Alice yang masih mendengarkan curhatan Grace, tetap berada di sana hingga sore hari. Grace memang tidak tanggung-tanggung dalam bercerita. Dia nyaris menghabiskan waktu lama untuk sekedar menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Alice yang sudah yakin dengan tindakannya untuk membantu Grace apapun yang terjadi. Melihat Alice yang mengulurkan tangan kepadanya membuat Grace seketika menahan haru. Selama ini dirinya hanya hidup seorang diri, terus bertumbuh bahkan sampai nyaris menyerah. Namun, karena mimpinya yang cukup besar tidak membuatnya menyerah begitu saja. Kali ini Alice mengajak Grace untuk pergi BBQ di restoran BBQ yang ada di sekitar pusat kota. Matahari sudah mulai terbenam, mereka berdua kemudian pergi ke restoran untuk menikmati makanan sekaligus melepaskan beban di pikiran. Sesampainya di sana, rupanya tempatnya sangat ramai. Alice dan Grace duduk di kursi yang dekat dengan dinding. Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri mereka berdua. “Permisi, ini daftar menunya,” ucap pelayan sambil memberikan daftar menu. Alice dan Grace kemudian melihat-lihat hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk memesan daging perut. “Kami pesan yang ini,” ucap Alice sambil menunjukan ke daftar menu “Baiklah. Di tunggu.” “Iya.” Mereka berdua juga memesan beer untuk menemani makan daging. Kali ini pelayannya cukup lama dalam mempersiapkan menu yang mereka pesan. Namun, Grace sepertinya menikmatinya. Dia terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Alice kemudian hendak pergi ke toilet sebentar. Dan dirinya meninggalkan Grace yang sedang menunggu pesanan datang. “Ah, maaf Grace. Aku harus pergi ke toilet sebentar,” ucap Alice “Iya. Silahkan.” “Kau di sini tunggu menunya ya.” “Oke.” Alice kemudian pergi sebentar ke toilet. Ternyata begitu sampai di toilet dirinya melihat ke arah cermin dan merapikan bulu matanya yang nyaris lepas. Kondisi darurat yang menimpanya untung saja tidak dilihat oleh orang lain. bagaimana itu sangat memalukan jika lepas begitu saja. Alice lalu mengeluarkan wadah makeup di tasnya dan mengambil lem bulu mata. Setelah itu, dia memasangkan kembali bulu matanya. Meski tidak mencolok dan justru terlihat natural, itu tidak mengubah fakta bahwa dia memakai bulu mata palsu. Setelah selesai, Alice kembali menghampiri Grace dan rupanya menu makanan yang mereka pesan sudah tiba. Grace sedang memanggang daging di atas pemanggang. Dan Alice segera duduk untuk bergabung dan menikmati makananya. “Sudah selesai?” “Iya.” “Cepat sekali.” “Ah, itu..... aku hanya merapikan riasan.” “Oh, ku pikir kau ngapain.” “Biar aku saja yang memegangnya.” “Tidak usah. Ini tugasku.” “Yasudah.” “Sepertinya ini sudah matang,” ucap Alice sambil mengambil potongan daging itu dengan menggunakan sumpit “Bagaimana rasanya?” “Ini enak.” Mereka berdua melanjutkan makannya. Pesanan yang di pesan oleh mereka cukup banyak untuk hanya dua orang saja. Beer menjadi teman minum mereka di kala makan daging. Suasana BBQ yang menyenangkan membuat keduanya tidak berhenti tertawa. Hari sudah mulai gelap. Semua orang yang berada di restoran ini dan menikmati BBQ terasa begitu berisik. Suaranya terdengar sampai kemana-mana sehingga mereka berdua hanya bisa menahan amarah saking membuat gendang telinga nyaris pecah. “Wah ini enak sekali,” ucap Alice “Benar. Oh iya, bagaimana kau tahu tempat ini?” “Itu aku hanya kebetulan lewat dan melihat tempat ini. Sepertinya menarik. Itu saja.” “Ku pikir kau langganan di sini.” “Ah tidak. Aku jarang sekali datang ke tempat BBQ.” “Kalau begitu ini pertama kalinya?” “Jika di tempat ini, memang benar pertama kali.” “Sudah kuduga.” “Memangnya terlihat jelas?” “Tidak.” Setelah selesai menghabiskan makanannya, mereka berdua kemudian pulang ke rumah masing-masing. Kali ini Alice harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu sehingga harus berpamitan dengan Grace meski arah mereka sama. Grace yang mengerti akan hal itu kemudian dia pulang sendirian menaiki bus. Sekarang Alice datang ke sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari sana. Sebuah rumah sakit besar cukup terkenal di kota itu. Alice berjalan memasuki koridor rumah sakit dan tibalah dirinya di depan pintu ruangan dokter. Alice mencoba untuk membuka pintu ruangan tersebut, tapi dia dikejutkan dengan kedatangan seorang pasien yang mengatakan bahwa dirinya harus pergi konsultasi ke ruangan tersebut. Tentu saja Alice mempersilahkannya dan begitu pasien itu memasuki ruangan tersebut, dirinya hanya bisa menunggu sampai pasien itu selesai. 1 jam kemudian, pasien itu datang keluar dari ruangan tersebut dan kemudian pergi. Melihat hal itu, Alice langsung bergegas memasuki ruangan tersebut karena merasa banyak waktu yang sudah terbuang. Ketika dirinya memasuki ruangan tersebut, terlihat di sana ayahnya Alice tuan Cooper sedang mengisi beberapa dokumen pasien. Alice kemudian menghampirinya. “Ada apa? kau seharusnya pulang. Ini sudah larut malam,” ucap tuan Cooper “Ada yang ingin ku katakan.” “Nanti saja. Aku sedang sibuk. Sekarang pulang saja dan istirahat.” “Maaf. Tapi ini sangat penting.” “Lantas apa yang ingin kau katakan?” Alice kemudian mencoba untuk mengatakan maksud dan tujuannya datang ke sana. Tuan Cooper merupakan seorang fisioterapi yang bekerja di rumah sakit ternama di kota ini. Setelah Alice mengganggu waktu kerjanya, Alice kemudian pergi untuk pulang ke rumahnya karena hari sudah malam. Dalam perjalanan pulang, dia tidak langsung pulang ke rumah melainkan diam di minimarket di sekitar rumahnya sambil memakan mie instan. Melihat Alice yang dari tadi belum pergi, membuat penjaga minimarket mengajaknya berbicara. “Kau masih berada di sini. Sampai kapan kau akan menghabiskan semua makanan itu?” tanya penjaga minimarket yang merupakan seorang wanita muda. “Sampai emosiku mereda. Kau mau?” “Tidak terimakasih.” “Ngomong-ngomong, kau pasti sangat menderita terlihat dari caramu melampiaskan emosi seperti itu. kau bisa obesitas loh.” “Itu tidak akan terjadi. Meski banyak makan, berat badanku tidak akan bertambah.” “Wow itu hebat.” “Malam hari memang jarang ada pasangannya?” “Kau benar. karena itulah aku mengajakmu berbincang. Apa harimu mengerikan?” “Tidak terlalu. Apa anda juga merasa frustasi dengan pekerjaanmu?” “Hahaha... kau tidak perlu bertanya. Bukankah sudah jelas. Semua orang tidak ada yang benar-benar baik-baik saja. Kau tahu kenapa?” “Hukum kehidupan.” “Ya. Kau benar. apa pekerjaanmu?” “Aku hanya mahasiswa.” “Begitu rupanya.” “Oh iya, bisa tambahkan lagi beernya?” “Apa?” Alice yang terus memakan makanan di minimarket tidak lupa juga dirinya menghabiskan dua kaleng beer. Melihat nafsu makannya yang luar biasa, petugas itu hanya terdiam dan tidak berani berkomentar lebih jauh. Setelah Alice puas dengan pelampiasannya dia kemudian pulang ke rumahnya. Suasana di rumah yang mengerikan, membuat dirinya langsung mengurung diri di kamar. Antoni sedang sibuk dengan tugasnya di kamarnya, sehingga tidak menyadari kepulangan Alice.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat bagus
27/05
0sungguh kemalangan
11/04
0bagus
20/02
0Tingnan Lahat