“TENG-TENG” Bel tanda pulang sekolah, sudah berbunyi, menggema ke seluruh ruang kelas di SMA Tunas Bangsa. Membuat semua murid kelas dua belas menoleh cepat ke arah jam dinding. Mereka masih tidak percaya akan apa yang barusan mereka dengar. Pasalnya, ini baru jam dua belas siang, dan masih ada dua pelajaran lagi, tapi bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi. “Baiklah, anak-anak. Hari ini, kalian pulang lebih awal dari biasanya. Karena Pak Mahmud, guru matematika kalian, sedang ada rapat guru,” jelas Bu Aminah, guru Bahasa Indonesia, sambil merapikan beberapa buku tulis siswa yang berserakan di atas meja guru. “Alhamdulilah!” seru semua murid kelas dua belas, dengan menampilkan wajah penuh bahagia, dan senyum semringah. Bahkan, ada yang sampai melompat, melonjak kegirangan. “Baik, anak-anak. Kelas hari ini, kita cukupkan sampai di sini, dan selamat siang semuanya,” Bu Aminah menutup kegiatan belajar hari ini. “Selamat siang, Bu,” sahut anak-anak kelas dua belas ramai. “Guys! Gue duluan, ya! Bye!” pamit Bebby Alayya, siswi SMA kelas dua belas di SMA Tunas Bangsa. Panggilan akrabnya adalah Bey. Siswi SMA tingkat akhir yang tenar karena kebobrokannya. “Tumben lo, nggak mau bareng sama kita-kita?” tanya Joy, salah satu sahabat terbaik Bey. Dia adalah siswi SMA tingkat akhir yang dikenal sebagai atlet Taekwondo kebanggaan SMA Tunas Bangsa. Merupakan siswi SMA paling berprestasi, di bidang non-akademik. “Iya, Bey. Biasanya, lo pengen banget nebeng di mobil gue,” sahut Marina, juga sahabat terbaik Bey, setelah Joy. Merupakan siswi SMA yang terkenal telmi, alias telat mikir, dan gegabah. Tapi untung saja, ia dihadiahi wajah yang cantik, dan tubuh yang tinggi semampai, bak model. Merupakan siswi SMA Tunas Bangsa yang hampir saja menjadi juara model tingkat provinsi, tapi sayang sungguh disayangkan, harus gugur karena dia terpeleset di catwalk saat grand final. Tapi setidaknya, dua sahabat Bey ini, lebih berprestasi daripada Bebby Alayya. “Gue bareng sama…,” kata-kata Bey terhenti seketika, dengan kedua matanya yang meliar, kemudian menatap tepat ke satu arah. Ia langsung tersenyum semringah, tatkala seorang siswa SMA berwajah tampan bak model Asia belasteran Eropa, dengan gaya urak-urakan, datang menghampirinya. “Mario!” panggil Bey. Ia melambaikan tangan kanannya. Sebagai isyarat bahwa dirinya mengajak Mario agar segera datang menghampirinya. “Kamu kemana aja, sih? Dari tadi, aku nungguin kamu tahu. Tega banget sih, sama aku!” Bey mulai merajuk, tatkala Mario sudah berada di sampingnya. Ia memonyongkan bibirnya, dan mulai bertingkah manja. “Yah, mulai dah, kita berdua jadi nyamuk. Pacaran aja terossss, seolah dunia milik berdua,” ledek Joy dengan tatapan usilnya. “Yang lain ngontrak!” timpal Marina tidak mau kalah. “Hahaha,” Joy dan Marina tertawa terbahak-bahak, seolah sedang menonton film dengan segudang kekonyolan. “Isshh, Berisik lo!” bentak Bey, yang langsung membuat kedua sahabatnya seketika terdiam. Ia menatap sinis kedua sahabatnya. Merasa kalau dunia fantasinya sedang diganggu oleh dua kurcaci tidak jelas asal usulnya. Sementara itu, Joy dan Marina hanya saling melirik, dan cekikikan. Lain halnya dengan Mario. Ia hanya tertawa kecil melihat tingkah Bey dan dua sahabatnya. “Yailah, Beyyyyy, galak amat sih, mentang-mentang punya ayang! Jangan galak-galak, bestie. Nanti, pacar lo, bisa pindah ke lain hati,” ledek Marina, dengan kedua tangan bersedekap. “Never! Mana mungkin, cowok gue kepincut sama cewek-cewek SMA yang mukanya kayak bungkus gorengan, hahaha,” balas Bey tidak mau kalah. Ia sudah memasang wajah sinis. “Udah ah, nggak usah adu bacot gitu! Nggak pantes, anjir!” tegas Joy, yang sudah pusing dengan perdebatan yang terjadi antara Bey dan Marina. “Back to the point! Jadi, lo nggak mau pulang bareng kita-kita, Bey?” “Hadehhh, kan tadi udah gue bilang. Kalau gue pulangnya bareng Mario, ngerti?” jelas Bey yang sudah gerah. “Yaudah-yaudah, up to you, deh. Have fun yaa, Bey. Jangan lupa pulang lo, Bey! Gue ngeri banget, kalau lo sampai di smack down sama bokap lo, hahaha,” ujar Marina sambil tertawa yang membahana. “Bodo amat!” sahut Bey, dan langsung mengambil helm di motor ninja milik Mario. “Ayo, ah! Kita jalan aja!” ajak Bey yang sudah mengenakan helm, dan menarik baju seragam putih abu-abu milik Mario. Mario hanya tersenyum, dan mengangguk. Ia langsung mengenakan helm, dan mulai menaiki motornya. Disusul dengan Bey duduk di jok belakang motornya. Siswi SMA itu langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggang Mario. “Ayo, jalan! Capek banget anjir, ngeladenin manusia setengah tapir kayak mereka berdua,” ledek Bey, yang disusul dengan Mario yang sudah men-stater motor ninja. Mario hanya tertawa saja melihat tingkah Bey, dan kedua sahabatnya yang sudah memasang wajah kesal, karena tidak terima disebut manusia setengah tapir. “Eh, punya mulut kok nggak diayak! Kayak pasir matrial!” balas Marina tidak mau kalah. Ia hampir saja memukul helm yang dikenakan Bey, tapi Mario sudah melajukan motor ninjanya dengan kencang. Meninggalkan Marina yang dongkol, dan Joy yang hanya tertawa terbahak-bahak, karena melihat tingkah dua sahabatnya, layaknya anak kecil. Motor Mario mulai membelah jalan raya. Menempuh jarak yang entah sudah berapa ribuan meter. Dengan kecepatan hampir tinggi, Mario mengajak Bey untuk melewati jalan raya yang hampir dipenuhi oleh kendaraan beroda empat, dan beberapa kendaraan lainnya. Bey semakin mengencangkan pelukannya. Ia juga tetap menyembunyikan wajahnya di balik punggung Mario yang gagah. Bey selalu merasa nyaman jika berada di posisi ini. Memeluk seseorang yang sangat ia sayangi. “Jangan dilepasin, ya,” pesan Mario dengan suara khasnya. Berat, tapi terdengar merdu. Motor ninjanya berhenti ketika lampu lalu lintas memunculkan warna merah. “Kenapa?” Bey sedikit mengangkat dan memiringkan kepalanya ke samping, untuk sekilas, ia melihat kedua mata Mario di balik helm full face yang Mario kenakan. Bey bisa melihat kedua mata itu. Netra hitam yang pertama kali membuat Bey merasa dirinya diperhatikan, setelah sekian lama dirinya merasa dibuang sia-sia. Bey kembali menempelkan kepalanya di punggung gagah Mario. Menunggu kekasihnya menjawab pertanyaannya. “Kenapa? Jawabannya, karena aku nggak mau kamu peluk orang lain, selain aku,” jawab Mario sambil memegang tangan Bey yang masih setia melingkar di pinggangnya. Kemudian, ia kembali melajukan motor ninjanya, tatkala warna lampu lalu lintas sudah menjadi hijau. Mereka kembali membelah keramaian jalan raya. Akhirnya, setelah hampir ratusan ribu meter jalan yang mereka lalui bersama, motor ninja Mario berhenti tepat di depan sebuah pagar hitam, tinggi menjulang. Pagar hitam yang menjaga sebuah hunian mewah, tempat Bey tumbuh besar dengan banyak kenangan di dalamnya. “Udah sampai, nih,” ucap Mario, dan mematikan mesin motornya. “Kamu nggak mau turun?” tanyanya, saat ia melihat kedua tangan Bey masih melingkar sempurna di pinggangnya. Seolah tidak ingin melepaskan. Mario tersenyum, dan berusaha untuk melepaskan pelukan Bey. “Bey,” panggil Mario lembut. “Nggak mau!” bantah Bey. Ia menyadari, kalau dirinya akan berpisah dengan Mario. “Kamu kenapa nggak mau masuk aja?” tanya Bey merajuk. “Bey,” Mario kembali menyebut nama kekasihnya. “Kamu kan tahu, apa alasannya, kan? Kenapa, aku nggak bisa masuk ke rumah kamu?” tanya Mario, yang langsung membuat Bey turun dari motornya. Mario langsung menarik tangan Bey. Mengajak Bey untuk tetap berdiri di depannya, dan Mario mulai turun dari motornya. Mereka berdua saling bertatapan. Meski Mario masih mengenakan helm full face-nya. Bey semakin mengeratkan genggaman tangannya. Kelima jari mereka, saling menarik ke dalam. Sama-sama tidak ingin melepaskan. Tersirat penuh kesedihan dari kedua mata Bey. “Aku cuman nggak mau kamu jadi bulan-bulanan papa kamu, Bey. Aku nggak mau kenap_” Bey langsung memeluk Mario. Membuat kata-kata Mario terhenti seketika. “Aku nggak mau kehilangan kamu, Rio. Aku maunya cuman kamu. Nggak mau yang lain,” lirih Bey sambil memeluk erat tubuh kekasihnya, Mario. Sementara itu, Mario hanya terdiam. Menikmati pelukan yang diberikan oleh Bey. “Kamu masuk, ya. Jangan khawatir, Bey. I’ll always be with you,” bisik Mario pelan. Kemudian, pelan-pelan Bey mulai melepaskan pelukannya. Mereka saling bertatapan, dan Bey mengangguk lemah. Ia mulai bergerak mundur, dan memunggungi Mario. Kini, mereka sudah dipisahkan oleh besi hitam yang menjulang tinggi. Bey melambaikan tangan kanannya. Mempersilakan Mario untuk pergi, meninggalkannya. Tak lama kemudian, motor ninja Mario sudah menyala, dan mulai bergerak meninggalkan Bey yang masih setia memandangi punggung Mario yang semakin lama semakin jauh, hingga tidak terlihat lagi. Bey mendesah pelan, dan kembali melangkah menuju ke bagian dalam rumahnya. Di sinilah, Bey akan terlihat sangat berbeda. Seolah dirinya selalu saja bermetamofosis dalam sehari semalam. Lain tempat, lain pula sikap. Bey yang di sekolahan, tidak akan sama ketika kembali ke rumah. Bey menjadi sosok gadis SMA yang pemurung, dan penuh dengan depresi. “Berapa nilai pelajaran kamu tadi di sekolah?” tanya seorang laki-laki dengan suara bariton yang terdengar sangat menakutkan. Membuat langkah Bey sempat terhenti ketika dirinya baru menginjak satu lantai ruang tamu. Tapi, dengan sedikit keberanian yang ia punya, Bey tetap melangkah, meski pelan-pelan. “Papa dengar kamu sering tertidur di kelas. Iya?!” Suara bariton itu milik Ferdian Kencana. Laki-laki yang berusia hampir empat puluh tahun. Seorang suami, ayah, dan direktur utama dari perusahaan Kencana’s House. Merupakan pebisnis di bidang jasa dan properti. “Jawab, Bey!” bentak Ferdian, sambil bangun berdiri, dan melangkah mendekati putri semata wayangnya. Ia menatap tajam ke wajah putrinya. Sementara yang ditatap hanya menunduk, menatap lantai ruang tamu. Bey sudah meremas-remas sepuluh jarinya. “I-iya, P-Paa …,” jawab Bey terbata-bata. Penuh ketakutan. “PLAK!” Tanpa basa basi, Ferdian langsung melayangkan telapak tangan kanannya ke pipi Bey. Membuat Bey tersentak, dan hampir terjatuh lemas ke lantai. Tapi, beruntung, ia hanya bergerak mundur, dan berusaha untuk tetap berada di posisi berdiri. “Dasar anak nggak berguna! Buat apa Papa selalu sogok kepala sekolah kamu, hah?! Harusnya, kamu bisa seperti teman-teman yang lain! Harusnya, kamu bikin bangga Papa!” bentak Ferdian tanpa jeda dan ampun. Kilatan-kilatan di kedua bola matanya, menandakan betapa kesalnya dia kepada putri semata wayangnya. “Harusnya, Papa kayak orang tua yang lain!” bentak Bey tiba-tiba. Entah mengapa, Bey memiliki keberanian itu. Dada Bey mulai terasa sesak, dan ia mulai kesulitan untuk bernapas. Tenggorokannya terasa tercekik, dan sesaat kemudian, Bey mulai menitikkan air mata. “Kenapa Papa selalu menuntut hak Papa?! Apa Bey nggak pernah punya hak?! Kenapa Papa selalu maksa Bey untuk ambil jurusan IPA?!” pekik Bey, dan langsung berlari meninggalkan Ferdian sendirian di ruang tamu. Ia berlari menuju anak tangga. Ke kamar tidurnya. “Kamu itu anak dari seorang Ferdian Kencana, Bey! Jangan lupa, nilai itu di atas segalanya!” teriak Ferdian lantang, namun sama sekali tidak dihiraukan oleh Bey. Gadis SMA itu tetap berlari menaiki anak tangga. Tidak peduli, dengan air mata yang semakin deras, mengguyur wajahnya. Padahal, baru beberapa menit yang lalu, ia terlihat bahagia.
*** “Jadi, kapan kamu akan balik ke Indonesia, Frans? Papa udah kangen banget sama kamu,” tanya seorang laki-laki yang memanggil dirinya papa dari seorang Frans Adikara. Halim Adikara, namanya. Merupakan pebisnis terkaya nomor satu di Indonesia. Adikara Group adalah perusahaan terbesar yang bergerak di bidang jasa dan properti. “Mungkin, sepekan lagi, Frans baru bisa pulang ke Indonesia, Pa. Hoaaamm,” jelas laki-laki yang hampir saja kepala tiga. Perbedaan waktu enam jam antara Jakarta dan London, membuat dirinya menguap, mengantuk, karena jam di London masih menunjukkan pukul tiga pagi. Ia terpaksa mengangkat telepon dari papanya. “Hah?! Lama banget, Frans! Kenapa nggak besok aja? Kamu kan sudah selesai kuliahnya, tinggal tunggu acara wisudanya saja, kenapa kam___” “Hoamm, Papa kan tahu, ya, kalau perbedaan waktu antara Indonesia dan London itu enam jam, jadi Papa tahu dong, kalau hoaam … sekarang ini jam berapa?” sela Frans, sambil berusaha untuk menjelaskan kondisinya saat ini, meski mengantuk. “Astaga! Maaf, Nak! Papa lupa, hehehe. Maaf ya, Papa terlalu excited, hehehe,” “Excited, sih, boleh-boleh aja, Pa. Tapi, ingat waktu, lah. Udah ya, Frans mau tidur dulu. Besok pagi, ada meeting dengan beberapa profesor. Bye, Papa.” Frans langsung menutup telepon secara sepihak. Tanpa menunggu Halim untuk membalas ucapannya. Frans kembali meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu kembali memejamkan kedua matanya, yang sedari tadi ia paksa untuk terjaga. DRT-DRT. Ponselnya kembali bergetar. Mau tidak mau, Frans meraih ponselnya, meski hatinya agak kesal. Ia melihat ada satu notifikasi pesan chat dari Halim, papanya. Papa bangga sama kamu, Nak. Papa kangen sama kamu. Cepat pulang, ya. Frans, jagoannya Halim Adikara. Frans sedikit menarik sudut bibirnya bagian bawah, tatkala membaca pesan chat dari Halim. Kemudian, ia kembali meletakkan ponselnya di atas nakas, dan mulai memejamkan kedua matanya, yang sedari tadi terganggu dengan beberapa hal. Ada rasa bahagia yang menggetarkan dadanya. ***
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 46 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (660)
Okti rayes
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
23d
0mantap
23/04
0Keren kaka
29/03
0Tingnan Lahat