logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Part 3

"Kamu sendiri sama siapa?"
Aku balik bertanya, sepenuhnya mengabaikan laki-laki yang matanya sedang menyipit menatap ke arah kami dan telinganya memerah. Dua tanda bahwa dia sedang luar biasa kesal. Sebulan menjadi sekretarisnya membuatku cukup mengenalnya.
"Jawab dulu pertanyaanku," desak Vega.
"Dia bosku ... ih! ngeliatnya jangan gitu-gitu banget lah, Ve."
"Dia kayak om-om, Dhira, tapi ganteng banget, ada berapa kotaknya itu?"
Vega menatap Pak Ezhar dengan pandangan penuh minat. Hari ini lelaki itu memakai kaos tanpa kerah berwarna hitam dan jeans biru gelap. Baju itu sama sekali tidak menutupi tubuhnya yang atletis dan perutnya yang berotot.
"Umurnya berapa?"
"Empat puluh dua, kenapa? mau?"
"Emangnya dia barang, ih! Kamu, Dhira!"
"Mata kamu, tuh, Ve, minta dirukyah."
"Asem, Kamu."
Kami tertawa bersama. Kemudian mengobrol tentang kegiatan kami dan kabar terbaru teman-teman.
Pak Ezhar mendekat.
"Kamu mau apa? biar saya pesan."
"Saya avocado topping cokelat, Pak."
Tanganku melingkar di bahu Vega.
"Ini temen saya, kenalin, Pak."
Vega menyebut namanya dengan suara selembut sutera. Pak Ezhar melakukan hal yang sama bedanya dia dengan nada formal dan sopan. Setelah itu Pak Ezhar berlalu menuju counter.
"Pasti kerjanya bikin nagih, ya, Dhi."
"Emangnya es krim."
"Lah! yang diliat tiap hari Channing Tatum KW gitu."
"Beneran ni anak minta dirukyah, noh! Cowok kamu dianggurin."
"Dia itu sepupuku, kebetulan kerja di tempat yang sama, kami di sini sekalian bahas kerjaan."
Vega mengedipkan sebelah matanya.
Bibirku membulat membetuk huruf 'O'
"Ya udah, sana balik bahas kerjaan, aku ke sana dulu." Tunjukku mengarah pada Pak Ezhar yang sudah memegang dua mangkuk. Hari ini pengunjung gak begitu ramai.
"OK, sana gih! nanti aku kirim WeiApp, ya, nanya-nanya soal Pak Bos."
Aku mengangkat jempolku tanda setuju sembari tersenyum lebar, menyusul Pak Ezhar yang sudah duluan duduk di meja sudut ruangan.
Aku duduk di kursi tepat di depannya. Gak ada yang bersuara, kami sibuk dengan es krim masing-masing. Aku benar-benar menikmati es krim ini, gerai ini salah satu penyaji es krim yang masuk daftar A-list-ku. Pertemuan dengan Vega dan makan es krim mampu membuat moodku lebih baik. Mataku menatap lelaki di depanku yang sedang makan es krim rasa strawberry. Gak ada sisa yang menempel di pipinya atau pipiku seperti di drama korea. Mana Pak Ezhar serius banget makannya kayak lagi meeting proyek baru.
"Apa saya segitu gantengnya?"
Aku hampir tersedak. Apa dia serius nanyain itu? gak ada perubahan pada mimik wajahnya yang menunjukkan kalau dia sedang bercanda.
"Enggak juga, saya cuma heran aja, biasanya laki-laki jarang yang suka strawberry."
Mengenal lelaki itu, aku yakin kalau dia cuma bercanda.
"Yang kamu pandangi itu wajah saya bukan mangkuk ini."
Sudut bibirnya terangkat sedikit, memunculkan senyum tipis.
"Lagian sejak kapan rasa es krim itu punya gender."
Aku tertawa.
"Yo maaf, sepupuku yang laki-laki kurang suka manis sama yang asem, mereka lebih suka yang gurih-gurih dan renyah."
"Saya bukan sepupu kamu, Andhi."
Matanya kembali menyipit.
"Yo sekali lagi maaf, Pak, saya lupa kalau bapak itu langka dan BTS."
Kedua alisnya terangkat.
"Bujang tanpa status."
Matanya kembali menyipit.
"Kalau statusnya udah nikah itu namanya bukan bujang lagi."
"Kan, bapak pacar aja gak punya."
"Pacaran itu dosa."
"Ih! berduaan gini dosa juga kali, Pak."
Pak Ezhar menggumamkan sesuatu yang kedengaran di kupingku seperti menghalalkan hubungan.
"Apa?"
"Enggak, gak apa-apa, saya cuma bilang kalau nanti gak usah buat yang bikin berdosa lagi."
Aku mengangguk-angguk. Sudah kayak mainan di dashboard mobil.
Pak Ezhar kemudian mengingatkanku agar jangan lupa menghubungi bagian marketing hari senin nanti tentang brosur yang sedang mereka garap. Pembicaraan tentang pekerjaan menyita waktu sampai hari sudah menjelang maghrib. Lelaki itu mengajakku pulang yang aku setujui dengan senang hati karena sudah lelah seharian di luar.
Aku berjalan keluar setelah berbicara sebentar dengan Vega yang masih lanjut membahas pekerjaan dengan sepupunya, sedangkan Pak Ezhar hanya mengangguk sekilas pada gadis itu.
Perjalanan pulang diisi dengan pembicaraan mengenai pekerjaan dan juga hal lainnya tentang keluarga dan keadaan negara. wawasannya yang luas membuat percakapan menjadi hidup, gak pernah membosankan kalau mengobrol dengannya. Gak terasa kamisudah sampai di rumahku. Rumah ini dibeli papa saat aku duduk di kelas dua SMP. Rumah berpagar dengan tiga kamar, ruang tamu, ruang tengah, dapur dan kamar mandi di kamar masing-masing ini dicat dengan warna kesukaanku, warna biru. Terkadang kalau memandangi rumah ini aku sering menangis teringat almarhum papa yang meninggalkan kami dua tahun yang lalu karena serangan jantung mendadak. selepas kepergian beliau, Kak Yara yang berencana pindah setelah menikah mengurungkan rencananya. Dia memilih menemani aku dan Mama di sini.
Pak Ezhar menghentikan mobil di pekarangan dekat pintu depan. Aku segera turun, kendati tadi perasaanku sempat memburuk karena telepon dari mas Fajar, makan es krim dan bertemu Vega membuat aku lupa bahwa tadi aku menangisi lelaki itu.
Aku sudah membuka mulut untuk mengucap salam tapi batal karena mendengar suara mobil berhenti di luar pagar. Serentak kami membalikkan tubuh untuk melihat siapa yang datang.
Mulutku terbuka karena kaget.
Mas Fajar!
Laki-laki itu memang sudah gila!

Komento sa Aklat (191)

  • avatar
    PatimaPasayanti

    bguss

    02/06/2025

      0
  • avatar
    LinFer

    mantap

    31/05/2025

      0
  • avatar
    HsbAnggi

    suka banget

    31/05/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata