Sebuah handphone! Benda itu sudah sangat dikenalnya, berwarna putih yang terlihat di antara beberapa barang lainnya. Erina memperhatikan sekali lagi, mencoba memastikan, karena dia setengah tak percaya. Diambilnya benda kecil itu. Ah! Benar saja, handphone itu adalah milik Erina! Gadis itu mengambil handphone miliknya dari dasar tas. Kenapa mama menyembunyikan handphoneku? Tanya Erina dalam hatinya. Dia membulak-balik menu, mengernyitkan keningnya, lalu kembali mencari-cari. Dan kenapa semua dataku dihapus? “Erin!” Terdengar suara mama memanggil dari kejauhan. Erina segera memasukkan handphone putih itu ke saku celananya. “Ya, Ma!” Erina segera menghampiri mama di dapur, di sebelahnya Tante Indira masih sibuk mengolah masakan ikan. “Kenapa, Ma?” “Ohh … kirain kamu kemana? Gak ada suaranya dari tadi.” “Di kamar aja, Ma. Bingung juga mau ngapain. Belum punya teman, TV gak ada, handphone juga gak ada.” “Oh ya, nanti ya kita beli TV,” jawab mama sambil tersenyum pada Erina. “Dan besok kamu akan punya teman kok, Rin.” Kali ini Tante Indira yang menjawab. Erina lalu terdiam. Dia heran, padahal barusan dia sengaja menyinggung soal handphone, tapi mama tidak menanggapinya. “Sini, Rin. Daripada bengong, mending bantuin masak, yuk,” ajak Tante Indira. “Masak apa, Tante?” Erina mendekati Tante Indira. “Sate bandeng.” “Hah? Apa itu?” “Baru denger yaaa … ayo sini bantuin Tante.” Dan makan malam hari ini, berjejal bermacam masakan khas Cilegon di meja makan. Dan hanya dinikmati mereka bertiga. Atau mungkin tepatnya hanya dinikmati oleh mama dan Tante Indira. Erina hanya sekadar mengisi perut, tapi tidak merasakan nikmat sama sekali, pikirannya masih terusik oleh banyak hal, terutama tentang Elena. *** Erina membuka jendela kamarnya, menghirup dalam-dalam udara pagi bukan milik kota Jakarta. Matahari memang sudah bertengger, tapi udara terasa masih dingin, belum hangat. Tadi setelah subuh memang Erina tertidur lagi, karena dia begitu mengantuk,semalam habis begadang tanpa niat. Gadis itu menelengkan kepalanya sedikit, ketika matanya melihat punggung seorang laki-laki yang menggendong tas ransel coklat. Tak jauh di sebelahnya terparkir sebuah motor bergaya klasik berwarna banana monkey, yang Erina tahu harganya tidak murah. Siapa itu? Sepertinya dia lagi sibuk memotret, tapi gak terlalu jelas karena dari belakang. Cuma ngapain dia di situ? Sendirian pula. Apa dia tetangga sini, ah … tapi orang sini penampilannya gak gitu. Batin Erina sibuk menebak-nebak. Akhirnya Erina memutuskan untuk membiarkannya, mungkin saja hanya wisatawan yang lagi berlibur ke pantai. Dia mencuci muka sebentar lalu berjalan ke dapur, melihat apa sudah ada sarapan yang menggugah selera. Erina celingukan sambil mengambil sepotong pisang goreng, tak dilihatnya mama dan Tante Indira. Sambil masih mengunyah pisang goreng yang sangat renyah dan manis itu, Erina berniat mencari mama keluar rumah. Tante Indira mungkin saja sudah pulang pagi-pagi sekali, saat dirinya masih tidur tadi. Ah, tidak dikunci. Pikir Erina lalu membuka pintu utama. “Aaahhh!” jerit Erina begitu melihat seorang laki-laki tegap berdiri tepat di hadapannya. Sisa pisang goreng yang masih ada di mulutnya sampai menyembur keluar. Laki-laki itu tersenyum begitu manis, tanpa ada rasa bersalah ataupun kaget sedikit saja. Dia hanya pelan-pelan membersihkan semburan pisang goreng yang sempat mengenai jaket kulitnya. “Hai,” sapanya lembut. “Ka – kamu siapa?” tanya Erina sambil melotot. “Kamu pasti Erina, ya?” Lelaki itu mengangkat kedua alis tebalnya, sambil masih tersenyum. Tak peduli Erina masih mematung karena kaget di hadapannya. “Kamu lagi makan apaan sampe belepotan gitu hahahaa ….” “Hah?” Erina segera membersihkan remah sisa pisang goreng di baju dan sekitar mulutnya sendiri. “Kamu siapa sih?” Setelah membersihkan sisa semburan pisang goreng, Erina sadar penampilannya sekarang pasti sangat kacau di depan lelaki yang … kalau dilihat-lihat yaaa … tampan. Dengan tinggi kira-kira dua puluh senti di atas Erina, maka lelaki itu terlihat semakin menarik. Namun Erina tidak peduli, walaupun sekarang rambut panjangnya masih acak-acakan karena baru bangun tidur, dan juga masih memakai piyama lecek. Dia malah sebal karena pertanyaannya belum juga dijawab. “Hei, jangan melotot gitu dong. Aku bukan penjahat. Kenalin, aku Yoda,” ucapnya sambil mengulurkan tangan. Erina hanya membalas uluran itu sepintas. “Kamu anaknya Tante Indira?” “Yaaa betul! Bunda udah cerita apa aja ke kamu tentang aku hmmm?” Yoda menaikkan alisnya beberapa kali, senyumnya seperti sedang menggoda Erina sekarang. “Gak ada. Silahkan masuk, aku gak tau mama dan Tante Indira lagi kemana. Gak ada di rumah,” ucap Erina lalu masuk ke dalam diikuti Yoda. “Oh, ya? Kemana ya mereka. Wah kalo gitu cuma kita berdua di rumah ini? Apa yang akan dilakukan laki-laki ganteng muda dan menarik seperti aku, berdua dengan seorang gadis yang … cantik sih, tapi agak kucel hehehe ….” Yoda terkekeh kecil lalu duduk dengan santai di kursi tamu. “Jangan mikir macam-macam! Baru ketemu udah kurang ajar!” Erina kembali melotot pada Yoda, emosinya terpancing mendengar kalimat Yoda barusan. “Hei sabar, aku cuma mau bilang, apa yang akan dilakukan kita berdua dalam satu rumah, sepagi ini, ya sarapan dong. Aku lapar nih, perjalanan jauh loh, tiga jam pakai motor, gak ada makanan nih yang bisa dimakan?” “Hufffttt.” Erina menghembuskan napasnya, lega sih, tapi masih ada rasa kesal sedikit. “Sebentar.” Lalu Erina berjalan ke dapur, tak lama kemudian kembali dengan sepiring pisang goreng yang terlihat sangat menggiurkan, juga segelas teh manis hangat. “Aha! Terima kasih,” ucap Yoda dengan mata berbinar karena senang. Lalu segera melahap sepotong pisang goreng.”Wahhh … ini pisang goreng buatan bunda. Ah, mantap!” Erina juga sudah mengira, pisang goreng itu pasti buatan Tante Indira. Karena bukan kebiasaan mama sarapan dengan gorengan. “Yoda? Sudah sampe kamu? Dari jam berapa?” Tante Indira berdiri di ambang pintu, di belakangnya ada mama yang menenteng plastik berisi belanjaan. “Iya, Bun. Belum lama kok,” ucap Yoda lalu segera berdiri dan mencium tangan Tante Indira. Setelah melihat Mama Dianti, Yoda juga segera menyalaminya. “Mama dari mana?” tanya Erina. “Dari pasar, nih diajakin Tante Indira. Katanya banyak ikan segar dan murah di pasar.” Mama meletakkan dua kantong plastik belanjaan di meja tamu. Begitu juga Tante Indira yang membawa dua kantong plastik belanjaan besar. "Belanjanya banyak banget, Ma.” “Iya, Rin. Kan Tante Indira mau pulang hari ini. Supaya kita punya stock bahan makanan untuk beberapa hari ke depan,” jawab mama sambil membereskan isi kantong belanjaan. “Jadi kalian sudah berkenalan hmmm?” tanya Tante Indira pada Yoda, lalu melirik dan tersenyum pada Erina. “Udah, Bun. Udah sempet disembur pisang goreng malah.” “Hmmm?” Tante Indira mengernyitkan keningnya. Erina mendelik pada Yoda yang terkekeh kecil. “Baguslah kalau kalian sudah kenalan. Jadi Erina punya teman, walau tetap berjauhan ya. Sekali-sekali tengokin Erin kesini ya, Yod.” Mama tampak senang dengan kehadiran Yoda. Sedangkan Erina, dia justru tidak terlalu suka pada Yoda. Gayanya sok akrab menurut Erina. “Hei, ngapain sendirian di sini?” Yoda berdiri di sebelah Erina, yang sedang duduk di dapur. Dia melamun tadi, jadi tak menyadari kedatangan Yoda. Sedangkan mama dan Tante Indira masih mengobrol di ruang tamu. “Kamu tau daerah sini?” “Hmmm … aku udah beberapa kali motret di Pantai Tanjung Lesung, tapi ke desa ini, baru sekarang. Kenapa?” “Bisa temenin aku keliling desa? Sebelum pulang mungkin? Aku bosan.” “Oh, boleh. Sekalian aku cari objek, pasti banyak yang menarik di sini. Tapi kamu bau, kita pergi habis kamu mandi,” ucap Yoda dengan santai. Erina yakin, dengan mengajak Yoda, mama pasti akan mengizinkannya keluar rumah. “Mau pergi kemana kalian?”
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 28 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (94)
Clearence Bernard
cerita yang sangat sangat mendalam dan mempunyai jalan cerita yang sangat bagus
cerita yang sangat sangat mendalam dan mempunyai jalan cerita yang sangat bagus
11/04/2022
1bagusss
01/07/2025
0bagus banget kak
15/06/2025
0Tingnan Lahat