Mobil Innova yang dikemudikan oleh supir Papa Leo, memasuki gerbang rumah gue. Di sana sudah ada mobil Papa, artinya mereka sudah pulang terlebih dahulu. Gue pikir Papa benar-benar berubah tulus. Nyatanya, tetap licik seperti biasa. Bisa-bisanya ninggalin anak di gedung serba guna. Tidak banyak bicara, di ruang tamu ada Papa dan beberapa keluarga dekat. Gue terus saja naik, menuju kamar. Riasan yang mengetatkan wajah, harus segera dibersihkan. Kaku rasanya muka gue. Pintu didorong dari luar, lelaki itu masuk. Gue kikuk sendiri, sementara dia hanya diam. Menggantungkan jas di balik pintu, lalu menghempaskan diri ke atas kasur. Kamar yang berhias layaknya kamar pengantin baru, mendadak dingin dan aneh. Jangan harap ada kemesraan dan cinta di sini. Boro-boro, ceunah. Gue gugup dan canggung, tapi bukan karena takut menghadapi malam pertama. Gue gemetaran, sumpah. Bukan karena lapar, tapi karena menahan emosi, pada dia manusia bergelar suami. Make up yang tadi menempel tebal, telah terangkat sempurna. Tinggal mandi, dan berganti pakaian tidur. Takut gue tuh, ntar dia nyusulin ke kamar mandi. Wadidaw. Eh tapi, nanti tidur seranjang dong dengannya?! Tidak, tidak ... ini jelas tidak boleh terjadi. Pengen teriak dari jendela sampai mobil damkar datang, help me ... help me! Beugh, nggak ada pilihan, bantal guling sengaja gue taruh di tengah. Sebagai batas gue dan dia. Tinggal tidur dan memunggungi lelaki itu. Letih mengalahkan ego, tubuh memberontak minta jatah. Maksud gue minta jatah untuk diistirahatkan. Ngapain pada traveling sih pikiran kalian? 🍁 Pagi menyingsing, gue tertidur cukup pulas. Sampai nggak sadar tuh semalam udah diapain sama Leo. Dih amit-amit anak naga. Well, ketika mata gue terbuka sempurna dan nyawa udah kumpul ... sama sekali nggak gue temui dia di sebelah ranjang. Kemana dia, jangan-jangan jatuh ke kolong ranjang kena tendangan maut gue? Peduli amat! Sedikit bermalasan, gue turun. Tanpa mencuci muka atau berbenah menjadi lebih rapi. Di bawah, di ruang makan terdengar obrolan pagi yang hangat. "Loh, kok belum mandi?" tegur Mama terkesiap melihat gue turun. "Eh?" Gue kikuk sendiri, dipelototi begitu. "Mandi dulu sana, Ara! Baru turun, gimana sih pengantin baru!" perintah Mama, mendelik marah. Agak bingung, gue naik ke atas. Biasanya mandi nggak mandi juga fine-fine aja tuh. Sampai di kamar mandi, akhirnya gue sadar maksud Mama. "Ya Ampun, pasti Mama berpikir kami semalam ... makanya disuruh mandi dulu. Diih, amit-amit!" Gue biarkan air hangat dari shower mengguyur agak lama. Berharap segala yang sudah terjadi hanyalah mimpi. Hanyut bersama air yang deras ini. Lalu, ketika gue terbangun, tetaplah Tsamara yang lincah dan supel seperti yang dibilang orang-orang. Gue gitu loh, eh apaan sih? *Plak "Udah belum?" tegur seseorang di balik pintu. "Belum, apa sih?" teriak gue jengkel. "Kebelet, aku masuk ya!" balasnya. Apa? Mulai lancang ya dia! Buru-buru gue selesaikan mandi, dan bergegas keluar dengan handuk melilit sebagian tubuh. "Nggak usah lama-lama lihatnya!" Ucapan ini mungkin seperti membentak. Jelalatan tuh mata lihat kulit mulus gue, semulus paha Cherrybelle. "Ngarep!" Dia mencelos, seperti biasa sinis. Sudah rapi, wangi, dan lebih segar. Gue turun ke bawah. Jelas saja butuh sarapan, dari semalam gue nggak makan. Kremi dalam usus mulai demo. Hari ini, dan bahkan seterusnya harus menghadapi kenyataan baru. Sebagai istri orang. Hastagaaahh! Satu potong roti selai dengan meses coklat gue loloskan dalam mulut. Papa melirik dengan senyum aneh. Begitu juga Mama, ada sirat yang tak biasa. "Kurangi sifat buruk itu, Ara. Mulailah bersikap lebih anggun layaknya wanita." Kalimat Papa barusan gue telen bersama roti yang meluncur menuju lambung. Kurang anggun apa sih gue. Anggun C. Sasmi aja lewat ini mah. *Heem. "Nanti habis Ashar ke Pulau Mandeh, honeymoon. Papa sudah pesan tempat dan reservasi untuk satu minggu. Kalian tinggal berangkat dan menikmati." Papa melanjutkan obrolan. Leo, sudah kembali dan ikut bergabung. Duduk di sebelah gue, meraih secangkir kopi yang agak jauh darinya. "Papa kok nggak bilang dulu, sih? Bisa-bisaan sendiri bikin schedule." sungut gue. "Bukan gitu, Ara! Papa sudah jauh-jauh hari memesannya," sela Mama. "Seenggaknya, Papa itu diskusi dulu sama Ara. Belum tentu 'kan Ara setuju ke sana. Kali aja Ara mau pilih tempat lain!" "Jangan sampai rusak sarapan pertama ini, Ra!" tegas Papa, nada bicaranya sudah berubah. Baiklah. Gue nggak bernafsu untuk bertengkar lagi. Cape, bosan, dan malu juga. Segera gue habiskan sarapan, dan kembali ke kamar. Memilih beberapa helai pakaian, memasukkan dalam koper. Mau honeymoon atau apalah namanya nanti. Setidaknya menghindari pertengkaran dengan Papa itu jauh lebih baik. Hati Papa memang sekeras batu. Tidak seorang pun berani membantah apa maunya. Sudahlah, biar waktu saja yang melunakkan kalbu papa nanti. Supir yang semalam datang menjemput. Koper yang tidak begitu besar dinaikkan ke bagasi. Gue naik, dengan wajah datar dan tidak bersemangat. Bahkan, belum sepatah katapun terucap antara kami berdua. Suami istri macam apa ini, Ferguso? "Kita sampainya malam nanti, Pak." Sang supir membuka suara saat keluar dari jalan kompleks. "Iya nggak masalah, nggak usah buru-buru. Santai aja nyetirnya," sahutnya sambil memainkan ponsel. "Iya, Pak." Lalu, hanya hening. Diam membisu sepanjang jalan. Hanya ponsel dalam genggaman yang menjadi teman, guling-guling di layar dari satu sosial media, ke sosial media lain. Foto-foto resepsi pernikahan memenuhi timeline. Ya, mereka sahabat-sahabat gue mengabadikan moment itu dengan segala kegesrekan mereka, lalu membanjiri media sosial. Doa-doa penuh harap menghiasi caption-nya. Notice Facebook memberitahukan ada permintaan relationship, Menikah dengan Leo? Eh bentar, gue coba klik riwayat pertemanan. Gila, Bray ... gue temenan sama dia udah dari 9 tahun lalu. Dari zaman gue nulis 'saya' masih 54y4, kita udah temenan. Jangan-jangan do'i beneran naksir gue. Diintilin dari 9 tahun lalu, Lur. Haruskah gue terima? Di sana, foto profilnya sudah berganti dengan salah satu foto saat di tangga. Tidak buruk, gue terlihat cantik dengan hiasan kepala yang megah. Oke, why not! 🍁 20.00 WIB Kami memasuki kawasan wisata Pulau Mandeh. Mobil sudah terparkir dengan sempurna. Beberapa orang dengan seragam khusus menghampiri dan menyambut ramah. Leo, berjalan tanpa peduli pada gue, diikuti oleh satu orang petugas atau tour guide di lokasi wisata itu. Membawa satu tas punggung yang tidak begitu besar. Dia menuju satu bangunan mirip gazebo, seperti rumah pondok di sawah. Sederhana sebenarnya, namun karena menghadap ke pantai, beralas pasir putih, nilai jualnya menjadi mahal. "Ngapain kamu ke sini?" tegurnya sinis. "Ha?" "Kamu di sebelah, emang ada yang bilang kita bakalan satu tempat? Jangan ngarep dan ge-er kamu ya!" sentaknya dengan senyum sinis, meledek. Deg! Betapa malunya gue. "Owh, Oke!" jawab gue singkat. "Mba, bantu bawa kopernya, Ya. Terima kasih sebelumnya." Gue menginstruksikan tour guide yang mengikuti dari tadi. Membawa muka merah, gue beralih ke gazebo di sebelah. Luar biasa sekali Leo ini. Mempermalukan gue di depan orang lain. "Awas kamu nanti!" dengkus gue sebel. Langit malam amat bersih, sayang sekali tidak ada rembulan yang muncul. Hanya deretan gemintang kelap-kelip menyapa malam yang pekat. Debur ombak, menjadi irama yang menenangkan. Sesekali tampias mengecup gue yang duduk di bangku bambu. Di seberang sana, dia masih berkutat dengan laptop. Seakan matanya tak berkedip menatap layar. Sepasang kaca mata menggantung di ujung batang hidungnya yang mancung. "Bulan madu macam apa ini?" rutuk gue sendiri. "Lagian gue sejujurnya nggak siap sih untuk nganu, eh gimana sih maksudnya?" Gue bicara sama