Erina tersentak. Dia terbangun dan meluruskan kepalanya. Rupanya Erina tertidur, masih duduk sendirian di jok belakang. Pikirannya tiba-tiba melayang pada adiknya. Elena, tunggu ya, nanti aku jemput. Ucap Erina dalam hatinya. Pandangannya kembali ke luar kaca jendela mobil, terlihat pemandangan pantai di sepanjang kiri jalan. Hingga mereka sampai di sebuah pedesaan yang asing bagi Erina, yang selama ini hanya bisa menikmati riuhnya perkotaan. Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat jauh lebih sederhana dibandingkan rumah mereka di tengah kota Jakarta. Tanpa pagar, tanpa taman bunga, dan tanpa kolam buatan berisi ikan koi warna-warni. “Ini rumah terbaik yang berhasil aku dapatkan dalam waktu cepat. Sementara kalian bisa tinggal di sini, sampai mungkin nanti mau mencari yang lebih bagus.” Indira melangkah paling depan menuju teras rumah yang cukup luas, dengan lantai plester mengkilap berwarna abu tua. “Terima kasih Indira, ini saja sudah sangat baik,” ucap mama sambil tersenyum senang, lalu menarik lengan Erina supaya tersadar dari kebekuannya, yang sedari tadi hanya mematung memandangi rumah mungil itu. Aroma tanah yang menyengat menyambut mereka di luar rumah, dan di dalam rumah terasa begitu hangat. Erina masuk di kamar kedua, ini pasti akan jadi kamarnya, pikirnya. Karena kamar pertama yang dilewati tadi, dua kali lebih besar. Gadis itu duduk di atas ranjang besi, suasana kamar yang sangat berbeda dengan kamarnya berdua Elena. Setelah merapikan barangnya yang hanya sebanyak satu tas saja, Erina kembali ke luar rumah, berjalan-jalan sendirian. Membiarkan mama dan sahabatnya berdua saja, untuk masih berbincang hangat melepas kerinduan. Gadis itu sempat mengambil kamera poket dari tas ranselnya tadi. Dia memang baru teringat kalau sempat memasukkan kamera itu ke dalam tasnya, setelah membongkarnya di atas ranjang besi tadi. Sesekali senyuman tipisnya tercipta saat berhasil mengambil gambar sederhana yang sepertinya belum dia lihat langsung selama ini. Erina beberapa kali mengambil gambar anak-anak yang sedang bermain berlari-larian, beberapa anak laki-laki tidak memakai kaos, hanya celana pendek, dan tanpa alas kaki. Lalu dia mengambil gambar beberapa hewan ternak yang berkeliaran di pekarangan rumah penduduk. Manusia dan hewan-hewan itu tampak tak saling mengganggu, hidup dengan berdampingan saja. “Erina! Erina! Erin– “ Erina membalik tubuhnya, dilihatnya mama yang berlari mendekat lalu memeluknya dengan kencang. Gadis itu hanya terdiam, kaget dengan pelukan mamanya yang seakan mereka sudah lama tak bertemu. “Erin! Kamu gak boleh kemana-mana!” teriak mama dengan raut wajah sangat gusar. Erina tak menjawab apa-apa, hanya matanya yang penuh tanda tanya menatap lurus pada mama. Mama menghembuskan napasnya dengan lega, lalu memegang wajah Erina dengan kedua tangannya yang bergetar. “Maksud Mama, ini daerah baru, kalau mau kemana-mana sebaiknya kamu bilang sama Mama, nanti bisa Mama temani. Kamu paham?” “Iya, Ma.” “Ayo, kita ke rumah lagi. Tante Indira menunggu,” ucap mama lalu menggandeng tangan putrinya itu. Sesekali dia melihat pada wajah Erina, yang berjalan di sebelahnya, seakan takut anaknya itu akan menghilang lagi dari batas pandangan matanya. “Lagi melihat-lihat sekitar ya, Rin? Nanti juga kamu akan cepat dapat teman di sini. Penduduk di sini ramah-ramah,” ucap Tante Indira begitu melihat mereka berdua datang. “Iya betul Tan–“ “Tidak boleh!” potong mama sambil melirik tajam pada Erina. “Kamu jangan sembarangan keluar rumah, Rin. Ingat, kita ini sedang bersembunyi!” Erina dan Tante Indira saling bertatapan. “Tapi sekarang kamu sudah cukup jauh dari Jakarta, Dianti.” Tante Indira mencoba menenangkan sambil memegang lengan mama. Tak disangka, mama justru menepiskannya. “Pokoknya tidak boleh! Dir, aku kan sudah ceritakan semuanya ke kamu. Seharusnya kamu paham dong. Ini saja aku masih harus menyelamatkan satu putriku lagi,” jawab mama dengan nada penekanan, wajahnya betul-betul cemas. Akhirnya Tante Indira mengalah, dia mengira sahabatnya itu masih shock dan butuh waktu untuk bisa menenangkan diri. Senyumnya kembali mengembang. “Ya sudah, apa saja yang menurutmu aman, terbaik, lakukanlah. Kalau butuh bantuan apa-apa, jangan segan bilang padaku ya. Walau rumahku cukup jauh dari sini, tapi aku akan membantu sebisaku,” ucap Tante Indira sambil menepuk pelan pundak mama. “Iya, Dir,” jawab mama pelan, lalu dia memegang tangan sahabatnya itu. “Maafkan aku ya, Dir. Aku hanya … gak mau Erina diambil papanya. Aku bingung mikirin Elena. Aku takut, Dir.” Mama membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Erina memeluk mama dari belakang, dia ikut sedih mendengar ucapan mama barusan. Jauh di dalam hatinya, dia sangat ingin menjemput adiknya. Tapi bagaimana dengan mama, pasti akan melarangnya. Mama mengusap-usap tangan Erina, lalu matanya memandang Tante Indira. “Dir, malam ini kamu menginap di sini, ya.” “Menginap? Aku belum izin loh, aku cuma bilang mau pergi saja tadi.” Tante Indira terkekeh kecil. “Izin sama siapa? Suami?” Tante Indira terdiam, senyumnya tiba-tiba hilang sejenak. “Suamiku sudah meninggal lima tahun lalu.” “Ohhh … maaf ya, Dir. Aku benar-benar gak tau. Kamu gak pernah cerita soal itu ke aku, Dir.” Ada penyesalan di kalimat mama. Sedangkan Erina hanya ikut menyimak. “Gak apa-apa kok, Yan. Akunya aja yang memang gak mau cerita. Mungkin yahhh ... karena waktu itu terlalu larut dalam sedih, ya.” Tante Indira menunduk, tapi kemudian tak lama, senyuman itu secepatnya datang kembali. “Aku belum izin sama bodyguardku.” “Hah? Bodyguard?” “Hahaha … anak cowokku, satu-satunya loh, dia itu ya bodyguardku. Yang siap menjadi tameng bundanya kapanpun.” "Ohhh ... tapi dulu kalau gak salah, di telepon kamu pernah bilang, jagoan kecilmu ada dua. Hmmm ... apa aku yang salah dengar, ya?" ucap Mama pelan, agak ragu. Tante Indira terkekeh kecil. "Ah, kamu nih, Yan. Salah dengar kayaknya waktu itu." “Ohhh … iya mungkin, ya. Nahhh lagian kan kamu juga belum cerita-cerita soal anakmu, aku udah cerita banyak tentang anak-anakku. Makanya kamu nginep ya, Dir,” pinta mama membujuk. “Hmmm … kalo gitu sebentar ya, aku telepon Yoda dulu.” “Yoda?” tanya mama mengerutkan keningnya. “Yoda, bodyguardku,” jawab Tante Indira sambil mengangkat kedua alisnya, nyata sekali kalau dia sangat senang saat mengucapkan nama itu. “Oh, ya.” Mama tersenyum memandang punggung sahabatnya itu yang semakin menjauh keluar rumah. “Erin, sepertinya kamu akan punya teman, tapi jarak jauh.” Mama menatap Erina, seperti betul-betul akan menyaring siapa saja yang boleh dekat dengan putrinya itu. Kali ini Erina hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya sekali. “Dianti! Kabar baik! Aku jadi menginap,” seru Tante Indira seperti remaja belasan tahun yang baru saja mendapat izin untuk ikut acara tahun baru bersama teman-teman sekolahnya. “Ahhh … syukurlah! Aku senang sekali!” Lalu Tante Indira melihat ke arah Erina. “Kamu jangan merasa kesepian ya, Rin. Besok Tante akan kenalkan kamu dengan Yoda. Kalian bisa berteman, Yoda hanya dua tahun di atas kamu,” ucap Tante Indira sambil mengedipkan sebelah matanya. “Oh, ya? Wah bagus sekali itu!” jawab mama dengan sangat antusias. “Okey, Tante.” Erina tersenyum tipis, lalu perlahan dia melangkah menjauh dari kedua orang yang sedang sangat berbahagia itu. Erina memilih akan menghabiskan sorenya di kamar saja. Karena keluar dari rumah-pun dilarang oleh mama. Erina melewati kamar utama, dia agak penasaran. Dia belum masuk ke kamar ini sejak sampai tadi. Sedangkan mamanya dan Tante Indira sedang sibuk di dapur sekarang, menyiapkan makanan untuk malam nanti. Gadis itu melihat tumpukan baju yang rapi di atas meja rias. Rupanya mama belum sempat merapikannya ke dalam lemari. Karena mama sedang sibuk memasak, Erina berpikir dia akan membantu. Dengan perlahan dimasukannya semua baju ke dalam lemari. Lalu setelah itu Erina berniat akan merapikan sisa isi tas mama yang belum dikeluarkan. Namun betapa terkejutnya dia ketika melihat ke dalam isi tas. Apa maksud mama? Apa maksud semua ini? Tanya Erina dalam hatinya, sungguh sangat menyentak pikirannya.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 28 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (94)
Clearence Bernard
cerita yang sangat sangat mendalam dan mempunyai jalan cerita yang sangat bagus
cerita yang sangat sangat mendalam dan mempunyai jalan cerita yang sangat bagus
11/04/2022
1bagusss
01/07/2025
0bagus banget kak
15/06/2025
0Tingnan Lahat