logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Hasrat Sang Raden

Wijaya menatap satu per satu para prajurit yang sedang melakukan latihan kanuragan hari ini. Dia sendiri sudah berlatih sejak usia dini, di mana semua pangeran memang diwajibkan menguasai ilmu bela diri. Hanya saja ilmunya memang lebih mumpuni dibandingak dengan pangeran yang lain, sekalipun usianya lebih muda.
"Raden ...." Salah seorang pelatih prajurit menyapanya.
Wijaya membalasnya dengan mengangguk sembari terus memantau latihan itu hingga satu jam ke depan. Melihat para parajurit tampak bersemangat, lelaki itu menjadi tertarik dan ingin berlatih juga. Sejak pergi merantau untuk belajar, dia lama vakum dari bela diri.
Ratu menginginkannya mengusai banyak pengetahuan, tak hanya beladiri dan berkuda. Wijaya bahkan fasih berbasa asing dan Cina.
"Ayo, Raden. Ikut kami latihan," ajak prajurit yang lain.
Wijaya menyanbutnya dengan antusias dan langsung membuka pakaian, membiarkan kulitnya yang cokelat terpapar sinar matahari. Otot-otot tubuhnya begitu liat, dengan perut rata karena kerap dilatih. .
Wijaya memang tak setampan saudaranya yang lain. Bentuk wajahnya standar, tetapi rahangnya begitu kokoh. Sikapnya yang tenang dan dewasa justeru menjadi daya tarik sendiri.
Peluhnya bercucuran ketika mengikuti gerakan demi gerakan. Tubuhnya terasa sedikit kaku karena lama tidak dilatih. Namun, rasa suka cita mengalir di dalam darah lelaki itu. Semangatnya berkobar
"Siapa yang mau adu tanding?"
Pelatih bertanya ketika latihan telah selesai. Beliau adalah panglima terdahulu yang telah undur diri karena menginjak usia sepuh. Hanya saja fisiknya masih kuat sehingga dipercaya Baginda Raja untuk melatih para prajurit keraton.
Mereka duduk membentuk lingkaran sementara yang akan bertarung berdiri di tengah-tengah. Dua orang prajurit memulai aksinya. Mereka saling mengadu kekuatan. Memperaktikkan ilmu yang selama ini dipelajari untuk pertahanan diri.
Tidak boleh ada senjata saat adu tanding seperti ini. Mereka hanya akan berbagi pengalaman dan bukan mencelakai teman sendiri. Kekuatan tangan dan kaki serta taktik menghindar serangan lawan adalah kuncinya. Ketika itu telah berhasil dikuasai, maka melakukan serangan balasan sangat mudah dilakukan.
Semua prajurit yang menyaksikan adegan itu bersorak riuh memberikan semangat. Termasuk Wijaya. Dia memang membumi dan bergaul dengan siapa saja tanpa melihat kasta. Berbeda dengan saudaranya yang lain, yang lebih meningratkan diri.
"Raden mau mencoba?" tanya pelatih saat melihat pangeran mereka begitu antusias.
Wijaya bahkan bertepuk tangan ketikan salah satu dari parjurit memenangkan pertarungan. Lelaki itu ikut bersorak dan berdiri untuk memberikan dukungan.
"Siapa yang alan menjadi lawanku?" tanya Wijaya.
"Kamandanu," jawab si pelatih.
"Mengapa harus dia?" tanya Wijaya heran.
"Karena lawan yang sebanding untuk Raden hanya Kamandanu," jawab pelatih.
Wijaya tertegun sesaat. Beberapa hari tinggal di keraton, membuatnya mendengar kehebatan panglima baru itu. Hanya saja dia belum pernah betatap muka secara langsung. Hanya melihat sekilas pada saat acara penyambutan dan pertemuan di pendopo.
"Baiklah. Di mana dia?" Mata Wijaya menatap sekeliling dan orang yang dimaksud sama sekali tak nampak.
"Di belakang, sedang melihat kuda. Hamba akan mengutus seorang prajurit untuk memanggil," jelas pelatih lagi.
"Kenapa dia tidak ikut latihan bersama yang lain?" Wijaya kembali bertanya. Setahunya, sebagai kepala prajurit, Kamandanu diwajibkan untuk membantu latihan setiap hari.
"Dia sedang dimintai tolong oleh Daksa untuk melihat kuda-kuda yang bermasalah. Beberapa ada yang mengamuk di malam hari," jelas pelatih.
Dahi Wijaya berkerut. Bukankah Daksa itu adalah ayah dari Sekar. Itu berarti Sekar juga mengenal penglima mereka.
"Baiklah, aku akan menunggu sambil melihat yang lain bertarung," kata Wijaya tenang.
Satu jam berlalu, muncullah Kamandanu dari balik gerbang. Dia langsung menuju tanah lapangan tempat latihan.
"Raden."
Kamandanu duduk di samping Wijaya dan menyapanya dengan penuh penghormatan. Tubuh lelaki itu basah karena peluh. Sehingga dia meminta salah satu prajurit untuk mengambilkan handuk.
"Apa kau siap bertarung denganku?"
Wijaya bertanya tanpa basa-basi. Kamandanu pasti sudah tahu alasan mengapa dia dipanggil datang.
"Hamba siap beradu tanding dengan Raden," jawabnya mantap.
"Kalau begitu, jangan ragu-ragu. Keluarkan semua kemampuanmu. Jangan merasa sungkan atas statusku."
Wijaya langsung berdiri dan berjalan menuju ke tengah lapangan. Sikapnya disambut dengan suara riuh dan sorakan dari parjurit yang lain. Tentu saja mereka menjagokam sang pangeran.
Sementara itu, Kamandanu sedang besiap-siap. Lelaki itu melepas semua atribut yang ada di tubuhnya, menyisakan sebuah celana panjang yang diikat kuat pada simpul depan.
Aba-aba diberikan. Pertarungan pun dimulai. Dua lelaki gagah dan tangguh itu saling beradu kekuatan. Sesuai dengan perintah, Kamandanu akan mengeluarkan semua kemampuannya. Tentu saja dia lebih menonjol karena diasah setiap hari.
Wijaya nampak kewalahan menahan serangan. Di bagian akhir, sang pangeran itu terjatuh dan terbanting di tanah. Namun, dia tetap bersikap jantan dengan mengakui kekalahan. Mereka berdua bersalaman sebagai tanda saling mengormati satu dengan yang lain.
Setelah semua latihan selesai, mereka kembali ke pendopo dan beristirahat. Di sana telah disediakan berbagai sajian untuk mengembalikan tenaga.
Wijaya ikut makan bersama mereka dan melupakan statusnya. Jika nanti Ratu menegur karena dia kurang pandai menempatkan diri, maka lelaki itu akan menanggapinya dengan santai.
Sementara para prajurit sedang asyik menikmati hidangan. Di dapur para juru masak sibuk mengatur menu apa yang akan dimasak untuk santapan tambahan di pendopo. Mereka tak menyangka jika salah satu pangeran ikut serta dalam latihan itu.
Raden tak pantas menikmati hidangan rakyat jelata. Sehingga menu tambahan itu harus berbeda dan mewah. Riuhnya suara di dapur
"Kar, antar ini ke pendopo," pinta Ratih, ibunya. Wanita itu tahu bahwa Wijaya sedang ikut bertanding bersama para prajurit.
Dalam hati Ratih berdoa, semoga putrinya ini diangkat menjadi salah satu selir istana. Dia tak ingin nasib Sekar sama sepertinya yang hanya bejodoh dengan kusir kereta, sekalipun suaminya baik.
Sekar sangat cantik karena sejak kecil dirawat dan diajari tata krama sekalipun mereka terlahir dari kasta rendah. Oleh sebab itulah, dia menajdi primadona di keraton. Banyak lelaki yang ingin memperistri gadis itu, tetapi Ratih menolak.
Kepulangan Wijaya membuat harapan baru dalam hati Ratih. Pangeran ketiga itu sejak kecil bersahabat dengan putrinya. Wanita itu berharap Sekar bisa menjadi salah satu bagian dari keluarga keraton.
"Apa aku juga yang harus mengantar makanan ini, Buk?" tanya Sekarbingung.
"Iya. Karena Raden Wijaya dan Kamandanu sedang bertanding. Jadi, kamu yang harus kesana membawakan makanan untuk mereka," jelas Ratih.
Mendengar nama sang pujaan hati disebut, mata Sekar berbinar. Tentu saja dia mau kalau begitu. Bisa bertemu dengan Kamandanu merupakan suatu harapan baginya selama ini. Lelaki itu begitu sibuk hingga jarang terlihat.
"Kemarikan nampannya. Aku akan mengantar sekarang juga," kata Sekar dengan bersemangat.
Ratih menggeleng melihat sikap putrinya. Dia mengira gadis itu senang hendak bertemu dengan Wijaya. Padahal Sekar menyukai panglima.
"Jangan ganjen di depan Raden. Tetap jaga sopan santun. Ingat itu!" Pesan Ratih sebelum putrinya meninggalkan dapur.
Sekar menjawabnya dengan anggukan kepala. Gadis itu dan beberapa pelayan yang lain berjalan beriringan menuju pendopo dan meletakkan nampan berisi aneka makanan di meja panjang.
"Kar."
Sekar menoleh dan tersenyum saat tahu siapa yang memanggilnya.
"Raden," jawabnya sambil menunduk.
"Ikut aku dan bawa makanan itu." Wijaya memberikan perintah dan menujuk sebuah nampan berisikan makanan kesukaannya.
"Tapi, Raden--" Sekar tampak ragu-ragu. Sejak tadi matanya mencari Kamandanu, tetapi lelaki itu tak terlihat.
"Kamu nyari siapa, Kar?" tanya Wijaya heran. Dia pikir, sahabat masa kecilnya itu sengaja datang membawakan makanan untuknya.
Sekar bukan pelayan dapur. Dia ditempatkan di bagian lain, yaitu mencuci dan membersihkan ruangan. Karena itulah sewaktu Wijaya datang, dia dan yang lain sibuk merangkai bunga untuk mepercantik dekorasi.
"Ndak apa-apa, Raden. Itu--"
Raut wajah Sekar berubah kecewa. Apalagi terdengar bisik-bisik dari yang lain bahwa Kamandanu kembali ke istal kuda untuk membantu ayahnya di sana.
"Cepat bawa nampannya dan ikut aku sekarang."
Sekar menurut dan mengekori Wijaya berjalan menuju keluar. Lelaki itu sengaja ingin berduaan. Sudah cukup lama dia menahan rindu. Apalagi sejak akil baligh di usia lima brlas tahun, dia dilarang oleh ratu berdekatan dengan para gadis termasuk Sekar.
"Letakkan di sini," titah Wijaya.
Sekar menurut dan meletakkan nampan. Mereka kini berada di sebuah pondok kecil di ujung keraton. Agak sepi karena memang jarang didatangi. Bangunannya sebagian juga sudah rusak karena tak pernah diperbaiki.
"Kenapa duduknya jauh-jauhan? Bukannya dulu kamu suka sekali menempel kepadaku?" tanya Wijaya.
"Engg ... itu ndak sopan, Raden," jawabnya.
"Kar, aku kangen karo kowe," bisik Wijaya. Wijaya menggeser tubuhnya hingga mereka semakin berdekatan.
Raut wajah Sekar berubah. Dia menunduk dan memilih diam, tak menyangka jika Wijaya akan berkata seperti ini. Mereka memang bersahabat, tetapi nada bicara sang raden berbeda dari biasanya.
"Aku ndak ngerti Raden bicara apa," katanya cepat, berusaha menjauh tapi lengannya malah digenggam erat.
Wijaya terbahak mendengar itu. "Kita sudah sama-sama dewasa. Kamu pasti tahu apa maksudku."
Jemari Wijaya kini meremas tangan halus itu. Sementara itu, Sekar menjadi gugup dan mencoba melepaskan diri.
Melihat sikap Sekar yang menolaknya, Wijaya menjadi tersinggung. Lalu, tangannya meraih dagu lancip itu dan menatapnya lekat.
Sekar berusaha mengelak, tetapi terlambat. Bibirnya sudah terlanjur disentuh oleh Wijaya dengan lembut.

Komento sa Aklat (75)

  • avatar
    GantengTombro

    sangat bagus

    11/04

      0
  • avatar
    IlhamAndi

    bagus banget

    19/07

      0
  • avatar
    NurhasanahJulia

    bagus banget

    04/05/2025

      1
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata