"Sa, hati-hati jangan main terus nanti kalau Ibu sampai marah dan kita dihukum bagaimana? Sudah ayo pulang." Sore hari itu, Rama menarik tangan seorang anak laki-laki seusianya yang tidak mau mendengarkan perkataan orang lain. "Raksa, kalau disuruh pulang sama Abang itu pulang. Jangan bandel seperti orang yang tidak mengerti aturan. Kamu itu bukan hewan yang hidup dengan semau kamu. Ayo pulang!" "Kenapa pulang sekarang sih, Bang, kan gue pengen main sama temen-temen dulu." Rama menghela nafas. Lalu menarik kerah seragam Raksa, sehingga terlihat seperti anak kambing yang tertangkap oleh pengembala dan harus segera dimasukkan lagi ke dalam kandang. "Ris, bilangin sama teman kamu ini, supaya dia dengerin apa yang dibilang Abangnya." "Jangan ikuti perintah Bang Rama, Ris. Kita berdua cuma beda lima menit doang." Di parkiran sepeda, Risa yang sudah menunggu kedatangan Rama dan Raksa tidak bisa untuk menahan tawa saat melihat ekspresi lucu Raksa yang terlihat ingin melepas cengkraman tangan Rama dari kerah baju seragamnya. "Sa, kita hampir kelas sembilan. Masa kamu mau terus-terusan dimarahi Rama. Sekali-sekali itu dengerin perkataan Abang kamu." Raksa memutar bola matanya malas, lalu memukul-memukul sedikit keras tangan Rama. "Lepas tangan lo Bang, gue malu dilihatin banyak orang. Sudah kayak buronan. Lepasin!" "Enggak, kalau kamu dibiarin ngelakuin hal semau kamu sendiri, lama-lama binatang akan kalah sama kelakuan kamu yang tidak seperti kebanyakan manusia hidup lainnya." "Kan cuma main sebentar Bang, hanya sepuluh menit doang." Seolah menulikan pendengarannya, Rama tetap bersikap tidak peduli dan tetap memegangi kerah seragam Raksa agar tidak kabur. "Manusia hidup itu punya aturan dan prinsip kehidupan. Kalau sudah dilahirkan, berarti siap mentaati peraturan agar hidup tidak berantakan. Kamu juga harus seperti itu, Sa. Kita sudah punya jadwal main, jadwal belajar hingga jadwal bersantai dan itu harus kita terapkan pada hari-hari kita. Jadi jangan mau seenaknya saja." "Iya, Bang. Sudah, leher gue sakit, entar kalau gue mati gimana?!" Bukannya melepaskan tangannya, justru Rama malah semakin menguatkan cengkramannya. "Kalau ngomong hati-hati. Ucapan itu doa, makanya bicara yang baik-baik saja." "Iya, Bang ... iya." Risa semakin tidak bisa menahan tawanya, ditambah lagi melihat wajah Raksa yang merah madam karena menahan kesal dan kelelahan akibat tidak bisa melepaskan diri dari Rama. "Cepat ambil sepeda kamu, terus ayo segera pulang. Kasihan Ibu sama Dipa nunggu lama di rumah." "Bang, sebentar saja. Gue pengen beli es teh dulu, kan kalau di rumah enggak bisa beli karena disuruh Ibu buat ngasih Dipa juga. Boleh? Kalau enggak boleh, gue maksa." Rama dan Risa saling melempar pandangan, mereka berdua terlihat sedang memikirkan sesuatu hal yang sama. "Oke, tapi cuma sepuluh menit, enggak boleh kurang dan enggak boleh kelewatan. Abang sama Risa tunggu di depan toko buku Pelangi, di samping jembatan sana. Hmm, enggak masalah kan, Ris?" Risa mengangguk dan menunjukkan senyuman manisnya. "Asalkan Raksa beneran bisa datang tepat waktu nanti." "Sip. Setelah sepuluh menit gue bakal langsung nemuin kalian. Janji," ucap Raksa penuh semangat. "Ya sudah, buruan sana. Waktunya dimulai dari ... sekarang!" Bak seorang Atlet yang sedang ikut dalam olimpiade berlari, secepat kilat, Raksa langsung bergegas pergi meninggalkan saudara kembarnya beserta Risa untuk membeli es teh di warung Bu Endang yang berjarak satu meter dari sekolah mereka. "Kamu bisa keluarin sepeda dari parkiran, kan?" "Bisa, ini sudah hampir keluar." Rama terkekeh, lalu menolong Risa mengeluarkan sepedanya. "Jangan malu untuk minta tolong, kalau memang lagi kesusahan." "Maaf." "Enggak masalah." Setelah sepeda Risa berhasil dikeluarkan dari parkiran, sesuai dengan kesepakatan antara mereka dengan Raksa. Kini, Rama dan Risa sudah berada di depan toko buku Pelangi tepat di samping jembatan. "Ibu masih jualan bunga kan, Ram?" Rama mengangguk. "Masih." "Sudah lama enggak main ke toko bunga ibu, sudah lama juga enggak ketemu sama Dipa." "Makanya, sesekali datang dong ke toko bunga Ibu. Karena kamu sudah terlalu jarang main ke sana, sampai-sampai Ibu dan Dipa selalu nanyain kamu." "Iya, besok hari minggu aku ke sana. Kangen juga ketemu Ibu sama Dipa." Rama hanya mengangguk menanggapi perkataan Risa. "Kelewat sepuluh menit belum kita di sini?" "Belum lah, ini mungkin masih sekitaran tiga menitan. Enggak kok, Raksa enggak bakalan kabur. Dia kan takut kalau sama kamu." Memikirkan fakta bahwa Rama dan Raksa adalah saudara kembar dengan sifat yang berbeda, tentu membuat Risa menggelengkan kepala. Rama yang sangat disipilin, rapi dan berjiwa pemimpin. Maka berbeda lagi dengan sifat Raksa yang cukup manja, keras kepala dan suka mengulur waktu untuk hal apa pun. Walau mereka saudara kembar, tidak menutup kenyataan kalau Raksa itu sangat takut dengan Rama. Entah apa yang dia takuti, tapi terlihat jelas dari wajah Raksa setiap kali dimarahi Rama, pasti dia akan langsung terdiam dan tidak pernah berani menyangkal setiap perintah yang diberikan Kakaknya. "Nungguin Raksa bosen juga, mau masuk ke toko buku enggak? Kita lihat buku-buku yang ada di dalam sana, siapa tahu ada buku bagus dan harganya cukup terjangkau." "Boleh." Perkataan Risa ada benarnya. Menunggu Raksa selama tujuh menit cukup membosankan juga, jadi bukan masalah besar kalau masuk ke toko buku sebentar, iya kan? "Tapi tunggu sebentar." "Ada apa?" "Ris, mau ke mana?" "Sebentar," Risa berjalan ke tepi jalan raya untuk menyingkirkan batu yang bisa membuat orang lain terjatuh saat tidak sengaja melindasnya. "Itu bahaya." Risa tidak mengindahkan perkataan Rama dan tetap berjalan menuju pinggiran jalan raya. "Ris, bahaya." Merasa perkataannya tidak dipedulikan lagi oleh Risa, tanpa pikir panjang Rama langsung berlari untuk menghampiri gadis itu. "Sudah dibilang kan, itu bahaya. Minggir saja kamu, biar aku yang menyingkirkan batunya." Risa mengangguk, kemudian berjalan pelan untuk menjauh dari jalan raya. "Kamu duduk di sepeda sana, tungguin Raksa." Lagi, Risa hanya mengangguk sambil tersenyum saat mendengar apa yang dikatakan Rama. Entah kenapa melihat Rama yang begitu peduli kepadanya, membuat perasaan bahagia di dalam hati Risa meledak dan berseri-seri seperti saat musim ceri tiba. "Hati-hati bu-- Rama!! Dari arah kiri ada mobil!" Sesaat setelah Risa mengatakan hal itu, tepat di depan matanya. Dia melihat mobil dari arah kiri yang hilang kendali menerjang tubuh kurus Rama sampai terpental dengan kencang hingga membentur aspal. "Abang!" Raksa menghirup nafas dalam-dalam, sesaat setelah bangun dari tidurnya. Lagi dan lagi, bayangan menyeramkan tentang kecelakaan empat tahun itu muncul kembali. Ingatan menyedihkan akan sebuah kehilangan terputar berulang kali dalam memori yang ia coba untuk pendam. Di dalam rumah yang berukuran cukup besar ini, Raksa termenung dan hanyut dalam pikirannya sendiri. Saat ini, tidak ada hal lain yang memenuhi pikiran Raksa, selain kenangan menyakitkan tentang kepergian Rama untuk selamanya. Berkali-kali, Raksa mencoba menepis setiap bayangan menyedihkan dalam angan-angannya. "Kenapa harus anakku yang diambil. Kenapa bukan akun saja?!" "Mas, ayah lagi dirawat di rumah sakit, dan sejak tadi ibu teriak-teriak sambil nangis terus. Aku takut Mas." "Kalau Ayah pergi, kamu harus jaga adik sama mama kamu. Karena hanya kamu anak laki-laki yang sudah besar di rumah ini." "Mas, ibu dibawa pergi sama orang-orang, aku enggak tahu mau dibawa ke mana." "Nak, Risa mengalami masalah besar. Apa Tante bisa minta tolong? Tolong Risa agar dia tetap baik-baik saja." Raksa menghela nafas, dia berusaha melawan batinnya yang bergejolak hebat dipenuhi rasa sesak. Jika waktu dapat terulang, dia sangat ingin mengulang pada titik awal sebelum masalah besar terjadi dan tidak akan mencoba menghentikan agar sesuatu hal yang buruk bisa dihindari. Bila Tuhan memberikan kesempatan, sungguh Raksa berani bersumpah, hanya hal itu saja yang dia inginkan. Bersambung...
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
cerita nya bagus banget
15d
0di cerita ini sangat bagus untuk membaca
10/05
0eh ini sape bab berapa woy
28/03
0Tingnan Lahat