Malam ini, semua orang yang ada di tempat ini merayakan pesta seperti penuh dengan kebahagiaan. Mereka terus bernyanyi dan juga meminum alkohol. Kevin hanya duduk diam dan tidak menenanggapi obrolan beberapa orang yang berkumpul bersama dengan dirinya. Dari sudut pandangnya terlihat kalau sebenarnya dirinya sangat kesal dengan kejadian pagi tadi. Ketika dirinya berada di apartemennya, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang meminta tolong dan ketikan dirinya memeriksakan hal itu, saat itu juga Kevin malah terlibat masalah dengan orang itu. Rupanya orang itu memang sengaja melarikan diri dan secara random meminta bantuan kepada orang yang ada di dalam apartemen yang kebetulan sekali itu adalah apartemennya Kevin. Saat ini, salah satu orang kemudian mulai merasa heran dengan sikapnya itu dan saat itu juga orang itu malah melontarkan beberapa lelucon yang langsung membuat Kevin melirik ke arah mereka. Dirinya seakan merasa semakin muak dengan semua itu dan langsung berdiri. Melihat Kevin yang hendak pergi, mereka merasa terkejut dan tidak lama kemudian malah membiarkannya saja. Kevin berjalan perlahan sambil melihat beberapa tamu lainnya yang diundang ke acara ini sama seperti dirinya. Suasana yang terasa ramai itu malah semakin membuat mood Kevin memburuk dan dirinya mulai pergi dari acara ini. Di dalam kepalanya, dirinya seakan sedang memikirkan sesuatu. Kevin sudah pulang dari acara tersebut dan sekarang dirinya berniat untuk mengembalikan moodnya itu dengan mengunjungi sebuah bar. Kali ini Kevin sungguh merasa jauh lebih baik dibandingkan dengan situasi yang sebelumnya. Dirinya yang merasa tidak karuan ini malah membuat bartender yang tidak lain adalah temannya itu merasa semakin yakin kalau ada yang salah dengan Kevin. Orang itu kemudian menuangkan lagi alkoholnya dan langsung mulai membicarakan sesuatu seakan merasa penasaran dengan apa yang terjadi kepada Kevin. Orang ini terus melayangkan banyak pertanyaan walau sebenarnya masih terus dicuekin dan orang ini sama sekali tidak merasa tersinggung. Kevin kemudian menghela nafasnya. “Sejujurnya benar-benar tidak ada hal yang harus dicemaskan,” ucap Kevin dengan santai. “Wah, begitu rupanya. Tapi kulihat kau sepertinya sedang kacau. Jangan bilang kau gagal lagi?” “Tidak. Kali ini bukan soal pertadingan sialan itu.” “Benarkah? Lalu tentang apa?” “Belakangan ini entah kenapa ada banyak orang aneh yang mengganggu hidupku. Kurasa itu bukan sebuah kebetulan. Tapi itu juga tidak bisa kujadikan semacam keyakinan semata.” “Ah, hanya karena itu rupanya. Kupikir kau sekarang sedang kesal karena gagal lagi ternyata bukan. Untunglah. Ngomong-ngomong, kau merasa ada yang aneh?” “Hah? Kenapa kau bertanya seperti itu?” “Bukan apa-apa. hanya pertanyaan biasa saja kau tidak perlu merasa terbebani begitu.” “Cih, siapa yang terbenani? Tidak ada.” “Oh iya, belakangan ini kudengar ada beberapa orang yang terlibat dengan skandal keras. Kau tahu itu?” “Orang-orang itu rupanya. Sudah tahu. Mereka memang menyebalkan dan sepantasnya mendapatkan hukumannya.” “Kau memang kejam seperti biasanya. Tapi kurasa setuju dengan ucapanmu itu. memang benar akhir-akhir ini orang-orang sudah gila. mereka bahkan banyak datang kemari dan terkadang membuat kekacauan. Kau tahu apa yang kurasakan?” “Pasti sangat kesal.” “Kau benar. Nyaris saja kuhajar mereka habis. Astaga. Memang sialan.” “Kau sudah mulai frustrasi?” “Benar. Ini saja sudah membuatku nyaris gila. Ah, sudahlah itu terlalu menyebalkan bagiku kali ini.” Kevin kemudian terdiam dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Ada beberapa hal yang selama ini mengganggu pikirannya dan semua itu malah terus bertambah. Selama ini, ada sesuatu yang terus mengganjal sampai Kevin terus merasa penasaran akan hal itu dan rupanya dirinya sama sekali tidak menemukan apa yang menjadi penyebabnya dan hanya kekosongan saja yang berhasil ditemukan. Saat bartender ini terus mengobrol dengan Kevin, dari arah meja dekat sudut belakang terlihat seseorang yang sedang duduk dan sepertinya sengaja menguping pembicaraan mereka berdua. Orang ini tidak lama setelahnya langsung terseyum menyerigai dan kemudian beranjak dari tempat duduknya itu dan pergi dari bar ini. “Sepertinya itu bukan masalah yang serius,” ucap Kevin begitu mendengar ceritanya bartender ini. “Kau benar. Memang bukan masalah yang serius tapi aku merasa kalau semua itu memang cukup membuatku kesal dan aku sering kali marah-marah gara-gara itu.” “Kau marah-marah?” “Benar. kau tidak percaya padaku?” “Tidak juga.” “Untungnya kesadaranku masih ada sehingga masih bisa berpikir jernih. Hebat bukan?” “Tidak ada yang hebat. Oh iya, sudah kuperiksa beberapa file yang mereka kirimkan padaku dan semua itu isinya sama saja. Tidak ada yang menarik.” “Ah, maaf saja kurasa itu bukan bagian salahku. Jadi kau saja yang sebaiknya bertanya pada mereka.” “Sudah