"Alin!! Lo habis tonjok-tonjokkan sama siapa?!" Vina yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi dengan berteriak dan membuka pintu secara paksa, membuat Alin terkejut hingga terjengkang ke belakang. "Enggak usah teriak-teriak, bisa kan?" Vina tertawa pelan, lalu membantu Alin untuk berdiri dari tempatnya terjatuh secara tidak estetik. "Ya maaf, kan gue cuma khawatir doang." "Itu bukan khawatir, tapi ngagetin." "Iya, iya maaf. Sudah minta maaf juga, masih saja ngomel." Alin menatap malas pada gadis yang bersuara nyaring itu, kemudian mengambil tisu yang berada di dalam sakunya. "Itu kenapa sih, kok lo bisa sampai luka kayak gitu?" "Ciuman sama tembok di kelas tadi." "Segitunya enggak ada cowok yang mau sama lo, Lin? Sampai tembok lo jadiin pelampiasan?" sebelum melanjutkan perkataannya, Vina lebih dahulu tergelaj tawa. "Dari zaman lo belum masuk sekolah ini, itu tembok sudah ada. Ya kali lu sampai lupa." Alin membuang tisu yang ia pakai untuk membersihkan darah di dahinya tadi ke tempat sampah. "Gue lagi merem melek. Belum seratus persen sadar, terus buru-buru berdiri sampai lupa di samping gue ada tembok." "Terus lo terbentur dengan cara yang tidak estetik gitu?" Alin mengangguk dan membuat Vina tergelak tawa lagi. "Seharusnya gue lihat kondisi wajah lo ya? Pasti penuh aib." "Cih! Yang waras kudu sabar, apalagi ngadepin dedemit macem beginian," ucap Alin, sambil membersihkan darah di lututnya. Sedikit menimang apa yang ingin dia katakan, Alin mulai bersuara. "Vin, lo lihat kondisi tasnya Raksa enggak saat di kelas?" "Nah! Itu yang pengen gue tanyain. Bukan lo kan pelakunya? Karena cuma lo doang yang ada di kelas pas jam istirahat tadi." Alin menggeleng kuat-kuat. Walau dia menaruh hati kepada Raksa dan ingin dekat dengan Raksa, tapi tidak mungkin dia melakukan hal gila seperti itu. "Enggak lah. Ngapain juga gue kayak gitu, enggak ada gunanya." Sesekali Alin dibuat meringis kesakitan, saat mengobati luka di lututnya. "Kalau bukan lo, terus siapa? Emang lo tahu orangnya?" Alin menghela nafas berat. "Gue enggak tahu siapa dia, gue juga enggak kenal ... kalau dilihat lebih teliti lagi, kayaknya bukan anak sekolahan kita." Seperti bunga yang langsung segar saat disirami air. Vina ingat saat ke kantin tadi, dia berpapasan dengan laki-laki yang memakai Hoodie berwarna hitam, sambil menenteng kantong plastik tengah berjalan kearah kelas mereka. "Orang itu pakai hoodie hitam, iya kan?" "Iya." "Wajahnya kelihatan, tapi lo enggak kenal siapa dia?" "Iya." Vina menjentikkan jari, kemudian bersandar di pintu toilet. "Makanya gue tadi juga heran, orang yang berpapasan sama gue tadi siapa ...." "Kalau heran, kenapa enggak lo tanyain?" "Gue kira dia salah satu murid di kelas sebelah yang mau buang sampah. Jadi, enggak kepikiran buat halau dia." Alin berdecak tidak percaya dengan apa yang dia dengar, sebab tidak seperti biasa Vina bisa kecolongan terhadap orang yang tidak dia kenal. "Enggak biasanya." "Tapi seriusan, emang dahi lo enggak sakit?" "Enggak. Sudah gue bilang kan, kalau gue tuh kebal sama rasa sakit." "Tck! Entar sakit beneran, nyahok lu." "Mulutnya, diiih. Orang bego pun pasti tahu, kalau kondisi begini, ya sakit lah!" "Kok ngegas sih?! Kan gue cuma nanya." "Karena sudah tahu sakit, tetap saja lo tanyain sakit apa enggak!" "Bagus, ayok ngegasnya ditambah! Makin mantep entar." "Terserah!" Daripada meladeni pembicaraan yang tidak bermanfaat dengan Vina, maka lebih baik sudahi saja. ****** "Tas kamu?" Risa menatap kebingungan saat melihat kondisi tas Raksa yang sudah dipenuhi oleh telur yang pecah, sekaligus tidak ketinggalan ada dua batu juga di dalamnya. Seperti reaksi yang ditunjukkan Risa, Raksa juga memandangi tas miliknya dengan tatapan tidak mengerti. "Kalian berdua yang ngelakuin hal ini?" Sontak, Jaya dan Kido langsung menggeleng saat dituduh oleh Dewi. "Enak saja main tuduh-tuduh orang. Gue sama Kido enggak tahu apa-apa." "Bener yang dibilang Jaya. Kalau mau nanya, mending tanyain sama Alin sana, karena cuma dia yang ada di kelas pas istirahat tadi." Setelah Jaya berkata demikian, Alin dan Vina yang baru masuk ke dalam kelas dibuat kebingungan saat semua murid menatap penuh intimidasi kepada mereka, termasuk Raksa juga. "Kenapa ini, Lin?" Vina berucap sambil memukul pelan lengan Alin. "Enggak tahu." "Lo yang ngelakuin hal ini kan," Dewi berkata seolah memang Alin lah pelakunya. Vina yang tidak terima saat Dewi menuduh Alin, langsung berbicara dengan keras. "Lo nuduh Alin sebagai pelaku hal itu? Wah ... heh! Lo jangan sok tahu ya!" "Emangnya siapa la--" Sebelum Dewi selesai berbicara, terlebih dahulu Risa segera memintanya untuk diam. "Diam dulu Wi. Jangan main nuduh orang yang belum terbukti bersalah. Memang bener Lin, kamu pelakunya?" Alin menggeleng. "Enggak." "Tapi kan lo yang sejak tadi di dalam kelas." Perkataan Kido dibalas anggukan oleh Jaya. "Mungkin saja loh. Lo yang ngelakuin tapi pura-pura enggak bersalah." "Diam lu pada!!" Dalam hatinya, Alin tertawa bahagia ketika Jaya dan Kido dibuat diam seribu bahasa karena bentakan Vina yang sangat memekakkan telinga, sedangkan Raksa hanya memandangi luka di dahi dan lutut Alin. "Dahi sama lutut kamu kenapa?" Saat mendengar Raksa bertanya padanya, jujur hati Alin berdegup tidak karuan, sampai dia tidak bisa mengatakan satu kalimat saja. "Nah ...." lagi! Jaya seketika menutup mulut ketika Vina menatap penuh amarah kepadanya. "Tadi waktu jam istirahat, cuma kamu yang ada di kelas, iya kan. Jadi kalau gitu, kamu pasti tahu dong siapa orang yang masukin telur dan batu ke dalam tas Raksa?" Alin tidak bisa menjawab pertanyaan Risa, sehingga dia hanya bisa meneguk ludah berkali-kali. "Jawab dong Lin!" Vina meremas telapak tangan Alin agar cepat menjawab pertanyaan Risa. "I--itu." Sial! Inilah situasi yang dibenci Alin. Ketika dia sedang merasa takut, cemas, gelisah atau tengah bersedih, pasti dia akan langsung berbicara dengan tergagap-gagap. "LAH! MALAH NGELAWAK ... biasa aja kali matanya, gue cuma becanda doang," ucap Jaya saat melihat Vina memicingkan mata. "Mending lo diam deh. Berisik banget kayak monyet!" "Monyet astaga!" mati-matian Kido berusaha agar tidak tertawa saat Vina mengatai Jaya seperti monyet. "Diam, daripada lo makin kelihatan salah," bisik Kido. "Karena bukan kamu pelakunya, pasti kamu tahu dong siapa orang yang ngelakuin hal ini," tanya Risa memastikan. "W--waktu i--itu ...." Merasa tidak sabar menunggu apa yang Alin ingin katakan, Vina langsung memotong perkataannya. "Memang benar pas jam istirahat tadi Alin berada di kelas. Dia juga lihat siapa pelakunya, tapi Alin enggak kenal sama orang itu. Alin tadi juga berusaha ngejar, tapi malahan berakhir nubruk dinding di--" "Sssstt!! Biar Alin saja yang jelasin. Kalau lo yang ngomong, sudah kayak cicitan burung." Vina berdecih, lalu melempar bedak yang ia genggam tepat mengenai seragam Kido. "Oops! Sorry." Jika Kido tidak ingat kalau Vina seorang wanita, sudah dapat dipastikan dia akan langsung menghajar gadis itu habis-habisan. "Kalian jangan berantem sendiri. Lin, kamu beneran enggak tahu siapa dia?" Alin mengangguk. "I--iya, Ris." "Memang dia bukan anak sekolahan sini?" timpal Dewi, dan dibalas gelengan oleh Alin. "Oh ya! Kalian berdua kan juga masuk ke kelas, sesaat setelah Alin nubruk dinding tadi. Jadi kalian pasti ngelihat siapa orangnya." Jaya dan Kido segera mengelak. "Kita berdua datang, pas Alin udah gelesotan di lantai," ucap Jaya. "Betul yang dibilang Jaya. Gue sama dia masuk ke kelas, tas Raksa sudah kayak gitu." Risa menghela nafas, lalu mengalihkan perhatiannya pada Raksa yang sejak tadi hanya diam saja. "Sa? Kamu lagi mikirin apa?" Raksa menggeleng, "Enggak perlu memperpanjang masalah kecil kayak gini lagi. Semuanya buruan balik ke tempat duduk," kemudian, dia mengambil tas miliknya yang dibawa Risa. "Tapi, Sa ...." "Sudah Ris, masalah kecil jangan dibesar-besarkan. Cepetan duduk di kursi kamu, sebelum Guru datang." Sebagai anggota kelas yang baik. Mau tidak mau, semua murid yang berada di dalam kelas langsung duduk di kursi mereka masing-masing menuruti perintah Pak Ketua kelas, tak terkecuali Risa yang juga segera duduk di kursinya. Kemudian, Raksa segera meletakkan tas miliknya di bagian ruang kelas paling pojok sendiri, agar tidak menganggu para siswa di dalam kelas saat pelajaran dimulai. Tepat ketika dia berada di pojok paling belakang, sesekali Raksa mencoba mencuri pandang untuk melihat luka di dahi Alin yang sepenuhnya belum diobati. Merasa tidak enak kepada Alin. Sebagai ucapan terimakasih, Raksa meletakkan plester di atas meja Alin. "Maaf karena kamu luka sampai seperti ini. Terimakasih, nih plester buat luka kamu, Lin." Demi bom waktu yang bisa meledak kapan pun. Ingin sekali, Alin menari seperti orang gila. Sumpah, kondisi hati Alin saat ini benar-benar tidak karuan gilanya. "Nah kan, gue pengen nari kayak orang gila!" Alin memejamkan mata dan hanya bisa berteriak dalam hati. Sungguh, bisakah waktu mengulangi satu detik yang telah berlalu? Agar Alin bisa mendengar kembali perkataan Raksa yang ditujukan padanya. Bersambung...
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
cerita nya bagus banget
16d
0di cerita ini sangat bagus untuk membaca
10/05
0eh ini sape bab berapa woy
28/03
0Tingnan Lahat