Judul: Pernikahan Tanpa Ada Rasa Cinta Penulis: Nurma Syafitri Part03 Fitri melanjutkan perjalanan ke kantor. Sesampainya di sana, ia bertemu dengan Wulan sahabat dari kecilnya. Mereka berdua berpelukan melepas rasa kangen yang telah lama tidak bertemu semenjak lulusan sekolah. “Wulan ada apa kamu di sini?” tanya Fitri sambil terkejut melihatnya. “Fitri, Wulan kerja di sini. Kamu sendiri ngpain di kantor ini?” tanya Wulan dengan rasa penasaran. “Wulan, Fitri kerja di sini sudah 3tahun semenjak lulusan sekolah,” ucap Fitri. “Selamat ya, Fitri sudah berhasil menjadi apa yang kamui inginkan,” sahut Wulan. Tiba-tiba datang seorang Pria yang menggunakan jas hitam, baju kemeja biru, tinggi, putih dan penampilan sempurna, lalu ia memegang tangan Fitri dengan erat. “Halo sayang, kamu baru sampai kantor?” tanya Wisnu sambil mengelus hijab Fitri. “Iya, Fitri baru sampai kantor Mas. Kenalin ini sahabat aku dari kecil namanya Wulan,” ucap Fitri. “Halo, nama aku Wisnu pacar Fitri,” sahut Wisnu sambil mengulurkan tangan kepada Wulan. “Oh, pantesan Fitri betah kerja di sini ada pacarnya,” sindir Wulan pada Fitri sambil tersenyum. “Wulan, aku kerja di sini ingin meraih impian Fitri yang sempat terpendam,” ucap Fitri. “Fitri, kamu ya dari dulu enggak bisa bercanda selalu serius jadi orang,” sahut Wulan. “Fitri, Mas tinggal dulu ke dalam. 10menit lagi kita akan ada meeting bersama klien,” ucap Wisnu. “Baiklah, Mas. Fitri persiapin berkas buat meeting nanti,” sahut Fitri. Tiba-tiba Wisnu mencium kening Fitri di depan Wulan, lalu ia melangkah ke arah ruang kerja dan melepaskan pegangan tangannya bersama Fitri. “Fitri, Wisnu bagian apa dia menjabat?” tanya Wulan sambil menyelidik tentang Wisnu. “Wulan, Wisnu kerja bagian manager, dia yang punya perusahaan ini dan masih banyak perusahaan dia di bandung, kamu sejak kapan tinggal di Bandung?” tanya Fitri. “Fitri mulai hari ini Wulan tinggal di Bandung, alhamdulillah aku terima kantor ini dan habis interview oleh HRD di sini,” ucap Wulan. “Wulan alhamdulillah kalau kamu di terima kantor ini, sekarang kamu tinggal di mana?” tanya Fitri. “Fitri, Wulan belum dapat indekos untuk aku tinggal,” sahut Wulan. “Wulan nanti kamu tinggal sama aku saja ya, Fitri tinggal ke ruang kerja dulu,” ucap Fitri. “Baiklah, Fitri nanti istirahat bareng ya,” sahut Wulan. “Iya, Wulan. Kamu sudah tahu ruang kerja di mana?” tanya Fitri. “Sudah Fitri,” sahut Wulan. Fitri melangkah ke ruang kerja dan mempersiapkan bahan-bahan untuk meeting bersama Wisnu dan klien. Tak lama kemudian telepon di ruang kerja Fitri berbunyi, lalu ia mengangkat teleponnya. “ Fitri, kamu sudah siap untuk berkas nanti di ruang meeting?” tanya Wisnu. “Wisnu sudah ini mau ke ruang kerja kamu,” sahut Fitri. Fitri menutup telepon dari Wisnu dan melangkah ke ruang kerja pria itu. Setelah tiba di depan ruangannya, lalu ia mengetuk pintu. “Masuk Fitri,” ucap Wisnu dari dalam ruangannya. Fitri melangkah dan masuk ke ruang kerja Wisnu. Lelaki berkulit putih itu menggandeng dan berjalan bersama dengannya. Sesampai di ruang meeting wanita itu terkejut melihat Rian ada di sana. Fitri duduk berhadapan dengan Rian. Wisnu memperkenalkan diri di depan klien dan menyampaikan prosedur kerja samanya. Tatapan mata Rian membuat Fitri gerogi, Wisnu menawarkan kerja sama bersama tender kantor lelaki bertubuh macho. Tanpa basa basi lelaki berkulit putih itu menerima kerja samanya. Fitri semakin bingung dengan jalan pikiran Rian yang belum tahu tender yang di tawarkan Wisnu kepada perusahaannya. “Wisnu mulai sekarang kita kerja sama dengan perusahaan Rian, mengambil project dari kamu,” ucap Rian. “Baiklah, Rian. Kita sudahkan meeting hari ini, kita lanjut bicaranya di ruang kerja Wisnu,” sahut Wisnu. “Baiklah, Wisnu,” ucap Rian. “Pak Wisnu saya ijin pulang duluan, ya,” ucap Fitri. “Fitri, kamu lagi sakit?” tanya Wisnu. “Iya, Pak Wisnu. Fitri ijin kerja setengah hari, ya,” sahut Fitri. “Baiklah, Fitri. Tapi aku enggak bisa anterin kamu pulang, ya. Wisnu mau berbicara sama Rian tentang tender,” ucap Wisnu. “Pak Wisnu enggak apa-apa saya pulang sendiri bisa,” sahut Fitri. “Fitri hati-hati di jalan, ya,” ucap Wisnu. “Iya, Pak Wisnu,” sahut Fitri. Fitri melangkah ke luar ruang meeting dan mempercepat langkahnya. Ia membuka pintu ruang kerja, lalu dia mengambil tas dan berjalan menuju tempat parkir. Tiba-tiba Wulan memanggil Fitri dengan kencang. “Fitri, kamu mau ke mana?” tanya Wulan. “Wulan, aku pulang duluan nanti sore Fitri jemput kamu di sini,” sahut Fitri “Baiklah, Fitri. Kamu hati-hati di jalan, ya,” ucap Wulan. “Iya, Wulan,” sahut Fitri. Fitri menaiki motor, lalu ia mengendarai dengan kecepatan 60km. Sepanjang perjalanan dia masih terus membayangkan Rian yang berada depannya saat di ruang meeting. “Pak Wisnu, aku boleh tanya perihal lain enggak?” tanya Rian. “Boleh, tanya apa Pak Rian,” sahut Wisnu. “Pak Wisnu, Wanita yang bernama Fitri itu ada hubungan apa dengan kamu? Maaf ya kalau aku lancang tanya perihal di luar kerja sama kita,” ucap Rian. “Oh, Fitri pegawai Wisnu sekaligus pacar aku, kenapa Rian memang kamu kenal sama dia?” tanya Wisnu. “Wisnu, Rian kenal sama dia, ia teman SMK aku di Jakarta,” sahut Rian. “Wisnu, kamu sudah lama pacaran bersama Fitri?” tanya Rian. “Rian, aku pacaran sama Fitri sudah 3 tahun semenjak dia bergabung kerja di perusahaan ini,” sahut Wisnu. “Oke, baiklah. Terima kasih Wisnu sudah mau menceritakan semua cerita kamu sama Fitri,” ucap Rian. “Iya, enggak apa-apa Rian. Wisnu dengan senang hati akan menjawab pertanyaan kamu tentang kerja sama atau perihal yang lain,” sahut Wisnu. “Wisnu, Rian pulang duluan, ya ada watsapp dari Mami ada urusan penting di kantor,” ucap Rian. Rian tak menyangka kalau selama ini gadis yang ia cintai sudah mempunyai pasangan hidup lagi. Rian berjalan keluar menuju tempat parkir, lalu ia melihat Wulan berada di sana. “Wulan kamu ngapain di perusahaan ini?” tanya Rian. “Rian, Wulan di sini kerja. Mulai perhari ini aku di terima di sini,” sahut Wulan. “Wulan pasti kamu tahu kalau Fitri kerja di sini?” tanya Rian. “Iya, Rian. Wulan tadi kaget melihat Fitri kerja di sini dan dia ada hubungan bersama Wisnu,” sahut Wulan. “Iya, Wulan. Rian baru tahu tadi pas tanya langsung sama Wisnu,” ucap Rian. “Rian, kamu lebih baik menjauhi Fitri dan anggap Fitri masa lalu buatmu,” sahut Wulan. “Wulan, enggak segampang itu Rian melupakan Fitri dari kehidupan aku,” ucap Fitri. “Rian, kamu sudah menikah bersama Tiara, buat apa kamu masih memperjuangkan Fitri untuk di miliki,” sahut Wulan. “Wulan, kamu enggak tahu sudah berapa lama aku memendam kerinduan bersamanya. Aku sangat mencintainya sampai saat ini,” ucap Rian. “Rian, kamu pikirin hati Tiara dan Wisnu, kalau dia tahu kalau kamu masih mencintai Fitri sampai sekarang,” sahut Wulan. “Oke, terima kasih sudah mau kasih solusinya. Wulan asal kamu tahu aku akan memperjuangkan Fitri sampai kapan pun,” ucap Rian. “Terserah, Rian. Wulan sudah mengingatkan kamu,” sahut Wulan.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Baguss banget
31/07
0bagusssss bgtttt
11/07/2025
0Oke lah
03/02/2025
0Tingnan Lahat