Alana sedang berada di tempat karaoke. Membersihkan sebuah bilik karaoke yang telah digunakan. Lalu Namu terlihat memasuki ruangan tersebut. "Sepeda diluar itu, milikmu?" Tanya Namu. "Iya Namu. Akhirnya aku membelinya,” Jawab Alana dengan senyumnya yang selalu meneduhkan hati. "Kenapa? Aku kan jadi tidak bisa mengantarmu lagi dengan sepedaku?" Kesal Namu. "Kita tetap bisa pulang bersama Namu. Kan rumah kita searah,” Jawab Alana yang masih saja sibuk mengelap meja. "Ah iya juga ya. Hehehe,” Tawa kikuk Namu. Lalu tiba-tiba ponsel Alana berdering. Dia segera mengangkatnya. "Ibu, kenapa ibu menelpon?" Tanya Alana mendadak panik. "Ah, ibu saya di rumah sakit? Baik saya akan segera kesana,” Dan Alana pun menutup teleponnya. "Kenapa Alana?" Tanya Namu. "Ibuku masuk rumah sakit lagi. Aku harus segera kesana. Aku akan menelpon Teja,” Seru Alana. Setelah menelpon atasannya itu yang walau terkesan dingin tapi dia memberi Alana iSoni. Dia tahu hanya ibu nya satu-satunya keluarga yang ada dan alasannya juga mau bekerja di tempat ini. "Aku akan ikut mengantarmu Alana. Bahaya bagimu untuk pergi sendirian ketika sedang khawatir seperti ini. Bisa-bisa malah kau yang terluka,” Tawar Namu. Alana ingin menolak tapi Namu memang benar. "Baiklah. Terima kasih,” Dengan mengendarai sepeda pancal Namu, mereka menempuh perjalanan selama 20 menit menuju rumah sakit yang letaknya lumayan dekat dengan rumah Namu. Alana langsung saja berlari diikuti Namu setelah memarkir sepedanya. Langsung menuju ruang UGD. Informasi tempat ibu Alana dirawat. Alana melihat Juno di depan pintu UGD. Ya, dia yang menelpon Alana tadi. "Ibumu sedang mendapat perawatan sebentar Alana. Tadi beliau banyak muntah darah,” "Bagaimana kau?" Tanya Alana sebenarnya masih bingung. "Aku mendengar suaranya terbatuk tadi saat lewat depan rumahmu. Tapi karena ku perhatikan batuknya tak kunjung usai aku coba mendekat dan ibumu sudah seperti itu,” Kata Juno takut salah bicara. Alana terduduk di bangku pengunjung. Menangis, takut kondisi ibunya kembali memburuk seperti sebelumnya. Apalagi kalau sampai, pikiran buruk itu melandanya. Sang dokter terlihat keluar dari ruangan. Dokter yang memang selama ini menangani Emma. Alana mengetahui namanya adalah Dokter Hosi. "Bagaimana keadaan ibu saya dok?" Tanya Alana. "Alana, apa ibumu tidak melanjutkan pengobatannya?" Tanya Dokter Hosi. "Ibuku selalu rutin ke rumah sakit sebulan sekali dok. Aunt Josephina selalu mengantarkannya. Kenapa dok?" Tanya Alana. "Dari catatan rumah sakit kami sudah dua bulan ibumu tidak melanjutkan pengobatannya ke rumah sakit. Kondisinya saat ini benar-benar lemah Alana. Semoga ada waktu untuk ibumu melanjutkan pengobatannya ya. Untuk saat ini kami akan usahakan yang terbaik,” Dokter Hosi mencoba menenangkan. "Masuklah, temui ibumu. Jangan terlalu bersedih. Perawat akan membantumu mengurus administrasi,” Lanjut sang dokter lagi. Alana masuk ke ruangan UGD setelah menghapus air matanya. Sedih namun harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya. Kenapa tak berobat? Jelas-jelas Alana selalu memberikan uang berobat untuk ibunya. Bahkan memberi upah untuk Aunt Josephine setiap kali mengantar ibunya. Dilihat ibunya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sedang tertidur memejamkan matanya. Alana mendekat, menggenggam tangan sang ibu erat. Merasakan kehangatannya lagi. Kadang mengusap pelan pipi sang ibu. Namun rupanya sang ibu masih betah tertidur. Setelah 15 menit Alana memutuskan untuk keluar ruangan dulu. "Juno. Terima kasih sudah membawa ibuku kemari. Kalau tidak ada kau mungkin," Alana menggantung kata-katanya. Juno reflek memeluk gadis itu ke dalam dekapannya. "Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah tugasku. Kau harus kuat untuk ibumu,” Alana melepas pelukan Juno. Tersenyum memandang wajah dihadapannya. Di lain sisi Namu menatapnya dengan nanar. Lalu Alana berpindah ke Namu. "Terima kasih sudah mengantar. Apa kau tak kembali ke tempat karaoke? Karyawan lain mungkin mencarimu,” Tawar Alana sambil menggenggam tangan Namu. Bergantian membuat Juno kesal. "Aku akan menemanimu di sini,” Jelas Namu. "Tidak perlu, kau bisa kembali bekerja. Aku bisa menemani Alana di sini,” Juno mencoba. "Tidak, aku sudah bilang pada Teja juga karyawan lain kalau aku di sini. Jadi itu tak akan masalah Alana,” Namu bicara lagi. "Kenapa kalian malah berdebat? Kalau kalian ingin, kalian berdua bisa menemani aku di sini,” Jelas aura panas terpancar antara Juno dan Namu sekarang. Tapi mereka tahu saat ini Alana yang paling penting. Mereka berusaha menekan ego masing-masing. Lalu sebuah suara membuyarkan mereka. "Alana,” Alana menoleh dan, "Aunt Josephine!" Alana langsung berlari memeluk bibinya itu, kembali menangis. Josephine adalah adik ipar dari Emma, ibu Alana. Sedangkan suami Josephine, Uncle Damian adalah adik kandung dari Emma yang sudah meninggal dua tahun lalu. Meninggalkan seorang anak laki-laki tampan yang sekarang berusia 10 tahun, Raphael. "Maafkan aunt baru bisa datang. Bagaimana kondisi ibumu?" "Masih beristirahat di dalam aunt. Owh ya aunt, aku mendapat informasi dari dokter. Dia berkata ibu tidak melanjutkan pengobatannya. Apa itu benar?" Tanya Alana. Setelah diam beberapa saat baru Josephine mulai bicara. "Alana sebenarnya, ibumu memang sudah tak lagi berobat,” Alana merasa hatinya hancur namun mengisyaratkan bibinya untuk melanjutkan. "Sebelumnya jangan marah dulu tapi ibumu punya alasan. Selama ini ibumu menabung untukmu Alana. Uang yang selalu kau beri untuk ibumu yang seharusnya untuk pengobatan, semuanya dia tabung. Emma ingin kau berhenti bekerja dan melanjutkan kuliah. Emma merasa dia sudah terlalu banyak merepotkanmu Alana. Dia merasa bersalah sudah merenggut masa mudamu dan tidak memberi hidup yang layak. Aku sudah melarangnya tapi ibumu mengancam akan pergi kalau aku mengatakannya padamu. Maafkan aunt, Alana,” Jelas Aunt Josephine panjang lebar. Alana tertunduk lesu. Entah dia merasa sedih, kecewa, juga marah. Usahanya selama ini untuk bekerja serasa sia-sia. "Pantas saja ibu tidak sembuh bahkan setelah selama ini. Ternyata memang ibu tidak serius berobat. Seharusnya aku memastikan sendiri ibu benar-benar pergi ke rumah sakit atau meminum obatnya. Semua salahku,” Setelah sekian lama Aunt Josephine memutuskan untuk pulang karena anaknya menunggu sendirian dirumah. Seorang perawat memasuki UGD dan menginfokan pada Alana bahwa ibunya sadar. Alana segera saja masuk ke dalam. "Ibu,” Alana langsung berlari menuju ranjang ibunya. "Maafkan ibu anakku,” Ujar Emma menangis haru. "Aku sudah mendengar semua dari Aunt Josephine. Kenapa bu? Kenapa?" "Ibu ingin kau bahagia Alana. Ibu ingin kau melanjutkan hidup,” Ujar Emma. "Apa yang ibu pikirkan? Bagaimana mungkin aku melanjutkan hidup kalau ibu meninggalkan dunia ini!" Alana meluapkan amarahnya. "Maafkan ibu, ibu kira itu yang terbaik untukmu,” "Jangan tentukan apa yang terbaik untukku bu. Aku ingin ibu sembuh, baru aku akan bahagia. Aku tidak perlu kuliah, pekerjaanku semua sudah lebih dari cukup,” Alana melanjutkan di sela tangisannya. Ibu dan anak ini berpelukan. Meluapkan kesedihan satu sama lain. Alana sangat mencintai ibunya. Begitupun sebaliknya. Hanya cara mengungkapkannya yang salah. Setelah sang ibu kembali tidur, Alana melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Keluar ruangan UGD menemui Juno dan Namu. "Kalian tak ingin pulang untuk istirahat?" Tawar Alana. "Tidak perlu khawatirkan kami Alana. Kami bisa istirahat di sini,” Kata Namu. "Kau haus Alana? Atau lapar?" Tanya Juno tiba-tiba. "Hm. Ya juga. Aku belum makan malam tadi di kafe,” Mendengat jawaban itu dua pria tampan didepannya ini segera berdiri dan berjalan cepat berlomba menuju kantin. Selang 10 menit kemudian Namu datang membawa kopi susu hangat dan mi instan cup. Sedangkan Juno datang membawa teh dingin kemasan dan nasi goreng. "Ini Alana makanlah,” Tawar Juno sedikit menggeser Namu. "Ah ini kopi susu hangat, jangan minum dingin kalau malam begini,” Namu tak mau kalah. "Nasi goreng ini juga hangat Alana. Pasti mengenyangkan dan nyaman di perut daripada mi instan,” Kata Juno lagi. Alana sukses dibuat bingung oleh tingkah dua orang laki-laki didepannya ini. "Ada apa sih kalian ini? Seperti anak kecil saja. Lebih baik kalian semua duduk di sini pastikan ibuku baik-baik saja. Aku akan makan sendiri. Jangan ada yang mengikutiku!" Tegas Alana. Walau keduanya terkejut dengan Alana yang tak biasa, tapi mereka mengangguk saja menuruti kemauan Alana. Alana mengambil semua makanan yang mereka bawa. Pergi ke taman samping rumah sakit. Makan sendirian disana. "Ah, aku sudah cukup sibuk dengan merawat ibu. Malah semakin repot karena Juno dan Namu yang sangat berisik. Aku harus memikirkan cara untuk mendapatkan uang perawatan ibu di rumah sakit. Apa aku harus cari tahu dimana ibu menyimpan uangnya? Itu pasti cukup kan. Akan ku coba cari di rumah setelah ini,” Alana pun berjalan kaki menuju rumahnya perlahan.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
ceritanya menarik dan bagus
08/05/2022
1seruuu
30/09
0bagus aku suka novel nya
21/05/2025
0Tingnan Lahat