logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Love?

Malam ini, hanya kurang tiga puluh menit lagi, jam kerja Alin akan selesai dan digantikan oleh karyawan lain yang bekerja di Minimarket sama seperti dirinya.
Sesekali, Alin memandangi arloji kecil yang melingkar di tangannya dan berharap agar jarum jam cepat berjalan menuju pukul 21:30 malam. Kemudian, dia bisa segera tiba di rumah dan tidur sepuas yang dia inginkan.
Terbayang hal itu sedikit saja, sudah membuat hati Alin diserang rasa tidak sabar untuk cepat-cepat pulang.
"Sabar, Lin ... cuma setengah jam lagi."
Alin menepuk-nepuk kedua lengannya secara bergantian. Lalu memasukkan nota kecil yang bertuliskan semua jadwal hari besok yang harus dia lakukan.
"Cepat hitung ini, karena aku harus segera pergi!"
Tidak ada angin topan ataupun badai hujan yang datang menerjang. Tiba-tiba, seorang pria setengah baya hendak membayar sambil membanting cukup keras barang yang dibelinya di atas meja kasir sehingga membuat Alin terkejut bukan main.
Merasa ada yang tidak beres, setelah menyelesaikan pembayaran, Alin langsung menghentikan pria itu untuk berhenti. "Maaf Pak, sebelum pergi tolong kembalikan barang yang Anda bawa tanpa Anda beli."
"Kau menuduhku mencuri!!"
"Tidak ada yang menuduh Bapak, tapi saya melihat Anda menyembunyikan satu barang dari tempat ini di dalam saku Anda."
"Bocah sialan! Berani sekali menuduhku!"
Sebisa mungkin, Alin berusaha untuk tetap bersabar. "CCTV ... apa Bapak masih akan mengelak, jika saya melihatkan rekamannya kepada Anda?"
Tanpa merasa malu sedikit pun karena telah ketahuan mencuri, justru pria setengah baya itu malah menampar Alin dan melempar satu bungkus rokok yang ia curi tepat di wajah Alin.
"Cih!! Hanya satu bungkus rokok saja!" ucapnya, sambil berlalu keluar Minimarket meninggalkan Alin yang sudah merah padam, sebab menahan rasa kesal.
"Tidak ingin membalasnya?"
Alin mendongak dan melihat anak laki-laki seusianya dengan wajah yang lebam-lebam, serta masih mengenakan seragam sekolah.
"Apa perlu kubalaskan?"
Sekilas, Alin menatap name tag yang terpasang di seragam orang itu dan bernamakan Galuh Saputra.
Merasa tidak asing dengan nama sekaligus wajah orang yang tengah berdiri di hadapannya itu, Alin mencoba untuk mengingatnya.
"Kelamaan, kalau gitu biar gue yang balas."
"Heh, tapi ...."
Sebelum Alin selesai berbicara, Galuh, iya itukan namanya? Dengan bersikap sok berani, langsung melempar satu bungkus rokok tepat ke kepala pria setengah baya yang menampar Alin tadi.
"Sial!"
"Maaf, aku tidak melihat."
"Apa kau ingin berkelahi denganku!"
"Boleh saja."
Galuh menunjukkan respon cepat dengan berancang-ancang seperti Shinobi yang akan bertarung dengan musuhnya, sehingga membuat Alin yang melihat dari balik kaca meja kasir Minimarket tidak bisa untuk menahan tawa.
"Bocah gila!"
"Siapa? Enak saja. Usiaku sudah delapan belas tahun."
"Enyahlah!"
"Semoga Tuhan mengampuni agar Anda tenang di alam sana."
Tawa Alin semakin menjadi-jadi saat pria setengah baya itu pergi sambil mengamuk dan menyebutkan semua jenis hewan di kebun binatang, sedangkan Galuh berjalan dengan santai menghampiri Alin yang masih tergelak.
"Ini gue kembaliin satu bungkus rokok yang jadi senjata gue tadi. Dengar Nona, dunia tidak pernah berpihak pada mereka yang lemah."
Alin tersenyum, lalu memberikan satu botol Coca-Cola sebagai tanda terimakasih pada Galuh. "Terimakasih telah membantuku."
Bukannya menerima ucapan terimakasih dari Alin, justru Galuh malah menyentuh luka di dahi Alin dengan jari telunjuknya. "Luka kayak gini enggak harus sampai dijahit ke rumah sakit, kan?"
"Sakit!" sebentar, sepertinya Alin mengingat sesuatu.
"Pelempar batu!"
"Sembunyi tangan?"
Nah! Benar kan, dugaan Alin, bahwa dia tidak asing dengan wajah orang yang berada di depan matanya itu. "Wah ...."
"Astaga! Lo stress karena benturan tadi pagi, iya? Kacau, kalau gitu lo enggak seharusnya ada di sini. "
Galuh berkata seolah Alin tengah mengalami kondisi kejiwaan yang memprihatinkan dan dibalas tatapan tajam oleh Alin.
Lalu tanpa basa-basi, Alin langsung mengambil kembali barang yang telah ia berikan tadi yang kebetulan memang masih berada di atas meja kasir.
"Enggak jadi lo kasih."
"Enggak."
"Kualat lo entar, mainin perasaan orang."
"Dengar. Hadiah memang pantas diberikan jika orang itu pantas menerimanya, tapi jika tidak, seribu rupiah pun enggak berhak dia dapatkan. Seperti lo misalnya," Alin berucap seraya meletakkan satu botol minuman soda ke tempatnya semula.
"Lalu bagaimana gue yang nolongin lo tadi? Apa enggak lo hargai?"
"Arti kata menolong itu adalah membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuan tanpa adanya niatan imbalan atau harapan balasan. Lalu arti menghargai tidak perlu dengan bentuk nyata yang dibeli dengan uang. Bukankah ucapan terimakasih sudah cukup, Bang? Jadi, kita impas sekarang."
Galuh terkekeh menanggapi perkataan Alin. "Kelihatan banget, lo adalah salah satu penganut aliran yang selalu mengatakan bahwa hukum dunia ada dua macam, yaitu memberi dan menerima."
"Memang begitu kan, kenyataanya?"
Malas menjawab perkataan Alin, Galuh malah memasukkan satu bungkus coklat ke dalam sakunya. "Hmm, karena gue tadi lupa mau beli apa sebab hampir gelud sama tuh orang hanya untuk balas apa yang dilakuin terhadap lo. Jadi, coklat ini gue anggap sebagai tanda terimakasih dari lo atas apa yang gue lakukan. Oke? Terimakasih? Selamat tinggal."
Belum sempat Alin mengeluarkan kata-kata yang ingin ia ucapkan, Galuh sudah berlari keluar Minimarket tanpa memedulikan Alin yang menyumpah serapahinya di dalam hati.
"Bisa begitu ya. Dasar, enggak tahu malu," ucap Alin nyaris seperti berbisik. Kemudian, dia bergegas menata rapi satu bungkus rokok itu bersama merek rokok lainnya.
"Maaf."
Alin menghela nafas, pasti orang itu datang kembali untuk menguji tingkat kesabarannya, "Apa?!" seketika Alin tidak bisa berkata-kata, ketika dia melihat Raksa berdiri tepat ada di depan matanya.
Ya Tuhan, ini bukan mimpi, kan? Bagaimana Raksa bisa ada di sini. Bukannya jarak Minimarket dari rumah Raksa itu cukup jauh? Lalu kenapa dia bisa sampai di tempat ini, atau mungkin dia sedang mengantar Risa lagi.
Alin melirik keluar kaca untuk memastikan, apakah benar ada Risa yang sedang menunggu di depan sana.
"Apa aku mengganggu?"
Alin menggeleng. "Enggak kok, kenapa harus terganggu jika ada pembeli yang datang."
Seperti biasa, Raksa pasti hanya tersenyum manis saat menanggapi perkataan lawan bicaranya, terlebih lagi seorang wanita.
Setelah selesai mencari barang yang ingin dia beli, Raksa meletakkan beberapa bungkus camilan dan minuman di atas meja kasir untuk melakukan pembayaran. "Sudah, aku hanya mencari ini."
Alin menepiskan rasa ingin tahunya dan membuang jauh-jauh pikiran yang mencoba menyuruh dia untuk bertanya kepada Raksa.
"Semuanya tiga ratus dua puluh ribu."
Usai membayar semua barang yang ia beli, Raksa kemudian memberikan satu benda kecil yang mungkin cukup berarti untuk Alin. "Sebagai ganti plester yang ada di dahi kamu."
"Terimakasih."
Raksa mengangguk, lalu pergi meninggalkan Minimarket. Lalu Alin? Jangan tanya, dia bahkan tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.
Jika tadi dia menahan rasa kesal, kini dia harus berusaha untuk tetap waras karena ledakan rasa bahagia yang menyerangnya secara tiba-tiba.
Melihat Raksa sebentar dan berbicara dengannya tidak lebih dari lima menit saja, entah mengapa Alin bisa begitu sangat senang.
"Astaga, Ya Tuhan," ucap Alin penuh rasa bahagia, sampai tidak sengaja menepuk cukup keras luka di dahinya yang kini sedang terluka dan membuat gadis itu meringis kesakitan.
Bersambung...

Komento sa Aklat (377)

  • avatar
    RandiiRandi

    cerita nya bagus banget

    15d

      0
  • avatar
    Aswar

    di cerita ini sangat bagus untuk membaca

    10/05

      0
  • avatar
    Arie Fandy

    eh ini sape bab berapa woy

    28/03

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata