logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bab 6

Kevin sampai di suatu tempat. Saat ini terlihat ada seorang pria yang sedang menunggunya. Dengan cepat langsung menghampiri orang itu. Mereka berdua kemudian berbincang satu sama lain dan tidak hanya itu saja, mereka juga rupanya membahas kasus ini. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya kalau ternyata orang ini memang ingin membicarakan sesuatu. Kevin tentu saja mendengarkan dan tidak lama setelah itu ada salah satu hal yang ternyata mereka berpikiran sama. Dari apa yang disampaikan wartawan dalam berita, ternyata mereka berusaha untuk meredam keresahan semua orang. Selain itu, ada juga beberapa hal lainnya yang terbilang tidak masuk akal. Kevin menunjukan beberapa hal yang ditemukannya dalam halaman internet dan ternyata semuanya tidak ada bedanya. Jika dilihat kembali, rasanya cukup yakin kalau pada akhirnya itu hanya akan terkubur begitu saja. Beberapa orang pasti beranggapan kalau mereka akan menyelesaikannya. Namun, sampai detik ini masih sama dengan yang sebelumnya. Kevin juga memberitahukan sesuatu kepada orang ini kalau ternyata dirinya sama sekali tidak percaya kepada pihak kepolisian dan ketika dirinya pada waktu itu datang ke ruangan jenazah dan menanyakan hasil otopsinya, mereka hanya mengatakan kalau itu adalah pembunuhan secara sengaja dan tidak memberitahukan apakah ada petunjuk untuk pelaku atau tidak. Mereka langsung menyuruh petugas yang lain untuk segera mensemayamkan jenazah itu. Kevin yang kemudian merasa heran, langsung pergi dan menemui seorang polisi yang sebelumnya ada di lokasi saat penyelidikan. Dirinya kembali menanyakan banyak hal dan ternyata orang ini juga sama kebingungannya seperti dirinya. Sudah lama menunggu jawaban yang jelas dan ternyata tidak ada yang benar sama sekali. Sejak saat itu juga Kevin semakin yakin kalau sebenarnya mereka sengaja melakukannya atau malah memang benar-benar tidak menemukan apa pun. Setelah keesokan harinya, Kevin datang ke pemakaman dan melihat situasi disana. Banyak orang yang datang termasuk pihak kepolisian datang juga kesana. Disaat itu, terlihat seseorang yang tampak berani dan orang itu ternyata detektif. Mereka masih meletakan bunga di makam begitu juga dengan Kevin. Ketika semua orang sudah pergi, hanya dirinya saja yang masih berdiri disana sambil memandang ke arah makam rekannya itu. Pandangan Kevin memperlihatkan kalau dirinya sungguh berduka atas kejadian itu dan sekarang tidak tahu harus bagaimana. Ketika dirinya masih berada di sana sendirian, tiba-tiba saja terlihat ada seseorang datang mendekat dan orang itu kemudian meletakan bunga juga. Orang itu memakai pakaian rapi dan terlihat seperti bukan orang sembarangan. Kevin masih memperhatikan orang ini sampai akhirnya orang itu memulai pembicaraan lebih dulu. Mereka berdua kemudian berbincang sambil berdiri di depan makam.
“Kau pasti sangat bersedih,” ucap orang itu dengan nada yang sopan.
“Tentu saja. Tapi, anda siapa?”
“Ah, benar juga. Aku berlum memperkenalkan diri. Kau bisa memanggilku Benedict.”
“Baiklah. Sepertinya anda sangat mengenal mendiang. Apa itu benar?”
“Ya. Itu benar. aku memang sangat mengenalnya. Orang itu sangat baik dan juga berdedikasi tinggi. Kurasa kematiannya sekarang sudah menjadi kenangan sedih untuk semua orang. Termasuk diriku.”
“Anda benar. tapi, apa arti dari semua ini?”
“Apa maksudmu?”
“Aku masih tidak percaya dengan kenyataan yang kuterima. Rasanya itu seperti mimpi buruk saja.”
“Semua orang yang mengenalnya pasti beranggapan sama. Ya, memang tidak disangka.”
“Kalau begitu, sepertinya anda salah satu rekannya juga?”
“Bisa dibilang hanya kenalan saja. Kami tidak satu pekerjaan. Jadi kurasa tidak bisa dikatakan sebagai rekan. Bagaimana dengan anda?”
“Ah, dulu kami adalah rekan. Tapi setelah hari itu, sudah tidak lagi bahkan tidak pernah bertemu. Dan ketika aku ingin bertemu dengannya karena ada beberapa urusan, rupanya orang jahat itu sudah menghabisinya bersama dengan keluarganya. Itu membuatku tidak bisa memaafkan pelaku siapa pun itu.”
“Sungguh menyesakkan. Sejujurnya, pihak berwajib sepertinya tidak berniat untuk menyelesaikannya. Ini sudah terlihat jelas.”
“Apa? tidak mungkin. Mereka sudah berjanji.”
“Janji tidak ada nilainya dimata mereka. Itulah faktanya.”
“Sial.”
Dan saat ini Kevin masih terus berbincara dengan orang yang ada dihadapannya itu. Mereka terus mengatakan kalau semua ini pasti tidak aka nada gunanya. Kevin yang ingin memberitahukan sesuatu kepada temannya itu kalau ternyata ada beberapa hal yang cukup menyebalkan dalam hal ini. Namun, dirinya masih tidak bisa mengatakan apa yang dibicarakannya bersama dengan orang asing di hari pemakaman itu. Kali ini, Kevin mulai merasakan keraguan dan tidak lama kemudian dirinya merasakan kekesalan yang cukup dalam. Temannya itu melihat ekspresi wajah Kevin yang seakan sedang dalam masalah dan dirinya langsung mengatakan hal lain. Seketika Kevin teringat dengan beberapa pendapat yang disampaikan oleh reporter di hari itu. Orang itu pernah mengatakan sesuatu dan kemudian Kevin memberitahukan hal itu kepada teman yang ada dihadapannya itu sekarang. Reporter yang tidak tahu namanya, saat itu orang tersebut mengatakan banyak sekali pemikiran yang mengarah kedalam kasus ini dan dirinya juga berpendapat sama seperti apa yang ada didalam pikiran Kevin. Mereka seolah hanya boneka dan reporter itu menyadarinya. Karena itulah orang itu hanya berdiam saja dan tidak berambisi seperti yang lainnya dalam pengambilan gambar untuk berita. Kevin masih merasa kalau ucapannya itu cukup logis karena itulah sekarang dirinya dengan penuh percaya diri memberitahukannya kepada temannya itu.
“Jadi, orang itu benar-benar mengatakan hal seperti itu?” tanya temannya.
“Benar. Orang itu mengatakannya dengan jelas. Aku sendiri yang mendengarnya dan memang tidak ada yang salah dengan ucapannya. Semuanya terdengar masuk akal. Kalau dilihat kembali, aku juga setuju da nada satu hal lainnya yang menurutku cukup berbahaya.”
“Apa itu?”
“Kalau bukan orang-orang itu, kurasa aku tidak bisa membongkar apa pun.”
“Ah, itu memang sudah mutlak. Jadi, kita hanya bisa tahu dari berita yang mereka bagikan informasinya kepada reporter. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan semua tugasmu? Jangan bilang kau hanya fokus saja dengan hal semacam ini dan mengabaikan hal penting lainnya?”
“Tidak ada yang harus kuabaikan.”
“Wah, jadi kau mengambil semuanya?”
“Ya. Kalau pun aku melewatkan salah satunya, kurasa aku hanya akan hancur saja. Sebenarnya sudah sejak lama sekali aku tidak mau hancur. Karena itulah aku harus melakukannya dengan baik bagaimana pun caranya. Kau sendiri bagaimana sekarang?”
“Tidak jauh berbeda denganmu. Akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan dan aku nyaris frustrasi.”
“Tidak biasanya kau seperti itu. apa yang terjadi?”
“Karena kasus ini aku jadi tidak konsentrasi. Sejujurnya aku juga tidak bisa menerima semua ini. sialan, bajingan mana yang melakukan perbuatan jahat itu?”
“Kurasa hanya bisa mengumpat saja untuk waktu sekarang kau juga pasti paham maksudku.”
Saat ini, tepat di tempat yang berbeda. Ruangan yang tampak ramai dan beberapa orang lainnya seperti sedang menunggu sesuatu. Selain itu, di sudut sana terlihat ada ruangan lagi dan ketika dibuka pintunya, ada salah satu orang yang sedang berdiri menghadap jendela. Orang itu langsung memasuki ruangan tersebut dan kemudian bertemu dengan seseorang tersebut. Tidak lama setelah itu, orang itu membalikan badan dan kemudian melihat orang yang baru saja masuk ke ruangannya itu. Pandangannya seakan memperlihatkan kalau sebenarnya sedang tidak dalam keadaan baik. Orang yang ada dihadapannya itu sedikit terkejut dan kemudian merasa takut. Orang itu masih beridiri menatapnya dengan tatapan tajam. Sementara itu, di salah satu lantai di gedung ini terlihat ada seorang pria yang baru saja memasuki lift sambil membawa koper. Orang itu pergi menuju ke lantai 20 dan sesampainya disana langsung masuk ke salah satu ruangan. Tidak lama kemudian, pria itu melihat seorang pria tadi yang sedang memarahi orang yang memasuki ruangan ini lebih dulu. Pandangan pria yang baru saja sampai itu terlihat merasa heran dengan pemandangan di dalam ruangan ini yang tidak enak dilihat. Tidak lama setelahnya, pria itu langsung duduk dan berhadapan dengan orang yang memarahi bawahanya itu. Mereka berdua masih membisu dan setelah bawahan orang itu meningalkan ruangan ini, mereka mulai berbicara.
“Kenapa kau datang kemari?”
“Wow. Kau tidak suka kalau diriku datang kemari? Aneh sekali.”
“Kau selalu saja mengacaukan pekerjaanku. Apa yang kau inginkan?”
“Kurasa kau juga pasti sudah melihat beritanya. Bagaimana itu?”
“Astaga. Kau mengancamku?”
“Tidak. Bukan begitu. Sebenarnya kedatanganku kemari cukuplah sederhana. Kau pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi bukan? Lalu kenapa kau menolak untuk membereskan semuanya? Apa yang kau sembunyikan?”
“Ah, begitu ya. kau datang kemari untuk menginterogasiku? Benar begitu?”
“Ini tidak bisa dibilang sebagai interogasi. Hanya obrolan sesama teman saja. Apa kau merasa keberatan?”
‘Sialan. Orang ini. apa yang sebenarnya diinginkannya?’ batin orang itu.
Diluar sana terlihat situasinya sudah mulai mereda. Beberapa orang sudah tidak mau lagi datang ke kantor polisi dan melayangkan petisi. Mereka seakan sudah tidak peduli lagi karena memang tidak ada tanggapan sama sekali. Kevin yang sekarang sedang berjalan menuju ke halte bus, saat itu juga dirinya melihat pemandangan kota yang selalu saja suram. Orang-orang seakan menutup semua hal termasuk diri mereka sendiri. Tidak ada keramaian yang penuh dengan keceriaan. Rasanya ini seperti berada dibawah badai yang tiada hentinya. Kevin saat itu juga langsung menaiki bus dan kemudian dirinya memeriksa ponselnya yang ternyata dirinya juga membuka halaman internet.

Komento sa Aklat (142)

  • avatar
    Nur Hadi

    akting aku rosul terakhir🙏

    29/01

      0
  • avatar
    HistoryDiva

    seruu

    18/05/2025

      0
  • avatar
    PratamaMamduh

    bagua

    06/03/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata