logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Dihampiri Asmara X Bahagiaku Rusak!

“Udah mau sampai, tuh.”
Salma menyelidik ke depan. “Mana?”
“Kiri, Mang!” seruku pada sopir angkot yang sedang melirik-lirik mencari penumpang. Angkot perlahan mengerem.
Kami telah berdiri di hadapan gerbang besi cukup besar yang telah lebar menganga, banyak orang yang sudah masuk beriringan melewati kami.
Salma menengadah. “Kebun Binatang Bandung, serius kamu bawa aku ke sini?”
“Emang kenapa kalau aku bawa kamu ke sini? Takut buaya, ya?”
“Nggak, sih, tampol aja buayanya.” Dia memajukan bibir.
“Terus kenapa, sih?” ledekku sembari tersenyum.
“Ya, aneh aja kaya anak kecil aja gitu.”
“Mending kita liat aja, apa di dalem lebih banyak anak kecil atau orang dewasa.”
“Ayo!” Dia bergegas melangkah mendahului. Aku mengimbangi.
Salma berdiri di depanku, kami telah mengantri di antara orang-orang yang ingin masuk ke Kebun Binatang. Dia baru sadar kalau kami harus bayar tiket masuk setelah 2-3 orang yang berada di depan menyodorkan kertas bernilai mereka.
“Arka, tiketnya harganya berapa?” Dia melirik ke belakang.
“Mahasiswa gratis.” Aku tersenyum sambil menggaruk punggung kepala. “Tapi, aku pinjam dulu topiku, ya. Biar keliatan kaya mahasiswa lagi jalan-jalan. Hahaha.”
“Ini, kan, topi punya kamu. Tapi seriusan, nih, gratis?”
Tanganku segera meraih penutup kepala hitam itu dari rambut lembutnya. Pasti wangi, aku sekarang berniat takkan mencucinya selama harumnya belum hilang. Bergegas aku memakainya. “Udah, ayo, jangan banyak tanya.” Aku meraih tangan sutranya.
Ibu-ibu bersama anaknya telah ke dalam, sekarang giliran kami. Aku dan Salma bergandengan melayangkan langkah. Wajahnya tampak tak percaya kalau kami bisa masuk tidak membayar. Petugas tiket memperhatikan, aku memandangnya, melambai sambil tersenyum. Raut muka petugas yang awalnya menatap sinis langsung berubah menjadi ramah, lalu mengangkat tangan mempersilahkan kami masuk.
“Mau ke satwa apa dulu, nih?” Wajah tak percayanya berganti antusias.
“Kita keliling aja sampai bosen.”
Langkah kami sampai di kandang hewan berleher panjang. Salah satu hewan itu menghampiri, walau kandangnya cukup dalam, tapi kepalanya bisa sampai di atas kami. Mulutnya mendekat tepat ke wajahku, aku mundur. Salma terkekeh, sejak kapan dia sudah membawa wortel di tangannya, sedetik kemudian dia memberikannya pada hewan itu. Aku memanggilnya, dia berbalik. Secepat mungkin aku pakaikan topiku hingga menutupi matanya.
“Ih, Arka, aku cubit, nih.” Dia layangkan dua jarinya. Aku meluruskan topinya dari samping. “Nggak kena. Hehehe.” Sembari meledek, aku berlari. Dia mengejar. Kini kami seperti anak kecil yang main kejar-kejaran. Atau lebih tepatnya, aku dan dia, anak muda yang sedang dihampiri asmara.
Kami telah berpindah dari sana ke kandang kucing besar berloreng, bersandar pada besi penghalang kandang. Salma terengah-engah, untungnya aku masih menyimpan air mineral. Aku menyodorkannya. Dia tersenyum, lalu meleguknya. Mataku menatap wajah cerahnya yang memerah.
“Ternyata di sini banyak orang dewasanya, anak kecilnya sedikit,” dia bicara sembari mengusap bercak air yang tersisa di bibirnya.
“Menurutku yang ke sini itu bukan anak kecilnya, tapi orang tuanya yang ngajak mereka ke sini. Kamu nggak bisa nganggap kalau yang ke sini itu cuman anak kecil. Rata-rata pencinta hewan itu, kan, orang dewasa.”
“Hmm. Bener juga, sih.”
“Jadi, apa itu muridku?”
“Jadi, kita tidak boleh menilai sebelum melihatnya langsung.”
“Bagus! Bagus!” Aku membusungkan dada sembari kedua tanganku tertanam di pinggang.
Dia tertawa. “Kok, jadi kaya film kolosal?”
-Arka-
Setelah menikmati kegembiraan di dalam tempat para binatang, kami memutuskan untuk mencari tempat makan karena kalau sudah urusan perut tidak akan bisa ditahan. Kami berbarengan melangkah di tepian jalan raya. Tapi nyatanya di sekitar tempat ini tidak ada warung makan atau sejenisnya.
“Arka, kamu nggak kepanasan?”
“Tenang aja, kepala botakku ini bisa membiaskan cahaya.” Aku mengusap rambut yang tetap dua senti.
Dia terkekeh manis. “Untung aja kepalamu nggak ada pitaknya.”
“Emang kalau ada kenapa?”
“Kalau ada nanti kutunya pada kepeleset.”
“Eh, maaf ya, aku nggak kutuan. Nih, liat.” Kepalaku mengibas layaknya orang yang punya rambut panjang.
Dia kembali tertawa. “Bercanda, Arka.” Matanya teralih ke seberang jalan. “Kita beli sempol aja, yu.” Jarinya menunjuk penjual yang memakai gerobak.
Aku langsung mengangguk. Tak masalah makanan apapun asal bisa tetap bersamanya.
Kami telah berpindah ke tepi kanan jalan. Kemudian memesan dua bungkus cemilan yang salah satu bahannya dari daging ayam itu.
“Bah, yang satu jangan pake pedes.”
“Yang satu lagi pedes, ya.” Salma menyerobot.
“Siap!” Penjual itu tersenyum ramah, walau kerutan sudah menghiasi wajahnya. Tangan rentanya mengambil dua-tiga sempol dengan cekatan.
Tiba-tiba saja Salma meringsut ke belakangku, seperti menyembunyikan diri dari sesuatu yang mungkin sangat berbahaya.
“Kamu kenapa?” Dahiku mengernyit. Aku menatap sekeliling, tidak ada apa-apa di sini selain kendaraan yang berlalu lalang di tempatnya.
“Aku takut itu.” Dia menunjukkan jari, tapi aku tak bisa menebak apa yang dia tunjuk.
“Kamu takut kecipratan minyak panas?”
Setelah terkejut melihat pembelinya mengerut ketakutan, penjual itu yang tadinya tentram memasak segera mengecilkan api di kompor.
“Telur! Aku takut telur!”
Mataku sedikit terbelalak. “Bah, tutup wadah telurnya.” Dengan sigap aku merapatkan penutup penyimpanan telur mendahului Abah penjual.
Sambil terduduk di kursi plastik napas Salma menghela panjang, meneguk sisa air mineral dari botol. Wajahnya yang sempat memerah perlahan kembali cemerlang.
“Kamu ....” Aku berjongkok di hadapannya. “Kamu udah baikan?” Itu pertanyaan konyol yang sekarang keluar dari mulutku.
Dia melekukkan bibir, tersenyum. “Udah, kok.” Tapi aku tahu kalau dia berusaha baik-baik saja.
Penjual menghampiri kami yang telah agak jauh dari tempatnya. “Ini sempolnya, hati-hati panas.”
“Terima kasih, Bah. Uangnya udah barusan, ya, Bah.” Aku beranjak, lalu mengambilnya.
“Sama-sama. Si Eneng gimana?”
Aku menatap Salma. “Udah nggak apa-apa, Bah.”
“Syukurlah.”
Lima menit berlangsung, Salma dan aku sudah melentikkan punggung di dalam mobil angkutan kota. Setelah merasa lebih lega dia mengajak untuk langsung pulang. Beberapa detik kami saling diam. Namun, dia mendadak menatapku yang juga sedang memandangnya cemas.
“Aku nggak apa-apa, Arka.” Dia bisa tahu kalau aku sedang mengkhawatirkannya.
Kepalaku mengangguk perlahan. Aku ingin bertanya kenapa dia bisa takut dengan sebuah telur, tapi aku urung. “Salma itu sempolnya pake ....”
Dia menyerobot. “Nggak apa-apa, aku cuman trauma dengan telur yang masih utuh.”
Karena kejadian tadi kami tidak segera melahap makanannya. Tapi, aku ikat dan memasukkannya ke dalam tas untuk dimakan nanti saja.
“Eh iya, aku, kan, mau praktekin teknik membuka kaca angkot.” Dia mengalihkan suasana, kini tangannya sudah terangkan ke jendela.
Aku tersenyum lebar. “Coba aja pasti mudah.”
Ketika kami sedang asik membicarakan serta terbahak karena Salma yang tidak bisa juga membuka jendala angkot, dengan kencang kendaraan roda empat ini berhenti mendadak. Kami berdua melirik ke depan. Di luar ada motor yang ditunggangi dua pria berboncengan tidak memakai helm menghalangi jalur. Mereka menatap supir dengan ganas.
Kini raut muka Salma sedikit ketakutan. Kali ini, aku yang mesti melindunginya.
“Hei, Mas! Jangan berhenti sembarangan!” dengus supir dengan logat khas daerahnya. Kemungkinan supir itu bukan orang Bandung asli. Tapi kenapa aku jadi memikirkan hal itu? Yang harus ku pikirkan sekarang adalah masalah yang baru datang.
Pria yang dibonceng turun, sementara temannya telah meminggirkan macan besinya. Mereka segera merangsek mendekat. Jaket yang mereka kenakan serupa, warna abu, ada logo di dada kirinya, tapi tidak terlalu jelas, jika dilihat dari sini. Yang pasti mereka bukan dua orang yang salah satunya pernah aku ringkus tempo hari.
“Siapa mereka, kamu tau?” Salma bicara, masih melirik ke depan.
