logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Kerja! Kerja! Kerja X Ujian Hati

Gawai zaman nenek moyangku berdentang nyaring nada khas telepon merk Nusia. Sembari melangkah siput di gang sempit tanganku segera merogohnya ke dalam saku celana PDL hitam yang sekarang aku pakai serasi dengan kaos warna gelap. Kupikir notif dari Salma, tapi nyatanya bukan, ini pesan dari .... Aku sipitkan mata mencerna lebih dekat tulisan di layar ponsel. Tidak ada nama hanya nomor. Males, aku semayamkan kembali teleponku ke kantong.
Setibanya di tempat tujuan-kedai Mang Kurnia-sang Kemilau tepat menggapai ufuk. Telah ada Bidadari tak melayang menyambut di ambang pintu, dia melambai sambil tersenyum syahdu. Tatapanku masih tak berkedip sampai kehadapannya.
“Arka, masa kamu keduluan sama pekerja baru.” Salma memajukan bibir.
Aku menggaruk kepala sembari menampakkan gigi. “Barusan kasih makan kucing dulu, jadi telat. Hehehe.”
“Tadinya aku mau ke kosan kamu dulu mau liat ank kucing, tapi nggak tau di mana.”
“Aku juga tadinya mau ke kosan kamu dulu, tapi nggak tau di mana.”
“Huuuh, tuturut munding, ngikutin aja.”
“Kalau tuturut munding, berarti ngikutin munding, dong? Aku nggak percaya ada munding secantik kamu. Hehehe.”
“Udah ah, kok, jadi ngegibahin munding. Aku disuruh beres-beres meja dulu sama Mang Kurnia.” Dia berbalik ke dalam.
Dalam hati, aku merasa sangat tersenyum bisa bersamanya terus.Namun, ada ragu yang kian hadir. Aku takut dia terluka, jika tetap berada di sisiku.Tapi, apa aku sepengecut itu? Tanggung jawabku kini melindunginya, aku takkan melepasnya begitu saja.
“A, permisi.”
“Arka, kenapa kamu malah diem, ngehalangin jalan orang tau.” Salma menatapku dari dalam kedai.
Pandanganku melirik ke samping, ternyata aku menghalangi tepi jalan yang sedang ramai. Bubu-buru tatapanku menunduk karena ada perempuan di dekatku. Saat ini dia mungkin sedang menyelidiki, bingung. Aku bergegas melewati ambang pintu, meraih lap, lalu menggosok meja.
Sambil mengelap kursi kayu wajah Salma memerah, aku tahu dia sedang menahan geli.
“Ketawa aja jangan ditahan,” godaku sambil menempelkan lap ke tangannya.
“Ih, apaan, aku nggak nahan tawa.” Dia meronta, tak sengaja lesatan kain kanebo itu tetap menempel di wajahku yang tadi telah aku cuci hingga jerawat tak mau datang lagi.
Dia langsung terkekeh-kekeh. Aku cabut lap ini dari mukaku yang telah masam, tapi melihat tawa manisnya, jadi membuatku ikut terbahak gembira. Kami tertawa bersama.
Suara sesenggukan motor bebek tua menggema, aku dan Salma tancap gas membersihkan serta membereskan meja. Mang Kurnia segera memarkirkan kendaraan satu-satunya itu rapi di depan kedai supaya tidak mengganggu pejalan kaki.
“Acia, Arka, kalau ada cewe ternyata nggak terlambat, euy.” Baru datang Mang Kurnia sudah menggodaku. Tapi, jika dipikir-pikir itu memang benar.
“Jangan ganggu, Mang, keur fokus ngelapin meja, nih.”
“Fokus ngelap meja atau fokus ngeliatin, Neng Salma?”
Padahal tempat makan panjang ini telah bersih, tapi sepertinya aku salah tingkah. Salma juga tetap mengelap meja yang sudah ngencling, wajahnya tampak kembali memerah muda.
Mamang langsung memutar papan-yang tergantung pada kaca kedai-dari bertuliskan tutup menjadi buka, setelah kami selesai menyusun semua kebutuhan kedai. Tak lama tiga hingga lima orang berperut keroncongan menyerobot ke dalam, lalu duduk tak beraturan. Tempat ini cukup besar, muat untuk satu sampai lima belas hewan berlogika.
Lembaran menu telah tersaji di tengah setiap meja, pelanggan tinggal mencatat pesanan nasi gorengnya pada kertas bernomor urut yang sudah mereka ambil dari pinggir depan pintu masuk. Kertas catatan itu ada dua, yang satu untuk aku dan Salma kumpulkan, lalu kami berikan pada Mang Kurnia si Juru Masak. Satu lagi untuk di meja pemesan.
Dengan santai, kami menyodorkan satu per satu piring yang telah dihiasi butir-butir nasi goreng kepada pemesannya. Baru awal bekerja, Salma tampak sudah cekatan, ditambah senyumnya yang menggugah aku rasa pelanggan akan betah berkeong-keong di sini, terutama para laki-laki. Ada perasaan berkobar saat tiga ‘aligator’ di meja pojok memandang dia dengan tatapan mencurigakan.
Sembari mataku memperhatikan kasak-kusuk mereka, aku menyampaikan pesanan ke meja pojok kiri. Mang Kurnia baru selesai mematangkan tiga bakul nasi goreng, itu pasi pesanan mereka. Aku bergegas kembali, tapi didahului Salma yang telah membawa nampan.
“Sama aku aja, ya,” paksaku sambil meraih satu pirirng.
“Udah, kamu duduk aja dulu, sekarang bagianku yang ngasih ke pelanggan.”
“Tapi-”
Dia menyerobot piring yang ada di tanganku, kemudian menatanya rapi di permukaan nampan.
Sementara perhatian tiga pria itu lurus ke arah Salma, aku menyelidik mereka. Awas saja, jika tangan mereka berani ada kontak jasmani pada raga eloknya, aku takkan segan-segan memberi mereka pelajaran olahraga.
“Kalau Mamang jadi kamu, Mamang ikutin si Neng,” cetus Mang Kurnia dengan sedikit berbisik dari belakang. Ternyata Mang Kurnia juga sudah mencurigai gelagat tiga orang itu.
Mang Kurnia ada benarnya. Tanpa menoleh, langkahku telah mengimbangi, membuntuti Salma sambil menenteng tiga gelas air teh yang sudah tersedia-sebagai pengalihan.
Dia menyimpan satu demi satu piring ke meja. Pandangan mereka tak berubah. Aku datang, lalu juga menyodorkan satu persatu gelas.
“Ih, Arka, sekarang, kan, giliran aku,” bisiknya.
“Udah, biar cepet, takutnya pria-pria garang ini marah kalo lama.” Aku nyengir. Bibirnya maju sembari balik kanan.
Dugaanku sembilan puluh sembilan koma sembilan persen benar, salah satu dari mereka menyeringai, tangannya melayang tak terkendali.
“Aduh!” Aku pantomim gaya orang keselimpat kaki sendiri, lalu menggeser Salma. Tak sampai satu detik, pinggulku ditepuk tangan ajaib orang itu. Tapi, aku tak peduli, yang terpenting Bidadari yang sekarang kugenggam erat tak ternodai oleh ‘bakteri jahat mematikan’.
“Arka, kamu kenapa?” Kini dia memegang kedua tanganku, raut wajah manisnya tampak khawatir. Di situ ... di sini, aku merasa senang ada yang mengkhawatirkan keadaanku.
“Nggak apa-apa, cuman tikojot aja.” Sembari nyengir, aku menggaruk kepala.
Dia terkekeh secuil. “Makanya kalau jalan mata kakinya dipake.”
“Hehehe.”
Sementara Salma melesat duluan, aku melirik, melotot serius pada  mereka. Namun, ketiga laki-laki itu malah mengerut, pandangan mereka menunduk lesu. Baguslah, jika mereka langsung menyadari kesalahan.
-Arka-
Malam ini stok nasi serta bahan-bahannya telah kering tidak lebih dari jam sembilan malam karena lumayan banyaknya pembeli yang datang. Tadi, Mang Kurnia bahkan hampir keteteran memasak pesanan, untung saja Mamang bisa dengan cetek mengatasinya.
Selesai merapikan kedai, aku dan Salma berpamitan. Mang Kurnia berterima kasih pada Salma karena katanya dia menjadi pembawa keberuntungan di hari pertamanya bekerja.
“Aku juga pekerja di sini, Mang.”
“Kamu, mah, udah nggak perlu dipuji,” ledek Mang Kurnia seraya balik kanan masuk kembali ke kedai.
Di antara hingar bingarnya pelangkah kaki bersama kendaraan yang berlalu-lalang, kami menyamakan laju tapak kaki. Aku memandang jemari Salma yang runcing menawan. Dalam situasi seperti ini, aku malah canggung untuk meraih keindahan itu. Kenapa Arka?
“Arka, kamu liat apa?”
“Eh, aku liat sendal capit-ku, kenapa, kok, kiri dua-duanya?”
Matanya langsung menyelidik serius. “Arka, Arka, itu kamu salah pake sendalnya, sih.” Dia terkekeh.
