Kusuma menatap Rinda yang tampak ragu-ragu. "Temani Mas Arkana ya, Rin," pinta Kusuma. Rinda mengangguk dan berdiri. Melihat kesediaan Rinda, Ratna tersenyum. Puas karena gadis itu terlihat menyetujui perjodohan yang sudah mereka atur. Rinda berjalan keluar dari pintu depan, diikuti Arkana. Arkana berusaha membaca suasana hati dan perasaan gadis yang dipilihkan untuk jadi istrinya itu. "Lewat sini, Mas," ujar Rinda mengarahkan Akrana berbelok ke sisi kiri pendopo rumahnya. Rumah besar satu lantai bernuansa etnik milih keluarga Rinda berdiri di tanah seluas 2000 meter. Halamannya luas dengan taman yang dipenuhi banyak pepohonan. Arya mendesain taman di rumah itu sedemikian rupa dengan jalan kecil sebagai jogging track sehingga Kusuma tidak perlu repot-repot lari pagi keluar dari pekarangan rumah. Sekarang, Rinda dan Arkana berjalan menyusuri jogging track itu. "Rumahmu asik ya, bisa bikin betah di rumah ini halamannya. Kalau siang pasti asri," puji Arkana untuk membuka pembicaraan dengan Rinda. "Iya mas, lumayan," jawab Rinda. Nada suara itu lembut dan merdu, membuat Arkana menarik nafas panjang. "Rinda, apa benar tidak keberatan dengan perjodohan ini?" tanya Arkana. Langkah Rinda sedikit terhenti, matanya memejam beberapa detik. Pertanyaan mudah ini tentu jadi pertanyaan paling sulit dari ujian manapun yang pernah dilalui Rinda. "Mas Arkana sendiri? Apa keberatan?" Rinda memilih bermain aman. Mengembalikan pertanyaan lebih baik dibanding dia harus menjawab sesuatu yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Tidak mungkin Rinda menjawab keberatan, dia tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Arkana. "Gadis pintar, dia tahu cara mengamankan diri," batin Arkana. Jawaban yang jujur untuk pertanyaan yang berbalik kembali bagai boomerang pada dirinya itu, tentu saja tidak menentu. Persis sama dengan kehidupan Arkana selama ini, tidak menentu. Kalau dilihat dari capaian akademiknya saja, sudah tentu Arkana terlihat unggul. Seorang lulusan luar negeri dengan gelar master. Sebenarnya, gelar itu hanya diperoleh karena otaknya yang memang cemerlang. Tapi kelakuannya selama ini di luar negeri? Jangan ditanya lagi, kalau saja ada yang tahu, siapapun tidak akan bersedia menyerahkan anak gadisnya dinikahi Arkana. Kekayaan orang tua membuat Arkana tidak pernah berpahit-pahit, sekalipun berada jauh di negara orang. Dia tetap bisa mengendarai mobil sport seri terbaru, pergi ke klub setiap malam, pulang menjelang pagi dan sudah pasti di bawah pengaruh alkohol. Arkana selalu mengajak perempuan yang diperlakukan sekedar seperti pakaian, tiap hari berganti. Beda lagi, beda perempuan yang terbangun di tempat tidurnya. Setiap malam liburan, Arkana pindah dari kamar presidensial suite di hotel mewah yang satu ke hotel yang lainnya, mengadakan pesta bersama teman-teman hedonisnya, menarik minat para wanita yang tertarik dengan sikapnya yang royal. Siapa wanita tak tertarik? Wajah tampan yang didukung dengan kekayaan dan kepintaran berkata-kata? Bagi Arkana, cinta tidak ada dalam kamus hidupnya. Cinta pada wanita hanya sekedar untuk lelaki cengeng yang hidupnya penuh drama. Sedang Arkana, jelas-jelas mengaku diri bukan lelaki cengeng. Untung saja, isi kepalanya memang cerdas. Tidak butuh waktu lama untuk memahami dan mengerjakan tugas kuliah yang sebenarnya menjadi tanggung jawab utamanya di luar negeri itu. Riset yang dilakukan dan asumsi teori yang dikemukakannya di ruang kuliah tidak pernah gagal menarik perhatian profesor-profesor di Oxford University, tempatnya mengenyam pendidikan. Perkara bapak dan ibunya? Hardian dan Ratna tak pernah tahu perangai anak laki-laki mereka. Laporan nilai setiap semester tidak pernah gagal membanggakan kedua orang tua itu. Sepengetahuan Hardian dan Ratna, Arkana sudah bekerja keras mencapai semua itu, nun jauh di sana, di negeri orang. Tapi malam ini, kelihaian Arkana berkata-kata pada wanita sedikit tersendat di depan Rinda. Wanita di hadapannya ini jelas beda. Rinda sama sekali tak memandangnya dengan berbinar pertanda ketertarikan, seperti wanita yang biasanya bergaul dengan Arkana. "Jujur saja, aku tadi keberatan," jawab Arkana. Dia menelan salivanya, sadar diri bahwa sedang mengambil risiko dimaki gadis di hadapannya. Arkana memperhatikan setiap tanda-tanda dari bahasa tubuh Rinda ketika mendengarkan ungkapan kejujurannya. Gadis di hapadannya itu justru tidak memaki, malahan tersenyum, membuat wajahnya yang manis itu jadi semakin mempesona. Pemandangan itu membuat Arkana jadi penasaran. "Kenapa kau malah senyum, Rin?" tanya Arkana. Rinda menunjuk bangku taman di salah satu sudut halamannya. Dia mengajak Arkana duduk di sana. Dia merasa pembicaraan itu seharusnya serius. Rinda merasa Arkana ada di pihaknya. Setidaknya, bukan Rinda sendiri yang sedang memaksakan diri menerima perjodohan ini. "Aku mengaku kalah, Mas. Pengecut mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan. Padahal, Mas bisa-bisa saja mengatakan itu dengan mudah." Kata-kata itu tentu saja ungkapan terselubung bahwa Rinda sendiri juga sebenarnya keberatan. "Kalau aku, keberatan, tapi itu awalnya. Lalu aku berpikir, aku selalu didesak papa dan mama, bahkan keluarga besar. Kalau pulang ke Indonesia, disuruh menikah itu rasanya sudah seperti ancaman. Ditanyai kapan menikah itu rasanya sudah seperti teror. Padahal aku juga belum tua-tua banget," lanjut Arkana. Lanjutan kata-kata Arkana itu justru membuat Rinda menjadi tertawa kecil. "Malahan jadi ketawa, mau dilanjutkan atau tidak ini ceritaku?" tanya Arkana. Ia sendiri pun sebenarnya terkekeh, separuhnya bahagia membuat Rinda tertawa. Arkana duduk dengan gaya santai di kursi taman. Sesekali menatap pada Rinda, sesekali menatap langit yang tampak cerah malam itu. "Iya, dilanjut deh, Mas. Jadi, Mas pilih menyerah saja? Menyudahi satu-satunya teror dalam hidup, Mas?" Rinda kembali melontarkan pertanyaan. "Sebagian kecil karena itu. Kalau soal teror, itu pasti berlanjut, Rin. Setelah menikah pasti kapan punya anak, setelah punya anak ya kapan punya anak berikutnya, setelah anak udah besar pasti kapan punya menantu, kalau punya menantu baru bisa jadi pelaku teror, teror kapan punya cucu. Tapi setidaknya nanti kalau menikah, nanti ada yang diajak menghadapi teror bersama, Rin." Jawaban konyol dari mulut lelaki tampan yang sekarang duduk di sampingnya itu sekali lagi berhasil memancing tawa kecil Rinda. "Lantas, kalau itu sebagian kecil, yang sebagian besarnya apa, Mas?" "Sebagian besar karna aku tahu dijodohkan dengan kamu." Jawaban Arkana itu membuat tawa dan senyum Rinda berakhir. Dia tidak siap menghadapi rayuan gombal seorang lelaki. Selama ini, Rinda memang menghindari semua lelaki yang ingin mendekatinya. "Mas ...." Rinda sudah mempersiapkan barisan kata-kata untuk menghentikan rayuan Arkana. "Eit, sabar. Jangan protes dulu. Aku tidak sedramatis itu. Aku lelaki anti drama. Aku tidak jatuh cinta cuma karena lihat fotomu itu, yang memang aku akui cantik mempesona. Aku menerimamu karena aku tahu, kau pasti tidak berharap cinta, kan?" Sekarang wajah Arkana berubah serius, seiring dengan nada bicaranya yang menjadi berat. Rinda mengerutkan keningnya, mencoba memahami makna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Arkana. "Maksud, Mas?" tanya Rinda. Wajah Rinda ikut serius, sama seperti Arkana. "Aku tahu, Rin. Aku tahu kau belum bisa melupakan Bayu. Sama seperti aku, Bayu itu satu-satunya adik yang aku punya. Orang yang menerima semua ceritaku tanpa mencela. Paham baik buruknya diriku ini. Aku tidak mengharapkan rumah tangga normal, Rin. Aku izinkan kau mencintai Bayu sampai kapanpun dalam hidupmu, karena aku memang tidak butuh cinta," jawab Arkana. "Lalu, apa yang mas butuhkan?" tanya Rinda. Rinda sadar diri, kalaupun menikah dia tidak akan pernah bisa memberikan cinta pada lelaki yang kelak menjadi suaminya. Lelaki yang ada di hadapannya benar-benar sadar akan hal itu. "Aku butuh wanita yang tidak pusing-pusing mengurusi kekuranganku karena dia juga tidak bisa memberikan sesuatu yang seharusnya hadir di antara suami istri. Sebagai lelaki yang harus menjadi suami, aku punya kekurangan yang tidak bisa diterima kebanyakan wanita di dalam rumah tangga," ungkap Arkana. Wajahnya masih serius seperti tadi. Rinda tentu saja merasa penasaran dengan ungkapan Arkana. Namun keinginannya untuk bertanya itu tertahan, Rinda takut menyakiti karena Arkana sedang membicarakan soal kekurangan. Arkana sendiri paham bahwa dia harus jujur menjelaskan segalanya pada Rinda. Dia tidak ingin pernikahan yang sebenarnya sama-sama tidak mereka kehendaki ini dimulai dengan dusta. Walaupun bukan pernikahan ideal layaknya seperti dua insan yang sedang dimabuk cinta, setidaknya rumah tangga pura-pura mereka ini berdiri di atas kejujuran, begitu pikir Arkana. "Aku tidak bisa punya anak, Rin. Aku tidak akan bisa memberi anak. Aku tidak yakin wanita lain bisa menerima itu."
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
good
24/08
0ceritanya bagus tapi lanjutannya mana ?
28/05/2025
0keren
16/03/2025
0Tingnan Lahat