Frans sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta, Indonesia, setelah melakukan penerbangan selama kurang lebih enam belas jam. Kedatangannya langsung disambut hangat oleh keluarganya. Mereka menyambut Frans dengan pelukan hangat, penuh suka cita. “Welcome to Indonesia, Frans,” sapa Leona, mamanya Frans. Leona adalah wanita paling berpengaruh di Adikara Group, setelah suaminya. Halim Adikara. “Really miss you, Ma, Pa,” ucap Frans seraya memeluk sekaligus kedua orang tuanya. “Bagaimana keadaan kalian, Ma, Pa?” tanya Frans dengan nada bicara yang lembut. “We are happy if you are happy, Frans,” jawab Halim, papanya Frans. “What about you my dearest son?” tanya Halim seraya menepuk pelan bahu anaknya yang kini jauh lebih tinggi darinya. Frans tersenyum seraya mengangguk pelan. “As you know now, Pa. I am so excited!” “Aaaaah, Mama kangen banget sama jagoan Mama yang ambisius ini,” ujar Leona sambil mengusap-usap pelan bahu putranya. “Hahaha, iya, benar. Jagoan kita yang ambisiusnya nggak pernah hilang dari kecil,” ujar Halim menimpali. Frans hanya tertawa pelan dan tersenyum bahagia. “EHEM! Excuse me?” Frans dan kedua orang tuanya langsung melepas pelukan dan menatap ke belakang. Ternyata, ada Chintya. Dia datang bersama dengan kedua orang tuanya. Frans tersenyum haru, dan langsung menghampiri Chintya. Tanpa menunggu waktu lama, Frans langsung memeluk calon istrinya erat. Sesaat kemudian, Frans melepaskan pelukannya, dan menatap heran Chintya. Salah satu alisnya terangkat. “Is it you, Chintya Annabelle?” tanya Frans tiba-tiba. “Why do you ask?” Chintya malah balik bertanya. Seketika Frans mengecup lama bibir Chintya, sambil menangkup wajah Chintya agar mudah untuk bibirnya berpagutan dengan bibir Chintya. Tak lama kemudian, Frans menarik bibirnya menjauh dari bibir Chintya. Kedua belah pipi Chintya langsung menghangat, bersemu merah. Ia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Chintya benar-benar tersipu malu. “EHEM-EHEM!” Halim berdehem dua kali. Seolah memberikan isyarat untuk Frans agar tahu situasi. “Ingat Frans, this is Indonesia.” Ujarnya. “Hahahah,” seketika ucapan Halim langsung mengundang gelak tawa dari istrinya dan kedua orang tua Chintya. Rosa dan Adrian. Frans dan Chintya langsung tersipu malu. Mereka berdua langsung menatap kedua keluarga dengan malu-malu. “A…a, maaf. Frans terlalu bahagia. Jadi, nggak sadar kalau masih di Bandara,” jelas Frans terbata-bata. “Hahaha, baiklah. Kita bisa maklumi itu, kok,” sahut Leona dengan senyuman meledek. “Oh, ya, hampir saja lupa. Malam ini, ada peresmian apartment kelima dari Lencana Group. Kira-kira, Ibu Leona dan Pak Halim bersedia hadir? Sekalian, saya mau mengenalkan calon menantu saya, Nak Frans, kepada teman-teman yang lain. Gimana?” jelas Rosa panjang lebar. “Hmm, boleh-boleh. Yah, anggap saja, sekaligus perayaan kelulusan S3 Frans, sebagai lulusan terbaik di Oxford. Iya, kan?” senggol Halim ke lengannya Frans. Ada sebuah senyuman penuh bangga dari seorang ayah kepada anaknya. “Wah, iya, kah? Selamat ya, Nak Frans. Kamu tuh, yah, benar-benar suami idaman banget, deh. Pokoknya, Chintya nggak salah deh, pilih kamu,” puji Rosa. Frans tersenyum lembut. “Frans nggak akan bisa seperti ini, jika bukan karena mama dan papa,” ucapnya lembut. Malamnya, mereka semua menghadiri acara peresmian apartment kelima dari Lencana Group. Sebuah acara yang diselenggarakan hanya untuk kaum elite. Tidak ada satu keluarga pun yang datang dengan mobil dari keluarga golongan menengah. Mereka datang dengan mobil buatan jerman dan mobil-mobil yang tentu saja dengan harga yang membuat dompet para kaum Indomie semangkuk bertiga jadi bergidik ngeri. Frans dan keluarganya sangat menikmati pesta di malam itu. Apalagi Halim. Ia selalu menceritakan tentang anaknya dengan sangat bangga. Berkali-kali ia bilang kalau anaknya lulusan terbaik karena didikannya. Namun, ada satu pertanyaan yang membuat Halim dan Leona bungkam. Pertanyaan, kapan Frans akan menikah. Padahal menurut standar usia menikah, Frans sudah sangat tepat untuk membangun rumah tangga. Apalagi, dia sudah mapan. “Entah kenapa, rasa ingin kembali ke London, semakin meningkat, setelah mendengar pertanyaan konyol, kapan nikah.” Frans menggumam dengan raut wajah kesal. *** “Anak-anak, sesuai dengan kalender pendidikan, sebentar lagi kita akan melaksanakan UTS. Dan, karena minggu lalu, Bapak sudah menginfokan kepada kalian kalau akan dilaksanakan ulangan matematika, maka hari ini, Bapak nyatakan ulangan dilaksanakan secara close book!” jelas Pak Mahmud, guru matematika yang terkenal killer. “Yahhhhh,” respon semua murid SMA bersamaan. Mereka sudah paham betul, jika ulangan matematika secara close book. Itu berarti, semua tas murid beserta isinya, harus diletakkan di depan meja guru. Para murid hanya diperbolehkan untuk membawa alat tulis. “Yah-yah! Kenapa?!” bentak Pak Mahmud dengan tatapan tajamnya. Badannya yang gempal dan kumisnya yang tebal melintang di atas bibirnya, membuatnya terlihat seperti seorang raksasa kelaparan ketika marah-marah. Seketika, semua murid bergidik ngeri. Tidak berani menatap wajah Pak Mahmud. “Cepat segera letakkan tas kalian semua di depan meja guru!” titah Pak Mahmud tanpa bisa diganggu gugat. Semua murid SMA, langsung berjalan sambil membawa tas mereka dengan langkah gontai dan wajah memelas. Pasrah pada keadaan. Tak terkecuali Bey dan kedua sahabatnya. Mereka bertiga berjalan sambil bersungut-sungut. “Ah, anjir! Dasar marmut!” gerutu Bey pelan. “Mahmud, woyyy! Bukan, marmut,” balas Joy lebih pelan lagi. “Bey, jangan ngadi-ngadi deh, lo! Kalau punya mulut diamplas dulu, biar halus dikit, bisa, kan?” sahut Marina lebih pelan lagi. Ia memperingati sahabatnya agar tidak asal bicara, kalau tidak ingin pulang tinggal nama saja. “Bodo!” sahut Bey kesal, meski dengan berbisik. Mereka bertiga sudah pasrah, ketika tas mereka sudah tertata rapih di depan meja guru, bersama dengan tas-tas murid yang lainnya. “Pasrah aja deh, gue. Hiksss,” rengek Marina sambil menatap sedih tasnya. Ia sengaja berlagak menangis, padahal sama sekali tidak menitikkan air mata. “Syuttt, Mar! Nggak usah banyak acting, lo!” bentak Joy pelan. “Kenapa masih di sini?!” tanya Pak Mahmud dengan bentakan, yang membuat tiga gadis SMA yang masih berdiri, terkejut bukan main. “I-itu, Pak___” “Duduk!” potong Pak Mahmud. Seperti biasa, beliau tidak mau menerima banyak alasan dari para muridnya. Akhirnya, dengan kepala tertunduk, Bey dan dua sahabatnya kembali berjalan ke tempat duduk masing-masing. “Ingat! Jangan ada yang menyimpan contekan di saku baju, celana, rok, ataupun sepatu! Waktu mengerjakan ulangannya enam puluh menit!” tegas Pak Mahmud. Kemudian, ia mulai memberikan selembar soal ulangan matematika. Entah sudah berapa kali, Pak Mahmud mendengarkan suara helaan nafas dari beberapa murid yang pasrah pada takdir, dan berharap mendapatkan mukjizat dadakan. Betapa terkejutnya semua murid tatkala menerima soal ulangan matematika dari Pak Mahmud. Karena, meski hanya lima nomor, bukan matematika namanya, jika jawabannya tidak beranak pinak. Bahkan, sampai punya cicit dari cicitnya. Sebagian besar murid SMA menghela napas panjang, dan memasang wajah pasrah saat membaca perintah soal dan mulai memikirkan cara untuk menyelesaikan lima soal ulangan matematika. Termasuk Bey dan dua sahabat seperjuangannya. Sementara sisanya, tampak tenang dan mulutnya mulai berkomat-kamit, seirama dengan gerak tangannya, mengayungkan pensil dengan lincah. Sudah bisa ditebak, murid-murid seperti ini, sudah pasti tahu rumusnya. “Waktu sudah habis! Silakan kumpulkan lembar soal ulangan beserta lembar jawabannya!” titah Pak Mahmud dengan suara baritonnya. Membuat sebagian besar murid yang sedari tadi uring-uringan, semakin uring-uringan, dan hampir menangis pasrah pada keadaan. “Ah, sial! Gue belum selesai, anjir! Tinggal satu nomor lagi!” gerutu Marina kesal. Ia masih berusaha untuk mengerjakan satu nomor lagi. Tidak mengindahkan perintah Pak Mahmud. “Mar! Buruan, ih! Udah ayo, kumpulin!” ajak Joy yang sudah geregetan melihat Marina yang masih berusaha untuk berpikir mencari jawaban untuk soal nomor lima. “Ah, gue belum selesai, anjir! Lo, udah selesai, Joy?” tanya Marina gelisah. “Tinggal satu nomor lagi, anjir! Udah, ah, seenggaknya gue udah usaha buat mikir,” jelas Joy. “Ayo, Mar! Keburu dibentak lagi nanti!” ajak Joy dengan panik. “Ah, sedih gue!” rengek Marina. “Lo, udah Bey?” “Nih!” Dengan entengnya, Bey memperlihatkan lembar soalnya yang masih tidak terisi dengan jawaban-jawaban, meski mengarang bebas, keluar dari rumus yang sebenarnya. Seperti yang dilakukan oleh Joy dan Marina. “Emang sinting lo, Bey!” seru Joy dan Marina tertahan secara bersamaan. Mulut mereka berdua menganga. “Ngapain dijawab, kalau nggak tahu jawaban yang sebenarnya? Semuanya itu ada caranya, jadi nggak bis__” “Bey, Marina, Joy!” Panggil Pak Mahmud dengan membentak. Memotong penuturan Bey yang menurut Joy dan Marina adalah hal terbodoh yang pernah dilakukan oleh Bey. “Cepat kumpulkan! Ngapain nge-gibah di belakang?!” Akhirnya, mereka bertiga berjalan menuju meja guru. Mau tidak mau harus mengumpulkan tugas ulangan yang sudah membuat sebagian besar murid mengalami burn out. Selagi menunggu hasil ulangan mereka, para murid menghabiskan waktu mereka dengan beberapa kegiatan. Ada yang mengobrol dengan ekspresi penuh kehebohan, dan ada pula yang mabar atau main bareng untuk game online, Mobile Legend. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Pak Mahmud kembali masuk ke kelas, dan tibalah saatnya bagi mereka untuk mengetahui hasil ulangan matematika yang telah mereka coba kerjakan selama enam puluh menit. Seketika suasana kelas menjadi hening, bagai rumah kosong. Semua wajah murid terlihat sangat tegang. Bahkan, ada yang sampai menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Barangkali, tidak kuasa mendengar nilainya dibacakan. “Anak-anak, dengarkan! Bapak akan membacakan nilai kalian semua. Harap disimak dengan baik!” titah Pak Mahmud yang sudah berdiri tegak di depan kelas, sambil memegang selembar kertas putih, seperti laporan hasil ulangan. “Joseph, sembilan puluh sembilan,” “Woowwww.” “Prok-prok.” Riuh rendah suara semua murid langsung terdengar menggema, tatkala Pak Mahmud membacakan nama pertama dengan nilai hampir sempurna. Semua mata langsung tertuju pada siswa laki-laki lucu, dengan kacamata tebal, dan gigi depan yang agak maju ke depan. “Anjir, hebat banget! Tapi sayang, kurang ganteng,” ucap Marina seloroh, sambil ikut bertepuk tangan dengan murid-murid yang lain. “Kayak dirinya cakep aja,” ketus Joy santai. Marina hanya melirik sinis, lalu membuang muka. Lain halnya, dengan Bey. Ia tidak menunjukkan reaksi apapun. Datar begitu saja. Seolah tidak perlu ada yang dibanggakan, bahkan disesali. Bey hanya menghela napas panjang. Pak Mahmud masih menyebutkan satu per satu nama-nama siswanya, beserta nilai yang mereka peroleh. Hingga giliran nama Bey dan nilainya disebut. “Bebby, dengan nilai … nol!” Wajah Pak Mahmud langsung berubah drastis. Memerah, seperti kepiting rebus. Seketika, seluruh pasang mata langsung tertuju pada Bey. “Bey?! Nol?!” seru Marina tertahan. Begitupula dengan Joy yang hanya melongo. Menatap tidak percaya kepada sahabatnya, Bey. “Kenapa kamu tidak mengerjakan soal ulangan yang Bapak kasih?!” tanya Pak Mahmud dengan tegas. “Saya nggak tahu jawabannya, Pak. Jadi, daripada saya ngasal, lebih baik kalau say__” “CUKUP, BEY!” bentak Pak Mahmud geram. Memotong penjelasan Bey. “Kamu sadar nggak, Bey, kamu ini sudah kelas berapa?!” “Dua belas, Pak,” jawab Bey dengan entengnya. Seolah tidak melakukan kesalahan apapun. “Besok orang tua kamu harus datang ke sekolah!” Bey hanya bisa menghela napas panjang. “Ngapain, gue berusaha mati-matian belajar, kalau papa sama mama nggak pernah perhatian ke gue? Heh, percuma! Usaha mati-matian buat hal yang nggak mungkin kenyataan,” Bey menggerutu dalam hati. ***
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 41 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (660)
Okti rayes
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
22d
0mantap
23/04
0Keren kaka
29/03
0Tingnan Lahat