“Masa, kayanya tadi pake sendalnya bener?” Ternyata ini alas kaki sebelah kiri milik si Ardo. Aku tak sadar karena tadi buru-buru keluar kos-kosan, dan yang jadi masalah warnanya serupa.
“Kaya gitu bener dari mana, Arka?” Dia masih terkekeh imut.
Aku menggaruk kepala sembari tersenyum lebar. “Biarinlah asal kakinya nggak salah.”
Kami mampir dahulu ke toko buku-buku bekas, tapi setelah sepuluh menit lamanya aku menunggu, dia mengedikkan bahu karena buku yang dicarinya tidak ada. Kami berdua lalu kembali menyambung langkah.
Setibanya di depan gang, aku berbelok, tapi Salma menghentikan. Aku kira dia menyantaikan tunggangan roda duanya di parkiran kampus, nyatanya dia tidak membawa motornya itu. Asik, ada kesempatan buat tahu kos-kosannya, dengan segera aku menawarkan diri untuk mengantarnya sampai tempat tujuan.
“Nggak usah, Arka, aku mau naik angkot deket, kok.”
“Udah, jangan nolak tawaranku.” Aku tersenyum.
Tiba-tiba kendaraan mewah beroda dua melipir ke pinggir jalan di hadapan kami, penunggangnya seorang pria berjaket biru lengkap dengan celana jeans putih, serta sepatu kets merah. Aku menatap Salma, dia mengedikkan bahu. Pria itu melepas pelindung kepalanya, lalu melirik ke belakang, orang itu tersenyum ke arah Salma.
“kayanya aku tau.” Salma segera menghampiri.
Sekarang hatiku tak merasa enakan, setelah dia balas tersenyum pada pria itu. Mereka tampaknya akrab, atau mungkin dekat? Aku cuman mematung tidak jauh dari mereka.
Salma melambai. “Arka, sini.”
Kakiku melangkah sendiri, rasanya aku tak bisa menolak suara merdunya. Pria yang masih duduk di tunggangan mengkilapnya itu menyelidik setibanya aku di samping Salma.
“Kenalin, ini Andes-Kakak Tingkat di Fakultasku,” ujarnya.
Aku sedikit melekkukan bibir, berusaha ramah sembari menyambut jabatan tangan pria dengan rambut klimis ini. Niatnya tadi ingin memegang lengan ‘Pujaan Hati’, kini malah memegang tangan ‘Ujian Hati’. Aku langsung menggosok jemariku di dalam saku, agar nanti tidak ‘mencemari’ tangan milik Bidadari ... maksudku Salma.
“Ayo, Salma, keburu-”
“Eh, tadi kamu bilang mau balik, bareng aja, kan, kita searah,” cetus pria itu sambil memakai kembali helmnya.
Woi, beraninya dia menyerobot kesempatanku untuk tahu rumah kos Salma, semoga saja Salma tak menerima permintaannya.
“Gratis, kok, nggak bayar.”
Entah itu adalah kata ajaib atau rayuan yang menggugah. Mata Salma jadi sedikit membulat, dia tersenyum, kemudian melirik padaku. “Arka, kamu nggak apa-apa, kan, balik sendiri?”
Deg, perutku mencelus, hatiku terasa ada yang mengganjal. Tapi, aku tidak bisa melarangnya maupun mencegahnya, aku bukan siapa-siapa. Dengan tercambuk, aku mencoba tersenyum. “Gapapa .... Aku baru ingat, kalau aku nggak bawa uang buat naik angkot.” Tanganku menggaruk kepala.
Lima menit berangsur, aku sudah memasuki gang-kembali ke kos-kosan. Namun, pikiranku melayang membayangkan Salma melambai tampak senang dibonceng menunggangi motor. Apa aku juga harus membawa motor? Tapi tidak, itu akan membahayakan, aku tak boleh egois hanya karena ingin dipandang oleh sang Pujaan Hati.
Lamunanku kali ini sangat dalam, jalan di depan sampai tidak aku perhatikan. Ternyata telah ada tiga orang yang menghalangi jalanan sempit ini, mereka berjejer hingga tak ada celah untuk lewat. Jari-jemariku mulai terkepal.
Apa aku sekarang takkan menahan kobaran membara ini?
-Bersambung-

Komento sa Aklat (47)

  • avatar
    GustianiSheila

    kok gk lanjut 🥺

    21/02/2025

      0
  • avatar
    DiptaArka

    nama gw bang 🗿

    09/12/2024

      0
  • avatar
    MuaiinNyongker

    sangat menarik

    13/09/2024

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata