Beberapa menit sebelum insiden … “Tya, sorry baru angkat telepon kamu. Tadi aku ada online meeting sebentar sama para dosen,” ucap Frans dengan Chintya melalui sambungan telepon WhatsApp. “Hari ini, kita makan malam bareng, yuk. Tapi, yang di pinggi jalan aja, ya? Gimana?” “Oke. Kita makan bakso yang di gerobak aja, yuk. Aku lagi kangen banget sama jajanan Indonesia. Maklum, setahun tinggal di negeri orang. Hehehe,” terangnya. “Oke, aku jemput kamu, ya,” Frans menutup teleponnya. Ia tengah bersiap-siap menyalakan mesin mobil. Tidak sabar untuk bertemu dan makan malam bersama tunangannya. Malam itu, Frans membelah jalan raya, menuju gedung tempat Chintya bekerja. Tidak butuh waktu lama bagi Frans untuk sampai di gendung tempat Chintya bekerja. Hanya setengah jam dari universitas, tempat Frans mengajar. Mobil Frans sudah tiba di lobby utama gedung tempat Chintya bekerja. Ia langsung turun dari mobilnya, dan menghampiri Chintya. “Udah lama nunggu, ya?” tanya Frans. Chintya menggeleng pelan, disertai seutas senyuman manis khasnya. Kemudian, Frans mengajak Chintya untuk masuk ke dalam mobil. Tak lupa, ia juga membukakan pintu untuk kekasihnya, dan merentangkan tangannya di atas kepala Chintya, agar kepala tunangannya tidak terantuk pintu mobil bagian atas. “Thanks,” ucap Chintya sambil tersenyum semringah. Frans membalas senyumannya dengan anggukan kepala. Lalu, ia masuk ke dalam mobil, dan mereka kembali melintasi jalan raya Kota Jakarta, sambil mencari gerobak bakso yang biasanya mangkal di pinggir jalan. “Gimana kerjaan kamu hari ini?” Frans mulai membuka percakapan setelah beberapa menit hanya ada keheningan. Sesekali, atensi Frans kepada Chintya, kemudian ia kembali fokus menyetir. Menatap ke depan. “So far so good,” ungkap Chintya, seraya menatap Frans lama. “Oh,” respon Frans, kemudian sedikit menoleh ke Chintya, dan kembali fokus menyetir. “Jangan ngelihatin aku terus. Nanti, kamu cepat kangen,” ledek Frans disertai senyuman kecil. “Makanya, buruan satu rumah. Satu atap. Jadi, kalau aku kangen, cuman nengok ke bantal di sebelah aku,” Chintya berterus terang. Ia masih menatap kekasihnya. “Hahaaha, bisa aja kamu,” sahut Frans, dengan lirikan sebentar ke arah Chintya. “Udah dong, nggak usah diliatin kayak gitu. Nanti, mata kamu sakit, lihat orang ganteng kayak aku, hehehe,” goda Frans. “Nggak apa-apa kalau aku sakit mata, asal jangan sakit hati. Soalnya, obatnya mahal banget. Eh, langka deh. Nggak ada obatnya.” Ungkap Chintya. “Hahaah, kamu bisa aja, sih,” respon Frans. “Jadi, kapan Frans?” “Makannya? Ini lagi nyari tuk__” “Bukan itu maksud aku, Frans,” potong Frans. “Kapan kita bisa satu atap?” terang Chintya. Nada bicaranya mulai terdengar serius. Tidak main-main. Frans menghentikan mobil yang ia kendarai. Berhenti tepat di samping gerobak bakso. Ia membuka sabuk pengaman, dan menatap Chintya. “Kita makan dulu, ya. Udah malam. Nanti, kamu sakit. Oke?” ucap Frans seraya mengusap pelan puncak kepala Chintya. Chintya hanya mengangguk dan tersenyum. Menuruti perintah Frans. Kemudian, mereka berdua turun dari mobil, berjalan beriringan menuju gerobak bakso. “Kamu bakso atau mie ayam?” tanya Chintya. “Hmmm, aku apa, ya …,” pikir Frans sambil menggosok-gosok pelan dagunya yang klimis. Bebas jenggot. Tiba-tiba, pandangannya langsung jatuh tepat pada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dari kejauhan. Tidak jauh dari sana, dilihatnya ada seseorang yang berjalan dengan langkah gontai. Seseorang dengan gerak langkah menuju ke tengah jalan. Berpikir cepat, Frans langsung berlari menuju orang yang sedang menantang maut. “FRANS!!” jerit Chintya yang tengah memegang mangkuk bakso. Jantungnya langsung berdegup kencang, dan seketika mangkuk di tangannya langsung mendarat bebas ke jalan. Pecah, dan isinya berserakan di mana-mana. Tubuh Chintya sudah lemas melihat sang kekasih berlari menantang maut. “AWAS!!!” teriak Frans, dengan tangan melambai-lambai ke pinggir jalan. Isyarat kepada orang yang tidak lain adalah Bey. Sialnya, Bey masih dalam keadaan mabuk. Setengah sadar. Ia malah tersenyum, dan melambaikan tangan ke arah Frans. Mungkin, dipikirnya Frans sedang melakukan da da da da kepadanya. BRUKK!!!! “AKHH!!” teriak Frans, sambil memeluk Bey, dan menjatuhkan dirinya ke trotoar. Frans sengaja membanting tubuhnya sambil memeluk Bey, agar ia bisa menyelamatkan nyawa Bey. Deru nafas Frans sangat terdengar kencang. Apalagi debaran jantungnya. Benar-benar terasa jika hanya menempelkan telapak tangan di dadanya. Peluh sudah mengucur deras dari keningnya. Posisi tubuhnya berada di atas Bey. Mereka masih saling berpelukan. “Hufffft, hampir sajaaaa …,” ucap Frans sambil mengesah. “FRANS!” teriak Chintya memanggil namanya. “Eh, aaaa …da … cowok ganteng ....,” racau Bey tak sadarkan diri, dan seketika ia mengecup lama bibir Frans. Seketika tubuh Frans kaku. Ia terkejut bukan main. “FRANS!” teriak Chintya sekali lagi. Frans menoleh, dan melihat bahwa Chintya sudah berada di dekat tempat terjadinya insiden hampir tabrakan dan berakhir dengan ciuman dadakan dari seorang gadis SMA yang ia selamatkan nyawanya. Frans terkejut. Pelan-pelan, ia meletakkan kepala Bey di trotoar. “T-Tya, i-in-ini nggak seperti apa yang kamu lihat, Tya. Aku bersumpah! Ini cuman kecelakaan,” jelas Frans sebisanya. Ia masih ngos-ngosan dan tentu saja tubuhnya masih lemas. Sialnya, Chintya langsung membuang muka, dan hendak pergi meninggalkan Frans. Seketika, Frans menjadi dilema. Bagai Si Buah Malakama. Ia menjadi bingung. Siapa yang harus ia prioritaskan. Chintya, tunangannya. Ataukah, gadis SMA yang baru saja ia selamatkan, karena panggilan nurani dan kemanusiaan? “Chintya!” kejar Frans. Ia berhasil meraih pergelangan tangan Chintya. Dengerin aku dulu, Sayang. Aku bisa jelasin semuanya,” jelas Frans, sambil menahan Chintya agar tidak pergi. Chintya masih marah, dan enggan menatap wajah Frans. Masih memunggunginya. “Kamu mau jelasin apa? Cuman kecelakaan? Nggak sengaja ciuman? Iya?!” cecar Chintya penuh emosi yang meledak-ledak. Frans memejamkan kedua matanya. Kerutan di keningnya langsung terlihat jelas. Pertanda bahwa ia sedang berpikir keras, memikirkan penjelasan seperti apa yang tepat untuk menjernihkan kesalahpahaman yang terjadi. “Dengerin aku dulu, Tya. Aku bisa jelasin semuanya,” pinta Frans dengan mengiba. Chintya membalikkan tubuhnya. Menatap Frans dengan kedua matanya yang memerah, akibat menangis bercampur kesal dan kecewa. “Kamu mau jelasin apa?” Frans terlihat sedang menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Oke, tadi itu memang kecelakaan, dan cewek itu … dia nggak sengaja cium aku karena dia mabuk, Tya.” Jelas Frans sebisanya. “Kamu percaya, kan?” “Oke. Dia mabuk. Terus, kenapa kamu tiba-tiba nolongin dia?” cecar Chintya lagi. “Oh, kamu kenal sama dia? Iya?!” terka Chintya asal. Ia sudah semakin termakan api cemburu. Frans menggeleng kuat. Membantah semua terkaan Chintya yang salah. “AKU NGGAK KENAL DIA!” bentak Frans yang sudah lelah dengan interogasi yang dilakukan Chintya. Bentakannya membuat Chintya terkejut, dan menepiskan genggaman Frans dari pergelangan tangannya. Chintya mulai mundur beberapa langkah. Mulai menjauh dari Frans. M-maaf, Tya. Aku …bukan … bukan itu maksud aku__” jelas Frans terbata-bata. Kemudian, ia berusaha untuk meraih pergelangan tangan Chintya. Tapi dengan cepat Chintya menepisnya. Enggan disentuh, apalagi dipegang oleh Frans. “Maafin aku. Tadi itu, aku nggak sengaja bentak kamu karena__” “Pilih aku, atau dia?!” tanya Chintya sambil menunjuk ke dirinya, dan bergantian menunjuk ke arah Bey yang sedang berusaha untuk duduk. Frans semakin bingung. Siapa yang harus ia pilih. Sebagai seorang calon suami, ia tidak mungkin mematahkan hati calon istrinya. Tapi, ia juga seorang lelaki yang memiliki hati nurani. Ia tidak pernah tega membiarkan seorang perempuan yang sedang dalam kesusahan, dan sangat membutuhkan pertolongan. Seperti contohnya, Bey. “Tya … aku bisa jelasin semua. Tolong dengerin aku dulu, ya. Aku cuman mau__” “Pilih akkuu?! Atau, dia?!” tegas Chintya sekali. Ia semakin jengah, jika terus bertele-tele. “Iya, oke, dengerin penjelasan aku dulu, ya__” “Haha! Apa yang perlu dijelasin, sih?! Apa susahnya, tinggal pilih-oh! Oh! Sekarang aku tahu,” potong Chintya dan mulai menerka-nerka lagi. “Jadi, ini alasan kamu, kenapa belum siap nikahin aku? Iya, kan?!” cecar Chintya. “Iya kan, Frans? Ini alasan kamu, kenapa nggak pernah mau buat hubungan ini lebih serius lagi. Iya, kan?” “Ak-aku bisa jel__” “JAWAB AKU!” hardik Chintya sudah tidak tahan lagi. Frans terdiam. Ia benar-benar bingung harus memilih siapa. Entah kenapa, dia tidak bisa meninggalkan gadis SMA yang masih mabuk, tetapi ia juga tidak mau membuat kekasihnya kecewa, dan pada akhirnya memutuskan yang bukan-bukan. “Oke, aku pilihh …,” “Bang, bayar dulu dong ini baksonya! Tadi, mbaknya udah pecahin dan numpahin bakso.” Sela abang-abang bakso yang ternyata sedari tadi menjadi penikmati setia drama dadakan tentang sepasan kekasih yang sedang beradu mulut karena kesalahpahaman. “IYA NANTI SAYA BAYAR!” Bentak Frans kesal. Ia merasa emosinya sedang diaduk-aduk sekarang. “Anda, nggak lihat apa, hah, saya lagi ngapain sekarang?!” Seketika, nyali Kang Bakso itu ciut. Seperti kerupuk putih lebar yang telah disiram kuah bakso. Mengecil dan lembek. Akhirnya, Kang Bakso itu memilih untuk menutup mulut, dan diam, jongkok di dekat gerobaknya. Kembali menjadi penonton setia dadakan drama pertengkaran sepasang kekasih. “Oke, lanjut lagi,” ucap Frans, dan kembali mengingat ucapan sebelumnya. “Oke, aku pilih …… kalian berdua,” sambung Frans dengan nada pelan. Ia sedikit melirik ke arah Bey. Kemudian, kembali menatap tunangannya. “Huh! Dasar pengecut! Sama cewek aja nyalinya ciut. Payah!” hina Kang Bakso yang sedari tadi menonton drama dadakan. “Nggak! Aku mau, kamu pilih salah satu. Aku? Atau dia?!” tegas Chintya. “Yang mabuk aja, Mas. Kasihan, tuh. Nggak ada yang nolongin. Tapi, bawa juga pacarnya.” Usul Kang Bakso tiba-tiba. “DIAM!” Bentak Frans dan Chintya serempak, dan langsung membuat Kang Bakso tersebut menutup kedua telinganya dengan telapa tangan. “Emang udah benar, dah, jadi jomblo aja kayak gue. Cuman jadi nyamuk, tapi hidup tenang,” cicit Kang Bakso. “Benar, apa yang dibilang Abang Bakso itu,” ungkap Frans. “Hmmm, siapa duluuuu,” lagak Kang Bakso. Frans hanya melengos kesal, dan kembali fokus dengan pertengkaran dirinya dengan Chintya. “APA?! Apa kata kamu? Be-ben-benar??!” pekik Chintya tidak terima. “Ini nggak adil buat aku!” tegas Chintya. “Tya, please, kita harus bantu dia, ya,” “Akuuu?! Atau, dia?!” tegas Chintya berkali-kali. “Salah satu!” tandasnya. Frans mengepalkan kelima jari tangannya. “Dia. Maaf,” lirihnya. “Haha! Fine! Ok! That’s clear! Kamu emang nggak pernah mau serius sama aku. Hahaha, finally …,” ucap Chintya, dan genangan air mata mulai muncul di kedua sudut matanya. “Now …, we break up!” Frans terperangah, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia semakin tidak mengerti dengan dirinya sendiri, tapi ia juga terus ingin membuat Chintya mengerti, apa maksud dirinya menolong gadis tersebut. “T-Tya …,” lirih Frans, dan tangannya mulai mencoba untuk menyentuh tangan Chintya. Tapi, lagi-lagi Chintya menepisnya. Benar-benar enggan disentuh lagi oleh seorang lelaki bernama Frans. “Silakan kamu tolong cewek mabuk itu! We break up!” tandas Chintya sekali lagi, dan langsung pergi memunggungi Frans. Hendak meninggalkan lelaki itu. “T-Tya!” panggil Frans, namun ia tidak memiliki keberanian untuk mengejar Chintya. Ia hanya bisa menatap punggung Chintya yang semakin lama, semakin menjauh darinya. Benar-benar tidak bisa digapai. “AKHHH!!” teriak Frans dengan lantang. Beruntung, suasana jalan sepi. Lengang. Jika ramai, maka sudah dipastikan Frans akan dicap orang gila, karena berteriak lantang di tengah jalan raya. Frans langsung menuju Bey yang masih duduk lemas, bersandar di tiang listrik. Ia geleng-geleng kepala, melihat seorang gadis yang masih SMA, tapi sudah berani mabuk-mabukan. “Ahhhh! Kenapa jadi gini, sih?!” gerutunya kesal. Ia masih bingung dengan dirinya sendiri. Lebih tepatnya, hatinya. Tanpa membuang-buang waktu, Frans langsung mengangkat tubuh Bey yang lemah, dan membawanya masuk ke dalam mobil. Mau tidak mau, ia harus menolong gadis SMA yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Ia berniat membawa Bey ke sebuah hotel. ***
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 43 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (660)
Okti rayes
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
20d
0mantap
23/04
0Keren kaka
29/03
0Tingnan Lahat