logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Persiapan Ujian Nasional

Hari masih terlalu dini untuk menyapa orang dengan selamat pagi. Kabut masih terlalu tebal untuk melakukan aktifitas. Tubuh masih terlalu dingin untuk beranjak dari selimut tebal yang menutupi diri ini. Meski telah mendengar adzan subuh berkumandang, aku memutuskan untuk menunggu cuaca sedikit bersahabat. Aku mengintip dari balik selimut, kak Arda telah bersiap – siap untuk pergi ke mushola menunaikan shalat subuh berjamaah. Melihatku masih terbaring dengan selimut tebal, kak Arda berjalan ke arahku. Meraih ujung selimut yang menutupi tubuh dan menariknya sekuat tenaga.
“Kamu kapan ujian Nasionalnya dek?” Tanya kak Arda setelah membuka selimutku.
“Dua minggu lagi kak”. Gerutuku sambil berusaha meraih selimut untuk menutupi tubuhku lagi. Diluar masih dingin.
“Persiapkan dengan baik ya dek, kerjakan dengan jujur dan tenang. Kakak akan sangat bangga berapapun hasilnya jika itu adalah hasil kerja keras kamu sendiri”. Ucap kakak. Aku mengangguk pelan dan tidak bisa berkata apapun. Mendengar nasihatnya, aku langsung bangun dari tempat tidur dan memeluknya dengan erat.
Kakak memang selalu berpesan seperti itu. Tak pernah berpesan untuk mendapatkan nilai tinggi tapi berpesan untuk menjadi manusia yang lebih baik. “Belajarlah karena ingin menjadi lebih baik bukan karena ingin mendapatkan nilai terbaik. Meski nilai menjadi patokan. Jangan pernah menggadaikan apapun untuk mendapatkan itu. Teruslah belajar dengan penuh semangat. Maka dengan izin Allah apa yang diinginkan akan datang dengan sendirinya termasuk nilai terbaik. Pengetahuan yang sebenarnya bukan terlihat dari besar nilai yang dicapai didalam kertas tetapi dari cerdasnya otak dan hati nurani untuk bisa mengendalikan segala sesuatu dengan tenang dan penuh tanggung jawab.” Begitulah pesan yang sering aku ingat dari kakak.
“Ayo kita pergi ke mushola bersama. Meminta kepada Allah agar Ujian kamu di berikan kelancaran”. Pinta kak Arda.
“Iya kak” Jawabku sembari melepaskan pelukanku.
Aku yang sedari tadi malas untuk beranjak dari tempat tidur menjadi malu untuk kembali berbaring dan berselimut. Aku pun berjalan ke kamar mandi. Mengambil air wudhu. Memakai mukena putih dan pergi ke mushola bersama kak Arda.
* * *
Satu hari menjelang Ujian Nasional.
Hari itu hari minggu. Kakak menyuruhku untuk meminta restu kepada nenek serta sanak saudara yang berada di kampung. Terlebih dahulu aku meminta do’a restu Ayah dan Ibu. Kemudian meminta do’a restu sanak saudara secara langsung dengan mengunjungi rumah mereka di temani kak Arda. Mungkin ini terdengar berlebihan, tetapi adat orang kampung memang begitu. Do’a restu dijadikan langkah awal untuk melakukan banyak hal.
Aku sudah bersiap – siap sejak pagi – pagi sekali layaknya hendak berangkat ke sekolah. Memakai gamis abu – abu pemberian kakak tahun lalu sebagai hadiah karena mewakili sekolah dalam lomba olimpiade sains. Meskipun tidak meraih juara apapun, tapi kakak tidak pernah kecewa dengan apapun hasil yang aku peroleh. Sekali lagi dan berulang – ulang kali kemudian, aku selalu menjadi penggagum sosok kakak yang begitu istimewa bagiku. Kakak yang tidak pernah memarahiku. Kakak yang selalu menuntun dan mengajariku. Kakak terbaik satu – satunya yang pernah ada di dunia. Jika suatu hari nanti aku mempunyai seorang adik, aku ingin menjadi seperti Kak Arda, yang sangat di sayangi dan di banggakan oleh adiknya.
Kakakku menggunakan kaos hitam dengan celana jeans panjang berwarna biru miliknya. Seperti biasa. Sederhana. Setelah kakak selesai bersiap – siap, kakak berteriak memanggil – manggilku yang sedari tadi belum keluar.
“Fina.... Fin...”Teriak kakak di ruang depan kamarku.
Aku terdiam. Tidak menjawab teriakan kakak. Aku sedang bingung memilih jilbab yang cocok dengan gamis itu. Kakak tidak sabar menungguku yang tanpa suara. Kakakpun menggetuk pintu kamar dengan keras sampai akhirnya memutuskan membuka pintu kamar dan memasuki kamar.
“Tok.... tok.... tok” Suara pintu kamar di ketuk oleh kakak yang sudah lama menunggu. “Fina... kakak masuk ya”. Lanjut kak Arda.
“Iya” Jawabku singkat setelah membukakan kunci pintu kamar dan kembali memilih – milih jilbab yang cocok.
“Ayo, kita pergi sekarang. Nanti kalau sudah pergi ke sawah, kita tidak bisa bertemu dengan mereka”. Saran kakak.
“Fina bingung Kak Arda...” Ucapku.
“Bingung kenapa dek?” Tanya Kak Arda.
“Jilbab yang cocok dipakai dengan gamis ini yang mana?” Tanyaku sambil menunjukkan gamis yang telah aku pakai.
“Itu gamis yang kakak belikan tahun lalu?”
“Iya Kak Arda”. Ungkapku sambil menunjukkan senyuman termanisku.
“Kamu duduk yang manis di sofa. Kakak ambilkan dua jilbab, nanti kamu pilih salah satu” Tegas Kak Arda sembari berjalan ke arahku dan mengambil semua jilbab yang sedang aku pegang.
Meski Kak Arda seorang laki – laki, tetapi pilihan warna dan perpaduan yang di pilihkan Kak Arda selalu terlihat manis jika digunakan. Aku suka sekali. Padahal, kau tau sendiri bagaimana Kak Arda?. Kak Arda seringkali hanya memakai kaos hitam atau warna gelap lainnya dengan celana hitam atau biru dongker kemanapun perginya. Entah dari mana Kak Arda belajar perpaduan warna yang begitu mengesankan. Aku pikir karena Kak Arda sering mengantar Ibu pergi ke pasar dan melihat berbagai macam pakaian dan aksesoris yang di gunakan oleh setiap orang yang Kak Arda lalui. Atau memang kak Arda sebenarnya mempunyai bakat alami dalam bidang fashion. Atau belajar dari kekasihnya yang cantik jelita. Entahlah.
Aku langsung berjalan ke arah sofa yang ada di depan tempat tidurku. Duduk tenang sambil memperhatikan gerakan yang Kak Arda lakukan. Sesekali mengikuti ekspresi wajahnya yang membingungkan. Atau menggeleng – gelengkan kepala sambil memajukan bibir dan menyipitkan matanya. Kemudian kembali mencari jilbab lain yang ada di lemari.
Sepuluh menit kemudian.
Kak Arda berjalan ke arahku membawa dua potongan helai jilbab berwarna abu – abu bercorak bunga warna pink dan jilbab abu – abu dengan paduan warna biru dongker yang sedikit memudar. Pilihan jilbab dengan paduan warna yang Kak Arda pilih memang mengesankan sekali bagiku. Gamis abu – abu polos yang aku genakan terlihat sangat anggun dan manis jika di padukan dengan salah satu jilbab yang Kak Arda pilihkan. Aku memilih warna abu – abu bercorak bunga warna pink. Aku segera menggenakan jilbab itu. Kak Arda menungguku di sofa. Selesai menggunakan jilbab, Kak Arda mengajariku untuk meminta do’a restu kepada Ayah dan Ibu terlebih dahulu kemudian berkeliling ke sanak saudara.
“Kita menemui Ayah dan Ibu dulu ya dek”. Ujar Kak Arda setelah aku selesai menggunakan jilbab. Aku mengangguk pelan. “Nanti kalau minta do’a restu Ayah dan Ibu yang ikhlas. Tundukkan pandangan kamu di hadapan mereka. Meski pendidikan kita di atas Ayah dan Ibu, tapi mereka jauh lebih tinggi kedudukannya dari pada kita. Ingatlah, kita bisa bersekolah sampai tingkat atas itu karena perjuangan Ayah dan Ibu. Jadi setinggi apapun pendidikan kita, kita akan menjadi rendah jika bersikap sombong di depan Ayah dan Ibu.” Nasehat Kak Arda sambil menggandengku untuk menemui Ayah dan Ibu.
“Iya ka, Ayah dan Ibu sudah di sawah ya kak?” Tanyaku karena Kak Arda menggandengku ke arah pintu keluar rumah.
“Tidak. Ayah sedang merawat tanaman di depan rumah dan Ibu sedang memberi makan kelinci di samping rumah”. Ucap Kak Arda.
Saat ini di kampungku memang sedang marak – maraknya memelihara kelinci. Hewan mungil yang menggemaskan dengan corak warna yang menyenangkan. Kelinci termasuk mamalia kecil dengan telinga besar dan ekor pendek. Badannya di tutupi dengan bulu – bulu yang sangat halus jika di sentuh. Kelinci berkembang biak dengan cara beranak (vivipar). Dulunya, hewan ini adalah hewan liar yang hidup di Afrika hingga ke daratan Eropa. Asal kata kelinci berasal dari bahasa Belanda, yaitu konijntje yang berarti “anak kelinci”. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mulai mengenali kelinci saat masa kolonial, padahal di Pulau Sumatera ada satu spesies asli kelinci Sumatera (Nesolagus Netscheri) yang baru di temukan pada tahun 1972.
Sekarang kelinci menjadi hewan jinak bahkan hewan peliharaan yang menggemaskan. Melihat peluang yang begitu besar, Ayah ikut memelihara kelinci. Kelinci yang Ayah miliki sudah lumayan banyak. Ada warna putih, pink, coklat dan campuran antara putih dengan pink. Kelinci yang Ayahku miliki tidak memakan wortel seperti kebanyakan cerita yang aku dengar di televisi. Kelinci Ayah cukup di beri makan rumput, bahkan sesekali memakan kangkung.
“Ayah,,,” Panggilku setelah melihat Ayah yang sedang menyirami tanaman di depan rumah. Ku lepaskan tanganku dari pegangan Kak Arda. Kak Arda berdiam diri di depan pintu, menyandarkan tubuhnya ke pintu yang ada disampingnya. Aku berlari ke arah Ayah. “Ayah, Fina besok mau ujian. Fina minta do’a restu dari Ayah” Ungkapku setelah di depan Ayah. Ayah meletakkan kran yang di gunakan untuk menyiram tanaman. Aku menundukkan wajahku di hadapan Ayah.
“Iya Ayah akan selalu mendo’akan yang terbaik untuk Fina. Belajar yang rajin dan serahkan segala hasilnya kepada Allah ya Fin”. Ucap Ayah. Aku mengulurkan tanganku sebagai tanda meminta izin untuk mencium tangan Ayah. Ayah mengulurkan tangannya. Aku mencium tangan Ayah dan Ayah mengusap kepalaku seakan sedang menunjukkan do’a restu yang tulus tanpa pamrih.
Kemudian aku berlari ke arah Ibu yang sedang berada di samping rumah dan meminta do’a restu beliau.
“Ibu, Fina besok mau Ujian Nasional. Do’akan Fina ya bu” Pintaku sambil memeluk Ibu dari belakang. Ibu meletakkan sayuran yang sedari tadi dipegang. Lalu berbalik badan, mencium keningku dan memelukku dengan erat. Kepalaku basah dengan tetesan air mata ibu.
“Iya, Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Fina. Tanpa Fina minta pun Ibu selalu mendo’akan Fina. Meminta kebahagiaan Fina kepada sang pemilik Fina”
“Terimakasih Ibu, Fina tidak bisa berjalan tanpa do’a restu dari Ayah dan Ibu” Ungkapku.
“Iya nok. Kamu mau kemana?” Tanya Ibu setelah memperhatikan penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nok adalah panggilan seseorang kepada anak perempuan yang lebih muda, biasanya di gunakan kepada anak – anak yang usianya masih remaja. Semacam panggilan sayang.
“Mau ke rumah nenek dan saudara – saudara Fina yang ada di sekitar sini. Kak Arda menyuruh Fina untuk meminta do’a dari mereka supaya besok Ujian Nasionalnya bisa mengerjakan dengan lancar”. Ujarku.
“Iya benar sekali itu. Terkadang saat kita melakukan suatu kesalahan yang tanpa sengaja melukai hati seseorang dan sampai sekarang orang itu belum memaafkan, itu akan menghambat apa yang akan kita kerjakan nantinya.” Tambah Ibu.
“Ya sudah. Kami berangkat dulu bu”. Pamit kak Arda pada Ibu setelah berada di depan Ibu. Kemudian mencium tangan Ibu dan pergi bersamaku. Dari kejauhan aku merasa air mata ibu masih menetes. Ibu, aku sayang padamu. Tak akan mengecewakanmu. Semoga itu airmata doa ketulusan agar aku di beri kemudahan.
Aku berjalan dengan kak Arda ke arah selatan, rumah nenek berada tepat di seberang jalan. Sesampainya disana nenek sedang terbaring lemah di kamar tidur depan yang bersebelahan dengan pintu masuk. Aku tidak melihat paman dan bibi di sekitarku. Mungkin mereka sudah pergi kesawah. Aku tau jika nenek bukan tipe orang yang selalu tertidur di atas tempat tidur. Dengan berat hati aku membangunkan nenek dengan menyentuh bahunya sambil memanggil dengan lemah lembut.
“Nek.. nenek.. bangun sudah siang” Ujarku penuh lemah lembut.
“Dek, mungkin nenek sedang lelah”.
“Nenek tidak pernah tidur di pagi hari kak” Jawabku.
Aku mengerti kegiatan apa yang di lakukan nenek setiap hari karena aku sering menemani nenek beraktifitas. Semenjak kakek meninggal nenek selalu merasa kesepian. Untuk menghilangkan rasa sepi tersebut, aku berusaha selalu menemani aktifitas yang nenek lakukan di hari libur. Nenek adalah orang tua dari Ibu. Orang tua Ayah sudah meninggal jauh sebelum aku dilahirkan di dunia. Lama sekali nenek tidak bangun dari tempat tidur. Tidak bergerak sama sekali. Aku takut ada hal yang tidak di inginkan terjadi. Aku tidak ingin kehilangan nenek untuk saat ini. Aku berusaha tetap tenang. Kembali memanggil nenek yang terus berbaring di tempat tidur. Kak Arda terdiam disampingku. Tak berapa lama kemudian, bibi datang menghampiri.
“Fina... Arda.. sejak kapan kalian datang?” Sapa bibiku.
“Sekitar lima belas menit yang lalu bi”. Jawabku.
“Fina, nenek sedang istirahat jangan diganggu ya” Kata bibi sambil memegang bahuku.
“Nenek baik – baik saja kan bi?” Tanyaku.
“Iya, nenek hanya butuh istirahat saja”. Jelas Bibi. Aku berjalan meninggalkan nenek. Menatapnya cemas penuh harap.
“Oh ya bi, Fina besok mau ujian do’akan Fina ya supaya bisa mengerjakan dengan baik”. Pintaku setelah duduk di sofa ruang keluarga dengan Bibi dan Kak Arda.
“Iya Fina. Siap. Kamu ujian nasionalnya besok?” Tanya Bibi.
“Iya, penentuan belajarku selama tiga tahun di SMA hanya pada tiga hari kedepan”. Keluhku.
“Harus berapa kali lagi Kak Arda mengatakannya denganmu Fin? Kalau belajar itu bukan di lihat dari hasil nilai ujian. Biarkan itu menjadi sistem pemerintah. Tapi tidak pada kehidupan yang kamu jalani. Berapapun nilainya, jika selama masa tiga tahun belajar kamu di SMA sudah terekam dengan baik itu yang menjadi hal utamanya. Bukan selembar kertas berisi nilai – nilai. Mengerti?” Tegas Kak Arda.
“Hehehe,,, Iya Kak Arda”. Jawabku
“Oh ya paman dan yang lain dimana bi?” Tanyaku.
“Mereka sedang sarapan di meja makan. Fina dan Arda sudah sarapan?” Kata Bibi.
“Fina kesana dulu ya, menemui mereka”.
“Kak Arda disini saja ya”. Ujar Kak Arda.
Aku berjalan ke arah meja makan yang berada di rumah bagian paling belakang. Aku merasa ada suatu rahasia saat pertemuanku dengan bibi tadi. Matanya merah, lebam dan terus mengeluarkan air. Nampak seperti orang yang menangis seharian atau ada sesuatu yang sangat menyedihkan menimpanya. Aku terus berjalan untuk menemui paman dan yang lain. Di sisi lain, Kak Arda dan bibi terus berbincang – bincang di ruang keluarga.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Kak Arda pada Bibi.
“Kamu bisa mengajak Fina pergi keluar selama satu hari?”
“Memangnya kenapa bi?” Tanya Kak Arda semakin penasaran dan kebingungan.
“Nenek sudah meninggal sejak subuh tadi. Sedangkan besok Fina harus mengikuti ujian nasional. Bibi tidak ingin ini menganggu Fina saat mengerjakan ujian. Bibi sengaja belum mengumumkannya. Bibi sangat takut menganggu psikologi Fina yang sudah sangat dekat sekali dengan neneknya”. Jelas Bibi.
“Jangan bercanda dengan hal seperti itu bi.” Tutur Kak Arda.
“Bibi tidak sedang bercanda dengan hal seserius itu. Memangnya kamu pikir bibi berharap nenek untuk meninggal dan kemudian mendapatkan banyak warisan?” Ungkap bibi dengan nada marah dan tangis yang semakin menjadi.
“Kenapa bibi bisa sebegitu tenangnya saat ada Fina. Seperti tidak terjadi apa – apa. Bahkan bibi hanya mengatakan bahwa nenek sedang beristirahat”. Ucap Kak Arda yang tanpa terasa mengeluarkan airmata.
“Apa kamu tega membiarkan Fina mengetahui hal ini saat mau menghadapi ujian?”
“Akan lebih menyakitkan jika Fina tidak bersama nenek untuk yang terakhir kalinya”.
“Setidaknya Fina sudah melewati masa ujiannya”.
“Lalu, jika selama satu hari aku mengajak Fina pergipun pasti Fina akan mengetahuinya saat pulang nanti. Bukankah lebih baik Fina melihat neneknya untuk yang terakhir kali?”
“Kamu ajak Fina keluar selama satu hari dan mampir ke rumah budhe kamu yang di kota dekat sekolah SMA Fina, bilang saja supaya tidak terlambat untuk datang kesekolah dan sudah meminta izin Ayah – Ibu kalian. Semua anggota keluarga sudah mengetahui kabar duka dan sudah mengetahui rencana untuk menyembunyikan hal ini dari Fina”. Jelas Bibi.
“Ayah dan Ibu sudah mengerti juga?” Tanya Kak Arda.
“Sudah”. Tegas Bibi.
“Apa mereka menyetujui hal ini?” Tanya Kak Arda. Bibi mengangguk pelan sebagai tanda bahwa Ayah dan Ibu juga menyetujui hal ini terjadi.
“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mutlak”. Pasrah Kak Arda berusaha menenangkan diri. “Sepulang dari silaturahmi Arda akan mengajak Fina ke rumah budhe di kota dan menyuruhnya tinggal disana”. Lanjut Kak Arda.
“Terimakasih Arda. Bibi percaya jika Arda yang menyuruh, Fina tidak akan menolaknya. Karena Arda adalah sosok yang sangat Fina sayang dan kagumi”.
“Iya bi”.
Beberapa menit kemudian aku datang menghampiri Kak Arda dan Bibi yang masih saja berada di ruang keluarga. Aku semakin terheran – heran dengan keadaan rumah bibi saat ini. Kunjunganku di awali dengan kondisi nenek yang terbaring lemah di tempat tidur, aku bahkan seperti tidak merasakan hembusan nafas nenek sama sekali. Semoga aku salah akan hal ini. Lalu, di sambut dengan mata lebam bibi dan baru saja aku melihat paman dan yang lain seperti sedang di timpa musibah yang sangat besar dan sekarang saat aku kembali menemui Kak Arda dan bibi, Kak Arda pun matanya merah meski terus memaksakan senyuman di wajahnya.
“Fina sudah selesai?” Tanya Kak Arda. Aku mengangguk pelan.
“Ya sudah, ayo kita ke yang lainnya”. Perintah Kak Arda.
“Sebentar kak, Fina ingin menunggu nenek bangun. Fina belum meminta do’a restu dari nenek”.
“Fina sayang, nenek sedang beristirahat. Kata dokter saat nenek sedang beristirahat jangan di ganggu karena dapat mempengaruhi kesehatannya”.
“Fina tidak akan membangunkan nenek lagi, bi. Fina hanya ingin menunggu disini. Duduk dengan manis di samping nenek”.
“Kita pergi ke yang lain dulu saja dek. Nanti kalau mereka sudah pergi bekerja susah untuk di temui”. Saran Kak Arda.
“Baiklah. Bi, Fina pamit pulang dulu ya. Sekali lagi Do’akan untuk ujian Fina besok ya bi”. Pintaku.
“Iya Fina”. Aku dan Kak Arda berjalan meninggalkan rumah bibi menuju ke rumah sanak saudara yang lainnya.
“Kak, Fina sebenarnya bingung dengan keadaan di rumah bibi dan yang lainnya” Ujarku selesai berkunjung ke rumah saudara – saudaraku.
“Bingung kenapa dek?”
“Apa Kak Arda tidak merasa ada yang aneh?”
“Aneh bagaimana?”
“Aneh, kunjungan kita selalu di sambut dengan tangisan”.
“Kakak tidak begitu memperhatikan mereka”. Ucap Kak Arda sambil garuk – garuk kepala.
“Kak Arda juga sepulang dari rumah bibi matanya merah dan lebam”. Ungkapku.
“Tidak. Kamu saja yang berlebihan”.
“Iya, lihat sekarangpun masih lebam matanya” Kataku sambil menunjuk ke mata Kak Arda yang masih lebam dan merah.
“Kakak takut jika tidak di terima di perusahan itu bagaimana dek, sebentar lagi mau bulan ramadhan. Kakak tidak mengerti harus mendaftar pekerjaan dimana lagi”. Keluh Kak Arda.
“Kak Arda....” Ujarku sambil memeluknya dalam isak tangis.
“Kamu jangan menangis” Perintah Kak Arda.
“Fina janji nanti kalau Fina selesai ujian nasional akan menemani Kak Arda mencari pekerjaan, nanti Fina juga akan bekerja untuk membantu Ayah dan Ibu”. Tuturku masih dalam pelukan Kak Arda.
“Bukan itu maksud kakak”
“Kak Arda memiliki banyak kemampuan yang bisa di jadikan pekerjaan. Seperti membuat rajutan, atau kerajinan tangan lain” Saranku.
“Tetap saja jika hanya bergantung pada hal itu, tidak akan banyak membantu”
“Fina tidak ingin Kak Arda bekerja di Ibu kota. Nanti Fina tidak bisa bertemu setiap saat dengan Kak Arda lagi”.
“Kalau Fina tidak bertemu lagi dengan nenek, apa Fina akan merasa sangat sedih” Tanya Kak Arda. Aku terkejut mendengarnya. Sejenak terdiam.
“Kenapa kak Arda bertanya seperti itu?”
“Usia itu tidak ada yang tau dek, apalagi nenek sudah sangat tua. Tadi pagi saja perlu istirahat lebih dari seperti biasanya”. Ungkap Kak Arda.
“Iya juga sih kak. Apa pertanyaan ini ada hubungannya dengan mata merah dan lebam semua saudara – saudara Fina”.
“Astaga.... Adekku tercinta. Ini misalkan saja. Mungkin mereka sedih karena Kak Arda bercerita bahwa Kak Arda hanya menjadi beban Ayah dan Ibu jika tidak segera mendapatkan pekerjaan”.
“Kak Arda tidak sedang berbohong?”
“Tidak”.
“Yakin?” Ujarku sambil menatap tajam mata Kak Arda.
“Iya dek” Ucap Kak Arda sambil tersenyum meyakinkanku. “Kapan Kak Arda pernah berbohong dengan Fina?”
“Entah, hanya Kak Arda dan Allah yang tau tentang kebenarannya bukan?”
“Dek, saudara kita yang dikampung sudah kita kunjungi, saudara di kota belum kan? Bagaimana kalau kita kesana hari ini nanti kamu sekalian menginap disana selama tiga hari biar ujiannya tidak terlambat dan berangkatnya juga tidak gugup”. Saran Kak Arda.
“Fina nanti tinggal dimana kak?”
“Di rumah Budhe Hesti yang rumahnya dekat sekolah SMA kamu itu” Jelas Kak Arda.
“Fina tanya Ayah dan Ibu dulu ya kak”.
“Siap”.
Sesampainya di rumah, langsung aku katakan keinginanku untuk menginap di rumah Budhe Hesti dan Pakdhe Diro. Ayah dan Ibu sangat menyetujui hal tersebut. Aku langsung bersiap – siap. Kak Arda hanya mengantarku sampai terminal bus di dekat pasar Moga. Katanya Kak Arda ada keperluan penting. Biasanya kepentingan penting itu kepentingan jalan – jalan dengan temannya. Jadi, tak perlu aku tanyakan lagi mengenai hal itu.
Aku rasa teman – temanku yang lain tidak ada yang seribet ini saat hendak menghadapi ujian nasional. Entah aku yang mempersulit atau aku yang menjadikannya ribet. Yang aku tau, aku hanya mengikuti saran dari Kak Arda yang menjadi sosok teladan dalam hidupku.
Beberapa jam kemudian, aku sampai di rumah Budhe. Budhe menyuruhku untuk masuk dan berberes – beres. Kemudian berpamitan untuk pergi bersama Pakdhe Diro. Aku ditinggal bersama asisten rumah tangga Budhe. Aku mengerti bahwa budhe dan pakdhe adalah orang yang sangat sibuk. Tidak heran jika mereka jarang di rumah. Budhe adalah kakak kedua dari Ibu. Kakak pertama ibu berada di ibu kota bersama sang suaminya. Mereka mempunyai dua orang anak yang sekarang sedang berada di pondok pesantren.

Komento sa Aklat (10)

  • avatar
    KuotaDokter

    kyanya cerita ya enak

    01/02/2025

      0
  • avatar
    FitrianingsihNova wahyu

    kerenn sihh

    10/03/2023

      1
  • avatar
    IlhamiGhilman

    aku kasih bintang 5 karena novelah adalah apklikasi yang sangat recommended dan buat bahan gabut di dalam aplikasi ini bisa mendapatkan uang nyata dan bisa di widraw kapan pun terimakasih novelah

    27/06/2022

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata