Dorothy terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju pohon besar itu, dia melihat kebelakang, tampak Kikan berhenti sejenak menoleh kearahnya, Dorothy sadar Kikan tidak akan bisa melihat dirinya, karena disebelah timur kastil kalau malam lebih gelap dari sebelah baratnya, sementara dia masih bisa melihat bayangan Kikan, Dorothy berjalan menyusuri jalan ini, yang mulai licin karena bercampur dengan tanah liat, sambil memeluk kain sprei dia melihat kebawah kakinya, bekas jejak kakinya terlihat ditanah liat itu, Dorothy segera menghapus jejaknya, dan mulai mencari tanah yang mempunyai batuan atau memiliki rumput walaupun hanya sedikit saja, dengan cara melompati satu persatu, Dorothy adalah seorang wanita cerdik, dia tahu akibatnya bagi Kikan jika mereka hanya melihat sepasang jejak kaki saja, seharusnya kan ada dua? Dorothy terus melompati tanah - tanah yang berbatu dengan hati - hati jangan sampai dia terjatuh, kalau orang melihat dia pasti akan mengira ada manusia zombie, yang bergerak dengan melompat-lompat. Dorothy terus melompat sambil matanya tajam mengawasi sekitarnya, dan terus bergerak maju, pikirannya mencoba membayangkan keberadaan Kikan, malam semakin dingin, tubuh Dorothy sudah basah kuyub, kacamatanya yang dari tadi sudah melorot dinaikkannya kembali supaya tepat bertengger di batang hidungnya yang mancung. Dorothy adalah wanita paruh baya yang cantik, waktu tidak mengikis habis kecantikannya, hanya saja dalam memilih laki-laki pilihan hidupnya banyak syarat yang harus diterapkannya, sampai kedua orang tuanya harus menerima keputusan anak gadisnya tersebut, Dorothy menyadari setiap kilat yang dilontarkan oleh langit, selalu membahayakan dirinya dan Kikan, seperti telur diujung tanduk, siapa saja bisa melihat dirinya, hanya saja jalan memutar yang aman semuanya terdiri dari tanah liat yang licin, tidak ada rumput atau bebatuan, dia sadar harus mengambil resiko,matanya jelalatan mengawasi sekitarnya, tubuhnya menggigil tidak hanya kedinginan tetapi juga karena ketakutan, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan diperbuat Sam kepada dirinya, jika ia ketahuan, tetapi setidaknya hatinya agak lebih tenang sekarang karena Kikan sudah keluar dari penyekapan walaupun belum sepenuhnya berhasil, Mengingat Kikan hatinya kembali kuat, Kikan sudah seperti anaknya sendiri, sejak bayi ia telah jatuh hati kepada gadis itu, dia menyadari Kikan tidak jauh beda dengan ibunya, ibunya seorang wanita yang baik dan murah hati, Dorothy hampir saja terpeleset, ketika ia hendak menjejakkan kakinya di batu itu, tetapi kakinya tidak tepat mengenai batu, sehingga tubuhnya mulai oleng kekanan, untung keseimbangannya cukup bagus, sehingga dia tidak jadi terjatuh, akhirnya Dorothy berhasil menapakkan kakinya dengan aman. Dorothy terus berjalan dengan hati hati dan selain penglihatannya, dia juga menajamkan penderangannya, mana tau ada suara-suara yang mencurigakan, tiba-tiba ia mendengar suara tarrr !!yang sangat keras, Dorothy mengarahkan pandangannya kesuara tersebut, dia benar-benar terkejut, kemudian diikuti ada benda yang jatuh, rupanya petir menyambar pohon disana, segera Dorothy bersembunyi di semak belukar yang rimbun disebelah kanannya, sambil merunduk, dia mengedarkan pandangannya diseluruh penjuru, mana tau anak buah Sam sedang memeriksa untuk mengawasi keadaan, jangan sampai ia ketahuan, matanya jelalatan mengawasi daerah sekitarnya, dari kejauhan dia melihat setitik bayangan menuju kearah pohon yang tersambar petir tersebut, jantungnya berpacu dengan cepat, dengan sabar dia mencoba bertahan sampai penjaga itu meninggalkan daerah tersebut,setiap detik dirasakannya sangat lama, Dorothy akhirnya melihat penjaga tersebut terpaku melihat kearahnya, bibirnya yang membiru kedinginan karena air hujan, semakin dingin dan kaku, dia berdoa semoga rencana mereka untuk melarikan diri berhasil. "Ya Tuhan, tolonglah Hamba mu ini," bisiknya dengan penuh pengharapan. Akhirnya penjaga tersebut meninggalkan pohon yang tersambar petir, bergerak lurus menuju kekastil kembali. "Syukurlah akhirnya Dia kembali," bisik Dorothy, dengan berhati hati dia keluar dari persembunyiannya, kembali menuju kearah timur untuk segera menjalankan rencana yang telah mereka susun, tapi malang bagi Dorothy, baru beberapa saat dia melangkah petir kembali menyambar disertai cahaya kilat , Dorothy kebingunan mencari tempat persembunyian, karena kali ini dia tepat akan berada di lapangan terbuka, penjaga yang masih belum sampai dikastil, melihat pergerakan Dorothy dan segera dia mengokang senjatanya untuk menembak Dorothy, tetapi karena jarak yang masih jauh , dia tidak dapat melakukannya, kemudian dengan sangat kencang dia berlari mengejar Dorothy sambil berteriak seperti orang kesetanan, untung bagi Dorothy, karena hujan yang deras maka penjaga yang lain tidak dapat mendengarnya. Dorothy yang melihat hal ini semakin mempercepat langkahnya mencoba memperbesar jarak mereka, malang baginya, tiba tiba dia terjatuh tersungkur akibat sebuah batu yang besar. * Aaaaarrrrghhhh," jerit Dorothy, tubuhnya langsung mendarat ditanah, dengan posisi telungkup, dia merasakan hantaman yang sangat kuat diwajahnya, pandangannya nanar, dia merasakan pusing yang luar biasa,perut dan dadanya juga ikut terhempas, setelah itu dia berusaha untuk bangkit, tetapi rasa pusing membuat kepalanya mau pecah, dia tak sanggup berdiri, akhirnya dia berusaha duduk dan melawan rasa pusing tersebut, dia melupakan penjaga yang masih mengejarnya, Dorothy terus memijat kepalanya , agar sakitnya lebih reda, hujan semakin deras, bajunya sudah basah kuyup, dia sudah pasrah dengan keadaannya.Dia hanya berharap agar Kikan berhasil melarikan diri, dan segera keluar dari kastil ini. Dorothy terus berdoa sambil memijit kepalanya, pandangannya masih berkunang- kunang. Dorothy merasakan benda dingin tiba-tiba dikepalanya, dia menoleh keatas, walaupun dia tidak dapat melihat wajah penjaganya tersebut, karena kacamatanya entah kemana terjatuh, sewaktu dia terjerembab tadi, tangannya terus meraba tanah disekitarnya, berharap dia akan menemukan kacamatanya. “Berdiri, kamu!” bentak penjaga tersebut, Dorothy mendengar penjaga itu menghubungi atasannya melalui walkie talkie, tetapi bukan Sam, karena dia menyebut nama orang tersebut dengan Alex, Rupanya Alex memerintahkan dia menghabisi Dorothy, dia yakin perintah itu pasti bukan dari Sam, karena dia yakin Sam tidak mungkin membunuhnya, mengingat jasa kedua orang tuanya kepada Sam. “Bagaimana, apakah kamu menemukan Gadis itu?” kata Alex. “Apakah hanya pengasuhnya? kemana Gadis itu, Kamu harus segera menanyakannya, kalau tidak Tuan Sam pasti akan membunuh Kita, kalau kamu masih mau hidup, segera kamu tanyakan kepada Wanita tua itu”! , bentak Alex dengan geram. “Dan tunggu saya disana, Kamu dengar itu!” perintah Alex. ”Baik boss,”lanjut penjaga itu. Dorothy berdoa demi keselamatan Kikan, dia tidak perduli dengan nyawanya sendiri, karena bagi dia, Kikanlah yang terpenting.Dorothy tak kuasa menahan nyeri disekujur tubuhnya, akibat hempasan yang sangat keras tadi.Air matanya kini mengalir tanpa dia sadari, tubuhnya semakin menggigil, bukan hanya kedinginan tetapi lebih dominan karena ketakutan yang menderanya. Pikirannya hanya terpusat kepada Kikan, bagaimana nasib Kikan sekarang, Dorothy benar-benar putus asa sekarang ini,tetapi kalau tidak anak buah Sam yang akan membunuhnya, medan yang akan dilaluinya Bersama Kikan juga sangat bahaya jadi diapun tidak akan sanggup melewatinya. Pistol yang ada digenggaman penjaga itu kini diarahkan kekeningnya sekarang, dengan berani Dorothy menatap mata penjaga tersebut, sinarnya benar-benar menakutkan, dengan suara keras karena mengalahkan deru hujan yang sangat deras, dia menanyakan dimana Kikan, Dorothy hanya menggelengkan kepalanya,penjaga itu tidak menerimanya begitu saja, dia memukul kepala Dorothy dengan gagang pistol tersebut, Dorothy merasakan darah segar mengalir dipelipisnya sekarang, Dorothy hanya bisa pasrah dengan perlakuan penjaga tersebut.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat pendek saya sudah baca selesai 🙂↕️
22/01
0oh seru
12/09
0mantap
25/07
0Tingnan Lahat