kuduga kau pasti berkata seperti ini.” “Lagi pula aku sudah bukan lagi bagian dari mereka. Karena itulah tidak ada gunanya kau mempertanyakannya padaku. Ini hanya sekedar informasi saja.” “Begitu rupanya. Padahal ada banyak yang harus kupertanyakan.” “Kau masih terus penasaran ya? hati-hati, rasa penasaranmu itu bisa saja membunuhmu. Kau bisa dalam bahaya kawan.” “Kalau soal itu aku sendiri sudah tahu dan aku tidak peduli.” “Seberapa beraninya kau sampai tidak peduli dengan nyawamu sendiri? Berhentilah berlebihan kalau kau mati semua orang akan bersedih.” “Memangnya siapa yang akan mati?” “Ah, ini hanya perkiraan saja. Kau tidak perlu merasa kesal begitu. Astaga. Tempramenmu memang parah sekali.” Meski sudah banyak sekali yang dikatakan bartender itu, Kevin masih terus mempertanyakan isi kepalanya. Setelah itu, dirinya kembali meneguk minumannya dan tidak lama setelahnya kembali berbincang lagi. Mereka berdua seakan sedang membicarakan banyak hal yang sangat serius. Tidak terasa sudah tiga jam berlalu, Kevin masih berada di tempat ini dan sekarang dirinya merasa kalau mungkin saja apa yang dikatakan oleh orang ini ada benarnya dan tidak semuanya isinya hanya omong kosong belaka. Saat itu juga Kevin tersenyum menyerigai seolah dirinya sudah merasa puas dengan beberapa informasi yang baru saja didapatkannya itu dan dirinya seakan merasa mungkin saja benar. “Sepertinya kau sudah merasa senang,” ucap bartender. “Kurasa baru saja kutemukan sesuatu yang memang menarik.” “Kau menemukan apa?” “Ada beberapa hal yang terkadang membuatku merasa senang dan itu mungkin ada hubungannya dengan sesuatu yang kucari.” “Hah? Dasar kau ini. Sejujurnya itu terlalu beresiko. Apa kau siapa menanggung semua resikonya?” “Kalau soal itu bukan masalah besar bagiku. Tidak perlu merasa khawatir. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Seperti halnya apa yang mereka lakukan belakangan ini,” ucap Kevin sambil tersenyum menyerigai lagi. “Kau ini memang sudah kebal dengan ancaman ya? kurasa itu bisa kumengerti juga. Semoga kau menemukan apa yang kau inginkan itu.” Ada banyak sekali misteri yang masih terus bersarang didalam kepalanya Kevin. Berbeda dengan sebelumnya, tidak lama setelah itu Kevin melihat adanya beberapa kenyataan yang ternyata memang tidak sama dengan apa yang selama ini didalam pikirannya. Sudah ada sebagian hal lain yang memang tidak akan pernah diduga dan kali ini dirinya sungguh merasa kecewa dengan beberapa alasan itu. Tidak hanya itu saja, Kevin juga merasa kalau sebenarnya memang ada yang salah dengan semua itu dan malah hanya menandakan hal lainnya. Satu bahkan dua hal itu malah semakin banyak membebani Kevin untuk beberapa waktu. Tidak lama setelah itu, Kevin kembali tersadar dan kali ini dirinya masih merasa kalau sepertinya dugaannya itu memang selalu saja meleset. Ketika ada berita dan bahkan semua orang merasa khawatir dengan hal itu, hanya dirinya saja yang memang terlihat biasa saja dan sampai detik ini masih tidak ada kemajuan. Semua itu seolah sengaja menutupi semuanya dan memang hanya ada satu alasan kenapa semuanya selalu saja sama. Kevin kemudian memegangi kepalanya seolah sudah merasa pusing dengan beberapa pemikiran yang ada didalam kepalanya itu dan dirinya nyaris tidak bisa menghindar lagi. Kali ini dirinya sungguh terjebak didalamnya mungkin saja itu hanya akan bertahan untuk sementara atau mungkin juga malah selamanya. “Kau masih memikirkan banyak hal?” tanya bartender itu. “Aku merasa ada yang salah dengan diriku dan itu malah ada hal yang memang menyebalkan.” “Kau masih terjebak dalam pemikiran itu rupanya. Sejujurnya dunia ini memang jahat dan kau hanya perlu harus terbiasa saja. Dengan begitu kau tidak akan merasa pusing sampai seperti ini.” “Ah, kau benar juga. Tapi aku masih saja merasakan hal yang sama dan aku sulit sekali menghilangkannya. Aku merasa kalau sebenarnya ini ada yang salah.” “Apanya yang salah?” “Mungkin ada yang lain.” “Aku masih merasa heran dengan isi kepalamu. Kau terlalu memaksakan diri. Kau tidak harus seperti itu.” Ucapannya itu memang tidak salah dan saat ini Kevin langsung terdiam. Tidak lama setelahnya dirinya langsung beranjak dari tempat duduknya dan kemudian pergi. Sudah lama sekali dirinya tidak merasakan dunia ini dengan damai dan memang itulah yang terjadi untuk saat ini. Kevin melihat ada orang-orang yang saat ini sedang berkumpul dan mereka sepertinya sedang melakukan sesuatu. Kevin kemudian merasa penasaran dan setelah itu Kevin kembali ke rumahnya. Suasana rumah yang sangat sepi. Apartemen ini sudah seperti tempat asing dan kali ini dirinya membaringkan diri di sofa sambil menghela nafasnya dengan perlahan. ‘Sial. Kenapa selalu saja seperti ini?’ ucap Kevin dalam hati.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
akting aku rosul terakhir🙏
29/01
0seruu
18/05/2025
0bagua
06/03/2025
0Tingnan Lahat