Sampai detik ini dunia masih sama saja. Beberapa hal yang seharusnya menjadi pertanyaan besar, kini perlahan melebar dengan cepat. Manusia hanya bisa menerima semua hal itu tampa mampu mengatasinya. Kevin sudah sampai di depan apartemennya dan sekarang dirinya langsung memasuki apartemennya itu. Dalam hatinya, dirinya masih merasa kalau semua ini hanya sia-sia dan memang tidak ada bedanya dengan semua hal yang sudah terjadi. Belakangan ini, dirinya masih tidak tahu banyak soal kejadian yang menimpa rekannya itu dan sampai sekarang pihak kepolisian juga masih belum memberitahukan hasil penyelidikan lebih lanjutnya. Kevin langsung memasuki ruangan peribadinya yang saat ini dirinya berusaha untuk mencari tahu beberapa informasi sambil berusaha untuk menenangkan diri. Sudah lama dirinya merasakan rasa tidak nyaman sekali seperti ini hanya karena hal yang membuat dirinya kehilangan. Sebelumnya, Kevin bertemu dengan seseorang yang tidak lain adalah salah satu temannya dan ternyata orang itu juga sangat tertarik dengan kasus ini sampai terus mengulik lebih dalam lagi. Setelah itu, hasilnya ternyata selalu sama saja dan mereka berdua ketika bertemu membicarakan hal yang sama. Dari sudut pandang Kevin, setelah kejadian itu terjadi ada beberapa hal yang memang sangat tidak masuk di akal. Seolah hal itu datang untuk mengaburkan penglihatan. Dirinya masih penasaran dengan hal itu sampai sekarang ini. Sementara temannya melihat sesuatu yang tidak bisa diprediksi dan dirinya merasa kalau sebenarnya pasti meninggalkan beberapa petunjuk hanya saja orang-orang itu tidak menemukannya. Dirinya juga berusaha meyakinkan Kevin kalau kemungkinan besar ada konspirasi dan itu justru malah mengarah kedalam kegelapan yang tidak pernah di jamah oleh orang lain. Pikirannya itu memang diluar nalar dan juga sangat tidak masuk akal. Kevin yang saat itu mendengarkan ucapannya itu malah langsung terdiam seakandirinya juga tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh orang ini. Saat itulah mereka mulai menyatukan pendapat dan ternyata tidak ada sesuatu yang berubah. Bahkan sama sekali tidak berguna. Saat ini, Kevin sedang menelusuri beberapa halaman internet dan ternyata dirinya juga sempat membuka salah satu forum yang berisikan informasi terbaru. Dengan cepat dirinya menulis kata kunci dan setelah itu muncul beberapa berita yang berisikan informasi yang cukup menarik. Semua itu diperiksa oleh Kevin sampai dirinya merasa lelah. Anehnya, tidak ada hal yang membuat dirinya merasa senang karena sudah menemukan berita tentang kasus itu dan isinya juga tidak jauh berbeda dari sebelumnya ternyata. Saat itulah dirinya merasa kesal lagi dan kemudian menghentikan pencariannya. Beberapa menit setelahnya, ponselnya berbunyi dan rupanya itu ada panggilan dari salah satu temannya lagi. “Yo. Kevin. Bagaimana kabarmu? Kudengar kau sekarang ada di apartmen. Apa itu benar?” ucap orang itu melalui panggilan telepon dengan nada yang seakan sangat bergembira. “Ya. Kenapa?” “Apa-apaan bicaramu itu? kau seperti tidak ingin diriku menghubungimu saja.” “Astaga, kurasa sekarang aku sedang tidak baik-baik saja jadi kau jangan membuat keributan.” “Tunggu, jangan bilang kau merasa stress hanya karena itu?” “Memangnya apalagi?” “Ayolah. Kasus itu pasti akan ditangani mereka. Jadi kau tidak perlu terlalu keras pada dirimu sendiri untuk mengungkapnya. Kau bukanlah detektif. Kau tidak punya akses untuk menelusuri semuanya sendirian dan ah, sudahlah.” “Kau terlalu banyak ceramah kawan.” “Apa kau bilang?” “Dengarkan baik-baik. Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat sampai sejauh itu. hanya ingin tahu saja beberapa hal yang terasa janggal. Kalau dipikir kembali, ucapanmu itu memang benar. hanya saja rasa penasaranku lebih besar dibandingkan dengan rasionalitas itu sendiri.” “Wah, kalau sudah begitu pasti akan sangat sulit.” “Mau bagaimana lagi, ini memang kenyataannya. Aku merasa kalau akhir-akhir ini banyak terjadi masalah. Apa orang-orang sudah mulai frustrasi? Sialan.” “Kalau berdasarkan apa yang kulihat, sepertinya sudah sejak dulu memang begitu. Tidak ada masalah itu seperti bukan hidup di dunia ini.” “Konyol sekali.” “Tapi itulah faktanya. Kau tidak bisa menutup mata.” “Ya. Aku percaya itu.” Dari semua hal yang memang sedang terjadi, ada kalanya itu malah menjadi pertanda buruk bahkan sebaliknya. Orang-orang mulai tidak lagi merasakan tekanan yang luar biasa, melainkan mereka berusaha untuk berdamai dengan rasa sakit. Kota ini sungguh menyedihkan sekaligus menyesakkan. Disudut jalanan terlihat beberapa orang sedang berdiri seakan menunggu seseorang untuk datang. Anak-anak sekolah banyak yang merokok di jalanan dan mereka sering kali berkumpul bersama dengan teman-temannya sampai membuat salah satu wanita tua merasa kesal dengan sikap mereka yang tidak bermoral. Semua itu sering terlihat dengan jelas dan anehnya banyak orang yang menutup mata akan hal itu namun mereka sangat ketakutan ketika mengetahui berita pembantaian orang lain. Saat ini, tepat di sebuah gedung tinggi yang berada di kota ini. Seseorang baru saja terlihat memasuki lift dan kemudian menuju ke lantai selanjutnya. Tidak lama setelah itu, pria tersebut berpapasan dengan beberapa orang lainnya. Dengan senyuman yang menawan langsung menyapa orang-orang itu dan mereka juga terlihat memberikan hormat. Orang itu dengan cepat masuk kedalam salah satu ruangan dan saat itu juga kembali duduk di kursi kerjanya. Tidak lama kemudian, seseorang memasuki ruangan tersebut sambil membawa beberapa dokumen. Orang itu mempersilahkan orang yang membawa dokumen itu untuk duduk dan jangan hanya berdiri saja. “Kau membawa semuanya?” “Ya, Semuanya kubawa.” “Bagus. Bagaimana dengan yang lainnya?” “Sudah saya urus dan sekarang hanya tinggal ini saja tuan.” “Oke. Sejauh ini sudah bagus sekali. Tidak ada yang tertinggal. Hanya saja, apa kau tidak keberatan untuk melakukan pekerjaan yang lebih berat dari ini?” “Ya. Saya bersedia.” “Sudah kuduga. Oh iya, sejauh ini ada beberapa orang yang mungkin akan datang kemari. Apa kau bisa mengatasinya? Kurasa pertolonganmu sangatlah berharga untukku. Bagaimana?” “Kalau begitu saya akan berusaha.” “Nice. Kau memang yang terbaik kawan.” “Terimakasih. Kalau begitu saya permisi dulu.” “Baiklah. Kau boleh keluar ruangan ini sekarang. Jangan lupa untuk memenuhi tugasmu.” “Ya. Tuan.” Sekarang ini di tempatnya Kevin. Dirinya masih terus merasakan sesuatu yang sungguh tidak bisa dipercaya. Kali ini dirinya seakan berusaha untuk menangkis sesuatu yang datang kedalam kepalanya. Sesuatu yang sungguh berat dan itu malah menimbulkan rasa tidak karuan baginya. Kevin masih tidak bisa menyangka dengan semua ini dan dirinya hanya bisa menghela nafas saja. Sudah sejak lama dirinya memang selalu terjebak kedalam situasi yang sangat membingungkan seperti ini dan sering kali juga tidak bisa mengatasinya hanya karena ada beberapa hal yang tidak dapat dikendalikan olehnya. Kevin selalu menjadi frustrasi sampai akhirnya marah-marah sendiri tanpa sebab untuk beberapa waktu. “Apa kau merasa kesal?” tanya temannya lagi. “Bukan kesal lagi. Kurasa ini sudah melewati batas.” “Wah, itu berbahaya. Apa yang sedang kau lakukan sekarang ini?” “Berdiam diri didepan monitor. Kenapa?” “Ya. Itu memang kebiasaanmu. Bukan apa-apa. hanya sekedar bertanya saja. Sepertinya kau butuh hiburan. Kenapa kau tidak datang ke bar atau club saja? Disana kau bisa menghilangkan rasa kesalmu itu. Malam ini pasti seru sekali.” “Idemu boleh juga. Tapi aku harus melihat jadwalku dulu.” “Hah? Memangnya ada apa lagi?” “Banyak sekali pekerjaan yang harus kulakukan. Aku tidak bisa mengabaikan semua itu.” “Baiklah. Aku mengert, tuan pekerja keras kau sangat professional.” Kevin masih terus menolak ajakan teman-temannya yang ingin bersenang-senang di luar sana. Dirinya masih terjebak oleh tanggung jawab yang memang harus dilakukan olehnya. Ada banyak sekali pekerjaan dan salah satunya membuat beberapa laporan statistic yang membuat Kevin tidak bisa kemana-mana untuk saat ini. Dirinya harus mengerjakan semua laporan itu dalam waktu yang cepat karena memang kalau terus ditunda malah akan semakin menambah beban. Dirinya kali ini membuka beberapa file dan mulai mengerjakannya satu persatu. Situasi dirinya kini sangat sibuk sekali dan terus fokus dengan pekerjaannya itu. Sementara kali ini tepat di tempat temannya itu, orang itu sedang bersantai. Dirinya melihat beberapa notifikasi yang masuk ke ponselnya dan salah satunya adalah obrolan mereka didalam grup chat. Beberapa anggota yang lain setuju untuk datang ke bar mala mini dan mereka juga sepertinya sedang frustrasi sekali. Dirinya langsung memberitahu mereka kalau akhir-akhir ini memang cukup gila dan tidak ada salahnya untuk menghilangkan stress itu. Kevin yang terus mengerjakan pekerjaannya itu, sekarang tidak terasa sudah hampir dua jam berlalu. Dirinya masih belum juga selesai. Kevin kemudian menghela nafasnya lagi dan sebentar lagi dirinya selesai mengerjakan tugasnya ini. Tidak terasa, akhirnya dirinya sudah menyelesaikan pekerjaannya itu dan kemudian menghubungi temannya lagi dengan menelponnya kali ini. “Halo?” “Hey, kurasa aku berubah pikiran.” “Benarkah? Baguslah kalau begitu. Sudah kubilang bukan, kau seharusnya meluangkan waktumu untuk sekedar menghilangkan stress. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan tugasmu itu?” “Sudah selesai kukerjakan. Tidak ada masalah dengan itu.” “Apa? kau sudah mengerjakannya?” “Ya. Kenapa kau berteriak?” “Sial. Bagaimana bisa secepat itu? sebenarnya seberapa kompetennya kau?” “Hah? Astaga. Kau ini terlalu berlebihan. Memangnya mengerjakan pekerjaan yang tidak terlalu banyak itu memerlukan waktu lama? Tentu saja tidak. Kau bisa melakukannya hanya dengan beberapa jam saja kalau kau memang berniat menyelesaikannya. Sejujurnya, kalau mengenai kompeten aku sama sekali tidak tahu seberapa kompetennya diriku. Kenapa kau bertanya itu?” “Tidak. Bukan apa-apa.”
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
akting aku rosul terakhir🙏
29/01
0seruu
18/05/2025
0bagua
06/03/2025
0Tingnan Lahat