logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

BAB 7. Sikap Aneh Mama Dianti

Erina dan Yoda menoleh pada si pemilik suara. “Ma,” ucap Erina pelan pada mama yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka berdua.
“Kalian mau pergi kemana?”
“Ini, Tante. Aku mau motret sekitaran sini, banyak objek bagus. Aku boleh ajak Erina?” tanya Yoda sambil tersenyum.
“Sudah, izinin aja. Erina aman kok sama Yoda,” teriak Tante Indira dari ruang tamu.
“Hmmm … ya sudah, tapi jangan lama-lama ya.”
“Yes! Tunggu lima belas menit,” tukas Erina pada Yoda, lalu segera berlari ke kamar mandi.
“Eh, Rin!” Mama tersentak karena putri sulungnya menghilang dengan cepat. “Ehm, Yod, motretnya sekitaran sini aja, ya. Kalau Erina ngajak kemana-mana, kamu jangan mau. Pokoknya jangan terlalu jauh dari rumah! Ya, Yod,” pinta mama dengan wajah khawatir.
Tante Indira mendekat lalu merangkul sahabatnya itu. “Yan, kamu tenang saja ya. Jangan terlalu khawatir, gak baik untuk kesehatanmu. Kan kamu juga masih harus berjuang untuk bisa jemput Elena. Kamu harus jadi ibu yang kuat untuk kedua putrimu.”
***
“Ahhh segarrr,” ucap Erina pelan seperti pada dirinya sendiri. Dia menutup matanya sambil membentangkan kedua tangannya, menarik napas dalam-dalam menghirup udara pantai pagi hari. Erina berjalan pelan, menikmati pasir lembut berwarna putih di telapak kakinya yang telanjang.
“Sebosen ini ternyata aku dikurung aja di rumah. Sampe begini senengnya liat pantai,” gumam Erina masih pada dirinya sendiri. Tapi kemudian dia teringat Yoda. Matanya mencari-cari sebentar, sampai menemukan sosok lelaki itu berdiri tegak saja di dekat sebuah pohon, agak jauh dari Erina berdiri sekarang. “Kamu ngapain di sana?” teriak Erina.
Namun Yoda hanya tersenyum sambil memamerkan kameranya di tangan kanan.
Gadis itu menghela napas sambil menggelengkan kepalanya pelan. Dasar tukang poto! Terserahlah. Batin Erina, lalu dia kembali melangkah menyusuri pantai.
Setelah puas jepret sana sini dan dapat beberapa gambar yang bagus menurutnya. Yoda segera berlari mengejar Erina. “Hei, Rin! Tunggu!”
Napas Yoda sedikit ngos-ngosan ketika langkahnya sudah sejajar dengan Erina. “Bagus ya pantainya. Andai aku bisa nginep lagi, pasti keren banget pemandangan sunsetnya.”
“Ya, nginep aja lagi.”
“Gak bisa.”
“Kenapa?”
“Aku kuliah, Rin.”
“Oh. Aku juga sekolah,” ucap Erina pelan, terdengar begitu dalam dan ada rasa kecewa di sana. “Harusnya,” sambung gadis itu lagi.
“Aku sungguh belum tau apa-apa tentang cerita keluargamu. Bunda cuma minta aku datang aja, di desa ini banyak objek bagus katanya, dan bisa kenalan sama anak sahabatnya. Katanya kamu belum punya teman di sini.”
“Sama. Aku juga belum tau apa-apa. Aku gak tau kenapa mama bawa aku kesini. Jauh dari rumah sampe gak bisa sekolah.”
“Hah? Kok?” Yoda menatap mata Erina tak percaya, dia bingung juga bahwa ada orang yang pergi dari rumah tapi tidak tahu penyebab dan mungkin juga tujuannya.
“Udahlah, aku gak mau pusing,” tukas Erina lalu berjalan begitu saja meninggalkan Yoda yang masih mematung beberapa saat.
“Rin, ingat loh pesan mama kamu. Kita jangan lama-lama di sini, pulang yuk.”
“Kamu pulang aja sendiri sana.”
“Eh, Rin – “
“Erina! Erina!”
Teriakan itu sontak membuat langkah Erina dan Yoda berhenti bersamaan. Mereka menengok ke belakang. Arah suara itu sudah jelas datangnya dari mana. Perempuan berwajah cemas yang berlari kian mendekat.
“Ma.”
Mama Dianti berhenti hanya sekitar tiga langkah di depan Erina, napasnya masih memburu. Setelah berhasil mengatur napas, dia segera manarik lengan Erina menjauhi bibir pantai. “Ayo pulang! Mama tungguin kamu dari tadi!”
“Tapi, Ma – “
Perempuan berwajah cemas itu tak menggubris elakan Erina sama sekali. Dia justru semakin cepat melangkah sambil masih menarik putrinya. Dan bahkan tak melihat ke arah Yoda sama sekali.
Fotografer muda itu hanya mampu tertegun sesaat melihat pemandangan di depannya. Tadi dia sempat sadar juga, dan berhasil mengambil beberapa foto secara diam-diam. Objeknya sepasang ibu dan anak berwajah kurang menyenangkan di pagi hari. Yoda mengikuti dari belakang, agak menjaga jarak. Bundanya sudah menunggu di depan pintu rumah.
Tante Indira mengusap pundak Erina pelan ketika mereka berdua baru saja memasuki rumah. Dan hanya mengangkat bahunya sekali ketika melihat Yoda datang.
Mama Dianti menghempaskan pantatnya di kursi kayu berlapis busa, di ruang tamu. Tante Indira ikut duduk di sebelahnya.
“Apa yang bisa aku bantu supaya kamu bisa sedikit lebih tenang, Yan?” tanya Tante Indira lembut.
Bukannya menjawab, tangis mama malah seketika pecah. Tante Indira serta merta memeluk sahabatnya itu. Lalu memberi kode pada Erina dan Yoda supaya pergi dari ruang tamu. Kedua remaja itu berjalan ke dapur yang menyatu dengan ruang makan. Erina hanya duduk terdiam sambil masih melihat ke ruang tamu. Sedangkan Yoda hanya ingin memecahkan suasana, dia tidak bertah berlama-lama dalam keheningan. Jadi dia memutuskan akan memasak nasi goreng, toh tadi pagi juga dia belum sempat sarapan. Hanya sempat mencicipi sepotong pisang goreng yang disuguhkan Erina. Bagi Yoda itu belum bisa dihitung sebagai sarapan.
“Yod.”
“Hmm?”
“Menurut kamu, mama aku aneh gak?”
“Hmm?” Yoda menengok sebentar, melihat wajah Erina yang masih menatap tajam pada mamanya. “Kalo menurut kamu?”
“Yaaa … agak aneh sih. Sebelum kesini, sikap mama gak begitu.”
“Begitu gimana?”
“Terlalu mengekang. Ketakutan, atau … cemas, tapi berlebihan. Iya nggak sih?”
“Yaaa mungkin ada hubungannya dengan kepergian kamu dan mama-mu dari rumah,” jawab Yoda sambil meletakkan dua piring nasi goreng di atas meja.
Tanpa menunggu tawaran dari Yoda, Erina langsung mengambil sepiring nasi goreng dan melahapnya dengan sesekali masih melihat ke ujung ruangan, ke ruang tamu di depan. “Aku agak susah sih ngorek informasi dari mama, atau dari siapapun mungkin.” Gadis itu terus melahap nasi gorengnya.
“Kalo gitu kamu korek aja informasi dari bunda,” ucap Yoda lalu mulai memakan nasi gorengnya pelan-pelan.
“Benar juga!”
“Sssttt … jangan kencang-kencang. Nanti mereka dengar.”
“Okey, kalo gitu kamu yang korek informasi dari Tante Indira.”
“Uhuk! Uhuk! Kok aku?” Yoda melotot dan mengernyitkan dahinya.
“Sssttt … pelan-pelan ngomongnya.” Erina melirik sebentar ke ruang tamu. Dua orang ibu di sana masih terlihat mengobrol dengan serius, sesekali mereka saling bersentuhan tangan. “Harus kamu, kan nanti siang kalian pulang, jadi susah untuk aku ngorek informasi langsung dari Tante Indira. Nanti kamu kabarin aku lewat telepon.”
Yoda menenggak segelas air putih sampai ludes, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Yah … okeylah.”
“Yod! Siap-siap yuk, sebentar lagi kita pulang.” Tante Indira menghampiri Yoda. “Oh kalian lagi makan?”
“Iya, Bun.”
“Gak apa-apa, Dir. Biar mereka makan dulu, jangan buru-buru. Nginep lagi juga boleh.” Mama Dianti ikut berjalan ke dapur.
Begitu melihat Mama Dianti, Yoda buru-buru berdiri. “Tante, maaf ya. Tadi pulangnya kelamaan. Yoda jadi gak enak sama Tante.”
“Eh, gak apa-apa Yod. Tante … mungkin kelewatan tadi, Tante juga minta maaf ya. Tante cuma takut kalian main jauh-jauh.”
Tante Indira merangkul sahabatnya itu dengan hangat. “Sudahlah, Yan. Beberapa hari ke depan pasti kamu akan lebih santai, lebih tenang. Main main ke pantai yah, sama Erina, menghirup udara segar, melihat sunrise dan sunset, bisa ngilangin stress loh, Yan.” Senyum Tante Indira yang selalu tercipta begitu manis dan ramah mampu menenangkan semua orang di dapur.
“Jangan sedih gitu dong, Rin. Nanti aku usahain main lagi kesini deh, takut kamu kangen hehehee ….” Yoda terkekeh kecil.
Erina sontak mengerling tajam pada lelaki fotografer itu. Bahkan dia spontan menendang kaki Yoda dari bawah kolong meja makan. Di seberangnya seorang lelaki berwajah oriental yang ramah sedang mengerang kesakitan, tulang keringnya seperti terasa tersengat sesaat.

Komento sa Aklat (94)

  • avatar
    Clearence Bernard

    cerita yang sangat sangat mendalam dan mempunyai jalan cerita yang sangat bagus

    11/04/2022

      1
  • avatar
    DamaraRaissa

    bagusss

    01/07/2025

      0
  • avatar
    CahyaniDina Nur

    bagus banget kak

    15/06/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata