“Belanjaannya mana bu” tanya Ayah saat aku dan Ibu sampai rumah. “Ini pak” jawab Ibu sembari memperlihatkan plastik kresek hitam di tangan kanannya. “Tidak jadi beli persiapan untuk lamaran toh bu” timpal Ayah. “Untuk lamaran pesan dulu, nanti kalau sudah mau mendekati hari lamaran baru di ambil. Kalau di ambil sekarang, bisa basi toh” jelas Ibu. Ayah mengangguk tanda mengerti. Arsya dan Ayah sedang sarapan di ruang makan. Menyantap makanan yang sudah di sediakan sejak tiga jam yang lalu. Ayah kalau sedang tidak pergi ke sawah memang biasa tidur lagi setelah sholat subuh dan jogging. Adikku? Ia akan langsung terlelap setelah tadarus selesai sholat subuh. Aku dan ibu menuju ke dapur. Meletakkan belanjaan dan melanjutkan bersih – bersih rumah. Aku menatap wajah ayah dari jauh. Tawa tulusnya itu akan aku rindukan jika aku tinggal dengan mas Henri nanti. Ayah, bisakah aku tanpamu? Dari kecil aku selalu bermanja denganmu. Menangis jika ingin sesuatu. Makan lahapku hanya saat dari tanganmu. Apa nanti aku bisa? Apa aku akan tenang? Apa mas Henri akan sesabar ayah? Atau setidaknya bisakah aku meredam egoku? Aku bahkan masih sangat ingat, bagaimana saat semua orang seolah pergi dan tak peduli denganku, kau selalu ada dan membuatku tenang. Saat ka Arda baru saja menikah dan tahun berikutnya aku mendapatkan adik laki – laki. Saat orang yang paling ku sayang tak lagi disisiku seutuhnya dan aku harus kehilangan perhatian dari yang lainnya. *** Saat usia tujuh belas tahun, aku hampir menjadi anak satu – satunya yang tinggal dirumah, karena ka Arda sudah menikah dan tinggal terpisah. Bahkan aku menjadi satu – satunya cucu perempuan dari keluarga Ibu. Ibu adalah anak pertama dan kelima adik ibu yang sudah menikah belum memiliki anak. Sedangkan dari keluarga Ayah aku menjadi perempuan kedua. Tapi almarhumah nenek begitu sayang padaku. Karena ayah adalah anak laki – laki nenek. Pertemuan pertama Ayah dan Ibu terjadi di perusahaan tekstil saat mereka masih menjadi karyawan swasta. Mereka bekerja dalam satu perusahaan. Mungkin disana tempat bertemu dan saling jatuh cinta sampai menikah. Ka Arda, paman, bibi, kakek dan nenek menjagaku bergantian. Sesekali aku bermain dengan teman satu sekolah atau anak tetangga. Bahagia sekali saat itu. Paman dan bibi selalu datang dan bermain denganku. Nenek juga tidak pernah lupa menyapaku setiap pagi dan sore. Saat berangkat sekolah bahkan aku selalu mendapatkan uang saku dari nenek. Setiap hari ada saja yang memberiku jajan, apapun itu. Dan pamanku yang di Jakarta setiap pulang selalu memberikanku baju baru. Apapun yang aku inginkan selalu dikabulkan. Bahkan aku pernah meminta ayam untuk dipelihara. Keesokan harinya aku dibelikan dua anak ayam warna – warni di pasar. Aku membawanya kemana – mana. Mengajaknya bermain. Memberi makan dan minum. Mengganti kardus yang kotor. Sampai satu minggu kemudian, anak ayam itu tidak sengaja terinjak oleh kakiku sendiri. Aku teriak histeris. Bibi yang sedang menjagaku saat itu, datang dan tertawa terbahak – bahak. Aku semakin menangis sejadi – jadinya. Lalu bibi memelukku dan berkata “besok beli makanan saja ya, kasihan anak ayamnya kalau terinjak lagi”. Entah mengapa, aku justru diam dan melihat anak ayam yang ku injak. Akupun mengangguk setelah melihat anak ayam itu beberapa menit. Anak ayam warna kuning berubah menjadi merah darah. Ususnya keluar berantakan. Mulutnya terbuka seperti ingin teriak. Aku merinding melihat itu. Satu anak ayam warna hijau sudah mati dua hari lalu. Beranjak dewasa, aku merasa semakin dimanjakan oleh ka Arda. Apapun yang kuinginkan selalu saja dikabulkan. Apapun, bahkan saat aku ingin muncak, dua minggu kemudian ka Arda mengajakku ke Prau yang katanya gunung untuk pemula. Atau saat ka Arda harusnya kencan berdua dan aku memaksa ikut, pun ka Arda tidak menolakku. Lalu kemudian setelah lulus SMA perut ibu membesar. Peranku bertambah menjadi seorang kakak. 02.00 WIB. Dini hari. Ayah membangunkan tidur lelapku. Menyuruhku pindah ke ruang tengah. Dengan mata masih mengantuk, aku mengikuti tanpa suara. Tak berapa lama, ku dengar suara orang ramai sekali. Mataku terbuka. Ku lihat sekeliling. Aku tidur sendirian. Mataku tertuju pada suara yang membuatku terbangun. Banyak orang berkerumun. Ka Arda, Ka Afsantia, paman, bibi dan masih ada lainnya. “Kak Arda” panggilku lirih. Ka Arda tidak menoleh. “Kak Ardaaaa” panggilku lebih keras. Ka Arda masih tidak menoleh. Aku kesal. Aku berjalan menuju ke kerumunan itu. Di sana ada seorang bayi. Perut ibu sudah tidak besar lagi. Semua mata tertuju pada bayi itu. Tertawa bersamaan. Tak ada yang memperdulikan kehadiranku. Kasih sayang yang selama ini aku dapatkan seolah direbut oleh seorang bayi. Perhatian yang tertuju untukku teralihkan pada seorang bayi. Senyuman yang seharusnya membuatku tenang kini saling bersahutan pada tangis seorang bayi. Bayi itu adalah adikku, Arsya. “Fina, sini” perintah ka Arda. “Fina sekarang menjadi kakak. Ini adik kita, namanya Arsya. Nanti bantu ayah sama ibu menjaga Arsya ya” lanjut ka Arda saat aku menghampiri. Aku mengangguk. Ka Arda masih saja menggendong bayi ditangannya. Ayah mengumandangkan adzan di sebelahnya. Ka Afsantia berdiri tepat disebelahku sambil merangkulku. Ada rasa sesak saat melihat semua senyum itu bukan lagi untukku saja. Ada rasa kesal semua tangan sudah tidak hanya mendekapku. Saat itu, hanya Ayah yang memelukku. Berbicara pelan dan tersenyum penuh untukku. Aku tak suka harus berbagi kasih sayang. Kelahiran Arsya saat itu adalah bencana bagiku. Mempunyai adik ternyata tidak menyenangkan. Menjengkelkan. Berbagi semua hal yang biasa ku rasakan sendirian. Sampai aku merasa bukan lagi berbagi. Arsya merebut segalanya. Bahkan memberiku beban tanggungjawab untuk melindunginya yang bahkan aku tak mengerti bagaimana itu aku lakukan. Apakah Ka Arda merasakan hal yang sama saat kelahiranku? Apakah ka Arda pernah membenciku saat aku hadir didunia? Ibu kini hanya menjadi ibu rumah tangga. Mengurusku dan Arsya dirumah. Ayah tetap menjadi karyawan dan sesekali menengok lahan nanasnya saat hari libur kerja. Ibu menjadi sering marah – marah. Saat aku tidak mau makan karena masih kenyang, ibu memarahiku. Saat aku belum ingin mandi karena masih ingin bermain dengan teman – teman, Ibu marah. Saat aku tidak menjaga Arsya di kamarnya, ibu marah. Semua yang kuingat hanya ibu marah setiap waktu. Membuatku semakin kesal dengan kelahiran adikku. Aku jarang dirumah. Lebih nyaman berada di rumah ka Arda sambil membantu bungkus pesanan online. Arsya tumbuh besar. Rasa benciku tidak berkurang. Adikku tidak melakukan kesalahan apapun. Tapi kelahirannya merubah banyak hal. Arsya menjadi juara satu semenjak pertama kali sekolah. Aku datang melihat raportnya. Arsya duduk disampingku dan bercerita tanpa jeda tentang sekolahnya. Saat itu adalah pertama kali aku mulai lega dengan kehadiran Arsya. Menganggapnya sebuah anugerah terindah. Arsya tidak pernah merebut apapun dariku. Kasih sayang untukku tidak berkurang dengan hadirnya Arsya. Dia secerewet ka Arda. Untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa Arsya memang pantas mendapatkan kasih sayang sama denganku. Arsya tumbuh menjadi anak penurut, baik, pintar dan rajin. Dia sering memijat kaki Ibu. Sering membantu paman menarik gerobak. Membantu ibu menyapu halaman. Dengan perilaku baik yang tulus, rasa benciku mulai mereda. Dan hilang sepenuhnya saat aku mulai berkomunikasi dengannya. Anak usia delapan tahun sudah banyak membantu sekali. Betapa bodoh anggapanku waktu itu. Sudahlah, saat ini aku dan Arsya sudah saling menyayangi sebagai kakak adik. Kami saling mendukung dan akrab satu sama lain. *** “Assalammualaikum” sapaan dari luar. “Waalaikumsalam” Arsya menjawab sambil berlari keluar pintu membawa gorengan tempe yang masih dilahapnya. “Kak Fina, ini ada tante Ofri” teriak Arsya dengan mulut mengunyah gorengan. “Suruh masuk dulu dek. Kak Fina masih menjemur pakaian” timpalku dengan suara lantang. Saat aku temui. Ofri sedang asyik menonton film power rangers dengan Arsya. Saling mengomentari setiap adegan di film. “Sambil makan cemilan biar nontonnya semakin seru” timpalku sambil meletakkan regginang dan roti maryam di meja depan Ofri dan Arsya. “Makan tante Ofri” ucap Arsya. Aku tertawa keras mendengar Ofri dipanggil tante. “Kamu senang sekali mendengar aku dipanggil tante ya..” sindir Ofri. “Makanya pertama ketemu Arsya itu dengan wajah cantik mempesona” jawabku sambil membayangkan pertama Arsya berkenalan dengan Ofri. Saat itu aku mendandani Ofri dengan make up yang mencolok dan Arsya baru saja pulang sekolah lalu berteriak tante saat melihat Ofri. Dan menjadi kebiasaan memanggil Ofri dengan tante Ofri. “Kak Fina sama tante jangan berisik. Itu lho, monsternya mau jatuh” Arsya merasa terusik dengan film yang sedang serius. Ofri itu temanku sejak duduk dibangku SMA. Di perkuliahan kami satu jurusan. Dan melewati banyak hal berdua. Sahabat sejatiku. Seperti mempunyai saudara kembar tapi beda rahim. Anak manis yang berbadan atletis. Ofri suka sekali olahraga, tak jarang Arsya juga jogging dengan Ofri. Saat liburan SMA yang begitu panjang, Ofri juga sering datang kerumah dan bermain badminton dengan ka Arda. Ka Afsantiapun pernah marah saat melihat Ofri dan Ka Arda berolahraga bersama. Badan Ofri yang tinggi membuatnya terlihat serasi dengan Ka Arda. Setelah di jelaskan bahwa Ofri adalah temanku, ka Afsantia sudah baik – baik saja. Mana mungkin ka Arda meninggalkan ka Afsantia yang seistimewa itu? Aku dan Ka Arda memang saling mengenal teman satu sama lain. Temanku adalah teman Ka Arda, begitu sebaliknya. Bahkan dengan Arsyapun aku sudah begitu akrab. Ofri kadang merasa iri dengan kedekatan kami. Ofri adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, tapi tidak pernah akur dengan kakaknya. Aku sedikit mengerti sebuah keresahan hubungan kakak beradik. Barangkali seorang kakak belum ikhlas atas terbaginya kasih sayang, sepertiku waktu itu. Sekarang, aku bingung dengan hubungan kakak beradik yang tidak pernah akur. Banyak perkelahian tak berarti yang terus saja terjadi. Berebut remote TV, berebut makanan, berebut uang saku atau berebut hal lain yang menurutku bisa di selesaikan baik – baik. Aku dan Arsya tidak pernah berebut apapun. Saat menonton TV, kami saling bergantian saat iklan dan tidak menyalahkan jika ketinggalan beberapa adegan. Makanan yang kami dapatkan selalu adil. Aku tidak suka daging dan Arsya adalah penikmat daging sejati. Lauk kami dalam meja makan selalu beragam. Tidak ada yang mendapatkan porsi berbeda. Uang saku, kami mendapatkan jatah sesuai kebutuhan. Atau hal lain, kami selalu bisa menyelesaikan tanpa pertengkaran. Mungkin bagi kalian mustahil. Bagiku seseorang yang pernah saling membenci dan menemukan titik untuk saling menerima akan bisa menyesuaikan rasa dan sikap dengan baik. Di sanalah aku merasa beruntung membenci Arsya saat kecil dan menjadi tulus saat tumbuh besar. Tumbuh saling beriringan layaknya kakak adik yang di idamkan banyak orang. “Kamu sudah beli baju batik untuk lamaran nanti?” tanya Ofri. “Tante Ofri. Bicaranya nanti dulu. Ini filmnya mau selesai” jawab Arsya. Aku menaikkan alis dan hanya tersenyum. Ofri melirik Arsya dan menarik nafas dalam – dalam. “Filmnya udah selesai tante, hahaha” Beberapa menit setelah film selesai. Arsya mematikan TV dan mengambil sepiring roti maryam di pangkuannya. “Anak kecil nontonnya power rangers terus” ledek Ofri. “Daripada tante, pasti nontonnya film azab, hahaha” jawab Arsya meninggalkan Ofri. “Aishhh kamu tu” desis Ofri. “Kamu sudah beli batik belum?” tanya Ofri, mengulangi pertanyaan yang sama padaku. “Belum. Nunggu Mas Henri libur kerja” ucapku. “Nanti kalau pergi sama Mas Henri, Arsya ikut ya kak” pinta Arsya sambil terus makan roti maryam. Aku mengangguk. “Nanti siang kamu sibuk?” “Sudah selesai semua, sepertinya tidak ada kegiatan. Kenapa memang?” “Ayo cari batik yang bagus, biar nanti kamu sama masmu tidak perlu keliling” saran Ofri. “Kamu bosan dirumah ya…” tanyaku menaikkan alis. Aku mengerti sepenuhnya bahwa Ofri ingin pergi jalan – jalan bukan sekedar membantu lamaran. “Iya. Ayo jalan – jalan” tegas Ofri. “Ikut dong tante” lirih Arsya. “Anak kecil” sahut Ofri. “Boleh deh. Nanti jam setengah dua ya. Tapi Arsya ikut kita ya” pintaku. “Aku malas naik motor sendiri” keluh Ofri. “Nanti ajak Ka Arda sekalian” jelas Arsya. “Boleh tuh. Memang kamu anak pintar” ujar Ofri sambil menunjukkan kedua jempol di depan wajah Arsya. “Kalau sama Ka Arda, nanti ka Afsantia marah ngga ya?” celetukku. “Coba diajak dulu Fin” Saran Ofri. “Ayok deh, kesana sekarang saja” Sahutku. Aku dan Ofri bergegas pergi ke rumah ka Arda. Arsya masih asyik makan sambil main game di sofa. *** “Kamu benar – benar sudah yakin? Menikah dengan mas Henri?” tanya Ofri saat menuju rumah ka Arda. “Kenapa memang” timpalku. “Menguji keyakinan saja. Menikah itu bukan main rumah – rumahan” “Iya, tante Ofriiiii”. “Aisssshhhh.. ibu Henri”. Ofri adalah satu – satunya teman yang mengerti tentang kisah asmaraku dari zaman putih abu – abu sampai zaman seragam keki. Wajar saja jika khawatir itu ada. Tapi aku memang sudah memantapkan pilihanku. Mas Henri adalah laki – laki terbaik untuk masa depanku. “Assalammualaikum…” Sapaku dan Ofri bersamaan saat didepan rumah Ka Arda. “Waalaikumsalam…” jawaban lirih dari dalam. Tak lama kemudian pintu dibuka oleh ka Afsantia. “Fina, sini masuk sayang” lanjut ka Afsantia. “Ka Arda dirumah ka?” tanyaku. “Ada, sedang bermain dengan Mindy didalam. Mau masuk atau kakak panggilkan kesini?” “Disini saja ka” jawabku. “Baiklah. Ditunggu ya, sambil di minum dan dimakan ya” ujar ka Afsantia mempersilahkan. Di meja tamu ka Arda memang selalu tersedia minuman kemasan dan beberapa toples berisi makanan. “Halooooo tante…..” suara ka Arda sambil menggendong Mindy yang baru berusia delapan bulan. “Haloooo Mindy, cantiknya tante.. udah makan belum nih?” tanyaku. “Sudah tante” dijawab ka Afsantia sembari mengambil Mindy dari ka Arda dan duduk disamping ka Arda. “Ada apa nih Fina kesini bareng Ofri, mau duel badminton?” Tanya ka Arda. “Ka Arda…. Bukan, badminton terus kalau sama Ofri” jawabku. “Persiapan lamaran Fina ka” lanjutku. “Wah iya, sampai mana sayang, ada yang ka Afsantia perlu bantu?” potong ka Afsantia dengan penuh antusias. “Fina mau mencari batik bareng Ofri, tadi Arsya minta ikut. Terus Fina mau mengajak Ka Arda untuk memboncengkan Arsya, bagaimana?” “Naik mobil saja bagaimana Fin? Nanti ka Afsantia dan Mindy juga ikut. Atau ayah ibu juga bisa sekalian ikut kalau mau” jelas ka Afsantia. “Memangnya tidak apa – apa?” “Tidak apa – apa, justru kami sangat senang sekali bisa membantu acara lamaran Fina” ucap ka Afsantia. “Sekarang saja mas?” Tanya ka Afsantia ke arah ka Arda. “Ba’da dhuhur saja ya” jawab ka Arda. Aku mengangguk. “Terimakasih banyak kak. Fina izin pulang ya, sekalian mau mengajak ibu bapak dirumah” ucapku berpamitan sambil bersalaman dan pulang. Ba’da dhuhur tiba. Aku, Ofri, Arsya, Ka Arda, Ka Afsantia dan Mindi pergi ke setono naik mobil ka Arda. Ayah dan ibu tidak mau ikut, ingin tidur siang katanya. Setono adalah tempat pasar batik bagus dan murah di wilayah Pekalongan. Letaknya di dekat jalan pantura, depan pintu keluar jalan tol. Batik yang di jual beranekaragam motif dan warna dengan harga terjangkau. Tempat favoriteku dan Ofri saat mencari batik untuk keperluan kuliah dulu. Aku pun sering beli di sana dan dijual lagi. Selain menjadi seorang guru, aku membuka online shop. Belajar dari ka Afsantia sedikit demi sedikit saat waktu luang. Kami berkeliling dari satu ruko ke ruko lain. Mencari informasi motif, warna dan harga batik. Sambil menunggu mas Henri yang akan menyusul sepulang kerja sekitar ba’da asar. “Anak kecil, kamu setuju kalau Mas henri menjadi kakak iparmu?” tanya Ofri. “Setuju sekali tante. Mas Henri itu orang hebat. Arsya senang kalau Kak Fina menikah dengan Mas Henri. Arsya nanti ingin seperti mas Henri kalau besar” ujar Arsya penuh semangat. Ka Arda tertawa kecil saat mendengar Arysa begitu menggebu – gebu menceritakan mas Henri. Aku tersipu malu. “Mas Henri tidak sehebat yang kau pikirkan, dek” ucapku dalam hati “Katanya ingin seperti pak ustad?” raguku sambil melihat baju batik berwarna biru dongker dengan rok plisket yang sederhana. “Dua – duanya kak. Jadi pak ustad dan Mas Henri” “Tidak bisa dek. Sekolah mereka berbeda” jelasku. “Benar itu. Satu saja, lebih keren mana antara pak ustad dan Mas Henri” tambah Ofri. “Pak ustad, sepertinya tante. Tapi Mas Henri juga keren” “Satu saja, anak kecil. Dasar anak kecil ya, susah dibilangin” “Coba deh, cita – cita Arsya apa? Jangan menjadi seperti orang lain ya, tapi Arsya ingin menjadi apa beberapa tahun lagi? Ingin melakukan apa?” ucapku mencoba memberi arahan.. “Tentara, Politisi, Ustad” “Hahaha, ya Allah. Anak kecil. Tiga profesi untuk satu orang itu tidak bisa. Kamu tau istilah politisi dari mana?” Ofri terkejut sambil tertawa lebar. “Mas Henri, tante. Mas Henri kan politisi” “Min????” lirih Ofri menyenggol bahuku. “Mas Henri itu pembisnis dek. Bukan politisi” jelasku. “Terus, kalau yang ingin kamu capai beberapa tahun lagi itu menjadi sesuatu, maka tidak bisa diraih semuanya. Coba bayangkan bagaimana tentara yang menjaga keamanan negara bisa tetap dirumah dan memberikan ceramah?” jelasku. “Tapi Mas Henri bisa kak” Arsya mulai keras kepala. “Karena pekerjaan Mas Henri adalah pembisnis. Mas Henri melakukan penjualan produk sendiri, jadi bisa membuka dan menutup toko dengan bebas. Saat ada tugas dari bapak walikota atau dinas setempat maka tokonya bisa ditutup. Seperti ka Afsantia dan Ka Arda, jualan dirumah dan bisa ditinggal kemana – mana. Gitu lho” jelasku dengan sedikit kesal. Ka Arda masih saja diam sambil tersenyum – senyum. Aku ingin mendapat dukungan dari ka Arda. Tapi, Arsya masih terlalu kecil untuk dijelaskan seperti itu. Pikirannya masih sederhana dan murni. Rumit sekali. “Arsya mau jadi pembisnis saja, biar bisa menjadi tentara, ustad dan politisi” “Anak kecil…..” Ofri ikut kesal. “Hahaha… dek, politisi yang Mas Henri lakukan itu bukan untuk selamanya, tapi sewaktu – waktu. Dan tugas seorang tentara tidak bisa diiringi dengan pekerjaan lain. Tugas tentara itu memastikan NKRI tetap aman. Ditinggal berkedip saja harus digantikan sama yang lain, jadi tidak bisa di dampingi kerja lainnya”. Jelasku berusaha sabar. “Begitu ya kak. Ya sudah, Arsya menjadi pak ustad saja” “Kenapa begitu anak kecil?” “Agar selamat dunia dan akhirat, tante” “MasyaAllah anak kecil. Kalau begini jadi terlihat jiwa santrinya. Besok ke pesantren saja ya, tidak perlu menunggu lulus SD” ucap Ofri sambil memegang bahu Arsya. “Lapar kak….” Ucap Arsya setelah berkeliling Setono sekitar 20 menit dan belum membeli apapun. “Arsya mau makan apa?” Tanya Ka Arda. “Seblak” tegas Arsya. “Kamu sering mengajak Arsya makan seblak ya Fin?” Ujar Ka Arda ke arahku. Aku memejamkan mata. Dalam hati ingin Ku kutuk Arsya dengan kutukan paling kejam didunia. “Hehehe, cemilan anak muda kak” jawabku cengengesan. “Kamu itu Fin” kata Ka Arda. “Kita makan nasi saja ya dek” lanjut ka Arda. Arsya mengangguk. “Kita makan dulu saja ya Fin, nanti kalau mas Henrimu sudah sampai kita kembali ke sini lagi” aku mengangguk sebagai tanda setuju. Ka Afsantia masih melakukan tawar – menawar dengan pedagang. Meski awalnya mengantar, ka Afsantia selalu saja membeli sesuatu. Jiwa belanja ka Afsantia itu tidak bisa dijelaskan lagi. Ada barang bagus langsung dibeli. Tidak heran, jika aku belum dapat batik dan ka Afsantia sudah memborong pakaian. Aku adalah tipe pemilih yang sangat hati – hati. “Kita tidak makan di layah Watu saja Fin..” Bisik Ofri. “Yang es tehnya pakai gelas besar”.. ledekku sambil menjulurkan lidah mengingat alasan klise yang selalu sama. Sebagai anak kost yang baik, mencari makan dengan porsi banyak adalah tujuan utama untuk menghemat biaya saat kuliah. Kau pasti mengerti jika menjadi anak rantau. Wajib mempunyai kemampuan manajeman uang dengan baik dan teliti. “Iya, seperti biasa. Hahaha” balas Ofri. “Ikut ka Arda saja deh, sebagai kaum gratisan kita ikut saja, hahaha” ucapku lirih. Kami makan tidak jauh dari setono. Disana sembari menunggu balasan dari mas Henri. Mungkin Mas Henri sedang ada lembur. Dia sedang berusaha keras untuk menabung biaya pernikahan kami. Aku dan Mas Henri ingin mengawali semua dengan biaya sendiri, salah satunya pernikahan yang akan mempersatukan kami nanti. Setelah mendapat balasan kami bergegas kembali ke setono. Mas Henri menunggu di depan pintu masuk sebelah barat. Dari kejauhan mas Henri sudah melambaikan tangan. Tenang sekali melihatnya, meski dari jauh. Mas Henri menghampiri ka Arda dan ka Afsantia untuk menyapa dan bersalaman. Kali ini, ka Afsantia menunggu dimobil karena Mindy sudah tertidur lelap. Aku langsung mengajak ke toko paling ujung dengan motif batik yang ku pilih. Atasan bruket warna biru dongker dengan rok plisket hitam tanpa banyak motif dan sepasang batik laki – laki berwarna hitam yang bercorak sama dengan rok plisketnya. Aku yakin mas Henri juga suka. Warna kesukaan mas Henri adalah hitam. Mas Henri sedikit mirip dengan ka Arda, memakai baju yang seringkali sama. Seperti tidak ada baju lain lagi. Padahal semua motif bajunya sama. “Pintar sekali kamu memilih baju” puji mas Henri lirih di telingaku setelah melihat baju yang ku pilih. “Calon istrimu mas” jawabku dengan geli. “Tapi itu ukuran bajunya kecil mas, belum tanya ada big size nya atau tidak?” lanjutku. “Mbak, baju batik yang ini ada ukuran lain?” Tanya mas Henri kepada penjual batik. Arsya melepaskan pegangan tanganku dan berpindah ke sebelah kanan mas Henri sambil memegang tangan kanan mas Henri. Mas Henri memegang tangan mungil Arsya. Ofri masih melihat – lihat batik yang ada. Ka Arda pun sama. “Ada ini mas, XXL sisa satu” ujar penjual batik sembari menyerahkan ukuran batik XXL yang tadi di katakana. “Nah ini ukurannya benar mbak. Bungkus ya mbak ini satu sama bruket dan rok plisketnya” kata mas Henri. “Hiiiiiii, itu belum ditawar mas” ucapku lirih dengan nada kesal. “Harus ditawar dulu ya?” “Iya. Kebiasaan banget deh” balasku. Mas Henri memang orang yang tidak pandai menawar. Jika membeli sesuatu tidak peduli harga mahal atau murah, baginya yang penting yang akan dia beli bagus dan itu cukup. Sedangkan aku mengajak membeli di setono karena agar bisa ditawar. Beda sepuluh ribu dua puluh ribu itu berarti bagiku. “Mbak itu berapa?” tanyaku kepada penjual batik sembari meninggalkan mas Henri dengan sedikit kesal. “Dua ratus lima puluh ribu mbak” kata penjual batik. “Seratus lima puluh ya mbak?” tawarku. “Belum bisa mbak. dua ratus lima puluh sudah saya kurangi. Biasanya dua ratus delapan puluh” jelas penjual batik. “Dua ratus deh ya mba” tawarku lagi. “Tambah tiga puluh lagi ya mbak” “Dua ratus ya, kalau engga dua ratus ngga jadi deh” tawarku terakhir kali sambil menggandeng mas Henri pergi. “Kesana saja yuk mas, tadi sepertinya juga ada yang sama kok” ucapku kepada mas Henri sedikit kencang agar penjual batiknya mendengar dan memberikan harga dua ratus ribu. “Tambah dua puluh mbak” rayu penjual batik. Aku masih tidak menoleh dan berharap berkurang lagi “Dua ratus sepuluh ya mbak” rayu penjual batik lagi. Aku berhenti dan berbalik badan. “Oke mbak, bungkus” jawabku ceria. Mas Henri hanya tersenyum dan mengelus kepalaku. Betapa kagumnya dia padaku karena pandai menawar, pikirku. Aku bahagia sekali membeli sepasang baju ini. Bajuku dan mas Henri aku yang membawanya. Karena baju itu akan digunakan membeli bahan untuk membuat baju seragam keluarga. Arsya masih saja menggandeng tangan mas Henri. Bahkan saat mas Henri berpamitan, Arysa masih belum mau melepaskan pegangannya. Akhirnya aku meninggalkan Ofri pulang dengan mobil bersama kakakku, dan aku pulang dengan mas Henri dan Arsya. Mas Henri mengajakku dan Arsya mampir kerumah sebentar untuk berpamitan kepada kedua orangtua mas Henri. Sesampainya dirumah, hanya ada umi mas Henri. Aku bersalaman dan duduk disampingnya. Mas Henri masuk ke dalam dan mengajak Arsya ikut dengannya. Arsya dengan cekatan langsung memegang tangan mas Henri lagi. “Ibu bagaimana kabarnya, Fin?” Tanya umi mas Henri. “Alhamdulillah sehat. Umi dan abah bagaimana kabarnya?” timpalku. “Alhamdulillah sehat. Kalian darimana?” “Dari setono, umi. Membeli baju batik untuk lamaran bulan depan” jelasku. “Senang dengarnya, menantu umi” Jawab umi sambil tersenyum simpul. “Fina kapan senggangnya? Nanti kita beli cincin bareng” lanjut umi. “Akhir pekan Fina libur, umi. Atau setiap ba’da dhuhur Fina sudah pulang kerja”. Jawabku. “Hari ahad depan ya. Nanti abah, umi sama Henri ke rumah Fina, kita pergi beli cincin di Pemalang saja, ya” “Nggih umi” ucapku. “Nanti Ibu bapak Fina sekalian diajak” pinta umi. “Nggih umi” Tak lama kemudian mas Henri keluar dari dalam dan berpamitan pergi. “Umi, Henri mengantar Fina pulang kerumah dulu ya” Pamit mas Henri. “Belum makan belum minum sudah mau pergi. Arsya juga belum main bareng umi sudah mau pergi saja” keluh umi. Arsya kemudian bersalaman dengan umi dan kembali ke belakang mas Henri. “Tidak apa – apa umi. Nanti lain waktu bisa mampir lagi, hehehe” jawabku “Ya sudah hati – hati. Sering – sering kesini ya, Fin” pesan umi. Arsya begitu menikmati perjalanan dengan Mas Henri. Aku senang melihatnya. Mereka akrab sekali. Aku bahagia sekali menantimu begitu lama tanpa status tapi berakhir indah seperti ini. Menolak beberapa orang yang datang sebelum kau datang kerumahku. Aku percaya takdir memang tau kemana arah pulang. Takdir tidak pernah tertukar. Dan takdir selalu indah pada waktunya.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 94 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (10)
KuotaDokter
kyanya cerita ya enak
01/02/2025
0
FitrianingsihNova wahyu
kerenn sihh
10/03/2023
1
IlhamiGhilman
aku kasih bintang 5
karena novelah adalah apklikasi yang sangat recommended dan buat bahan gabut di dalam aplikasi ini bisa mendapatkan uang nyata dan bisa di widraw kapan pun
terimakasih novelah
kyanya cerita ya enak
01/02/2025
0kerenn sihh
10/03/2023
1aku kasih bintang 5 karena novelah adalah apklikasi yang sangat recommended dan buat bahan gabut di dalam aplikasi ini bisa mendapatkan uang nyata dan bisa di widraw kapan pun terimakasih novelah
27/06/2022
0Tingnan Lahat