"Kak, nanti kita jadikan pergi ke jalan Rahayu." "Iye cil. Tapi gue nganter ini dulu ke rumah pelanggan bunda." Lily mengekor ke mana pun Zayan pergi, dari satu rumah ke rumah lainnya, sampai kue yang dibuat bunda Aisyah habis. "Udah siap kan, Kak?" Zayan berdecak sebal. Untuk bisa sampai ke jalan Rahayu, Zayan perlu naik bus selama kurang lebih setengah jam. Ia dan Lily duduk bersebelahan dalam bus. Gadis hantu itu senang memandangi jalan raya, mulutnya tidak berhenti mengoceh, tidak peduli sekali pun Zayan selalu mengabaikannya. Setibanya di pemberhentian bus, Zayan keluar bersama Lily. Tepat di depan mereka, di seberang jalan sana terdapat toko mainan bertuliskan Magic Shop. "Itu tokonya?" Zayan menoleh pada Lily yang termenung di sebelahnya, tampak sedang memikirkan sesuatu. "Kita masuk dulu ke toko itu buat cari informasi." Ketika Zayan akan menyebrang tiba-tiba sekelebat memori melintas di kepala Lily, di mana pada malam itu Lily hendak menyebrang, namun seseorang mendorongnya ke tengah jalan hingga kecelakaan itu terjadi. Lily terduduk lemas di tanah saat ingatan itu muncul, badannya gemetar, matanya berlinang, perlahan-lahan dirinya menghilang tersapu angin. Zayan yang sudah sampai di depan toko kebingungan melihat Lily. Ingin kembali menemui gadis itu, tapi sudah keburu hilang. Tidak mau membuang waktu, Zayan memilih masuk ke dalam toko lebih dulu, dan akan mencari Lily nanti ketika sudah dapat informasi. Ia menemui seorang wanita muda yang bekerja di belakang meja kasir. "Permisi, Mbak." "Cari apa, Dek?" "Begini mbak, saya mau tanya. Di depan jalan situ pernah ada kecelakaan yang merenggut nyawa seseorang gak? Kejadiannya mungkin dua sampai tiga tahun lalu lah." "Wah, kalau itu saya kurang tau, Dek. Soalnya saya baru delapan bulan kerja di sini," ujar si mbak penuh sesal, "Tapi saya pernah denger juga katanya pernah ada kecelakaan yang menewaskan satu orang." Zayan langsung antusias, "Korbannya perempuan ya, Mbak? Umur belasan tahun." "Gak tau, Dek. Cuma itu yang saya tau." Zayan mengangguk-angguk. "Memangnya kenapa, Dek?" "Ini arwah korbannya minta tolong sama saya buat cari tau," jawab Zayan enteng, mbak penjaga kasir membulatkan matanya. "Yaudah kalau gitu saya permisi, Mbak. Makasih infonya." Zayan keluar dari toko mainan tersebut. Ternyata benar, Lily kecelakaan dan mati di sini. Tugasnya sudah beres kalau gitu, semuanya sudah jelas, walau identitas gadis itu tidak diketahui tapi setidaknya Lily sudah bisa tenang karena sudah mengetahui penyebab kematiannya. Pasti itu kecelakaan besar sampai-sampai Lily hilang ingatan. Benturan yang sangat keras, atau bisa jadi karena trauma yang menyebabkannya amnesia. Entahlah, Zayan tidak tahu. Dia bukan dokter. Ngomong-ngomong ke mana gadis hantu itu? Apa dia sudah pergi ke tempat yang lebih baik? Baguslah. Tapi ya setidaknya mengucapkan terima kasih gitu loh, masa iya pergi begitu saja. "Udah capek-capek dateng ke sini, tuh bocil pergi tanpa pamit," dumel Zayan, "Mana uang gue abis lagi. Masa iya sih gue pulang jalan." Cowok itu menggaruk tengkuknya sambil melihat ke sana kemari. Beruntungnya Zayan membawa ponsel, ia bisa menggunakan Google Maps untuk mencari jalan potongan terdekat. Anehnya semakin diikuti, Maps itu semakin membawanya ke tempat sepi. Melewati gang-gang gelap dan seram. Mana banyak mata yang mengawasinya lagi. Melihat ada anak kecil jongkok sendirian di tempat sampah, Zayan lantas mendekatinya, "Heh, cil. Belahan pantat lu keliatan tuh," ucapnya seraya terkekeh geli. Bocah laki-laki itu menoleh ke arahnya. Seketika Zayan terkesiap mendapati si bocil tidak punya mata. "Eh, sorry, sorry ...." Zayan lari terbirit-birit, hingga sampailah ia di mana sekelilingnya hanya ada sawah. "Sial banget sih gue. Dicampakin Lily, disesatkan Google Maps, dikagetin arwah bocil epep. AKH!!" Zayan menendang batu kerikil, kemudian lanjut berjalan mengikuti petunjuk Google Maps. Diujung sawah Zayan melihat ada tiga orang duduk di pos ronda, ia berniat bertanya pada mereka, tapi ragu, soalnya orang-orang di sana penampilannya mirip preman. Bagaimana kalau ia dipalak. Kan bertambah lagi kesialannya. "Bukan hantu preman kan?" gumam Zayan, mengamati mereka dengan lebih teliti lagi. "Ah, ternyata bukan. Bodo amatlah, samperin aja dulu." "Permisi, Bang." Sapaan Zayan disambut tatapan tajam oleh tiga laki-laki berbadan besar tersebut. Buset dah. "Mau tanya, Bang-" "Lo dari sana?" Salah satu dari mereka menunjuk jalan yang tadi Zayan lalui. Zayan mengangguk. "Serius lo dari sana?" "Iya, Bang." "Lo hantu bukan?" Satunya lagi bertanya, meneliti Zayan dari atas sampai bawah. "Kalau saya hantu gak mungkin napak, Bang." Mereka bertiga saling tatap-tatapan sambil bergidik ngeri. Zayan jadi penasaran. "Emangnya kenapa, Bang?" "Makanya kalau mau ke mana-mana baca doa dulu!" ujar lelaki berambut gondrong. Zayan mengernyit. "Jalan yang lo lewati itu hutan lebat. Di tengahnya ada rawa. Makanya kita heran kok lo bisa lewat sana, mana gak kotor sama sekali lagi." "Hah, rawa? Orang di sana cuma ada sawah kok, tuh-" Ucapan Zayan berhenti detik itu juga saat menoleh yang ia lihat hanya pepohonan lebat, bukan sawah yang seperti tadi. Panik dong. "Loh, kok berubah jadi hutan?!" "Emang dari dulu itu hutan cah bocah!" sahut si abang berkumis tebal. "Sialan, gue dikerjai makhluk halus," umpat Zayan, mengacak rambutnya frustasi. Bisa-bisanya dia dikelabui makhluk tak kasat mata, hancur harga dirinya sebagai anak indigo. "Sini duduk dulu." Zayan menurut. Ketiga laki-laki itu memperkenalkan diri masing-masing. Yang berambut gondrong bernama Jono, yang berkumis tebal dan berambut tipis bernama Didit, lalu yang terakhir yang badannya paling besar bernama Ujang. Mereka mengaku sebagai preman yang suka memalak orang di depan gang sana. Kadang mereka jaga parkir dan mencarikan penumpang angkot. Dibalik pekerjaan mereka, ketiganya juga manusia yang ternyata punya sisi baik dan hati nurani. "Minum teh anget dulu, sekalian makan ubi rebusnya," ucap Jono, menuangkan teh hangat dari dalam teko ke gelas baru. "Kok bisa sih lo nyasar sampe di mari?" tanya Didit. "Abis nganter pesenan kue buatan bunda bang, di daerah sana. Gue gak berani make uang hasil penjual kue untuk naik kendaraan umum, makanya gue minta cariin jalan potongan sama mbah Google biar cepet sampe rumah," jelas Zayan, sambil makan ubi rebus tanpa tahu malu. Bodo amatlah, lelah hayati dia tuh. "Bokap lo mana?" "Gue anak yatim, Bang. Ayah meninggal dua tahun lalu." Seketika suasana berubah senyap. Ujang menepuk pundak Zayan. "Makan yang banyak, kalau udah besar harus sukses." "Pasti, Bang." Zayan mengangguk sambil tersenyum. Bersyukur, dibalik kesialan yang menimpanya bertubi-tubi malam ini, ada orang-orang baik yang Tuhan kirim untuknya.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 22 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (224)
sky_star
bagus bgt ceritanya
bisa bikin ketawa ngakak dan terharu
ditunggu lanjutannya
6d
0
Syahfira Indah Ramadani Lubis
bagus banget alur cerita suka!! ditunggu sambungan ceritanya kak hhe
15/05
0
PutriAkira Himuro
Cerita pertama yang saya baca diaplikasi ini tapi lupa mungkin sekitar tahun 2022,2023,2024 kali,ya?
bagus bgt ceritanya bisa bikin ketawa ngakak dan terharu ditunggu lanjutannya
6d
0bagus banget alur cerita suka!! ditunggu sambungan ceritanya kak hhe
15/05
0Cerita pertama yang saya baca diaplikasi ini tapi lupa mungkin sekitar tahun 2022,2023,2024 kali,ya?
05/04
0Tingnan Lahat