angin, syukur-syukur nggak jadi biang ghibah di bikini bottom. Timbang berdingin-dingin di luar, lebih baik tidur. Lumayan untuk membayar energi yang terkuras kemarin. Bodo amat dia mau ngapain, nggak ada urusan! Hingga matahari mulai mengintip di sela-sela dinding, gue masih betah dalam selimut yang nyaman. Gerah-gerah sedikit biasalah. Suasana yang hangat, dengan alunan ombak yang menggebu menyerbu karang, meninabobokan gue berkali-kali. "Pagi, Mba Ara ... mau dibawakan sarapan apa?" sapa seorang petugas dari balik pintu. Oh astaga! Akhirnya, gue harus bangkit dan membuka pintu. Tidak baik membuat orang menunggu lama. Betewe, udah jam berapa sih? "Mba, saya mau susu coklat panas, sama mi rebus agak pedas, bisa?" "Bisa, Mba. Kalau Mba mau mandi, harus tampung air dulu ya. Mau saya bantu?" suguhnya. "Oh begitu, boleh." Gue buka pintu lebar-lebar, dia masuk dan menuju kamar mandi agak ke belakang. Menyalakan kran. "Airnya agak kecil, kalau pagi semua pondok pasti menyalakan air. Nggak apa-apa menunggu ya, Mba?" "Iya, nggak apa-apa." "Saya permisi menyiapkan sarapannya," ujarnya, lalu pergi. Gue melangkah keluar, cahaya mentari langsung mengecup kulit. Khas panas pantai, hawa kering sedikit berdebu. Gue bentangkan tangan, memberi ruang pada angin menyapa seluruh tubuh. Rambut tergerai dilibas angin. "Oh my life," desis gue memejamkan mata sekian detik. Mencoba berhalusinasi lagi di pulau Jeju gitu. Di gazebo sebelah, seorang lelaki dengan kaos tanpa lengan dan celana pendek sedang menikmati secangkir kopi. Mengenakan kacamata hitam, berdiri menatap lurus ke arah lautan. Keren juga! desah gue dalam hati. "Ya ampun! Apa-apaan sih, Ara!" Lagi, membantah sendiri. Dia melirik, astaga ... gue gelagapan. Begitulah, entahlah apa ini. Gue nggak perduli. Seperti tersangka sebuah kejahatan, terciduk oleh petugas. Sialan! Lagi, sepanjang hari dia hanya berkutat dengan laptop! Se-workaholic itukah manusia satu ini? Bahkan dia tidak peduli gue sudah main ke mana, dan naik wahana apa saja. Apakah ini honeymoon atau liburan sendiri-sendiri? Dasar Leo! Ada ya manusia seperti dia! Beruntunglah Papa sudah ambil paket VIP, tour guide secara bergantian melayani gue mengarungi setiap sudut kawasan wisata ini. Dia pikir gue akan mati kutu kehabisan akal atau mati gaya, cuma karena nggak dipedulikan. No! Tentu saja big no. Gue tetaplah Tsamara, yang selalu punya cara untuk menikmati liburan. Apalagi di kawasan Mandeh yang keren ini. Terserah mau kerja di depan laptop sampai mata juling, bodo amat. Gue bisa melenggang mencecap udara pantai yang segar. Bermain-main dengan debur ombak liar. "Senang ya bisa menikmati liburan?" ucapnya tanpa menoleh. Senja mulai menyapa, gue baru saja naik ke tangga. Entah sejak kapan dia di sana. Bukan kah dia seharusnya di sebelah? "Any problem, Mister?" Sengaja gue bertanya dengan ledekan. "Tentu saja tidak, kenapa harus jadi masalah. Itu hak kamu, mau menikmati atau tidak, ya terserah." "Lalu kenapa Anda seperti keberatan? Papa memesan dan membayar semua fasilitas ini untuk dinikmati, bukan?" Dia tersenyum simpul, bibirnya tertarik ke atas sedikit. Gue benci ekspresi smirk itu! "Benar-benar childish!" desahnya membuang pandangan ke arah samudera. "Hello, Pak Leo yang terhormat. I know, saya baru dua puluh tahun. Anda memang sudah matang. Tapi, nggak perlu juga melabeli orang kekanak-kanakan. Anda tahu, bahwa umur itu tidak menjamin kedewasaan. Seperti Anda salah satunya, umur saja yang tua, tapi cara berpikirnya tidak ubahnya seperti remaja labil!" Setengah berteriak, gue lantang bicara. Menunjuk-nunjuk muka menyebalkan lelaki tersebut. Dia tercengang, ya tentu. Tidak menyangka akan dibombardir oleh Tsamara yang dia katakan childish. Tbc
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
27/07
0suka bangeeeeet sama ceritanya,, bagus banget,,
08/02/2025
0bgus
21/10/2024
0Tingnan Lahat