logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Obrolan Singkat

[Maaf, Mas. Aku nggak bisa,] tolakku.
[Aku tunggu di cafe pertama ketemu dulu, ya?]
Dia masih mencoba berusaha mengajak.
[Aku sekarang sibuk bekerja. Memangnya ada apa?]
[Aku mau ngomong penting. Kamu kerja dimana?]
[Nggak penting aku kerja dimana. Kalau mau ngomong lewat chat saja.]
Ponsel berdering, mas Shony rupanya langsung menghubungi. Malas sekali rasanya. Proses cerai sudah bergulir, aku tidak mau berurusan lagi dengannya.
[Nis, tolong angkat teleponku,] pintanya.
Ponsel berdering kembali. Aku tahu siapa mas Shony, keras kepala. Dia tidak akan berhenti sebelum mendapat apa yang diinginkan. Seperti malam itu, dia tidak akan mempercayai penjelasanku karena apa yang sudah didengar dari ibunya. Jadi aku hanya bisa pasrah menerima daripada pertengkaran semakin panjang.
[Halo,]
[Halo, Nis? Kamu dimana sekarang? Aku jemput ya?]
[Bukannya mas sekarang kerja?]
[Aku bisa ijin sekarang.]
[Sudahlah, Mas. Nggak perlu. Memangnya mau ngomong apa?]
[Aku pengen ngomong langsung, Nis. Aku jemput, ya? Please?]
Akan selalu memaksa kalau belum terpenuhi keinginannya.
[Sudah aku bilang, aku kerja Mas. Nggak enak juga kan, kita sudah proses cerai tapi masih ketemuan.]
[Aku mau cabut berkas cerainya! Aku nggak mau kita pisah, Nis! Maafkan aku.]
Deg.
Apa dia bilang tadi. Seenak-enaknya mempermainkan hati orang. Mengambil keputusan juga tidak mempertimbangkan segala hal. Hanya kesimpulan sekilas yang diketahui tanpa klarifikasi kedua belah pihak.
[Apa kamu bilang, Mas? Memangnya hatiku ini terbuat dari apa seenaknya saja kamu mengambil keputusan tanpa berpikir panjang? Sudahlah! Mungkin sudah jalannya seperti ini.]
Emosi sudah tak terbendung lagi, kata-kata yang aku enggan keluarkan, akhirnya meletus juga.
[Nis, aku minta maaf. Waktu itu aku memang terbawa emosi. Aku maafkan perbuatanmu yang kemarin. Mungkin kamu capek karena harus menungguku pulang sehingga tanpa sengaja kamu bicara sembarangan pada ibuku.]
Mendengar ucapannya, sekali lagi darahku lumayan mendidih. Bisa-bisanya kata-kata seperti itu diucapkan.
[Apa? Haduuuuh, sudahlah mas. Aku nggak bisa terima kamu lagi. Lanjutkan saja proses cerainya. Aku sekarang sudah menikmati profesiku yang dulu sangat aku inginkan.]
[Kamu memang tidak pernah mau mengalah, Nis!] Hardiknya.
Sambungan telepon seketika ditutup tanpa mengucap salam.
Apa sebenarnya maunya. Aku sudah bersabar menerima selama ini tanpa protes. Menghadapi cibiran banyak orang dan menerima takdir walaupun pahit.
Aku letakkan kasar ponsel di atas kasur. Kemudian mengelola pikiran agar tidak terbawa emosi lebih jauh karena akan mempengaruhi mood dalam bekerja hari ini.
****
Makan malam sudah siap. Kami berempat sudah mulai merapikan barang-barang memasak kemudian duduk menunggu perintah untuk makan. Pikiran tidak fokus, melalang ke obrolan tadi
Selesai semua kami masih bersenda gurau di meja makan. Hal yang belum pernah kami lakukan. Karena biasanya setelah masak dan makan kami akan masuk kamar masing-masing dan beristirahat.
Di rumah ini ada banyak pekerja. Tapi kami tidak kenal satu per satu orang saking banyaknya. Bos rumah ini rupanya sangat kaya raya, sehingga setiap bagian ada yang mengerjakan.
Aku khusus memasak untuk melayani tuan rumah ini. Untuk para pekerja ada sendiri dan tempatnya pun berbeda. Aku tak pernah tahu ruangan mereka dimana. Yang kami tahu, kami bekerja di sini fokus hanya pada tugas kami.
Selesai membersihkan diri, sengaja aku keluar kamar menuju taman. Seperti biasa melihat pemandangan ikan koi, cukup menentramkan hati.
"Mbak!" Panggil seseorang.
Aku menoleh cepat ke asal suara. Si sopir rupanya. Pakih.
"Ya?" Sahutku.
"Aku bisa minta tolong nggak? Buatkan kopi?"
"Ok!"
Dengan cekatan aku meracik kopi. Sedang Pakih hanya menunggu di meja makan dengan fokus pada ponselnya.
"Ini!"
Dua cangkir kopi aku letakkan di meja.
"Suka kopi juga, ya?"
"Banget. Untungnya kamu minta kopi, aku jadi ada yang nemenin."
Pakih masih fokus ke ponsel sembari mengetik sesuatu.
"Serius amat?"
"Ah, ini main game." Diletakkannya ponsel di atas meja.
Untuk ukuran sopir, ponsel yang dimiliki terlalu canggih.
"Ponselmu bagus. Aku jadi penasaran, berapa lama kamu berkerja di sini bisa membeli ponsel itu?"
Dia tergelak.
"Ini hasil tabunganku sendiri. Kenapa?"
"Nggak. Nggak apa-apa sih. Heran saja, sopir kan nggak butuh ponsel yang canggih-canggih amat."
"Siapa bilang? Ponsel canggih ini aku gunakan untuk mencari alamat-alamat atau bisa aku gunakan untuk mengerjakan hal lainnya."
"Iya, iya. Eh aku mau nanya dong,"
"Apa?" Jawabnya sambil menyesap kopi.
"Tuan di rumah ini bagaimana sih?"
"Mbak nggak tahu?"
"Enggak!"
"Wah, jangan deh! Ntar eneg."
"Kenapa? Tua, ya?"
"Iya. Eh, gimana mbak? Betah nggak di sini?"
"Lumayan. Tapi jangan panggil Mbak dong, sepertinya kita seumuran. Panggil Nisah aja."
"Ok, Nisah. Kan kamu sudah lumayan berapa hari di sini. Nggak pengen pindah kerja ke tempat lain?"
"Sementara sih enggak. Nggak tahu ke depannya. Tapi ibu pernah bilang sih, cintai pekerjaan kita maka kita akan merasa nyaman."
"Iya sih. Tapi kadang-kadang aku merasa sangat bosan."
"Kenapa? Kan enak perjalanan terus ngantar si bos?"
"Ah, iya sih."
Pakih lumayan lama memandangiku.
"Kenapa? Ada yang salah di wajahku?"
"Enggak. Nis? Kenapa kamu bercerai?"
Duh, kenapa Pakih bisa tahu masalah pribadiku sih. Terus aku harus jawab apa.
"Ituuu, karena sudah takdir. Kami sudah tidak cocok."
Dia manggut-manggut tanda mengerti.
"Kamu? Kenapa bisa tahu masalahku?"
"Ah, itu ... Itu ...."

Komento sa Aklat (167)

  • avatar
    JayantiTri

    ceritanya bagus...di tunggu episode berikutnya

    16/05/2022

    Β Β 0
  • avatar
    FebrizalSalman

    hayalan tingkat dewa πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    23/03

    Β Β 0
  • avatar
    AmanSahri

    baik

    14/02

    Β Β 0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata