31 Januari 2021 Usiaku sudah 25 tahun. Ka Arda sudah 33 tahun dan menikah dengan ka Afsantia. Dugaanku benar, semenjak menikah Ka Arda tak bisa bersamaku seutuhnya, hanya bisa sesekali ku ganggu. Kebetulan rumah ka Arda berjarak 10 meter dari rumahku. Bisnis yang dikelola ka Afsantia dikembangkan bersama dan semakin sukses. Pernikahan ka Arda membuatku mengerti darimana sikap dan tindakan ka Arda berasal, dari ibu. Tentang kesabaran, keteguhan, keikhlasan dan banyak lagi, meski terkadang tetap ada sikap buru – buru dan marah – marah. Hari ini aku akan mempersiapkan acara lamaranku. Aku bangun terlambat. Bergegas menyelesaikan pekerjaan rumah atau aku akan terlambat bertemu pemilik cathering yang akan ku pesan untuk acara lamaran nanti. Aku mondar – mandir dengan nafas terengah – engah. Tak kulihat ibu meski hanya sekilas pandangan mata. Entahlah. Aku harus cepat. Klik! Pintu terbuka. Badanku sigap mencari sumber suara. Kutemukan ibu sedang menutup kembali pintu yang baru saja dibuka. Ibu merapikan jilbab yang dipakai. Aku bengong. Bingung. Aku terlambat. Ibu menghampiriku yang sedang mengepel lantai dengan kain lap. “Kamu kok belum siap – siap nok?” Tanya ibu saat tepat berada di depanku. Aku menengadah menatap mata ibu. “Be … be… belum selesai bu. Tadi Fina tidur lagi setelah selesai sholat subuh terus kesiangan” jawabku. “Dikerjakan nanti saja. Kalau kita terlambat nanti bu Siti sudah pergi dan kita hanya bisa bertemu dengan karyawan – karyawannya saja” jelas ibu “Baik bu. Fina mandi sekarang. Fina titip sayur asem yang Fina tinggal ya bu, sama airnya barangkali matang tolong dimatikan” balasku dengan nada cepat dan langsung lari ke kamar mandi. Iya, aku lupa. Beberapa hari lalu aku dan ibu pergi ke rumah bu Siti, pemilik catheting di desaku untuk acara lamaranku bulan depan. Ibu dan bu Siti sudah berteman sejak lama, wajar saja jika ibu ingin pesan cathering langsung ke bu Siti bukan lewat karyawan bu Siti. Sayangnya, akhir – akhir ini bu Siti jarang di rumah karena mengurus cabang cathering di desa lain. Bu Siti sudah memiliki 5 cabang cathering di desa – desa tetangga dengan usianya yang kini sudah memasuki usia 40 tahun. Badannya gemuk dan tinggi. Rambut hitam miliknya selalu disanggul ketika keluar rumah. Kelima anaknya sudah berkeluarga dan memilih tinggal terpisah di rumah masing – masing. Sedangkan bu Siti tidak mau meninggalkan rumah yang memiliki banyak kenangan itu, tanpa penyesalan bu Siti memilih tinggal sendiri dan mengurus usaha cathering yang sudah dirintis bersama almarhum suaminya sejak 5 tahun lalu. Kuharap, kali ini bisa bertemu langsung dengan bu Siti sekaligus menyampaikan kabar gembira perihal lamaranku dengan Henri. “Ayok bu” ajakku setelah selesai bersiap – siap. “Sebentar nok” ujar ibu sambil berjalan ke dalam rumah lagi saat sudah sampai didepan pintu. “Pak, teh sama nasinya di meja belakang ya, sekalian sama Arsya diajak sarapan. Ibu sama Fina mau kerumah bu Siti” teriak ibu didepan kamar lalu bergegas pergi meski tak ada sautan sauara. Arsya adalah adikku satu – satunya. Ia lahir ketika aku lulus SMA, usianya sekarang memasuki 8 tahun. Ia duduk di bangku kelas dua SD. Arsya menjadi alasanku untuk tidak manja dan berusaha berperan seperti ka Arda yang menjadi sosok idaman bagi adiknya. Setiap hari libur, Arsya memang selalu bangun siang. Tugasnya memang hanya bersekolah, jika sekolah libur bangun mau apa? Biarkan saja tertidur lelap. Jarak rumahku dengan bu Siti sekitar 10 menit dengan jalan kaki. Kira – kira terpisah lima rumah tetangga. “Assalammualaikum bu Siti” sapa Ibu melihat bu Siti sedang duduk sambil meminum teh. “Waalaikumsalam bu” timpal bu Siti. “Pagi – pagi sudah sampai rumah saya saja, ada apa bu?” lanjut bu Siti. “Mau memesan makanan untuk tasyakuran bu” ujar Ibu “Sebentar ya bu, saya buatkan teh dulu. Silahkan duduk” “Baik bu” Aku hanya diam. Takut salah berkata, bisa – bisa ibu akan mengomentariku tanpa henti dirumah. “Monggo diminum tehnya” ucap bu Siti ketika menyuguhkan secangkir teh kepadaku dan Ibu. “Oh iya, ibu memesan untuk tasyakuran apa bu?” Tanya bu Siti. “Begini bu Siti. Anak perempuan saya mau lamaran bulan Februari. Saya ingin memesan cathering di bu Siti sekalian mengundang bu Siti untuk hadir di acara tersebut. Bagaimana bu?” jelas Ibu. “Subhanallah. Fina sudah besar sekarang ya bu. Dulu waktu kecil sering menangis kalau diajak orang yang baru kenal dan tidak mau melepaskan tangan Ibunya. Beranjak dewasa jadi tuan putrinya Arda, Sekarang sudah harus bersama orang lain saja” kenang bu Siti. “Iya bu, Alhamdulillah. Sekarang saya yang tidak mau melepaskan Fina” keluh Ibu. “Nanti kalau sudah menikah, jangan lupa sering-sering main kerumah ibu kamu ya Fin” pesan bu Siti. “Fina baru lamaran bu, belum nikahan. Hehehe” Jawabku tersipu malu. “Kalau sudah lamaran, artinya orangtua harus siap – siap berpisah dengan anak perempuannya. Menikah itu bisa saja tiba –tiba satu bulan lagi Fin. Anak kedua Ibu, bulan November lamaran, bulan Desember awal sudah menikah. Padahal bilangnya mau menikah tahun depan. Takdir itu rahasia. Barangkali setelah berinteraksi pihak calonmu langsung memutuskan percepatan akad” pungkas bu Siti. “Fina belum siap bu” ucapku refleks. “Apa kamu tidak ingat dulu waktu kakakmu lamaran? Itu kan satu bulan kemudian langsung menikah” Lanjut bu Siti. “Iya ya bu, Fina lupa” “Iya fin, bahkan kakakmu itu lho semakin sukses semenjak menikah. Ibu juga bahagia sekali melihatnya. Apalagi ibumu” Puji bu Siti. “Ka Arda memang selalu menjadi kebanggan keluarga bu dan bisa diandalkan. Tapi Fina belum sesiap ka Arda untuk menikah dalam waktu dekat” kataku. “Sudah nok sudah. Belum tahu juga bagaimana kedepannya. Persiapkan yang sudah pasti saja” tegas Ibu. “Iya benar bu. Ibu mau pesan berapa dus?” bu Siti berusaha mengalihkan pembicaraan. “50 dus ya bu” “Baik bu” “Bu Siti, kabar ini jangan menyebar ya. Fina berharap di acara lamaran hanya ada keluarga dekat dan tidak ada yang tau. Orang lain cukup tau setelah acaranya selesai saja” pintaku. “Iya, bu Siti tidak akan beritahu siapapun” “Terimakasih bu Siti” “Lamarannya tanggal berapa bu?” Tanya bu Siti. “Tanggal 17 Februari sekitar jam Sembilan. Untuk tasyakurannya nanti dibagikan ke tetangga saja bu, ba’da asar saja. Untuk jamuan di acara nanti masak – masak sendiri, kalau bu Siti sempat boleh membantu” jelas Ibu “Baik bu, nanti saya datang kerumah Fina saat mempersiapkan jamuan” Aku dan Ibu pun berpamitan. Melanjutkan persiapan lain yang diperlukan. Anganku tak perlu menyiapkan apapun. Bagiku cukup dia datang dengan kedua orang tuanya dan selesai. Ternyata, ibu ingin mengadakan syukuran dan melakukan prosesi seperti sepasang muda – mudi di zaman sekarang. Sepertinya ibu tau dari acara lamaran Intan dua minggu yang lalu. Acaranya sedikit meriah menurutku. Aku anak perempuan satu – satunya dalam keluarga. Semua prosesi klasik dan modern harus ada. Begitu kata Ibu. Kali ini ibu mengajakku ke pasar. Memesan bahan makanan yang akan diambil menjelang hari lamaran. Ibu mendatangi semua penjual langganan ibu di pasar. Penjual tempe, tahu, kacang tanah, sayuran, jajanan pasar, jahe, tepung, terigu, beras, telur, minyak dan lainnya aku lupa. Ibu memesan bahan – bahan itu jauh – jauh hari dan memberikan beberapa uang sebagai jaminan pesanan itu. Aku hanya diam, seperti biasa. Mengikuti langkah ibu dari belakang tanpa berkata apapun. “Beli bunga – bunga seperti ini dimana nong?” Tanya ibu setelah keluar dari pasar. Benar saja. Ibu menunjukkan foto lamaran Intan. Menunjukkan semua aksesoris yang ada dalam acara tersebut. “Toko aksesoris sepertinya ada bu, di online juga ada. Teman Fina juga ada yang bisa membuat” ujarku. “Nanti kamu yang beli ya, sama beli baju batiknya. Beli sama Henri saja, Ibu tidak mengerti kalau beli seperti itu” saran ibu. “Iya bu. Nanti kalau mas Henri libur kerja ya bu” sahutku. Ibu adalah orang yang benar – benar tidak terduga. Tidak bisa dimengerti. Susah ditebak. Selalu istimewa meski kadang menyebalkan. Awalnya ibu diam tak peduli. Setelah aku bilang tanggal 17 Februari kalau diizinkan oleh ayah dan ibu, mas Henri akan datang, ibu langsung membicarakan banyak hal tentang persiapan yang aku sendiri tak mengerti. Barangkali, waktu itu ibu takut aku kecewa dengan janji yang tanpa bukti. Aku yang takut tidak diizinkan dan memikirkan sendirian, kini mendapatkan dukungan dari ayah dan ibu. Dukungan ibu yang terdengar berlebihan. Bahkan sampai aku heran, benarkah itu ibu? Sebahagia itukah Ibu? Atau aku yang terlalu takut sendirian. Entahlah. Aku sayang padamu, Ibu.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 31 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (10)
KuotaDokter
kyanya cerita ya enak
01/02/2025
0
FitrianingsihNova wahyu
kerenn sihh
10/03/2023
1
IlhamiGhilman
aku kasih bintang 5
karena novelah adalah apklikasi yang sangat recommended dan buat bahan gabut di dalam aplikasi ini bisa mendapatkan uang nyata dan bisa di widraw kapan pun
terimakasih novelah
kyanya cerita ya enak
01/02/2025
0kerenn sihh
10/03/2023
1aku kasih bintang 5 karena novelah adalah apklikasi yang sangat recommended dan buat bahan gabut di dalam aplikasi ini bisa mendapatkan uang nyata dan bisa di widraw kapan pun terimakasih novelah
27/06/2022
0Tingnan Lahat