logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Ujian Nasional

Selama ujian Nasional aku selalu berangkat tepat lima menit sebelum ujian di mulai. Ada dua alasan yang menyebabkanku melakukan hal tersebut. Pertama, aku tidak ingin berbincang – bincang dengan temanku sebelum ujian dimulai karena itu bisa menganggu konsentrasiku dalam mengerjakan soal nantinya. Kedua, aku tidak ingin belajar dengan mereka. Bukan bermaksud menganggap mereka bodoh sehingga aku tidak mau belajar dengan mereka. Hanya saja aku tidak bisa mengingat apa yang aku pelajari dengan baik saat sebelum ujian aku belajar yang lain bersama teman – teman. Jika hal itu terjadi, aku hanya akan mengingat apa yang aku pelajari bersama teman – teman sebelum ujian. Lalu, belajarku selama ini akan sia – sia. Maka lebih baik aku memutuskan untuk berangkat ke sekolah lima menit sebelum ujian dimulai. Dan seusai sholat subuh aku sama sekali sudah tidak membuka buku lagi. Aku memanfaatkan waktu untuk olahraga dan menyiapkan sarapan kemudian makan bersama Budhe Hesti dan Pakdhe Diro. Kehadiranku di rumah Budhe ternyata membuat senang.
“Sejak ada kamu, Budhe merasa Nuke ada di rumah ini. Meskipun kalian berbeda dan terpaut usia lima tahun, tetap saja Budhe merasa sedang ada Nuke dirumah ini” Ujar Budhe saat sedang sarapan di meja makan. Nuke adalah anak Budhe dan Pakdhe yang pertama. Ia sedang duduk di kelas dua SMP dan berada di pondok pesantren Darul Amanah, Kendal. Sedangkan anak keduanya bernama, Azka. Ia berusia sepuluh tahun. Azka pun sudah di pondok pesantren kan di Cilacap. Perbedaan wilayah itu karena permintaan dari mereka masing – masing saat di berikan tawaran.
“Iya benar Fin, nanti kalau ujiannya sudah selesai sering – sering main ke sini ya. Pakdhe sama Budhe sering merasa kesepian”.
“Siap”. Jawabku sambil terus melanjutkan sarapan. “Fina ingin seperti Nuke dan Azka Budhe”. Lanjutku.
“Kenapa memang?” Tanya Budhe.
“Fina ingin mondok di pondok pesantren. Tidak perlu sejauh Nuke atau Azka. Cukup pondok pesantren yang dekat dengan rumah pun tak mengapa”. Jelasku.
“Nanti lulus SMA, Fina kuliah sambil mondok saja”. Saran Pakdhe.
“Memangnya boleh?”
“Boleh sayang, Fina inginnya dimana?” Tanya Budhe.
“Di Pekalongan saja Budhe yang dekat. Nanti biar bisa di jenguk setiap minggu, hehehe”.
“Tidak malu terus di jenguk?” Tanya Budhe dengan nada mengejekku.
“Hehehe, Belum tau”. Jawabku.
“Ya sudah, dipikirkan nanti setelah pengumuman ujian nasional saja Fin”. Saran Pakdhe.
“Siap, Fina berangkat ujian dulu ya Budhe, Pakdhe. Do’akan Fina”. Pintaku. “Assalammualaikum” Ucapku setelah sampai dipintu depan rumah.
“Waalaikumsalam” Jawab Budhe dan Pakdhe dari dalam rumah.
Hari itu adalah hari terakhirku ujian nasional. Selesai ujian nasional, Budhe dan Pakdhe sudah di depan gerbang sekolah. Tanpa berpikir panjang, aku berlari kearah mereka. Menyapa mereka dengan senyuman hangat. Wajah mereka nampak gelisah. Entahlah.
“Budhe” sapaku saat Budhe membuka jendela mobil.
“Fina. Sudah selesai?”
“Sudah Budhe. Hari ini Fina pulang kerumah kan? Tanyaku.
“Iya. Tidak ganti baju dulu”
“Tidak perlu. Budhe kenapa? Matanya merah?” Tanyaku sambil meneliti wajah Budhe yang nampak gelisah.
“Fina....” Panggil Budhe.
“Iya Budhe” Jawabku dengan melemparkan senyuman. Tangan Budhe membuka lebar. Aku memaknainya dengan segera memeluk erat tubuh Budhe. Dalam pelukan itu, aku mendengar isak tangis Budhe. Ku tatap Pakdhe. Pakdhe menutup wajah dan memalingkannya dariku. “Ada apa Budhe?” Tanyaku kemudian.
“Budhe sedih Fina sudah tidak tinggal bersama Budhe lagi”. Jelas Budhe.
“Nanti Fina bisa sering main kesini bareng Kak Arda Budhe” Ucapku.
“Fina sehat terus ya...” Pinta Budhe.
“Iya Budhe. Jangan sedih. Fina nanti akan sering kesini bareng Kak Arda” Ucapku sekali lagi.
Kami masuk mobil. Budhe duduk di belakang bersamaku. Terus memeluk tubuhku berulang kali. Pakdhe sesekali melihat Budhe dengan wajah sedih dari kaca mobil di samping kepalanya.
Tak lama kemudian kami sampai di desa.
“Beeb.. Beeb..” Klakson mobil Pakdhe di bunyikan sebagai sapaan pada tetangga yang Pakdhe kenal di desa sambil membuka kaca mobil dan tersenyum padanya. Pakdhe memang orang yang ramah. Meski sudah mendapatkan kekayaan yang berlimpah, Pakdhe tidak lupa dari mana berasal. Pakdhe juga tidak bersikap sombong dan congkak pada orang – orang di desa saat berkunjung ke desa seperti saat ini. Tak heran meski sudah tidak tinggal di desa, masih banyak orang desa yang mengenal Pakdhe dengan baik.
“Assalammualaikum” Teriak Pakdhe setelah sampai di depan rumahku dan turun dari mobil sedan hitamnya.
“Waalaikumsalam” Jawab Kak Arda dengan kencang yang langsung berlari ke arah kami.
“Kamu sehat nak?” Tanya Pakdhe saat Kak Arda bersalaman dengan Pakdhe.
“Alhamdulillah Pakdhe, Fina bagaimana di sana pakdhe. Merepotkan?” Tanya kak Arda.
“Tidak sama sekali. Selama Fina tinggal bersama kami, kami sangat senang. Seperti di temani anak sendiri” Celetuh Budhe sambil terus berada di sampingku.
“Syukurlah budhe”. Ucap Kak Arda. “Apa Fina sangat betah di rumah Pakdhe dan Budhe?” Tanya Kak Arda menundukkan kepalanya di depanku. Aku mengangguk pelan.
“Oh ya Kak Arda, Ayo kerumah nenek. Fina mau bercerita tentang ujian Fina” Ajakku.
“Sekarang?”Tanya Kak Arda.
“Iya Kak Ardaku tersayang”. Jawabku.
“Di izinkan tidak Pakdhe?” Ujar Kak Arda kepada Pakdhe dengan nada bercanda.
“Tidak mengerti pakdhe. Itu urusan kalian. Pakdhe dan Budhe ke dalam dulu ya Arda”. Kata Pakdhe sambil mengajak budhe masuk ke dalam rumah
“Iya Pakdhe, terimakasih”. Ujar Kak Arda. Aku tertawa puas.
Aku menarik lengan Kak Arda. Berlarian menuju rumah nenek. Sesampainya di rumah nenek, Kak Arda menyuruhku masuk sendirian. Kak Arda duduk di teras sendirian sambil bermain ponsel. Mungkin sedang asyik dengan kekasihnya. Biarkan saja.
“Fin, kamu yang sabar ya”. Ungkap bibi.
“Kenapa bi?”
“Sebenarnya nenek sudah meninggal sejak kamu di titipkan di rumah Pakdhe”. Ucap Bibi terbata – bata.
“Inalillahi wainnailaihi roji’un” Ujarku terkejut. Pandanganku kosong. Memoriku kembali pada tiga hari yang lalu pada wajah semua saudaraku didesa. Mata mereka yang merah dan lebam di hari yang sama terjadi karena berita duka. Pada ucapan bibi yang mengatakan “nenek butuh istirahat”. Dan pada jadwal kegiatan kakak yang mendadak ada kepentingan itu. Aku ingin marah pada semua orang. Tapi, Bibi menjelaskan sebabnya. Aku terus menangis, menangis dan menangis.
“Arrrrrgghhhhhhhhh.....” Teriakku sekencang mungkin. Sampai terdengar dari luar. Kak Ardapun langsung menghampiriku.
“Fina??”
“Kak Arda kenapa?” Teriakku terus meneteskan air mata.
“Fina sudah mengetahui berita dukanya?” Tanya Kak Arda masih dengan nada tenang.
“Sudah. Bibi baru saja menceritakan semuanya pada Fina tadi. Fina kecewa dengan Kak Arda. Fina menganggap Kak Arda tidak pernah berbohong ke Fina. Kenapa Kak Arda bohong sama Fina... Kenapa kak?”
“Fina masih ingat apa yang Kak Arda tanyakan sebelum kak Arda mengantar Fina ke rumah Pakdhe di sana?”
“Tanya apa?”
“Kalau Fina sudah tidak bisa bertemu lagi dengan nenek, apa Fina merasa sangat sedih?. Ingat?” Ungkap Kak Arda mengingatkan.
“Tapi, kak Arda tidak bilang itu terjadi? Saat Fina tanya kenapa mereka bersedih, kak Arda menjawab tentang pekerjaan kak Arda”.
“Kak Arda tidak berbohong. Berita duka itu memang menjadi topik utama, tapi kesedihan kakak jika belum bekerja menjadi berita duka sampingannya”. Jelas Kak Arda.
“Fina benci Kak Arda” Tegasku. Kemudian berlari meninggalkan Kak Arda di rumah nenek. Kak Arda mengejar tanpa suara, hanya tetap berada di belakangku yang entah berjalan ke mana.
Aku larut dalam kekecewaan dan kesedihan yang tidak terungkapkan. Isak tangisku semakin menjadi. Rasa kecewaku pada Kak Arda sangat besar. Rahasia yang Kak Arda sembunyikan dariku hanya karena ujian. Aku kecewa pada Kak Arda yang selalu mengatakan bahwa nilai bukan segalanya, tapi saat ada berita duka Kak Arda setuju jika berita duka bisa membuatku tidak tenang menghadapi ujian. Seakan dengan berita duka itu, nilaiku akan turun. Aku merasa kehilangan sosok Kak Arda. Kak Arda yang tak pernah hanya terpaku pada hasil akhir. Kak Arda yang lebih menghargai proses. Kak Arda yang selalu berpikiran positif. Dari kejadian itu, seolah Kak Arda lebih mementingkan nilai daripada perasaanku saat mengetahui nenek meninggal.
Tapi, ada titik dimana aku sangat mengerti apa yang dilakukan kak Arda adalah benar. Aku sadar bahwa Kak Arda selalu melakukan segala sesuatu penuh dengan pertimbangan tanpa buru – buru. Berlahan aku bisa mengerti alasan kak Arda menyetujui hal itu dilakukan padaku. Aku berusaha mengingat semua yang di lakukan Kak Arda padaku selama ini. Aku sedikit tenang. Tapi sesaat kemudian aku teringat bahwa kak Arda tidak memberitahukan bahwa nenek telah meninggal. Setidaknya sebelum bertemu Kak Arda aku sudah berusaha untuk sedikit memahaminya.
Aku teringat akan sebuah pepatah tua yang mengatakan bahwa satu kesalahan yang dilakukan seseorang mampu menghapus segala kebaikan yang pernah dilakukan. Kurasa itu terjadi saat ini padaku. Semua kebaikan yang Kak Arda lakukan padaku seolah musnah hanya karena satu kesalahan yaitu, tidak memberitahu padaku tentang berita duka yang terjadi pada nenekku tercinta.
Sekitar tiga puluh menit kemudian kakiku sudah sangat lelah. Bahkan tak sanggup untuk berjalan. Lunglai. Kak Arda berlari menghampiriku. Memegang tubuhku yang hampir terjatuh sepenuhnya ke tanah.
Aku masih terdiam seribu bahasa. Melihat Kak Arda yang terus berusaha membuatku berbicara. Aku menutup mataku, karena sedang tidak ingin melihat Kak Arda. Bibirku berkomat – kamit berbicara tanpa suara. Hidungku naik turun tak beraturan. Air mataku kembali mengalir dari mataku yang terpejam. Masih dalam mata tertutup, ada tangan lembut yang mengusap air mata itu. Aku tau itu adalah tangan Kak Arda. Seketika aku langsung membuka mata, menangis sejadi – jadinya di depan Kak Arda. Aku melihat senyuman dari Kak Arda. Tapi, aku membalasnya dengan pukulan yang berulang ke arah tubuhnya. Kak Arda hanya diam dengan terus tersenyum. Sampai aku lelah dan jatuh terduduk sambil menundukkan kepala.
“Sudah lega?” Tanya Kak Arda saat aku terduduk di tanah
“Kak Arda menyebalkan” Jawabku.
“Lalu?”
“Kak Arda tidak sayang sama Fina”.
“Fina boleh mengatakan apapun, tapi tentang perasaan, hanya kak Arda yang bisa mengungkapkan dengan pasti” Jelas Kak Arda. Aku kembali menangis lagi. Seakan tidak bisa mengatakan apapun lagi selain air mata. “Kalau Fina masih ingin menangis, menangis saja dulu sampai Fina merasa lega. Kalau Fina ingin memarahi Kak Arda, marah saja sampai tersampaikan semua amarah itu”. Lanjut Kak Arda.
“Kak Arda menyebalkan”. Ucapku dan menangis kembali.
Beberapa menit kemudian. Aku merasa sudah cukup menangis dan memarahi Kak Arda. Aku tegakkan kepalaku. Aku menatap wajah Kak Arda yang masih saja tersenyum dengan tulus padaku. Dengan cepat, aku langsung memeluk Kak Arda.
“Kak Arda minta maaf ya dek” Ujar Kak Arda saat aku memeluknya. Kak Arda memang orang yang paling mengertiku. Menerima kemarahan yang aku arahkan padanya. Menghadapiku dengan begitu sabarnya. Menunggu sampai aku bisa lega dengan sendirinya. Dan kemudian menenangkan semuanya saat aku sudah bisa memeluknya sebagai tanda memaafkan.
“Iya kak” Jawabku singkat.
“Kak Arda sama sekali tidak berniat untuk berbohong pada Fina. Kak Arda hanya mengalihkan fokus Fina saat itu. Fina lebih memahami Kak Arda dari siapapun, Kak Arda percaya bahwa Fina bisa memahami sikap Kak Arda. Fina, Kak Arda sangat sayang sekali sama Fina. Fina boleh bilang apapun yang Fina suka. Fina boleh bilang Kak Arda jahat, pembohong, penipu atau apapun. Tapi, tolong jangan katakan Kak Arda tidak menyayangi Fina. Fina boleh membenci Kak Arda. Tapi, Fina harus paham dan sadar jika Kak Arda akan selalu dan terus menyayangi Fina sebagai adik tersayang yang Kak Arda miliki” Jelas Kak Arda saat aku dalam pelukannya. Aku masih terdiam tanpa berbicara sepatah katapun. “Fina tau kenapa Kak Arda melakukan itu?” Tanya Kak Arda. Aku hanya menggelengkan kepala. “Awalnya Kak Arda tidak setuju dengan ide tersebut, tapi berhubung Kak Arda mengetahui betapa besar rasa sayang Fina ke nenek, maka Kak Arda takut jika Fina terlalu larut dalam kesedihan. Kak Arda bukan takut Fina tidak mendapatkan nilai buruk saat ujian. Tapi, Kak Arda takut Fina jatuh sakit jika hari itu terluka karena berita duka dan keesokan harinya sakit karena soal ujian yang berbelit. Maka harus ada satu yang di selesaikan dulu. Tidak harus dua berita itu di jadikan satu dalam satu waktu. Dan akhirnya Kak Arda setuju untuk mengikuti ide mereka dengan membiarkan Fina ujian dulu nanti selesai ujian akan diberi tahu tentang berita duka itu. Kak Arda tau bagaimana Fina akan bereaksi setelah tau berita duka, Kak Arda sudah siap dengan itu semua yang akan Fina lakukan. Kak Arda mengaku salah dan meminta maaf yang telah terjadi. Apapun yang bisa menenangkan Fina akan Kak Arda lakukan setelahnya. Maafkan Kak Arda ya dek” Jelas Kak Arda dengan nada tulus dan penuh harap,
“Tapi Kak Arda berbohong”. Tegasku.
“Sudah Kak Arda katakan bahwa Kak Arda tidak berbohong dengan Fina tentang apapun. Kak Arda hanya mengalihkan fokus Fina”. Ulang Kak Arda.
“Bagaimana cara mengalihkannya. Fina merasa di tipu”.
“Dengan mengajak Fina ke rumah Budhe di kota”. Jelas kak Arda. Aku terdiam sejenak. Dan tersenyum seketika.
“Iya juga, Fina baru ingat, hahaha” Jawabku.
“Maafkan Kak Arda ya dek” Pinta Kak Arda.
“Iya Kak Arda”. Kataku sambil menghapus bekas air mata dipipi dan menggantinya dengan senyuman simpul.
“Alhamdulillah Kak Arda baru saja melihat pelangi di gelapnya alam semesta”. Ucap Kak Arda, aku tersipu malu mendengar ucapan Kak Arda.
“Nampaknya alam semesta baik – baik saja dan tidak gelap”. Ucapku sambil melihat ke arah langit yang begitu cerah dengan teriknya mentari, berpura – pura tak mengerti maksud kak Arda. “Kak Arda sedang sakit, hahaha” Lanjutku sambil memegang jidat Kak Arda.
“Tidak bisa Kak Arda tunjukkan. Semestanya sudah secerah mentari, bagaimana bisa Kak Arda tunjukkan kegelapan itu?” Pungkas Kak Arda dengan gaya berpikir menghadap ke arah langit. “Mau melihat keceriaan alam semestanya Kak Arda yang tadinya gelap gulita?”. Tawar Kak Arda.
“Boleh” Jawabku singkat.
“Ayo bangun, Kak Arda tunjukkan”. Tutur Kak Arda sambil mengulurkan tangan untuk membantuku bangun berdiri. Setelah aku berdiri, Kak Arda menyuruhku berjalan ke depan. Aku mengikuti perintahnya. Kak Arda menarikku dari belakang saat aku melewati jendela rumah tetangga. Tangannya menuntun wajahku melihat ke arah kaca bening itu.
“Itu alam semestanya Kak Arda. Kalau alam semesta itu gelap gulita semua tiada berarti lagi bagi Kak Arda. Hangat teriknya mentari, sejuknya embun pagi, indahnya warna pelangi, mempesonanya senja, gemuruhnya ombak laut, semua hanya seperti gelapnya langit, perihnya luka dan gemuruhnya petir yang membuat semua orang ketakutan. Itu yang bisa Kak Arda rasakan saat alam semestanya Kak Arda suram. Bagi Kak Arda, alam semesta yang tiada batas bisa bersekat karena kemuraman wajahmu dek. Janji ya jangan mengatakan Kak Arda tidak menyayangi Fina. Kalau perlu beritahu Kak Arda apa yang harus dilakukan supaya Fina percaya betapa besar rasa sayang yang Kak Arda miliki untuk Fina”. Ungkap Kak Arda sambil menunjuk ke arah wajahku yang nampak jelas di kaca jendela.
“Tidak perlu Kak. Semua yang telah berlalu menjadi bukti betapa besar Kak Arda menyayangiku. Tidak perlu selalu ada karena Kak Arda bukan Tuhan. Tidak perlu berusaha sempurna karena Kak Arda hanya manusia biasa. Fina, ingin Kak Arda bersikap sewajarnya saja seperti biasa. Seperti itu saja sudah menunjukkan betapa besar rasa sayang Kak Arda. Jadi tidak perlu berlebihan. Bukankah sesuatu yang berlebihan itu tidak baik Kak?”. Jawabku
“Kesedihan yang berlebihan juga tidak baik. Jangan terlalu larut dalam kesedihan ya. Fina ingat tentang firman Allah yang mengatakan bahwa Setiap yang bernyawa pasti akan mati?”
“Iya itu surat Al Imran ayat 185. Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian” Ucapku
“Benar sekali. Fina boleh sedih atas kepergian nenek. Tapi jangan berlebihan ya. Ikhlaskan kepergian nenek”. Saran Kak Arda
“Siap kak”
Aku menghapus bekas air mata yang ada dipipiku. Aku berhasil bersikap tenang. Amarahku sudah terlampiaskan. Kesedihanku sudah tertumpahkan. Kini, aku berjalan dengan tenang menuju ke rumah untuk bertemu Ayah dan Ibu yang sedang berbincang dengan Pakdhe dan Budhe. Kak Arda mengikuti dari belakang.
“Assalammualaikum Ayah, Ibu” Sapaku saat sudah berada di depan pintu yang terbuka. Dariluar nampak mereka tengah berbincang – bincang hangat ditemani secangkir teh manis dan biskuit yang tersedia di meja tamu.
“Waalaikumsalam” Jawab Ayah, Ibu, Pakdhe dan Budhe dari dalam rumah.
“Anak Ayah sudah pulang. Bagaimana Ujiannya sayang?” Kata Ayah yang melihatku berjalan ke arah ruang tamu dan menyalami semua orang satu persatu.
“Ayah tau, ujiannya luar biasa”. Jawabku.
“Kamu bisa menjawab dengan baik?”
“Kalau ujiannya luar biasa, jawaban yang aku berikan pasti istimewa. Tapi, kalau Ayah menanyakan hasil ujiannya, masih menjadi rahasia”. Ungkapku.
“Kalau nilai jangan dijadikan prioritas ya yah. Pengetahuan yang sesungguhnya bukan dilihat dari nilai yang didapatkan. Tapi dari pengetahuan yang sudah melekat di dalam hati dan pikiran. Kalau nilainya bagus tetapi tidak bermoral bagaimana?, lihat hasil belajar Fina dari sikap dan tingkah lakunya yang semakin bagus”. Kak Arda berusaha mengingatkan Ayah yang terdengar berharap nilai Fina yang sempurna.
“Iya nak, tenang saja. Ayah hanya bertanya tidak memberikan tuntutan”. Jelas Ayah. Kak Arda tersenyum senang mendengar jawaban ayah yang sesuai harapan.
“Fina, Ibu minta maaf ya?” Ucap Ibu.
“Untuk apa bu?”
“Karena terlambat memberitahukan kabar duka pada Fina” Ungkap Ibu. Raut wajahnya penuh penyesalan. Matanya berkaca – kaca seolah teringat dengan peristiwa kehilangan tempo hari. Mulutnya bergetar menandakan sulitnya untuk memberitahukan kabar duka itu.
“Ibu.... tidak apa – apa. Fina mengerti. Fina percaya semua melakukan ini untuk kebaikan Fina. Terimakasih ya bu. Awalnya Fina memang kecewa tapi Fina sudah bisa menerima itu dengan lapang dada. Ibu jangan bersedih. Allah lebih menyayangi nenek dari pada kita. Jadi, Allah menyuruh nenek pulang, agar bisa menemani kakek disana. Ibu jangan sedih ya” Ujarku dengan penuh senyuman.
Ibu pasti membayangkan sikapku yang akan mengamuk jika tau berita duka ini. Sekali lagi, aku memang kecewa dengan sikap mereka. Tapi, Kak Arda berhasil menenangkanku. Aku bersyukur sekali mempunyai kakak seperti Kak Arda. Kesedihan dan kekecewaan besar yang bersemayam di dalam hati bisa dikalahkan dengan kelembutan hati. Sikap aroganku dihadapi dengan tenang sampai emosiku bisa terkontrol dengan baik. Ibu yang terlihat panik menjadi tersenyum lebar melihat sikapku yang tenang.
“Fina ingin istirahat sebentar. Nanti ba’da asar Fina mau berziarah ke makam nenek ya”. Pintaku.
“Iya nak” Jawab Ibu.
Kak Arda duduk bersama mereka untuk berbincang – bincang. Aku berpamitan untuk istirahat. Dan berjalan meninggalkan mereka menuju ke kamar tidurku yang berada tepat di belakang ruang tamu.
Sesampainya di kamar tidur. Ku rebahkan tubuhku yang masih menggunakan seragam abu – abu. Aku ingin langsung mengistirahatkan tubuhku. Tapi, mataku tak kunjung terpejam. Teringat akan hari – hari yang aku lalui bersama nenek. Mataku menatap langit – langit rumah. Tak lama kemudian meneteskan air mata. Aku kembali menangis dalam keheningan. Kesedihanku memang berhasil di kendalikan. Namun bukan berarti kesedihan itu bisa sepenuhnya dihilangkan. Kehilangan seseorang yang sangat berarti sangat menyiksa diri. Aku tidak lagi menyalahkan kak Arda ataupun keadaan. Aku menyalahkan diriku. Saat aku datang ke rumah nenek, bukankah nenek sudah lemah tak berdaya di atas tempat tidur. Bukankah nenek tak terbiasa dengan hal itu?. Harusnya aku tidak pergi begitu saja melihat kebiasaan nenek yang tidak seperti biasanya. Air mataku keluar semakin deras membayangkan hari itu. Sungguh itu salahku yang tak mampu memahami apa yang terjadi. Kematian memang takdir. Waktu hanya berlalu. Jadi, bukan mereka yang salah. Bukan salah Allah y
ang memanggil nenek dengan kematian. Bukan salah waktu yang datang tak tepat. Takdir itu sudah di tuliskan dengan jelas dan pasti. Kematian nenek pun sama. Ini salahku yang tak memahami keadaan nenek saat itu. Bodoh sekali. Setelah beberapa waktu aku menyalahkan diri, akupun terlelap tidur.
Ku harap kalian tau bagaimana perasaanku. Sedih. Gelisah. Kacau sekali rasanya. Tak bisa kuungkapkan lagi. Tapi, ku mohon jangan salahkan siapapun untuk hal ini. Biarkan semua menjadi indah dengan bimbingan dari yang maha kuasa. Aku sudah cukup tegar dan tenang meski tetap saja mengalirkan air mata. Percayalah!
* * *
Selesai sholat ashar berjamaah di masjid dekat rumah, aku dan Kak Arda pamit kepada Ayah dan Ibu untuk berziarah ke makam nenek. Ternyata Ayah dan Ibu juga akan berziarah kemakam nenek. Kamipun berziarah bersama ke makam nenek. Kami pergi ke makam nenek menggunakan mobil milik Budhe dan Pakdhe yang sekarang sedang berkunjung di rumah bibi.
“Assalammualaikum” Sapa ku yang terlebih dahulu sampai di rumah bibi.
“Waalaikumsalam keponakan” Jawab bibi penuh kegirangan yang melihatku datang dengan senyuman. “Bibi minta maaf ya Fin” Ucap Bibi setelah aku berdiri di depannya.
“Tidak apa – apa bi. Fina mengerti. Budhe sama Pakdhe masih disini?” Tanyaku.
“Masih. Katanya mau mengantar Fina berziarah ke makam nenek” Jelas Bibi. Aku mengangguk tegas. “Anak kakak sudah dewasa ya. Bisa menerima kenyataan dengan tenang”. Ujar Bibi setelah Ayah, Ibu dan Kak Arda baru saja sampai di rumah Bibi.
“Siapa dulu kakaknya”. Ucapku.
“Kenapa yang di bawa – bawa Arda bukan kalian kak?” Sindir bibi pada ayah dan ibuku.
“Lho,, lho,,, lho,,, ini rahasia anak muda bibi” Ujarku. Di susul dengan gelak tawa.
“Ya sudah lah. Urusan anak muda” Kata Bibi sambil tertawa terbahak – bahak.
Budhe dan Pakdhe pun menghampiri kami. Mengatakan sudah siap untuk pergi berziarah ke makam nenek. Kami berpamitan kepada bibi yang berada di rumah sendirian karena paman sedang bekerja. kami pun berangkat naik mobil milik Pakdhe.
Sesampainya di pemakaman. Aku ingin sekali menangis lagi di atas nisan nenek. Tetapi aku merasa malu karena sudah bersikap tenang tapi tiba – tiba kembali bersedih. Kami mengawali ziarah dengan mengusap batu nisan nenek sebagai tanda salam kepada ahli kubur. Kemudian membacakan do’a tahlil yang dipimpin oleh Ayah. Selesai berdo’a, aku meminta izin untuk bercerita kepada nenek. Aku pun di izinkan. Mereka tidak pergi meninggalkanku. Mereka khawatir aku akan bersedih kembali.
“Assalammualaikum nenek. Nek, Fina sudah selesai ujian nasional. Fina minta maaf ya nek karena tidak bisa menghadiri pemakaman nenek waktu itu. Tapi, Fina janji akan selalu mendo’akan nenek dari sini. Fina tau kalau Allah lebih menyayangi nenek dari siapapun. Makanya nenek sudah di panggil sejak beberapa hari yang lalu. Nanti kalau nenek merindukan Fina mampir di mimpi Fina ya nek. Fina sayang sekali dengan nenek. Jika kematian memisahkan jasad nenek dengan Fina, tenang saja masih ada ribuan kenangan yang mampu mengurangi rasa kehilangan. Nenek yang bahagia ya disana. Fina ikhlas jika nenek bersama Allah karena sudah berada di penjagaan terbaik sepanjang masa. Nenek kan sudah dekat sama Allah nanti pintakan kesuksesan Fina ya nek, biar Fina tidak mengecewakan Ayah dan Ibu. Fina sedang menunggu pengumuman, nanti Fina pasti akan melanjutkan ke perguruan tinggi dan juga menjadi santri supaya bisa mendo’akan nenek dengan baik. Kita lanjutkan nanti lagi ya nek. Fina mau pulang ke rumah dulu. Kalau nenek ingin mengetahui perkembangan Fina, nenek kan bisa mengintip dari atas sana. Fina pamit nek. Assalammualaikum” ucapku di depan makam nenek.
Selesai aku mengungkapkan perasaanku yang tak menentu itu, kami pulang ke rumah. Ziarah pun di akhiri dengan kembali mengusap batu nisan nenek. Jika kita bertemu dengan orang lain kita perlu menyapanya dengan sopan, seperti mengucapkan salam dan bersalaman. Begitu pula jika kita berziarah ke makam, kita harus mengucapkan salam terlebih dahulu kepada ahli kubur yang akan kita ziarahi dan mengakhirinya dengan salam pula. Caranya seperti yang sudah dilakukanku dan keluargaku yaitu mengusap kedua batu nisannya, sebagai tanda salam.

Komento sa Aklat (10)

  • avatar
    KuotaDokter

    kyanya cerita ya enak

    01/02/2025

      0
  • avatar
    FitrianingsihNova wahyu

    kerenn sihh

    10/03/2023

      1
  • avatar
    IlhamiGhilman

    aku kasih bintang 5 karena novelah adalah apklikasi yang sangat recommended dan buat bahan gabut di dalam aplikasi ini bisa mendapatkan uang nyata dan bisa di widraw kapan pun terimakasih novelah

    27/06/2022

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata