Siang itu, tepat jam makan siang, Adikara sudah lebih dulu sampai, di kafé lantai dasar gedung kantor milik Dewangga. Wajahnya cemas walau sudah berusaha tetap tenang. Seorang laki-laki menepuk pundak Adikara perlahan, lalu duduk bersebrangan. “Jangan terlalu cemas begitu, kelihatan sekali dari wajahmu, Pak Adikara.” Dewangga mengangkat tangan kanannya, segera seorang pelayan kafé datang lalu mencatat pesanan bos besarnya itu. “Pak Dewangga, saya sungguh minta maaf. Ini di luar kendali saya,” ucap Adikara tanpa berbasa-basi. Minumannya sejak tadi hanya tergeletak di meja tanpa disentuh sedikitpun. “Masih ada waktu. Anda hanya perlu mencari putri anda sampai ketemu. Sesuai perjanjian di awal, saya ingin twin. Makanya saya berani kasih nilai tinggi.” “Iya, saya paham betul itu. Maka sa –“ “Jangan khawatir!” cetus Dewangga memotong kalimat Adikara. “Selama anda masih mencari dia, apa yang saya berikan tidak akan berkurang, se-di-kit-pun,” ucap Dewangga dengan nada penekanan di sana. “Temukan dia, saat waktunya nanti, bawa twin tanpa cela sedikitpun!” “Ba … baik. Saya paham.” Dewangga tersenyum puas. Pelayan membawakan minuman dan makanan pesanannya. Dewangga menikmati makan siangnya dengan santai, walaupun di hadapannya seorang lelaki masih memasang wajah tegang. “Ayolah, Pak Adikara. Kalau cemas begitu, bagaimana bisa kerja dengan benar. Sekarang pesan makanan yang enak-enak, saya yang traktir.” Lalu Dewangga kembali mengangkat tangannya, dengan cepat pelayan kafé yang lain mendekat. “Ayo, pesan saja. Mau pesan apa?” Dewangga masih sambil menikmati makanannya, sesekali terkekeh kecil melihat raut muka Adikara. Akhirnya lelaki setengah baya itu memesan sepiring nasi goreng, yang paling dia hapal ada di kafé itu. “Pak Adikara, jangan pernah merasa sendirian. Kalau butuh apa-apa, misalnya saat mencari gadis itu, bilang sama saya. Anda tahu kan, saya tidak pernah pelit hahaha ….” *** Siang itu, Erina dan mama menjejakkan kakinya setelah berada di dalam bis selama kurang lebih dua jam. “Terminal Seruni.” Erina membaca tulisan besar di hadapannya. “Iya, kita lagi di Cilegon,” ucap mama lalu menggandeng tangan Erina. “Kita tunggu teman Mama sebentar, ya.” Baru kali ini Erina berkunjung ke kota Cilegon. Dia melihat sekeliling, terminal yang tidak terlalu ramai seperti terminal-terminal pada umumnya di Jakarta. Mama membeli dua botol minuman dingin, mereka duduk di sebuah warung kecil. “Kita nunggu siapa, Ma?” “Mama punya teman di kota ini. Dulu kan Mama pernah kerja di sini.” “Oh.” “Sebentar lagi datang. Kamu minum dulu, ya.” Erina menerima minuman yang disodorkan mama. “Kita mau kemana lagi, Ma?” “Ke suatu tempat yang jauh dari penatnya Jakarta. Yang indah, dan damai.” Erina tidak bertanya lagi. Seperti biasa, dia hanya akan mempercayakan semua pada mama. Dia selalu yakin, dan selalu juga meyakinkan Elena, bahwa orangtua mereka terlalu sayang, maka jangan pernah ragu menuruti petunjuk keduanya. Walau kadang Erina bingung, dengan cara papa menyayangi mereka berdua, seakan selalu puas jika bisa memberikan suatu barang atau hadiah atau semua fasilitas mewah itu, tanpa bertanya lagi keinginan kedua putrinya. Papa selalu begitu, terlihat sedikit bekerja, tapi hasilnya begitu sangat mampu untuk memanjakan keluarganya. Terkadang Erina berpikir, apakah papa sehebat itu, atau memang tak ingin menunjukkan peluh keringatnya pada seisi rumah. “Erin, ayo.” Mama beranjak dari duduknya. Menenteng tas besarnya, lalu berjalan mendekati sebuah mobil minibus warna putih. Seorang perempuan dengan senyum sangat ramah yang diperkirakan Erina berusia beberapa tahun di atas mama, berdiri di samping mobil itu. “Hai, Dianti,” sapa perempuan dengan senyum ramah itu sambil membentangkan kedua tangannya. “Indira,” balas Dianti, lalu segera memeluknya ketika sudah berhadapan. Erina hanya menatap keduanya saat berpelukan. Akhirnya dia bisa melihat senyum mamanya lagi. Pasti persahabatan keduanya sangat berkesan sehingga tampak begitu bahagia saat bertemu, pikir Erina dalam hatinya. “Ohh … ini pasti Erina, ya. Hallo cantik, kenalkan, saya Indira, sahabat lama Mama-mu,” ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangannya, masih dengan senyuman yang begitu manis. Erina segera menjabat uluran tangan itu. “Iya, Tante, aku Erina.” Setelahnya, Indira segera mengajak keduanya untuk masuk ke dalam mobil. Erina duduk sendirian di belakang, hanya mendengarkan mama dan sahabatnya itu bercerita dengan seru tentang masa lalu mereka. Sepertinya perjalanan mama kali ini akan sangat menyenangkan hatinya, tidak lagi terasa sedang dikejar penjahat, seperti yang diucapkan mama kemarin malam. Erina melihat ke luar jendela. Dia menikmati kesendiriannya tanpa ada teman mengobrol. Justru itu dia akan bisa dengan tenang memikirkan apa yang diinginkannya saat ini, yaitu memikirkan Elena. Sedang apa Elena sekarang? Erina membatin. *** Elena menegakkan punggungnya. Dia tidak sekolah hari ini, tidak mau sekolah. Selain karena kepalanya agak pusing, dia juga malu karena matanya sembab, jejak air matanya dari semalam. Tadi gadis itu sedang sendirian di dalam kamarnya, berbaring tanpa terlelap di kasur. “Erina,” desisnya pelan. “Aku kesepian.” Gadis itu seperti mendengar suara kakaknya sepintas tadi. Dia mengerutkan keningnya, memicingkan matanya, dan menajamkan indera pendengarannya. Dia berharap bisa mendengar suara itu lagi. Tapi sudah tak ada. Elena menghela napas dengan berat, kecewa. Elena segera bangkit, dia akan mencoba sekali lagi. Tadi pagi-pagi sekali saat dia terbangun dalam keadaan sakit kepala yang menyengat, dia teringat dengan handphonenya. Niatnya sudah bulat akan menghubungi mama dan Erina, tapi rasanya seluruh bagian kamar sudah diobrak-abrik, handphone itu tidak ketemu. Kini gadis itu menuang isi tas ransel besar yang semalam dijejali isinya oleh Erina. Bermacam barang pribadinya tumpah ke kasur, pelan-pelan Elena mencari, ah … tidak ada juga. Apa terbawa oleh Erina? Tanya gadis itu dalam hatinya. Kemudian dia berjalan perlahan menuruni tangga, mencoba mencari di ruang tengah dan juga ruang tamu. Siapa tahu terjatuh saat aksi tarik menarik semalam. “Cari apa?” tanya seorang pelayan di rumah, Mbak Yana namanya. “Handphone, Mbak. Liat gak? Waktu beberes rumah?” “Gak liat, Non. Gak ada handphone di sini.” “Oh ya udah, Mbak.” Elena kembali berjalan lunglai. “Mbak, makan dulu. Tadi pagi kan Mbak Elen juga belum makan,” panggil Yana, usianya tak terlalu jauh di atas Elena, kira-kira berumur delapan belas tahun. “Ah iya,” Elena tidak jadi naik ke kamarnya, dia menuju ruang makan. Pantas saja tubuhnya lemas sekali, ternyata belum ada makanan yang masuk dari pagi. Biasanya mama yang akan selalu mengingatkan untuk tidak telat sarapan atau makan siang. “Saya siapkan ya, Non,” ucap Mbak Yana sambil tangannya sibuk menyiapkan piring, sendok, serta nasi dan aneka lauk pauk di meja makan. Elena hanya mengangguk pelan. Sebetulnya segala makanan yang disajikan di atas meja termasuk makanan yang bergizi dan lezat, tapi tak ada satupun yang menggugah selera gadis itu. “Non Erina, sekolah ya, Non?” tanya Mbak Yana sambil membuatkan jus jeruk untuk Elena. Elena tersentak, Mbak Yana dan Bi Arum pasti belum tahu kejadian semalam. Papanya tipe yang jarang mengobrol dengan pelayan di rumah, hanya seperlunya saja. Elena hanya mengangguk, dia masih bingung mau menjawab apa. “Bi Arum mana?” tanya Elena sekenanya, asal ada bahan obrolan yang lain. “Ibu lagi bersihkan pekarangan. Bunga-bunga bougenville lagi berguguran, tadi pagi tanah masih basah, jadi baru bisa dibersihkan sekarang,” jawab Mbak Yana sambil tersenyum. Bi Arum adalah ibunya Mbak Yana, mereka berdua selalu datang setiap pagi untuk membereskan seluruh ruangan di rumah, lalu akan pulang di sore hari. “Oh, begitu.” Lalu Elena memundurkan kursinya, tak berniat bicara lagi, dia hanya ingin tenggelam di kasurnya sekarang. “Non, makanannya gak dihabiskan ini?” Elena hanya menggelengkan kepalanya, dia terus berjalan menaiki tangga. Kamarnya, masih beraroma musk bercampur vanilla. “Erina, di mana kamu?”
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 28 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (94)
Clearence Bernard
cerita yang sangat sangat mendalam dan mempunyai jalan cerita yang sangat bagus
cerita yang sangat sangat mendalam dan mempunyai jalan cerita yang sangat bagus
11/04/2022
1bagusss
01/07/2025
0bagus banget kak
15/06/2025
0Tingnan Lahat