logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bab 2

Masih 3 minggu lagi panggilan sidang pertama harus kuhadiri. Akan kugunakan waktu tersebut sebaik mungkin untuk melunakkan hati Runi.
Pagi-pagi benar mamaku yang baru saja pensiun berangkat ke pasar.
"Ma, belikan 5 kg ikan gabus ya. Mau kuberikan ke Runi!"
Ya, mamaku mendukung untuk mempertahankan Runi. Jadi dia pasti akan belikan, beliau juga yang menawarkan sebagian uang tabungannya kugunakan untuk mengejar Runi agar kembali padaku.
Meskipun dulu kami semua sering kali menyudutkan dia. Namun begitu dia menabuh genderang perang dengan gugatan cerai, kami semua baru menyadari dia adalah menantu terbaik bagi orang tuaku, ipar teraniaya bagi saudaraku, dan istri terdzolimi oleh prilakuku.
Itulah aku yang sekarang sangat tahu diri. Akan tetapi tidak saat dulu bersamanya.
Pukul 8 pagi mama pulang dari pasar. Setelah selesai sarapan nasi uduk ditemani secangkir kopi dan rokok, segera kupacu motorku ke kelurahan Mangorejo, tempat tinggal belahan jantungku berada.
Aku mampir ke kedai kakak iparku, di sana banyak orang nongkrong antri membeli nasi uduk. Ini kesempatanku untuk bercerita tentang prilaku istriku, agar nanti jika benar-benar bercerai tak ada yang menyalahkan diriku.
"Eh Kak Shahrul, pa kabar?" Khoirul, adik ipar dari saudara perempuan istriku tersenyum padaku.
"Lagi tak baek," ucapku datar.
"Oh karena digugat cerai ya?" tembaknya tepat sasaran pada masalah rumah tanggaku.
"Sebenarnya aku yang ceraikan dia. Siapa yang tak kesal. Capek-capek habis kerja gak dibuatin kopi. Cuma buat kopi apa sih susahnya dibanding aku yang kepanasan kerja," sungutku.
"Masak sih Kak, cuma buatin kopi saja tak mau?" Dia terheran heran.
Yes, kena kau.
"Itulah dia, makan tinggal makan saja, belagu."
Setelah kami bercakap-cakap, Khoirul pergi ke belakang, samar-samar kudengarkan percakapannya dengan mas kandungnya, suami saudara perempuan istriku.
"Emang bener Mas, masalah perceraian ayuk Runi hanya karena menolak membuatkan kopi untuk suaminya yang pulang kerja?"
"Iya, kerja mungutin paku dibelakang rumah neneknya yang dirobohkan, lalu dijual untuk beli rokok!" jawab Arman ipar istriku.
"Dia kan pengangguran, Runi aja sampai kemana-mana bawa dagangan biar bisa makan," tambahnya.
Kurang asem si Arman, enak saja bilang aku pengangguran. Mau ditaruh mana mukaku, harusnya 'kan tak boleh membuka aib saudaranya. Bagaimana sih, kok ngomongin kejelekanku, gak ngerti dosa apa. Dah lah, pergi saja dari sini.
Kakiku melangkah ke rumah mertuaku. Tiba-tiba aku melihat adik iparku yang cantik muncul dari balik pintu, kudekati dia.
"Ini tolong berikan pada ayuk Runi." Sambil tanganku menyerahkan ikan gabus yang pagi tadi di beli mama.
"Ya, Kak." Tangannya mengambil ikan yang tadi kusodorkan. Nah, Adik ipar saja masih senang hati menerima pemberianku, bagaimana mungkin menolak, mereka kan miskin. Tidak akan mampu beli ikan sebanyak yang kubeli. Mulai hari ini pekerjaanku mengintai istriku.
Akan kupaksa dia pulang ke rumah mama, kusekap dia agar tak jadi bercerai. Kemarin aku dapat informasi dari anakku nomer 3 yang masuk pesantren bahwa ibunya sekarang bekerja di Playground.
Dari tadi aku duduk di seberang jalan rumahnya tapi hingga jam 10 pagi tak nampak batang hidungnya. Sepertinya hari ini dia lolos dari pengawasanku.
Kembali kunaiki motorku, akan kudatangi tiap Playgroung yang ada di kota ini. Jangan sebut aku Shahrul kalau tak bisa mencari. Semua jalan di kota ini juga sekitarnya, aku hafal lika-likunya bahkan sampai lubang semutpun aku tahu.
Hingga jam 12 siang, aku belum menemukan tempat kerja istriku, padahal sudah kutelusuri 12 Playground di kota ini. Baiklah untuk hari ini cukup sampai di sini. Aku sudah lapar, istirahat saja dulu sampai jam 3. Akan kucegat di jembatan layang, pasti dia melewati jalan itu jika harus pulang ke rumah ibunya.
****
Jam weker berbunyi saat menunjukkan jam 15.00. Segera aku bangun, biasanya sih enggan bangun apapun yang terjadi. Akan tetapi demi misi penting ini otak dan tubuhku saling bekerja sama. Luar biasa memang mekanisme tubuhku ini, saat darurat bisa saja diandalkan.
Langsung kuambil handuk dan mandi, lalu kupacu motor dengan kecepatan tinggi dan berhenti tepat di belakang tiang jembatan. Tidak akan terlihat jika dia turun dari bis kota. tempat ini wilayah pergantian jurusan, jadi dia nanti harus naik angkutan kota jurusan Mangorejo.
Dari kejauhan ada angkot menuju ke sini segera kupasang masker. dugaanku tidak meleset sama sekali, dia mengenakan baju tunik lengan panjang berwarna biru dipadu dengan kulot biru tua. Jilbab biru mudanya dari belakang melambai seolah menyuruhku segera beraksi.
Dengan gerakan cepat kutangkap tangan kanannya dan kupaksa mengikutiku, tak peduli dia terlihat shock dengan kemunculanku yang tiba-tiba.
"Ayo, kita pulang!" Kuseret dia. Akan tetapi ...
"Tolong ... tolong...!" dia berteriak histeris. Bukan main aku terkejut, ini di luar dugaanku. Aku bingung, semua orang menoleh pada kami. Gawat!
"Jangan salah paham, dia istriku!" jelasku pada mereka.
"Tolong saya, dia bukan lagi suamiku," ucap istriku dengan pandangan memelas pada mereka, seolah meminta bantuan mereka.
Seorang pria bertubuh tegap menghampiri.
"Lepaskan wanita ini!" Sambil tangannya berusaha memisahkan tangan kami.
"Tidak! tak akan kulepaskan, dia istriku!"
" Kalau begitu, ayo kalian berdua ke kantor polisi." Tangan pria itu menyeret kami berdua ke kantor polisi terdekat. Sial, aku lupa di dekat jembatan layang ini dekat dengan kantor polisi.
Akhirnya kami berdua digelandang di kantor polisi. Di sana aku berusaha menjelaskan kalau sedang menjemput istri. Sedang perempuan berbaju biru ini justru menjelaskan tak lagi mempunyai hubungan apa apa lagi denganku. Oh nasib.
Tampaknya polisi lebih percaya padanya. Polisi menyuruh istriku untuk menelpon saudaranya untuk menjemput. Pupus sudah harapanku.
"Makanya Pak, kalau masih cinta harusnya disayangi jangan sudah cerai baru nyadar, telat," ledek laki laki yang tadi menyeret kami ke kantor polisi.
Wajahku terasa panas, malu luar biasa. Ingin ku berkata kasar, tapi ini kantor polisi.
Aku pulang dengan tangan kosong. Misi hari ini gagal. Cuaca hari ini juga tak bersahabat, aku tak membawa mantel ketika tiba-tiba hujan turun dengna lebatnya saat perjalan kembali ke rumah.
Tuhan, Apa salahku! pekikku dalam hati, aku hanya mempertahankan rumah tanggaku, mengapa Engkau tak berpihak padaku.
Malam ini aku meringkuk kedinginan sendiran di dalam kamar. Biasanya saat istriku masih bersamaku, kuhabiskan malam dengannya, atau main game online. Akan tetapi entah mengapa moodku menghilang, Mobil Legend tak lagi menarik. Padahal dulu setiap hari aku bisa sehari semalam duduk di depan komputer.
Apa lagi yang harus aku lakukan. Besok akan ku coba lagi mengikutinya dari rumah. Kali ini aku harus berhasil, jangan sampai lolos dari pengintaian. Akan lebih mudah jika aku menculiknya di tempatnya bekerja.

Komento sa Aklat (216)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus , kesabaran Runi ada batasnya dari suami yang mau menang sendiri dan salah asuhan ortu...

    08/04

      0
  • avatar
    GustianiSheila

    hasil kakak ini slalu bagus lho 😍

    05/03/2025

      0
  • avatar
    TlkIdes

    Terima kasih telah mengikuti kak

    16/04/2024

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata