logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

JANGAN BILANG SIAPA-SIAPA

Rinda menatap Arkana, mencari penjelasan di dalam raut wajahnya. Sedari tadi, lelaki itu begitu santai dan ceria. Banyak kata-kata yang dikeluarkan melalui mulutnya tak pernah gagal membuat Rinda tertawa. Kali ini, wajah Arkana tidak menampakkan canda sedikitpun.
Arkana masih santai, duduk di bangku taman di samping Rinda. Hanya raut wajahnya terlalu serius, dan itu menjelaskan kejujurannya. Rinda termangu menatapnya, tak tahu harus menjawab apa.
"Rin, apa aku harus khawatir sekarang?" tanya Arkana. Pertanyaan itu menggelitik pikiran Rinda. Arkana tersenyum kecil.
"Khawatir apa maksudmu, Mas?" tanya Rinda. Sebenarnya, bagi Rinda tak masalah. Perkawinan yang ada dihadapannya juga bukan pernikahan impian. Rinda bukan sedang merajut asa menggapai mimpi. Rinda hanya sedang berlabuh kemanapun riak kehidupan membawanya.
"Khawatir tidak diterima jadi calon suami," jawab Arkana. Lelaki itu menyilangkan kakinya. Arkana berusaha membuat dirinya santai kembali. Mengakui itu pada seorang perempuan baik-baik yang akan dinikahinya ternyata tak semudah bayangannya.
"Ya, bukan begitu juga, Mas. Mau 'ndak diterima 'gimana? Kan sudah dijodohkan." Jawaban polos Rinda membuat Arkana kembali terkekeh.
"Jadi aku ini suami mau tidak mau, ya?" tanyanya hanya sekedar menjelaskan perasaan Rinda. Rinda tertunduk, ragu menyelinap di hatinya. Bukan ragu untuk menerima perjodohan karena kekurangan yang dimiliki Arkana. Rasa ingin tahu Rinda yang tinggi yang menyebabkannya benar-benar ingin bertanya lebih jauh.
"Apa Mas hanya menduga atau Mas sudah tahu pasti?" tanya Rinda ragu-ragu. Rinda tidak dalam kapasitas menghakimi. Rinda berpikir menjelaskan itu pasti tak mudah untuk Arkana. Bukankah tak ada satu manusia pun di dunia ini yang bisa mengakui kekurangannya dengan mudah dan seringan Arkana melayangkan kata-kata itu padanya.
"Aku tahu pasti, aku tidak berada dalam kondisi itu secara alami. Aku sudah melakukan vasektomi beberapa tahun lalu, tidak tanggung-tanggung, aku memiliki prosedur dengan pemotongan," ucap Arkana dengan jujur. Semua kata-kata mengalir dari mulutnya dengan mudah.
Jawaban itu sontak membuat Rinda merasa heran. Bagaimana bisa seorang lelaki muda yang tampan, berpendidikan, dan kaya raya memutuskan hal seperti itu dengan mudah? Bukankah semua orang di dunia ini pada suatu masa akan menginginkan keturunan.
"Apa alasan mas melakukan itu?" tanya Rinda. Sebenarnya dalam hati Rinda mengakui. Arkana berbeda dengan kebanyakan lelaki yang dikenalnya. Mengungkapkan segalanya dengan jujur dan terbuka seolah tidak menjadi masalah bagi Arkana. Rinda menduga, semua itu mungkin karena Arkana sudah terbiasa hidup di luar negeri sehingga pemikirannya juga berbeda.
Batas hal tabu yang dimiliki Arkana juga berbeda. Bagi kebanyakan orang itu adalah tabu, sedang bagi Arkana itu kejujuran.
"Aku bukan laki-laki yang baik, Rin. Aku pernah berpikir bahwa aku tidak butuh anak. Anak itu tanggung jawab, Rin, dunia dan akhirat. Anak itu bukan sekedar investasi yang membuat kita bahagia." Kata-kata Arkana menohok batik Rinda. Sedikitnya, Rinda memang merasa sebagai hak milik orang tuanya.
"Tapi apa sulitnya tanggung jawab untuk Mas Arkana?" tanya Rinda. Pertanyaan itu membuat Arkana langsung menatap Rinda lekat-lekat.
"Rinda, tanggung jawab terhadap anak itu, bukan sebatas materi. Bukan hanya memberi makan, membelikan susu, memakaikan popok, tapi menjaga kehidupan mereka sampai mereka sanggup mandiri dalam kondisi stabil dan bahagia. Aku tak punya itu, Rin. Untuk bertanggung jawab pada diri sendiri pun aku tak bisa."
Arkana menunduk setelah menyampaikan itu pada Rinda. Rinda mencoba menyelami dan menelaah kata-katanya. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Apa yang dikatakan Arkana benar, memang seperti itulah seharusnya orang tua berpikir.
"Apa Mas Arkana 'ndak memikirkan mama dan papa? Mereka pasti butuh cucu, butuh keturunan, butuh penerus," tanya Rinda.
"Sebenarnya aku tidak memikirkan, aku dulu merasa kamu dan Bayu bisa memberi mereka cucu, ada penerus keluarga Wijaya. Aku bebas menentukan hidupku sendiri. Kehilangan Bayu membuat aku 'ndak tega sama kedua orang tua itu. Aku tahu bagaimana mereka terpukul atas kejadian itu."
Rinda sebenarnya tahu hal itu. Rinda tahu betapa keluarga Wijaya merasa kehilangan Bayu. "Papa dan mama, Mas? Apa mereka 'ndak tahu soal ini?"
"Tidak tahu, makanya aku setuju menikahimu. Kau tak punya cinta yang bisa diberikan? Aku juga tak punya kemampuan memberikan buah cinta. Kita seimbang, atau kamu keberatan? Apa kamu sebenarnya pingin punya anak dari aku?" ujar Arkana mantap, diiringi dengan maksud menggoda Rinda.
Wajah Rinda merah merona, menambahi perona pipi merah muda yang menghiasi wajahnya tadi. "Bukan begitu loh, Mas. Apa-apaan sih, Mas Arkana ini." Rinda tersipu malu. Arkana puas dengan jawaban itu. Dia tidak melihat raut keberatan sama sekali di wajah Rinda.
"Rinda, aku bukan laki-laki baik. Aku nakal, senakal-nakalnya lelaki. Kalau kau punya bayangan tentang laki-laki yang jahat, punya banyak kekasih, minum alkohol, pesta-pesta, begitulah aku dulu, Rin. Tidak ada yang tahu di Indonesia ini." Arkana menjelaskan lebih banyak tentang dirinya.
Rinda menelan salivanya. Dia sendiri berusaha menghargai kejujuran yang ditumpahkan Arkana padanya. Rasa takut bercampur terkejut dan heran ada di dalam batin Rinda.
"Tadi mas bilang dulu, kalau sekarang?" tanya Rinda. Arkana tertawa, gadis di hadapannya tampak berusaha keras mempertahankan citra Arkana yang selama ini dikenalnya melalui cerita, cerita dari Bayu dan dari keluarganya.
"Sekarang, tergantung kebutuhan. Kau takut padaku? Kalau soal itu, tak perlu takut padaku, Rin. Aku bukan laki-laki yang pantas berada dalam kategori suami yang baik, tapi aku bukan orang jahat. Aku rasa kamu juga tak butuh suami, kau hanya butuh partner hidup, kan? Kau butuh orang yang menjalani garis takdir kemanapun kehidupan sedang membawa. Apa aku benar?"
Rinda merasa lelaki itu membaca semua isi hatinya. Rinda memang tak butuh suami, Rinda tak butuh disayangi atau mencintai. Kehidupan Rinda sudah terpisah jauh dari kata cinta, sejauh ombak menyeret Bayu, kekasihnya dan merampasnya dari Rinda.
"Iya, Mas. Mas benar, aku tak butuh suami. Aku butuh orang yang menyambut tangan bapakku dalam prosesi pernikahan." Rinda menyunggingkan senyum di bibirnya. Melihat kenyataan bahwa ternyata tidak sesulit yang dibayangkannya. Justru kondisi Arkana yang begitu akan membuat Rinda lebih mudah, dia tak perlu berpura-pura sepanjang hidupnya. Tak perlu mencari alasan apapun untuk menutupi hatinya.
Arkana datang dan membukakan jalan bagi Rinda selebar-lebarnya untuk tetap menjadi dirinya sendiri, walau terpaksa menerima keinginan orangtuanya. Belum tentu Rinda akan mendapatkan lelaki lain yang bisa memahami isi hatinya seperti Arkana, terutama bila dijodohkan orang tuanya.
"Aku rasa tidak ada masalah, Mas. Aku tidak ada masalah dengan kondisi mas," tutur Rinda. Arkana tersenyum, menaikkan alisnya.
"See, kau lihat? Lebih mudah untuk kita sebenarnya, kan? Pilihanku tak salah, menerimamu sebagai calon istri. Semua ini rahasia kita, jangan bilang siapa-siapa." Arkana menaruh telunjuknya di depan bibir.
Rinda tersenyum menatapnya. Di dalam, dari jendela rumah yang temaram, empat pasang mata memperhatikan Rinda dan Arkana.

Komento sa Aklat (23)

  • avatar
    gabatjshua

    good

    24/08

      0
  • avatar
    AchmadRezky

    ceritanya bagus tapi lanjutannya mana ?

    28/05/2025

      0
  • avatar
    Aprilisa Anggun Dwi Ardiyanti

    keren

    16/03/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata