Suhu tubuh Akio meningkat tiba-tiba, aku bergegas mengambil termometer yang ada di kotak p3k (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) yang menempel pada dinding ruang keluarga. Kutempelkan benda seukuran jari tangan itu pada lipatan ketiak Akio. Digit demi digit berubah cepat sekali, naik dan terus naik, hingga akhirnya berhenti di angka 39,7° C. Akio tidak merintih, dia hanya diam dan memejamkan matanya. Kuminumkan paracetamol sirup, setelahnya Akio kembali terpejam. "Mbok, tolong hubungi Tuan Bos, ya! Non Akio demam tinggi," pintaku kepada Mbok Sar. "Demam lagi?" tanya Mbok Sar. "Lagi? Memangnya Non Akio habis demam Mbok?" "Baru satu bulanan yang lalu Non Akio keluar dari rumah sakit Mbak." Penjelasan Mbok Sar membuatku kaget. "Non Akio punya riwayat penyakit?" tanyaku kemudian. "Tipes Mbak, Non Akio kemarin kena tipes." Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Mbok Sar. Segera kulangkahkan kakiku menuju kamar Non Akio kembali. Kucoba mengecek suhu tubuhnya lagi. Masih demam tinggi, kali ini termometer menunjukkan angka 39,5°C. Kuganti pakaian Non Akio dengan baju yang lebih tipis. "Sayang, minum air putih dulu, ya?" kataku dengan menyiapkan satu gelas air putih. Kuangkat perlahan kepalanya, mencoba meminumkan air sedikit demi sedikit. "Sekarang bobok lagi, sebentar lagi Papi pulang," ucapku. Takada jawaban dari Non Akio. Ia kembali ke posisi semula, meringkuk di atas tempat tidur dengan memeluk bonekanya. "Anak yang kuat," batinku takjub melihat Non Akio tidak menangis dan tetap tenang walau dalam keadaan demam tinggi. Meskipun demikian, kita sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi kepada sang buah hati. Kita harus tetap waspada dan tidak boleh lengah. Tetap memantau suhu tubuh dan memerhatikan gejala-gejala yang terjadi terhadap anak adalah hal terpenting. "Bagaimana keadaan Akio?" tanya Tuan Bos setibanya ia di kamar putrinya itu. Tuan Bos tampak khawatir, ia langsung menghampiri putrinya yang tertidur di tempat tidurnya. Dia raba kening anak semata wayangnya itu, kemudian dibelainya dengan lembut rambut lebat Akio. "Demamnya barusan saya cek 39,5°C, Tuan," jelasku. "Apa dia muntah?" "Tidak." "Diare?" "Tidak, Tuan." "Ya sudah, besok kita ke rumah sakit, sekarang sudah larut. Kamu istirahat saja," perintah Tuan Bos. "Ya, Tuan." Aku melangkahkan kakiku hendak keluar dari kamar Akio. "Sudah kamu kasih obat?" pertanyaan Tuan Bos membuat langkahku terhenti. "Sudah, Tuan, saya beri paracetamol sirup." "Ya sudah, terima kasih." Aku tertegun, "What? Terima kasih?" batinku bersuara. Apa gue nggak salah denger, kulkas berjalan bilang terima kasih ke gue? Ckckck, sebentar lagi turun hujan kayanya! Hihihi. Mendengar ucapan terima kasih dari Tuan Bos yang super dingin itu membuatku bergidik. "Ngapain masih berdiri di situ?" Tuh, kan, baru juga bersikap menyenangkan sebentar, eh nggak tahunya. Sekali kulkas mah akan tetap jadi kulkas, nggak mungkin berubah menjadi sprit* yang nyatanya nyegerin. ***RTA*** Kebiasaan tidur malam bersama Leta ketika di kos, membuatku selalu terjaga hingga tengah malam mulai menyapa. Jam di dinding sudah hampir menyentuh angka 12, tetapi mata ini masih enggan dipejamkan. Padahal, semenjak mengasuh Non Akio, sama sekali aku nggak pernah tidur siang. "Mbak Inez!" Suara Mbok Sar melengking tinggi, memanggilku dari luar. Kamar kami memang bersebelahan. Ada apa tengah malam begini Mbok Sar memanggilku. "Ya Mbok, bentar," jawabku dengan sedikit berteriak. Aku beringsut turun dari tempat tidur, Kuputar anak kunci dan segera menarik handle pintu. Tampak Mbok Sar panik, napasnya pun terengah-engah. "Ada apa, Mbok? Akio nggak apa-apa, kan?" tanyaku khawatir. Melihat Mbok Sar seperti itu membuatku berpikiran macam-macam. "Di panggil Tuan, Mbak! Non Akio ngigau manggil-manggil nama Mbak," jelas Mbok Sar. Aku segera berlari menuju kamar Non Akio, di dalam kamar terlihat Tuan Bos yang tegang, menemani putrinya yang tengah terlelap dengan bibir bergetar. "Non ...," panggilku. Non Akio hanya diam, dengan tangan dan bibirnya gemetar, netranya pun terpejam. Sesekali ia merancau kata-kata yang tidak jelas. "Kita ke rumah sakit sekarang Tuan, demam Non Akio terlampau tinggi," ucapku panik. Suhu tubuh Non Akio sekarang sudah mencapai angka 40,3°C. Suhu tubuh yang menyentuh angka 40°C, memang disarankan untuk mendapatkan perawatan. Selain dapat dipantau oleh petugas medis, juga dikhawatirkan terjadi kejang terhadap penderita. Oleh sebab itu, jika anak-anak demam tinggi, sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit. Mobil meluncur dengan cepat membelah jalanan protokol yang lengang dari hilir mudik kendaraan. Dingin dari pendingin mobil membuat bulu-bulu halusku berdiri menantang. Sedang rasa panas terasa menyengat kulit lenganku, yang menahan beban Akio untuk bersandar. Aku duduk di kursi belakang bersama Akio, menggenggam tangannya mencoba menguatkan. "Yang sabar, Sayang, sebentar lagi kita sampai," bisikku di telinga balita yang baru kemarin genap berusia empat tahun itu. Gelisah mendera, tatkala momongan kita lemah tak berdaya. Bukan apa-apa, setelah aku menjadi baby sitter Akio, maka dengan sepenuh hati aku akan menjaganya, bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengannya selama dalam asuhanku. Semoga sakitnya Akio bukan karena keteledoranku. Hampir pukul satu dini hari, kami tiba di ruang UGD rumah sakit, Akio ditangani dengan cepat. Selang infus sudah terpasang di punggung tangan kirinya. Dan sekarang, kami sudah berada di ruang perawatan. Dokter baru akan memeriksa nanti pagi. "Sayang! Nggak mau bobok lagi?" tanya Tuan Bos kepada anaknya. Akio terjaga semenjak infus terpasang di punggung tangannya. Dia menggeleng, menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Lemah. "Mbak, sini, deh," panggil Akio padaku. Aku mendekati Akio, berdiri di samping Tuan Bos. "Ada apa, Sayang?" tanyaku. "Tadi Akio kaya mimpi bermain dengan putri salju, terus ada nenek sihir. Nenek sihirnya jahat, Akio takut," jelas Akio dengan mimik tegang. Kuusap pucuk kepala Akio pelan. "Jangan takut, ada Papi dan Mbak di sini. Tidak ada nenek sihir, yang ada nenek Sar di rumah. Hihihi." Aku berkelakar mencoba mengalihkan fokus Akio tentang mimpinya. Karena demam tinggi, imajinasi dan pikirannya mengambang. Oleh sebab itu, sangat berbahaya apabila kondisi seperti ini dibiarkan saja. "Kamu tidur saja, Nez, biar saya yang jaga Akio." Tuan Bos memberi mandat. "Tuan saja yang istirahat, biar saya yang menjaga Non Akio." "Kamu saja yang istirahat." "Tuan saja, besok, kan Tuan harus kerja." Kami masih beradu argumen. "Kamu saja, besok kamu harus mengurus Akio." "Tapi, Tuan!" "Sudah sana istirahat." Nada Tuan Bos sedikit naik, mungkin dia sudah lelah berdebat denganku. Setelah memastikan Non Akio tertidur pulas, aku segera memosisikan tubuhku di atas sofa. Sangat tidak nyaman satu ruangan dengan Tuan Bos. Mata terpejam namun batin takmau diistirahatkan. Setiap pergerakan dari Tuan Bos, terekam jelas oleh indra pendengarku. Suara sepatu itu mondar-mandir di sisi bed Akio. Sebentar berhenti, sebentar terdengar kembali. Suara itu semakin terdengar jelas, seperti hendak mengarah ke tempatku. Semakin dekat, dan semakin dekat. Dan sekarang, aku merasakan ada bayangan yang berdiri di sampingku sedang memerhatikanku. Debaran jantungku bertalu cepat, apa yang akan dilakukan Tuan Bos? Dia tak mungkin macam-macam 'kan? Bayangan demi bayangan buruk seakan menguasai diriku. "Lihat saja, kalau Tuan Bos benar-benar akan bersikap tak senonoh denganku, akan kuhadiahi dia dengan jurus maut pencak silat yang telah aku pelajari waktu ekstra kulikuler sekolah menengah dulu," ancamku dalam hati. Niat untuk membuka mata masih kuurungkan, menunggu apa yang sebenarnya akan dilakukan Tuan Bos padaku. Tiba-tiba, aku merasakan lengan itu menyenggol kulit tanganku. 'Bug, ciiaatttt ....' Kupelintir lengan Tuan Bos seketika, kuputar kasar kebelakang punggungnya, kemudian kukunci lehernya dengan lenganku. Tuan Bos meringis kesakitan. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya berat dengan menahan tekanan pada lehernya. "Tuan yang apa-apaan?" bentakku masih dengan posisi yang sama. "Lepasin, jangan aneh-aneh." "Tidak akan, nanti Tuan macam-macam lagi sama saya." "Kamu yang macam-macam sama saya," Aku terdiam, tapi masih siaga mengunci pergerakan Tuan Bos. Walaupun sebenarnya sangat gampang Tuan Bos melepaskan diri, secara dia mempunyai postur tubuh yang kekar dan atletis sedangakan aku, badan tinggi namun takada daging. "Cepat lepasin!" bentak Tuan Bos kembali. "Ngapain Tuan melepas baju Tuan?" Terdengar desahan napas pelan dari mulut Tuan Bos. "Jangan bilang kamu berpikiran saya akan macam-macam sama kamu?" pertanyaan Tuan Bos menyindirku. "Memang benar, kan?" Tuan Bos memutarkan tubuhnya hingga tubuhku mengikuti gerakan tiba-tiba darinya. Karena ketidaksiapanku menghadapi perlawanan Tuan Bos yang tiba-tiba, akhirnya aku pun terjatuh ke depan mengikuti pergerakannya. Alhasil badanku menimpa Tuan Bos yang juga terjatuh di atas sofa. "Aaaaaaa ...." Bersambung.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagusss bangett
01/05
0sangat bagus
16/02
0bgus
04/02
0Tingnan Lahat