"Apa kubilang, Dik? Arkana itu 'ndak susah bergaul. Sekarang saja sudah bisa ajak Rinda ketawa ketiwi begitu," celoteh Ratna pada Kusuma yang berdiri bersama di depan jendel. Mengintip kedua insan yang sedang dijodohkan itu menjadi tontonan asyik untuk dua pasang orang tua itu. "Iya, Rinda bisa akrab 'gitu sama Arkana, ya?" Arya sedikit tak habis pikir. Selama ini raut wajah datar putrinya itu sudah cukup meresahkannya. Tidak ada satu laki-laki pun yang dilirik Rinda bagaimanapun Arya mencobanya. Arya pernah menerima lamaran kerja dari seorang sarjana tampan menjadi manajer di perusahaan batik miliknya hanya untuk menarik minat Rinda. Tapi Rinda tak pernah memberi respon, memberi senyum pun hanya tipis, setipis titian rambut dibelah tujuh. Melihat Rinda dan Arkana yang berdiri dari kursi taman, keempat orang tua itu mundur teratur. Kembali ke kursi masing-masing. Khawatir bila sepasang muda mudi yang sedang mereka adu di luar akan melihat mereka dari luar jendela. "Kalau gitu, kita atur secepatnya, Dik. Kita laksanakan lamaran akhir minggu ini, pernikahan di minggu berikutnya," ujar Ratna menggebu-gebu, tidak sabar ingin punya menantu. "Benar, Mas Arya. Pernikahan dilangsungkan saja secepatnya. Semua harus disegerakan." Hardian menimpali permintaan istrinya. Arya dan Kusuma mematung, saling berpandangan. Mereka berdua tetap ingin bertanya pada Rinda. Apa Rinda bersedia bila pernikahan dilaksanakan dalam waktu sangat cepat. "Apa Arkana nanti tidak akan keberatan kalau dilaksanakan mendadak, Kang?" tanya Arya. Ratna memundurkan wajahnya, kepalanya menggeleng cepat. "Arkana 'ndak akan keberatan. Dia tadi udah setuju. Arkana itu ya begitu, kalau sekali bilang mau, ya pasti mau. Disuruh apapun ya pasti mau." Ratna memastikan bahwa semua itu tidak akan jadi masalah bagi Arkana. Melihat Rinda dan Arkana yang kembali masuk ke dalam rumah, Ratna mengedipkan matanya pada Kusuma. Mereka lantas berpura-pura sedang membicarakan mengenai bisnis batik milik Kusuma. "Woo, iya, Mbakyu. Itu yang lagi dipakai Rinda itu, batik tulis." Soal mengalihkan pembicaraan memang Kusuma ahlinya. "Bagus, lho, Dik. Sesuai sama orang yang pakai, cantik," timpal Ratna menyambung pembicaraan peralihan dari Kusuma. "Arkana, Rinda, duduk disini. Kami mau bicara dengan kalian," ujar Hardian. Seiring anggukan kepala, Arkana dan Rinda duduk di hadapan kedua pasang orang tua mereka. "Arkana, Rinda, kami semua sudah membicarakan mengenai pernikahan kalian." Hardian membuka pembicaraan. Arkana dan Rinda sebenarnya sudah menduga bahwa pembicaraan mereka pasti akan mengarah pada soal pernikahan. "Kami ingin, pesta lamaran kalian dilaksanakan besok lusa, disusul dengan pernikahan minggu berikutnya," ujar Hardian. "Bagaimana menurut kalian berdua? Kami rasa tidak masalah, kan?" lanjut Ratna menutup kata-kata dari suaminya. "Tidak masalah, Pa, Ma, Pak, Bu," jawab Arkana dengan mantap. Lelaki itu tak terdengar ragu sama sekali. Rinda melirik Arkana yang duduk di sampingnya. "Lelaki yang sulit diduga, lelaki yang menerimaku apa adanya beserta semua luka tapi mampu menjawab tanpa ragi sama sekali," batin Rinda. Hardian dan Ratna tampak senang dan puas dengan jawaban Arkana, sementara Arya dan Ratna memasang ekspresi khawatir akan pendapat yang akan dikemukakan Rinda. "Rinda juga 'ndak ada masalah, Pak, Bu, Pa, Ma," jawab Rinda pada akhirnya. Arya dan Kusuma lega bukan main. Mereka berdua sudah ketakutan Rinda akan menolak keinginan kedua pasangan suami istri Wijaya. Hardian tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sementara Ratna langsung mengukir senyum lebar di bibirnya. Hatinya senang, menantu cantik dengan bibit, bebet, bobot yang jelas sudah di hadapan matanya. "Kalau soal pekerjaan, jangan khawatir, Rinda. Ini sudah zaman modern, pengantin 'ndak harus dipingit. Rinda boleh kemana-mana," ujar Ratna. Kusuma meringis mendengar ungkapan Ratna. Bukan masalah kalau Rinda pergi bekerja, latihan bersama rekan musisinya. Masalahnya, Kusuma takut Rinda akan kembali ke Bukit Paralayang setiap senja. "Kalau jauh-jauh ya nanti diantar Arkana saja, sekalian pendekatan. Arkana nanti mulai masuk kerja setelah acara pernikahan," pinta Hardian. Sekarang Kusuma bisa merasa lega. Rinda pasti segan melanggar permintaan keluarga Wijaya. "Tapi besok ikut mama ya, Rin. Biar dijemput Arkana," ujar Ratna. Rinda menduga bahwa Ratna pasti mau mengajaknya berbelanja barang hantaran untuk lamaran. Keluarga Wijaya memang berpikir modern. Hakikatnya barang hantaran adalah barang yang suka dipakai oleh calon pengantin wanita sehari-hari, maka mereka akan menyerahkan pilihan pada Rinda agar bisa memilih sesuai dengan keinginan. Ketika lamaran dengan Bayu dulu, Rinda juga sudah pernah menjalani itu. Rinda menarik nafas panjang kemudian menjawab, "Iya, Ma." Ratna tersenyum puas. Besok dia bisa memperkenalkan Rinda pada siapapun yang kebetulan bertemu dan mengenalnya. Dia akan segera memiliki menantu yang mempesona, orang asli Indonesia. Setelah semua pembicaraan usai, keluarga Wijaya berpamitan. "Rin, aku minta nomor telepon, ya? Untuk konfirmasi menjemputmu besok. Ini kartu namaku, simpan saja dulu, nanti kirim pesan supaya aku bisa simpan nomermu," bisik Arkana. Rinda melirik para orang tua yang masih berbicara walaupun sudah berjalan pelan ke dekat mobil keluarga Wijaya. Rinda menerima kartu nama itu, tapi kemudian tersenyum lebar. "Kok malah ketawa lagi? Apa lagi yang lucu?" tanya Arkana. Raut wajahnya memang sengaja dibuat agar kelihatan bingung. "Kan mas bisa minta nomorku sama mama?"komentar Rinda. Dia menutup bibirnya. Ekspresi malu-malu Rinda seperti itu sebenarnya sangat disukai Arkana. "Malu ah, Rin. Nanti dikira aku udah kebelet banget pingin kawin. Sampai calon istri yang baru diketemukan aja langsung didekati, mencurigakan," bisik Arkana lagi. "Iya ... Iya mas, nanti aku kirimi pesan," jawab Rinda. Arkana mengangguk senang. "Begitu dong, itu baru kita kompak." Arkana terkekeh sendiri. Rinda pun masih menahan tawa kecil yang menyelinap di wajahnya. Kusuma sebenarnya mengamati Rinda dari sudut matanya. Hatinya berdebar-debar, sedikit merasa heran pada kemampuan Arkana membuat Rinda menyunggingkan tawa yang terlihat tulus di wajahnya. "Syukurlah, untung saja kami menerima lamaran keluarga Wijaya. Arkana memang pintar membawa diri, bisa membuat Rinda tertawa lagi," batin Kusuma. "Udah bisik-bisiknya, lho. Belum sah," goda Hardian pada putranya. Arkana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kadang orang tua memang lebih usil dibandingkan anak remaja. "Udah ya, Rin. Kita udah jadi korban lirikan," ujar Arkana. Dia tak menyembunyikan lagi candanya. Semua keluarga tertawa mendengar celotehnya. "Duh, maaf ya, Dik. Arkana itu memang begitu sifatnya, banyak bercanda," ujar Ratna. Arkana kemudian membukakan pintu mobil untuk Ratna. Dia menunggu ibunya naik ke atas mobil. Setelah Ratna duduk di mobil sedan itu, Arkana melihat rok panjang yang dikenakan ibunya itu menjuntai keluar. Arkana berlutut untuk merapikannya kemudian berdiri lagi untuk menutup pintu. Hati Rinda sedikit berdesir melihatnya. Cukup hanya satu perbuatan manis yang dilakukan dengan spontanitas seperti itu bisa membuat Rinda terpana. Arkana memang manis, tak seburuk penilaiannya pada dirinya sendiri.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
good
24/08
0ceritanya bagus tapi lanjutannya mana ?
28/05/2025
0keren
16/03/2025
0Tingnan Lahat