logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

KETAHUAN

Mendengar celetukan Riska, semua mata tertuju padanya, merasa jadi pusat perhatian karena ucapannya, Riska cuek seolah tidak memperdulikan tatapan mereka.
"Apa kamu bisa mempertanggung jawabkan ucapan kamu Ris?" Tanya Ratu dengan wajah datar, semua kembali menatap dan menunggu jawaban Riska.
Dengan mulut yang masih penuh dengan makanan dia menjawab tegas, "Bisa lah, bukan cuma gua Ra, tuh mereka juga semua tahu," sambil menunjuk ke arah teman mereka yang lain.
Ratu langsung melihat ke arah mereka, dan semua temannya diam dengan sedikit menundukkan kepalanya. Ratu tersenyum tipis lalu menutup wajahnya, terdengar tawa dari balik wajah yang tertutup itu.
"Ra, bukan maksud kita untuk menyembunyikan semuanya sama lo,"
"Terus apa namanya!" Sahut Ratu lemas, dia menghembuskan nafas panjang, "Jujur aku kecewa dengan kalian." timpalnya.
Ica mendekati dan merangkul Ratu seraya berkata, "Bukannya kita gak mau bilang atau menyembunyikannya, tapi kita baru tahu itu semua dari Riska sekitar tiga hari yang lalu, baik aku dan teman yang lain mencoba cari bukti agar kuat ucapan Riska, namun sampai saat ini kita belum menemukan itu, hanya Riska yang baru melihatnya, karena itu dia berani berkata seperti itu."
Ratu kembali menghela nafas panjang, dia tidak menyangka kalau Erlang akan melakukan itu padanya, dia menjadi semakin penasaran dengan wanita yang sudah menggoyahkan hati suaminya.
Semua berusaha membuat Ratu tenang, mereka akan mencoba mencari bukti. Agar Ratu bisa dengan mudah bertanya bahkan menuduh bila memang ada bukti yang kuat.
"Ris, memangnya apa yang kamu lihat sampai kamu bisa berkata seperti itu?" Tanya Ratu kembali pada akhirmya.
Wajah Riska berubah malas, dia enggan untuk menjawab pertanyaan Ratu sebenarnya. Melihat raut wajah Riska seperti itu, Ratu kembali berkata, "Sudah lah gak apa-apa, gua akan baik-baik saja kok, kan ada kalian."
Semua memeluk Ratu seolah merasakan apa yang dirasakan Ratu, "Aish sudah lah jangan terlalu banyak melo, udah tahu kan klo gua gak suka," ucap Riska lalu duduk mendekati Ratu dan yang lain, "Bener mau denger cerita gua, apa yang udah gua denger dan gua lihat?" Ratu mengangguk, "Oke kalau begitu, siap kan hati lo, yang lain siap-siap ambil ember, handuk atau balon," gurau Riska yang dapat pukulan dari Ica.
Riska menghela nafas, lalu melihat wajah temannya satu persatu. Mulutnya terbuka dan semua serius menunggu cerita dari bibir Riska, "Apa gak sebaiknya kita makan dulu,” ucapnya yang membuat semua temannya gemas berteriak, ada yang memukul juga mencubit gemas Riska, “Ah rese lo Ris, gak tahu apa kalau kita semua udah deg-degan denger lo mau bilang apa,” teriak Ica yang disambut gelak tawa oleh Riska.
“Iya sorry-sorry, jadi seperti ini …,” ujar Riska, lalu menceritakan kejadian pertama kenapa dia bisa berasumsi kalau suaminya Ratu itu bermain hati dengan wanita lain.
Riska bercerita kalau dia mendengar perbincangan Erlang dengan seorang wanita di telepon, di sana dia mendengar kalau Erlang memanggil wanita itu dengan sebutan beb dan sesekali bercanda manja, juga mengeluarkan kata rayuan serta pujian untuk wanita yang sedang berbincang dengannya di telepon itu.
“Nah mulai dari sana gua sedikit curiga dengan Erlang, namun gua gak mau ambil pusing dengan itu,” ungkapnya, lalu dia kemballi bercerita kalau dirinya pernah melihat satu nama yang dikenalnya menghubungi Erlang saat dia memberikan berkas dikantor Erlang, Riska bersikap biasa karena dia tahu kalau mereka memang saling kenal dan dekat, jadi dia tidak memiliki rasa curiga atau semacamnya.
Namun saat dia melangkah keluar Erlang menjawab telepon itu dan memanggil wanita itu dengan sebutan yang pernah didengar oleh Riska kala itu. Jujur Riska berkata pada Ratu kalau dia terkejut, dia belum mau menceritakan hal itu kepada yang lain sebelum dia memastikan kebenarannya, jadi untuk beberapa hari dia mencari tahu bukti agar bisa berkata dengan lantang di depan semua termasuk Ratu.
Keinginannya ternyata disambut baik Tuhan, Riska melihat Erlang sedang melakukan hal yang tidak senonoh didalam gudang file, Riska melihat langsung dengan matanya. Rasa geram melihat suami juga termasuk temannya itu langsung membuat Riska panas, apalagi Erlang adalah suami dari sahabat dekatnya.
“Rasanya saat itu gua pengen benget tuh keluar dari persembunyian gua terus langsung menghajar si Erlang sama tuh cewek, dasar pada gak punya otak dan perasaan, udah pada gila mereka berdua kemasukan sosok yang bikin mereka gak jelas, sampai gak takut ketahuan melakukan itu di gudang,” ungkap Riska, “Gua sampe rekam perbuatan mereka, dan rencananya mau gua kasih ke HRD biar mereka di keluarkan tampa hormat dari perusahaan,” timpalnya.
“Jadi lo punya rekaman mereka lagi wik-wik digudang Ka!” seru Ica.
“Kok lo gak bilang sama kita, mana sini gua lihat,” ucap yang lain.
“Punya tapi cuma mesum belum wik-wik, gak tahu mereka melakukan itu atau tidak disana, soalnya gua gak kuat liat lama-lama, takut gua panas malah ngelabrak mereka nanti,” ungkap Riska.
“Iya mana coba sini kasih tahu kita, bukan apa-apa, kalau memang cukup kuat kita laporin aja langsung biar mereka tahu rasa, enak aja berbuat gitu di kantor bikin apes semua,”
“Tau tuh si Erlang, apa ga ada duit banget dia sampai mau melakukan itu disana,”
Rasa kesal semua terus mengalir, mendengar ucapan dari semua temannya Ratu hanya diam, dia menahan semua rasa saat mendengar semua cerita dari Riska, hatinya terasa sangat sakit namun sakitnya berbeda, tidak bisa dia ungkapkan dengan ucapan.
Saat semua setuju untuk melihat rekaman perbuatan Erlang, semuanya melihat ke arah Ratu, dengan sangat berat Ratu mencoba untuk sedikit tersenyum seraya berucap lirih, karena dia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya, “Silakan saja, aku juga penasaran, kalau aku tidak kuat melihat itu aku akan berpaling atau meminta untuk mematikannya.”
Semua mendekat pada Ratu, lalu Riska mulai membuka layar ponselnya dan memutar rekaman tentang Erlang. Semua mata menatap tajam ke layar ponsel Riska, awal rekaman mereka masih diam dengan serius, karena mereka masih belum melihat jelas siapa wanita yang bersama Erlang saat itu.
Hal itu membuat mereka semakin penasaran dan terus melihat tampa berkedip menunggu dengan jelas wajah wanita tersebut, di layar terlihat kalau Erlang begitu berhasrat tidak ingin menahan lama gairahnya, wajah wanita itu mulai terlihat, mata Ratu membulat sempurna saat dia mulai dengan jelas melihat wajah wanita yang ada bersama Erlang, sama dengan Ratu semua juga dibuat terkejut karena hal itu.
“Itu! itu bukannya Serli?”


Komento sa Aklat (128)

  • avatar
    Nurkahfi Cahyadi

    sangat bagus

    02/03

      0
  • avatar
    LutfiAhmadlutfi

    bagus dan keren

    09/01

      0
  • avatar
    caaa_1308cacaaa

    ceritanya bagussss🤩

    24/12

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata