💔💔💔 Bab 1 “Ma, bagaimanapun Papa itu lelaki normal. Kebutuhan biologis papa menuntut untuk dipenuhi. Tidak mungkin terus menerus melakukannya sendiri," keluh Hanan--suamiku minta simpati. Tapi malah kukasih indo**t. Eum. Dua tahun yang lalu tiba-tiba aku terserang stroke. Mulutku mencong-mencong, kalau bicara seperti meracau tidak jelas. Kedua kaki pun lumpuh, hanya tangan kanan yang masih bisa digerakkan dan kadang itu pun tidak beraturan. Tentu aku sudah berobat secara medis kemana-mana, tapi tidak ada perkembangan yang berarti. Banyak orang yang menyarankan pengobatan non medis hingga dukun. Namun, jujur kami termasuk orang yang tidak percaya akan pengobatan seperti itu. "Euh, euh," tunjukku pada sebuah buku dan balpen di atas nakas. "Oh, iya." Hanan mengambilkannya. Tulisan menjadi salah satu cara aku berkomunikasi. “Siapa madu yang akan papa pilih?” “Sumi. Tetangga kita sekaligus perawat mama selama ini.” Nama itu disebut seraya menunduk. Mataku bulat melebar. Dengan cepat menulis lagi. “Kenapa harus Sumi?” “Papa, hanya ingin mencari madu yang manis untuk mama. Selama ini papa perhatikan, dia begitu telaten merawat mama. Karenanya Mama masih terlihat cantik walau pun sedang sakit.” Madu manis? Preet! Memang aku akui, Sumi kerjanya cekatan, terampil dan tidak pernah risih saat membersihkanku termasuk dari pup. Selama ini suamiku juga sudah menunjukkan kesetiaan dan kesabarannya dalam menjaga dan merawat. Dia selalu memberi semangat bahwa aku akan sembuh seperti sedia kala. “Tapi, apa dia setuju papa ceraikan jika aku sembuh nanti?” tulisku lagi. “Dia setuju. Malah sangat mendukung. Asalkan hidupnya bisa berkecukupan dan kebutuhan anak-anaknya terpenuhi.” Sumi seorang janda beranak tiga. Diceraikan suaminya saat mengandung. Suaminya pergi bersama wanita jalang, yang ternyata sahabatnya sendiri. Sejak itu suami Sumi tidak pernah terlihat lagi batang hidungnya. Anak-anak ia dititipkan ke orang tuanya di kampung. Sementara ia bekerja banting tulang di sini sebagai ART. “Tapi, papa hanya nikah siri ‘kan?” tanyaku dalam tulisan. “Iya, sayang. Istri sah papa yang tercatat sampai kapan pun hanya mama. Sebenarnya bisa saja, papa jajan di luar tidak perlu repot-repot ada ikatan. Tapi, bukankah zina itu termasuk salah satu dosa besar? Gini-gini juga papa masih takut dengan azab Allah,” tuturnya untuk kesekian kali. Ya alasan yang diutarakan memang sangat masuk akal. Apa dayalah aku kini yang sudah seperti mayat hidup. Aku tidak bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri. Oleh karena itu mau tidak mau, wanita lain akan memenuhinya. “Baiklah. Mama izinkan Pa,” akhir tulisanku meski ada sisi hati yang tergores. “Yang benar, ma? Mama serius? Mama siap punya madu?” tanya suamiku sambil melompat-lompat, sampai girangnya mengalahkan orang yang menang lotre. * “Saya terima nikahnya Sumi Sumyati binti Dadang dengan mas kawin seperangkat perhiasan dibayar tunai,” ikrar suamiku lantang tepat pukul 19;30 WIB. “Bagaimana saksi, sah?” tanya pengulu. “Sah,” jawab yang hadir serentak.
Beberapa tetangga dekat ikut menghadiri moment sakral yang hampir membuatku hilang akal. Kedua anakku tidak hadir karena tidak kuberitahu. Aku yakin mereka akan menolak mentah-mentah kehadiran mama baru. Saat ini mereka sedang menuntut ilmu di sebuah ponpes di Indramayu. Si sulung duduk di kelas dua Aliyah, dan si Bungsu duduk di kelas dua Tsanawiyah. Semoga mereka selalu baik-baik saja di sana. Harap batinku. Usai akad, suami dan maduku meminta restu lagi. Mereka begitu khusuk bersimpuh di kaki secara bergantian. Air mata deras mengalir di pipi Sumi yang tirus. “Maafkan, saya Nyonya. Tapi saya janji, akan memperlakukan nyonya sebaik mungkin seperti selama ini,” lirihnya. Aku mengangguk dan mengusap kepala Sumi. Kuharap apa yang dia janjikan sepenunya ditepati. Karena biasanya janji dibuat untuk diingkari. Wajar ... ketakutan, curiga, waspada berputar di kepala. Wanita mana yang bisa dengan santai dan tenang berbagi suami dengan wanita lain. Air mataku tumpah diam-diam dalam kamar. Sungguh, tidak tahu bagaimana cara menghentikan ini. Biasanya tangan suamiku akan menghapus tanpa jejak. Tapi, kini tangan itu bukan milikku seutuhnya. Malap pertama tiba. Mereka yang mau malam pertama, aku yang kepanasan dan gusar luar biasa. “Suamiku, panas ya?” tanyaku pada Hanan saat itu. “I-iya,” jawabnya sambil mengibas-ngibas muka dengan tangan. Kutempel terus duduknya hingga ia terjengkang dari tepi ranjang. Mukanya merah kayak kepiting rebus. Keringat terlihat menetes di dahinya. Begitulah ia saking geroginya menghadapi malam pertama kami. Bahkan kalau saja tidak kueksekusi duluan, mungkin malam indah nan panjang itu tidak akan pernah terjadi diantara kami. Hanan, pemuda kampung yang dijodohkan denganku. Dia perjaka tong-tong berusia 24 tahun yang sama sekali belum pernah berpacaran. Ia sangat pemalu dan tidak pandai dalam urusan bercinta. Dengan percaya diri saat itu, akulah wanita pertama dan terakhir baginya. Tidak kusangka, di saat Hanan sudah pandai melebihiku, malam pertama itu terulang. Sesaknya karena dengan wanita lain atas izinku. Aku yakin malam pertama Hanan kali ini pasti sangat berbeda. Bahkan tadi kuperhatikan ia tampak tidak sabar menunggu para tamu pulang. "Sayang belum tidur?" tanyanya mengejutkan. “Euh, eu, eu." Bibirku bergerak-gerak. “Sedang apa? Dari tadi bengong saja depan TV.” Aku tenggelam dalam lamunan, hingga tidak menyadari kalau ada Hanan tengah memperhatikanku. “Tidak sedang apa-apa pa. kalau merasa terganggu, mama akan tidur sekarang juga,” tukasku di selembar kertas. Lalu memutar roda kursi hendak masuk kamar. “Tunggu, ma!” tahannya. “Papa, tahu apa yang mama pikirkan. Tenang saja ma, papa tidak akan melakukannya malam ini. Tidak di sini juga. Meski sekarang sudah sah, tapi papa tidak akan secepat itu. Ada perasaan yang harus papa jaga," tuturnya kemudian mengecup keningku. Maafkan mama, pa. Mama pikir, mama bisa ikhlas begitu saja. Tapi ternyata ini berat, lirih batinku. Aku terisak-isak hingga bahuku naik turun. Hanan langsung menggendongku dan membaringkan di kamar. Ia menemani sepanjang malam. Syukurlah, Sumi tidak menuntut haknya. Ia justru membawakan susu hangat dan camilan kesukaanku, mengingat sedari tadi Nyonyanya belum makan. Madu yang manis bukan? Ah tetap saja pahit yang kurasa melebihi patrawali. Aneh! Setelah itu mungkin aku tertidur begitu lelapnya. Sampai bangun pun kesiangan. Selama ini aku belum pernah tidur selelap seperti tadi malam. Padahal jiwa ragaku lagi kesakitan. Tidak kudapati Hanan di sampingku, pasti jam segini ia sudah berangkat ngantor. Karena aku kebelet pipis, sebisa mungkin aku meraih kursi roda di samping ranjang. Dengan kuat tangan kananku mencengkram pegangan kursi, tertatih-tatih sampai akhirnya bisa kududuki. Kumulai memutar roda mencari Sumi seperti biasa. Hanya ia yang selama ini membantuku untuk melakukan rutinitas pribadi. Bedanya kali ini aku tidak mencarinya ke dapur, tapi ke kamar yang sudah dihadiahkan sebagai tempat tinggalnya di rumahku. Dret, daun pintu kubuka. Seketika ada pemandangan yang membuat tubuhku bergetar, tangan mengepal, dan hangat terasa cairan keluar menuruni betisku lolos begitu saja. Kubergidik! * Bersambung ...
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 24 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (102)
GustianiSheila
bagus 👍👍👍👍😘
26/07
0
Supriadi Anglinggdarma
enk banget main novelah
28/04/2025
0
HokiSlamet
sebenarnya dlm suatu rumah tangga,ikrar janji dlm pernikahan,kalo boleh sy bilang penikahan adalah sehidup semati, singkat cerita,jangan karna istri lumpuh,suami mau nikahi wanita lain, kalo kita kembalikan seandainya suaminya yg lumpuh perasaan suaminya gimana kalo sang istri mencari laki2 lain,jadi dlm pernikahan ,introspeksi & koreksi diri & tidak boleh Egois🙏
bagus 👍👍👍👍😘
26/07
0enk banget main novelah
28/04/2025
0sebenarnya dlm suatu rumah tangga,ikrar janji dlm pernikahan,kalo boleh sy bilang penikahan adalah sehidup semati, singkat cerita,jangan karna istri lumpuh,suami mau nikahi wanita lain, kalo kita kembalikan seandainya suaminya yg lumpuh perasaan suaminya gimana kalo sang istri mencari laki2 lain,jadi dlm pernikahan ,introspeksi & koreksi diri & tidak boleh Egois🙏
10/01/2025
0Tingnan Lahat