Yoon di restoran. Lebih tepatnya dia sedang duduk di kantornya. Sudah tidak lagi ikut memasak di dapur kecuali untuk spesial menu yang biasanya hanya tersedia 30 porsi di setiap akhir pekan. Walau seluruh pekerja adalah vampir Wingsirian, namun berada di dapur sedikit menganggunya. Bagaimanapun aroma darah manusia yang sedang menyantap makan malam di luar sangat menganggu indra penciumannya. Yoon sedang asyik menuliskan perasaannya di sebuah notebook bewarna kuning. Bukan diary walau serupa. Hanya catatan emosinya. Apa yang dia alami selama 250 tahun belakangan ini. Baginya catatan itu adalah caranya untuk merefleksikan diri. Memastikan apakah dia menjadi manusia? Hm, sosok yang baik untuk sesama. Semua catatannya tersimpan rapi di sebuah lemari di kamarnya. Selain menulis, Yoon juga hobi memainkan piano. Hal yang mulai dia pelajari sekitar 120 tahun yang lalu. Saat dia tak sengaja melewati sebuah toko musik dan pemiliknya yang seorang pria renta sedang memainkan sebuah piano antik namun masih melantunkan musik yang indah. Karena terlalu sering berkunjung, sesaat sebelum kematiannya, pria tersebut menyerahkan piano nya pada Yoon. Kembali ke restoran. Yoon ingat Kay sedang makan malam dengan Cassie di lantai dua. Balkon indah dengan pemandangan menghadap langsung ke kota. Yoon sudah membantunya banyak dengan dekorasi romantis sederhana dan manis juga spesial menu untuk pasangan yang sedang di mabuk asmara tersebut. Yoon berjalan mendekati sebuah meja yang ada di balkon lantai dua restorannya. Terlihat sepasang kekasih saling menatap dengan genggaman tangan yang seakan tak ingin lepas. Membuat iri siapapun yang melihatnya. Tampan dan cantik juga terlihat saling mencintai. Nampak sempurna satu sama lain. "Hai kalian. Jadi bagaimana makan malamnya? Enak?" Sapa Yoon siapa lagi pada Kay dan Cassie disana. "Hai Yoon. Lama tidak bertemu. Makanannya selalu enak Yoon. Dan mejanya indah. Terima kasih Yoon,” Puji Cassie. "Tentu saja harus indah untuk gadis seindah kau Cassie,” Senyum Yoon tulus. "Hei hei hei. Tolong hargai ada kekasihnya di sini Yoon,” Sela Kay yang disambut tawa Yoon dan Cassie. "Lanjutkan ya, aku akan kembali ke bawah. Bilang saja pada pelayan kalau kalian butuh apapun,” Ucap Yoon. Yoon berjalan menyusuri tangga. Kegiatan sesederhana ini sangat melelahkan untuk Yoon. Wajahnya memang terlihat sama seperti ratusan tahun lalu. Tapi kekuatan tubuhnya seperti laki-laki berusia 70 tahun. Aku akan pergi berjalan-jalan. Dengan mantel hitam yang menutupi sebagian wajahnya dan topi vandora warna serupa. Yoon berjalan tanpa arah. Hanya mengikuti kemana kaki melangkah. Sampai dia mendengar suara gadis yang sepertinya sedang menggerutu. Begitu jelas sehingga Yoon yakin sumber suara ini dekat. Pendengaran Yoon tentu 10 kali lebih baik daripada manusia biasa. Yoon mampu memilih suara mana yang ingin dia dengar. Yoon juga mampu mendengarkan semua atau tidak sama sekali. Dari situ lah dia menyaring keinginan-keinginan manusia. Dia akan segera tahu mana diantara mereka yang benar tulus dan membutuhkan. Kembali pada suara gerutu ini. Suara ini begitu jelas bahkan ketika Yoon tak ingin mendengar apa-apa. Masih ada yang terjaga semalam ini? Daerah yang tak terlalu ramai. Hanya beberapa rumah warga dengan jarak rumah berjauhan. Dan tengah malam seperti ini biasanya dia tidak mendengar banyak suara karena memang ini jam manusia tidur. Yoon mendekat ke arah suara gadis tersebut. Sebuah bangunan rumah sakit yang tidak besar terpampang di hadapan Yoon. Nampak seorang gadis duduk di sebuah bangku sendirian. Yoon mengawasi dari samping pohon. Tidak bersembunyi tapi sang gadis tak menyadarinya. Yoon tidak bisa memungkiri bahwa gadis di hadapannya cantik dengan cara yang berbeda. Dengan angin malam yang menerpa wajah dan rambutnya. Nampak polos dan sangat sederhana. Namun mata emasnya seakan menghipnotis Yoon. Dia mencoba mendengarkan dengan seksama gerutu gadis ini. "Apa aku harus cari tahu dimana ibu menyimpan uangnya? Itu pasti cukup kan. Akan ku coba cari di rumah setelah ini,” Lalu gadis itu beranjak membuang sampah makanannya dan berjalan menjauhi rumah sakit. Dia akan pulang ke rumahnya? Tanpa sadar sudah berjalan berjarak mengikuti gadis asing ini. Alana berjalan tanpa kata meninggalkan Juno dan Namu di rumah sakit setelah mengirim pesan singkat pada mereka berdua. Apa ibu akan marah kalau aku menggunakan uangnya? Aku hanya sangat ingin ibu sembuh. Kenapa ibu sangat egois. Tidak memikirkan perasaanku. Alana diam lagi hingga tiba di rumahnya setelah 10 menit berjalan. Tidak terlalu jauh karena rumah sakit ini memang letaknya paling dekat dengan rumah. Alana berjalan saja masuk ke dalam kamar ibunya. Mencari dimana ibunya menyimpan uangnya. Lemari paKayan, kasur, nakas. Mencari hingga kamar sang ibu sedikit berantakan tapi tak juga ketemu. "Dimana ibu menyimpannya? Bagaimana ini? Kalau aku bertanya pada ibu, dia juga pasti tak mengatakannya. Harus dari mana aku mendapatkan uang pengobatan ibu?" Alana menunduk lesu menutup wajahnya. "Aku harus coba meminjam uang? Ke Teja atau Jimi. Mungkin mereka bisa bantu,” Lalu ponsel Alana bergetar. Sebuah telepon masuk. "Ya Juno?" "Apa? Kondisi ibu makin parah? Baik, aku akan segera kesana,” Alana benar-benar tidak bisa memikirkan apapun saat ini. "Aku harus segera ke rumah sakit,” Itu saja yang bisa dia pikirkan saat ini. Namun alih-alih pergi, dia justru terduduk di ranjang ibu nya dan menangis. "Tuhan, tolong selamatkan ibuku. Aku, aku tidak memiliki siapapun lagi selain dia,” Alana menangis sejadinya. Kakinya terasa sangat berat dan dadanya terasa sangat sesak. "Hm. Ibunya sakit parah? Apa aku harus menolong gadis ini?" Yoon masih mengintainya dari balik dinding namum memutuskan untuk mendekat. "Apa yang kau tangisi nona?" Yoon bertanya dengan suaranya yang berat dan dalam. Tentu saja Alana terkejut dengan suara yang tiba-tiba. "Si, siapa kau? Kenapa ada di rumahku?" Tanya Alana takut. "Aku bisa membantumu,” Kata Yoon langsung. "Membantu? Mm-maksudnya?" Tanya Alana terbata masih tak mengerti. "Ibumu. Kau ingin ibumu sembuh kan?" Ucap Yoon tanpa basa basi. "Bagaimana kau tahu ibuku sakit? Siapa kau sebenarnya?" Tanya Alana. Yoon mendengus kesal sebelum menjawab. "Dengarkan saja aku baik-baik nona. Aku bisa membantumu menyembuhkan ibumu. Tapi dengan persyaratan. Kau harus membawakan aku lima ekor hewan betina yang sedang mengandung. Masing-masing setiap tanggal 15 dan 30. Bila kau ingkar, maka nyawamu jelas akan menjadi taruhan. Aku tidak akan memaksamu. Pikirkan saja dulu. Tapi ku sarankan jangan terlalu lama karena sepertinya ibumu tidak akan lama lagi,” Kata Yoon jelas. Alana jelas bingung, sangat, semua terdengar seperti lelucon baginya. "Aku tidak tahu apakah kau membual atau tidak. Aku bahkan tidak tahu kau siapa,” Tanya Alana. "Well, kau hanya perlu mencobanya,” Tawar Yoon. Alana berpikir. "Kau tidak punya banyak waktu,” Yoon menyela membuat Alana gusar. "Ba-baik aku akan melakukannya. Apa yang harus kulakukan?" Alana bicara. Yoon tersenyum simpul. "Mudah. Cukup letakkan sedikit darahmu, di sini,” Tiba-tiba entah dari mana Yoon mengeluarkan buku catatan kecil yang terlihat lusuh dengan sampul bewarna coklat. Tidak hanya namanya di kertas itu. Namun ada beberapa nama lain dan darah lain. Tak terbaca namanya karena Yoon membaliknya cepat. Ragu Alana mencari jarum di nakas dan hendak menusuk ujung jarinya sendiri. "Perlu bantuan?" Tawar Yoon yang dibalas gelengan keras dari Alana. Alana meluKay jarinya dan menempelkannya segera ke buku di hadapannya. "Kembalilah ke rumah sakit segera Alana,” Kata Yoon. Alana segera berlari ke rumah sakit. Walau kalimat terakhir pria tersebut terngiang terus di pikirannya. "Alana, bagaimana dia tahu namaku?" Alana langsung berlari ke UGD. Melihat Namu dan Juno disana. Juga nampak Jimi dan Joa yang hadir juga. "Dari mana saja kau Alana? Kami mencarimu,” Kata Juno. Alana tak menggubris dan hendak masuk ke dalam ruang UGD yang langsung ditahan Namu. "Dokter sedang menanganinya Alana,” Kata Namu mencoba menenangkan. Alana berangsur memeluk Joa yang menghampirinya untuk menenangkan. Sangat khawatir dengan apa yang terjadi dengan ibunya didalam. Ingin sekali menangis lagi tapi air mata nya serasa mengering. Alana menunggu hingga 10 menit kemudian Dokter Hosi keluar. Alana langsung berlari kecil menghampiri namun belum gadis ini bertanya sang dokter segera memulai pembicaraan. "Ini sebuah keajaiban Alana. Ibumu melewati masa krisisnya. Bahkan terlihat lebih baik dari sebelumnya. Kami hanya perlu memastikan kondisinya beberapa hari ini. Kau tidak perlu khawatir Alana,” Dokter Hosi tersenyum bangga menepuk bahu Alana dan berangsur pergi. "Ah tuhan, syukurlah,” Alana jatuh tersimpuh. "Syukurlah, jangan bersedih lagi Alana,” Kata Juno. "Betul, harus kuat untuk ibumu,” Kata Joa menyemangati. "Terima kasih. Kalian sudah menemaniku,” Alana bicara lagi dengan senyuman di bibirnya. "Dan, jangan khawatirkan tentang biayanya Alana. Aku sudah cerita pada ayahku tentang kondisi ibumu. Dan dia mau membantu,” Kata Juno. "Aku juga sudah bicara pada Teja dan rekan kita di tempat kerja. Ini tidak banyak tapi semoga membantu,” Namu menyerahkan sebuah amplop kepada Alana. Joa pun menyusul memberikan sebuah amplop. "Ini juga dari aku dan Jimi,” Katanya. "Kalian, terima kasih terima kasih. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membalas kebaikan kalian,” Alana menangis haru. Tidak hanya kesembuhan ibunya, dia bahkan tidak harus mencari uang untuk biaya pengobatan ibunya. Bagaimana bisa?
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
ceritanya menarik dan bagus
08/05/2022
1seruuu
30/09
0bagus aku suka novel nya
21/05/2025
0Tingnan Lahat