahahaha." Dewa tertawa seperti raksasa di film-film. "Makasih ya, maaf sekali lagi udah ngejek loe dan maaf juga gak bisa angkat loe ke UKS karena gue gak kuat."
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
seruu
2d
0bagus
29/06
0bagus
28/04
0Tingnan Lahat