“Itu! itu bukannya Serli?” Semua sangat terkejut dengan kenyataan yang mereka lihat, ternyata wanita yang bermain api dengan suami Ratu adalah sahabatnya sejak lama, bahkan mereka sampai saat ini masih berhubungan dengan sangat baik. Jantung Ratu terasa ingin berhenti, dadanya sangat sesak begitu pula dengan hatinya yang terasa hancur. Air dalam matanya terus mendorong agar bisa keluar dengan bebas dari dalam kelopak mata indah itu, semua mata melihat sendu pada wanita yang ada didekat mereka saat ini, karena mereka saja tidak percaya dan merasakan sakitnya, apalagi Ratu. "Nangis lah kalo lo emang mau nangis, kita akan temani sampai keadaan lo membaik." ucap Riska lalu memeluknya. Riska memang yang paling keras bicara diantara semua, namun dia juga paling ada didepan jika ada dari mereka yang tersakiti. "Gua bakal bikin perhitungan sama mereka berdua." Tukasnya. Seketika tangis Ratu pecah, semua jadi ikutan menangis melihat kenyataan hidup Ratu saat ini. Pelukan hangat mereka berikan agar Ratu merasa kalau dia tidak sendiri, saat Ratu menangis dan merasakan kesedihan yang dalam, baby Al terbangun, dia menangis sangat kencang membuat semua yang ada di ruangan itu panik. “Eh baby Al bangun!” teriak Ica. Ratu menghapus air matanya dan bergegas ke kamar mengecek keadaan Al, Riska dan Ica mengikuti langkah Ratu, mereka merasa sedikit cemas dengan suara tangis Al yang sangat keras. “Ya ampun Al panas.” ucap Ratu saat dia menggendong anaknya itu. Riska datang bersama Ica dan langsung menghampiri Ratu seraya berkata, “Bagaimana keadaan Al, Ra? apa dia baik-baik saja, kok nangisnya kenceng banget!” Ratu melihat ke arah Riska, “Badannya panas Ris, gimana yah?” “Kamu punya alat yang buat cek suhu tubuh gak?” “Iya, aku belum punya,” sahut Ratu cemas. “Kita bawa saja langsung ke rumah sakit, yang gua denger sih klo panas itu harus segera ditangani,” “Iya Ra, sebaiknya kita langsung bawa saja.” ucap Ica. Ratu mengangguk, dia minta bantuan Riska untuk mempersiapkan barang yang ingin dibawanya, sementara itu Ica keluar untuk memberitahu teman yang lain kalau mereka akan membawa Al ke rumah sakit, dan Ica meminta mereka untuk merapikan rumah setelah itu mereka bisa langsung pulang. Ratu dan Riska keluar dari kamar, mereka langsung menuju kendaraan milik Riska. “Guys gua minta tolong yah, makasih semuanya.” seru Riska. Ratu pergi, sisanya masih berada di rumah Ratu untuk membersihkan tempat itu. Sambil mereka membersihkan rumah obrolan ringan pun tercuat, apalagi kalau bukan tentang Erlang suaminya Ratu. Bahkan sampai saat Ratu pergi membawa Al kerumah sakit, Erlang masih belum pulang, padahal saat itu jam pulang kerja sudah lewat dari dua jam. “Apa yang kalian pikirkan soal Erlang, jam segini aja dia masih belum pulang!” ketus Rara. “Yah sudah pasti lah lagi bersenang-senang dengan gundiknya, asli gua gak percaya kalau si Serli tega melakukan itu sama Ratu,” “Si Erlang juga kurang ajar lah, masa iya selingkuh dengan sahabat dari istrinya, gak mikirin perasaan Ratu, bagaimana sakit hatinya dia,” “Itu lah bahayanya kalau punya teman yang terlalu kita percayakan deket sama suami kita, plus ada sosok lain di antara mereka yang selalu meniupkan bisikan-bisikan yang membuat hubungan mereka hancur.” Setengah jam mereka berada di rumah itu untuk merapikan semua makanan yang belum sempat mereka makan, dan selama mereka disana Erlang masih juga belum pulang. Ada yang sempat bertanya apa mereka harus menghubungi Erlang, untuk memberi kabar kalau anaknya itu sedang dilarikan kerumah sakit, namun yang lain menjawab tidak perlu. Dalam perjalanan menuju rumah sakit wajah cemas Ratu sangat terlihat, apalagi baby Al panasnya sangat tinggi dan wajahnya memerah. Dia terus minta pada Riska agar cepat membawa kendaraannya, namun saat itu kebetulan jalan macet. Riska mencari jalan alternatif, namun ternyata sama saja macetnya. “Damn!” teriak Riska kesal sambil memukul stir mobilnya, “Kenapa pake acara macet sih!” timpalnya. Wajah Ratu terlihat semakin cemas, di tengah kecemasannya Ica berkata apa perlu dia menghubungi Erlang. Ratu tidak langsung menjawab, dia bingung harus menjawab apa, dia malas untuk memberitahu apapun saat ini pada Erlang, karena rasa sakit hatinya membuat dia merasa jengah dengan suaminya itu, tapi kalau dia tidak memberitahukannya, dia takut ada apa-apa dengan Al dan nanti dia disalahkan, mau bagaimana pun Erlang adalah Ayahnya AL. “Ya sudah, kamu coba saja hubungi dia.” ucap Ratu. Ica langsung mencoba untuk menghubungi Erlang, namun sudah empat kali dia mencoba, Erlang masih belum juga menjawab sambungan itu, padahal teleponnya aktif, entah sedang apa dia disana. Sementara itu beberapa jam sebelum Ratu membawa Al, dikantor Erlang saat satu persatu staf di ruangan itu mulai pergi, ada satu staf yang masih terlihat sibuk di meja kerjanya. Semua menyapa dirinya pulang lebih dulu, sedangkan dia masih menyibukkan diri dengan terus merapikan barang di mejanya. Setelah semua barang di mejanya rapi, wanita itu melihat sekeliling ruangan yang terlihat sudah sepi, hanya tinggal dirinya sendiri. Merasa semua sudah aman, dia melangkah menuju ruangan atasannya yang terletak beberapa langkah dari meja kerjanya. Tanpa mengetuk pintu wanita itu masuk dengan langkah yang dibuat sangat menggoda, Erlang melihat wanita itu dengan tatapan tak berkedip dan senyuman tipis di wajah, wanita itu terus melangkah ke arah Erlang dengan membuka satu persatu kancing baju kemejanya. Erlang memutar kursi kerjanya, agar wanita itu bisa langsung mendekati dirinya. Dia memberi ruang seluas-luasnya pada wanita tersebut, agar wanita yang sudah menebar pesona itu lebih mengeluarkan lagi gerakan yang membuat dirinya terlihat seksi dan menggoda. “Halo sayang.” ucapnya dengan suara pelan mendesah manja, membuat daya tarik lebih untuk dirinya dimata Erlang. Kemudian tanpa rasa canggung dia duduk di atas pangkuan Erlang, senyum sumringah terlihat diwajah pria yang mendapat pemandangan yang membuat hasrat matanya tak pernah mau berkedip. “Kamu selalu membuat mataku tak bisa berkedip.” ucap Erlang yang melihat dua gundukan besar di hadapannya, benda kenyal yang membuat tangan nakalnya ingin selalu berada disana. Tangan Erlang bergerak melingkar di pinggang rampingnya, lalu perlahan wajah mereka saling mendekat. Sampai bibir mereka saling menempel dan saling bertautan, dari awal yang perlahan sampai saat Erlang mempercepat gerakan tautannya agar sedikit membangkitkan hasrat mereka. Tangan wanita itu yang adalah Serli mulai menyusup kebagian belakang leher keras Erlang, kala tautan mereka mengalami percepatan gerakan, jari-jari lentik Serli menyusup ke sela rambut Erlang yang tadinya rapi menjadi sedikit berantakan saat ini.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat bagus
02/03
0bagus dan keren
09/01
0ceritanya bagussss🤩
24/12
0Tingnan Lahat