Aku tidak segera menjawabnya, berpikir sejenak untuk mencari alasan supaya dia tidak terlibat. Aku tak mau dia kenapa-kenapa. “Mereka temanku. Mereka selalu kaya gitu kalau ada hal penting yang mau disampein. Aku mau kamu pulang duluan, ya, istirahat. Kita nanti ketemu lagi di kedai Mang Kurnia.” Aku tersenyum, mudah-mudahan dia tidak memperhatikan wajah bohongku.
Salma melekukkan bibir manisnya, untung saja dia percaya. “Kalau kaya gitu, okey deh, hati-hati, ya.”
“Kamu yang hati-hati.” Kudekatkan wajahku. Dia mengerjap. Padahal, aku hanya mau mengambil topiku yang masih terpasang di kepalanya. Kini dia memajukan bibir. Aku tersenyum lebar.
Beberapa detik berangsur, aku sudah kembali ke pinggir jalan. Dua pria itu baru saja tiba. Mereka sebaya denganku.
Angkot langsung tancap gas. Salma melambai dari balik jendela, dia masih belum bisa membukanya. Aku tersenyum. Perlahan senyumku pudar setelah kembali menatap dua orang di hadapanku.
Mataku memperhatikan sablonan di dada kiri jaket mereka. Aku tidak mengenal logo itu, tepatnya belum pernah melihatnya, gambar gagak hitam sedang menggigit pisau. Ku kira barusan gambar ayam cemani.
“Langsung serang!” Salah satu pria merangsek, mengacungkan kepalan tangan. Diimbangi temannya yang juga sama.
“Eh, kalem ... kalem ... di dieu banyak anak kecil.” Aku mengangkat kedua tangan, menenangkan. Dengan melipat dahi, mereka langsung berhenti.
“Aah, gue gak peduli! Serang!” dengusnya kembali melesat.
Karena di sini tempat ramai, juga banyak anak-anak, aku terpaksa harus memancing dua orang ini ke tempat sepi. Sekaligus, aku ingin tahu apa motif mereka denganku, atau ada yang sengaja memerintah mereka? Tanpa pikir panjang, aku bergegas menyeberang, berlari.
“Woi, jangan kabur!”
Ternyata tidak jauh dari tempat wisata ada jalanan besar cukup sepi, hanya ada satu-dua kendaraan yang lewat. Layangan langkahku berbelok ke sana. Aku baru ingat pernah ke sini. Di kelokan kedua ada tanah kosong, aku segera mengerem.
Lima detik, kedua pria itu baru tiba. Mereka pasti kurang olahraga, padahal aku hanya berlari kecil. Mata mereka menatap tajam, berjalan menghampiri. Aku tersenyum lebar.
“Aya urusan naon maraneh ka urang?”
Mereka saling tatap, lalu mengedikkan bahu. Kemudian kembali mendekat, merangsek bersamaan. Sia-sia saja hanya dengan senyuman tidak akan menggoyahkan mereka, tapi setidaknya aku sudah berusaha baik-baik.
Satu pria melompat sembari menerjangkan kepalan tangan, aku masih tersenyum lebar, itu sebuah kesalahan harusnya mereka menyerang secara bersamaan. Ketika lesatan pukulan beberapa senti lagi dari wajah, tubuhku refleks menghindar, dengan keras lututku telah membentur perut musuh. Saat pria kedua menyerobot melayangkan tinju, aku kembali mengelak, kemudian berpura-pura melesatkan tangan kiri ke wajahnya, tapi hantaman tangan kananku langsung mengenai ulu hatinya.
Aku masih tersenyum, meski raut muka mereka kini masam, juga putih pudar sambil mundur memegang perut.
“Gue harap kalian berdua tadi belum sarapan.” Aku coba gaya bicaraku sama seperti mereka.
Benar saja apa yang aku pikirkan. Mereka langsung berjongkok, wajah keduanya bertambah pucat. Isian lambung mereka keluar. Kayaknya, aku tidak akan bisa menanyai mereka dengankedaan seperti itu. Tapi, sekarang ada yang lebih penting dari itu, Salma. Aku harus memastikan, jika dia sudah sampai tempat kosnya.
Aku berjalan, lalu berdiri di antara mereka. “Lo berdua pasti cuman dimanfaatin. Kalau lo diperintah sampein ini, jangan ganggu kehidupan damai gue.” Aku segera meninggalkan mereka yang masih berlutut sambil terbatuk-batuk.
Sembari berjalan kembali menuju jalan raya, kini tanganku telah menggenggam telepon dekat telinga. “Hallo, Sayang. Aduh salah, maksudku Salma. Kamu udah sampe?”
-Bersambung-

Komento sa Aklat (47)

  • avatar
    GustianiSheila

    kok gk lanjut 🥺

    21/02/2025

      0
  • avatar
    DiptaArka

    nama gw bang 🗿

    09/12/2024

      0
  • avatar
    MuaiinNyongker

    sangat menarik

    13/09/2024

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata