Mulutku terbuka karena kaget. Mas Fajar! Laki-laki itu memang sudah gila! Dia berjalan mendekat. Matanya menatap penuh kerinduan hal yang dulu akan membuatku bahagia. "Dhira, mas mau bicara," ucapnya setelah berdiri tepat di depanku. Dia dengan sengaja mengabaikan Pak Ezhar yang berdiri di sampingku. Aku benar-benar gak ingin bertemu dan bicara dengannya. "Kita gak ada urusan lagi, Mas." Dia hendak meraih tangan kananku, segera kutepis. "Please, Dhira, kali ini aja." Aku mengusap lengan atasku sembari menggigit bibir. Antara ingin memenuhi permintaa Mas Fajar dan menolaknya. "Five minutes, Dhira, cuma itu, aku janji." Sorot matanya yang memohon membuat dinding pertahananku jebol. "Fine." Aku beralih menatap Pak Ezhar yang bergeming di tempatnya. Mimik wajahnya datar tanpa perubahan berarti melihat yang sedang terjadi. "Pak, masuk dulu, ya, maaf saya tinggal sebentar." Mama yang sepertinya mendengar suara dari pintu depan muncul masih menggunakan celemek, dia sering lupa. Mungkin faktor umur yang memicunya. "Dhira, kamu udah .... " Mata Mama kemudian menangkap sosok lelaki itu. "Maaf, Fajar, silahkan pergi. Nanti bisa timbul fitnah." Mama berkata sesopan mungkin walaupun bisa kulihat dari sorot matanya kalau Mama gak suka dengan kedatangan lelaki itu. "Tante, Fajar mohon .... " "Ma, gak apa-apa ini yang terakhir." "Tapi, Dhira-" "Tante, sebentar lagi maghrib, boleh saya numpang sholat?" potong Pak Ezhar. Mama menatap lelaki itu sedetik lalu menghembuskan napas. Matanya lalu menatapku. "Baiklah." Mama mendahului lelaki itu masuk ke rumah. "Nanti kalau ada apa-apa, panggil aja saya." Pak Ezhar menatapku lekat. Aku mengangguk lalu berjalan ke arah kursi yang ditempatkan di teras, Mas Fajar mengikutiku. "Dhira, Mas gak sanggup meninggalkan kamu. Mas sudah coba tapi tetap gak bisa." "Mas, bukannya ini keputusan kamu? dan aku setuju. Aku gak mau membuat kamu jadi anak durhaka." "Dhira, please, Mas sudah coba tapi tetap hati mas gak mau diajak kerja sama." "Sekarang belum bisa, tapi aku yakin nanti bakal bisa, kok, Mas. Bukannya Mas sendiri yang bilang kalau Kinan itu gadis yang baik juga sholeha, aku rasa gak bakal susah jatuh cinta dengan gadis seperti itu." "Ya, Kinan memang sholeha, tapi cinta gak bisa dipaksa, Dhira." "Mas, menikah karena keinginan orang tua, 'kan? menikah dengan ridho orang tua insyaAllah berkah." Lelaki itu terdiam kehabisan kata-kata. "Ingat, Mas, besok ada ijab kabul yang harus mas jalani. Minta sama Allah agar hati mas dilapangkan." Mas Fajar mengusap wajahnya. Ketika matanya bertemu dengan milikku, aku menangkap binar kelelahan di sana. Memang mudah mulutku mengucapkan kata-kata bijak tapi sebenarnya jauh di dalam ada yang hancur jadi serpihan. Aku mengalihkan pandangan membuat kontak mata kami terputus. "Pulanglah, Mas. Ikhlaskan." Suaraku serak saat mengucapkan kata terakhir. Tanpa mengucapkan apa-apa, lelaki itu pergi, pun tanpa menoleh lagi ke belakang. Aku menggigit bibir menahan isakan. Mama dan Pak Ezhar keluar menemuiku. Mama langsung mendekapku di dadanya yang hangat. Pecah sudah bendungan air mataku. Mama mengusap punggungku, dengan sabar menunggu sampai aku puas menangis. *** Aku menangis entah berapa lama dalam pelukan Mama. Kami bertiga masuk ke rumah setelah tangisku reda. Dengan suara serak aku pamit ke dalam kamar pada Pak Ezhar yang dibalasnya dengan anggukan. Ketika aku keluar kamar setelah mandi dan salat, Kak Yara yang sejak sebelum aku pulang sibuk mengurus bayi dan suaminya yang baru pulang kerja berkata bahwa Pak Ezhar pamit menjelang azan maghrib, dia bilang akan salat di mesjid gak jauh dari rumahku. Mama dan Kak Yara duduk masing-masing di kiri dan kananku di sofa ruang tengah. Sementara suaminya menemani bayi mereka di kamar. "Gemes aku sama si Fajar, jadi laki, kok, yo plin plan." Mama pasti sudah bilang tentang kedatangan Mas Fajar pada Kak Yara saat aku mandi tadi. "Udah lah, Kak, kita lupain aja Mas Fajar, ya, aku gak mau nangis lagi." Kak Yara berdecak kesal namun menuruti keinginanku. "Udah ... Mama juga gak mau bahas masalah Fajar, ayo kita makan! Mama lapar." Aku dan Mama melangkah menuju dapur yang juga berfungsi sebagai ruang makan, sedangkan kak Yara ke kamar untuk memanggil suaminya. Selepas makan malam Kak Yara membereskan meja dan aku mencuci piring kemudian Kak Yara menemani Mama menonton TV. Aku lebih memilih masuk kamar, melakukan yang sempat tertunda--membaca novel. Aku bolak balik membaca halaman yang sama. Sama sekali gak ada kata-kata yang masuk ke kepala. Benakku masih dipenuhi Mas Fajar. Terkadang jodoh memang bukan orang yang kita inginkan tapi yang kita butuhkan. Allah maha tahu, aku yakin itu. Ponselku berdering tanda pesan masuk, benda itu terlupakan begitu aja sejak aku sampai. Kuraih dan segera membukanya. [Usaha saya sia-sia, ya?] Keningku berkerut. Maksud Pak Ezhar apa. [Usaha apa, Pak?] [Saya ngajakin kamu makan es krim biar kamu gak sedih lagi.] Jadi benar dia berusaha membuatku senang, sudut mulutku terangkat membentuk senyum. [Usaha bapak gak sia-sia, kok!] [Kamu nangis, Andhi!] [Iya, tapi itu untuk yang terakhir kali, Pak, saya udah janji pada diri sendiri untuk move on.] [OK, senang mendengarnya, jangan sampai kamu nangis lagi seperti tadi dan seperti di mobil juga.] Jadi dia menyadarinya, gak ada satu pun hal yang lewat dari pengamatan lelaki itu. Mendadak aku teringat sesuatu. [Tadi, mamanya bapak bilang kalau masa lalu bapak suram, karena saya diperas untuk jadi calon pura-pura, saya berhak bertanya.] Terlihat notifikasi kalau dia sedang mengetik. Jantungku berdegup kencang menunggu balasannya.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bguss
02/06/2025
0mantap
31/05/2025
0suka banget
31/05/2025
0Tingnan Lahat