"Siapa wanita itu, kenapa mereka terlihat sangat akrab." Ratu semakin memperhatikan gestur tubuh dari teman wanita sang suami, ia seperti merasa mengenali tubuh dan cara berpakaian wanita itu, terlihat sangat tidak asing baginya. Rasa ingin lebih tahu sangat terasa, namun lagi-lagi dia tidak ingin membuat Erlang semakin marah dan makin memperkeruh suasana, dia takut kalau itu adalah temannya yang sengaja lewat, yang pasti Ratu mencoba berbaik sangka pada suaminya itu. Lirikan tajam terlihat di sudut mata wanita yang sedang bersama Erlang, posisi dirinya memang menghadap ke arah Ratu, dia melihat kalau saat ini Ratu sedang memperhatikan mereka, sedangkan Erlang membelakangi Ratu. “Er, kamu tetap diam yah, Ratu sedang melihat ke arah kita,” ujar wanita itu, membuat Erlang terkejut. “Apa! kamu yakin itu dia Ser?” “Iya, aku jelas melihatnya itu dia, sepertinya dia sedang mencari kamu, lalu apa yang mau kamu lakukan?” “Apa kamu punya akal?” Mereka diam sejenak, memikirkan cara agar aksi mereka tidak tercium oleh Ratu. “Gini aja deh, aku akan bilang kalau kamu teman lamaku yang kebetulan lewat saja, nanti biar aku yang urus,” ujar Erlang. Lalu dia minta agar Serli pulang dan akan dia kabari lagi nanti, wanita itu menuruti perintah Erlang, mereka saling berjabat tangan lalu Serli pergi seperti teman biasa. Erlang melambaikan tangannya saat kendaraan itu pergi, Serli memilih lawan arah, beruntung saat ini dia tidak memakai kendaraannya, kalau ia maka Ratu akan sangat mengenali dirinya. Erlang balik badan untuk kembali ke rumahnya, saat dia berbalik ternyata Ratu sudah tidak ada di gerbang, dia bergegas kembali agar Ratu tidak semakin curiga. Sampai di dalam rumah Er melihat Ratu sedang menyusui Al, dia menghampiri dan memberikan kecupan singkat di kepala Ratu. “Kamu aku cariin tadi Mas,” kata Ratu. “Emm, ada apa? Tadi aku ke depan rumah, ada teman lama aku yang kebetulan lewat sini, ya sudah aku suruh mampir saja sekalian lewat, tapi dia tidak mau masuk karena cuma sebentar dan buru-buru,” ungkap Erlang. “Iya tadi aku lihat kamu diluar, soalnya aku cari seisi rumah kamu gak ada, aku pikir kamu di warung depan, pas aku kedepan kamu sedang sama teman kamu, jadi aku gak berani ganggu aku masuk lagi,” ujar Ratu. Setelah perbincangan itu, Ratu lupa untuk membicarakan masalah yang membuat mereka tidak bicara selama dua hari belakangan. “Sepertinya dia sudah agak baikan, aku harus bicarakan malam ini juga,” ucapnya pelan. Setelah menyusui Al, Ratu pergi untuk bicara dengan Er, dia pergi ke ruangannya Er karena tadi dia bilang kalau dia akan mengerjakan sedikit pekerjaannya yang belum selesai. Saat Ratu sampai di depan pintu ruang kerja Er, dia mendengar suara Erlang sedang bicara dengan seseorang, bisa terdengar dengan jelas karena pintu itu sedikit terbuka. Awal tidak ada yang membuat Ratu curiga, namun saat tangannya memegang handle pintu dan ingin membukanya, Ratu menghentikan gerakan itu karena dia mendengar sesuatu yang membuat degup jantungnya sejenak berhenti. “Iya Beb, semuanya beres sudah teratasi dengan baik, tenang saja,” ucap Erlang, dia tersenyum dan terlihat bermanja dengan penelpon itu. Candaan manja Erlang dengan seseorang yang ada di ujung telepon itu menurut Ratu sudah tidak wajar layaknya teman, ada sedikit rasa marah dalam diri Ratu mendengar suaminya bermanja dengan seseorang, sedangkan keadaan dia saat ini dengan Erlang sedang tidak baik. Semakin lama dia berada ditempat itu, perasaan Ratu semakin panas, dan akhirnya dia memilih pergi karena takut bila nanti rasa itu akan semakin dia marah. Ratu berjalan cepat karena emosi, sampai dikamar dia langsung melemparkan tubuhnya di atas kasur, ada rasa yang sangat ingin dia keluarkan, matanya mulai berkaca-kaca karena tumpukan air yang ada di dalam mata sudah berontak ingin keluar. “Tahan, tahan …, itu bukan apa-apa, keep positive thinking, dia tidak melakukan apa yang ada di dalam otak kamu Ratu, come on baby take a breath,” ucapnya untuk dirinya, dia mencoba menenangkan dirinya sendiri, walaupun sedikit susah tapi dia tetap berusaha untuk tenang. Setengah jam berlalu, tapi Erlang belum juga kembali untuk beristirahat, Ratu mencoba menahan semua rasanya, dia menarik nafas panjang agar dia kembali lebih tenang, dia mencoba untuk beristirahat, dan berharap esok saat dia bangun semua akan baik-baik saja. Pagi hari mereka bersikap seperti biasa, Ratu sebisa mungkin bersikap sangat biasa sampai Erlang pergi untuk bekerja. Sore hari sekitar pukul lima dia dikagetkan dengan kedatangan teman-temannya yang dikantor, mereka datang untuk melihat baby Al. “Ya ampun ko kalian gak bilang-bilang sih kalau mau datang,” teriak senang Ratu saat membuka pintu depan, lalu mempersilahkan mereka semua untuk masuk. Sambil berjalan salah satu dari mereka menjawab, ”Ah kita itu sengaja buat kejutan say, kita kan teman baik jadi gak mau merepotkan sang Ratu,” “Betul itu beb, kasian kalau lo harus repot karena kedatangan kita, udah pokoknya tenang saja, makanan dan minuman kita sudah bawa semua termasuk cemilan,” ungkap satu temannya lagi yang membuat riuh suasana. Mereka mengeluarkan semua barang yang mereka bawa, mata Ratu sampai membesar karena mereka banyak sekali membawa makanan dan cemilan. “Gila kalian, banyak banget bawa makanannya,” seru Ratu, “Iya lah, kan lo lagi menyusui, jadi perlu banyak asupan,” “Betul banget, Ra, soal kerjaan lo bagaimana, mau lanjut atau nggak?” Ratu lalu menceritakan kalau dia sebenarnya ingin lanjut, tapi Erlang tidak mengijinkan dengan alasan kalau dia harus fokus mengurus Al, sedangkan pikiran Ratu dia harus tetap bekerja agar dia bisa menghidupi dan memberi kecukupan materi untuk kedua orang tuanya. Ratu juga bercerita kalau karena hal itu dia dan Erlang sudah beberapa hari tidak bicara, karena kekeh dengan pemikiran masing-masing. Dalam benaknya dia ingin menceritakan apa yang beberapa kali dia lihat dan dengar mengenai Erlang, namun ada rasa takut kalau itu akan menambah kerusuhan, karena apa yang dia lihat dan dengar juga belum tentu benar, jadi dia memilih menyimpan semua dalam hatinya untuk sementara. “Ah alasan aja tuh si Erlang bilang lo gak boleh kerja suruh urus baby Al,” “Iya, padahal kalau masalah itu kan banyak solusinya, salah satunya bener apa kata lo, orang tua lo bisa dibawa kesini dan lo tetep bisa kerja kan,” “Iya, tapi pas gue pikir lagi mungkin dia ngerasa gak nyaman kalau ada orang tua gua,” “Ah semua itu alasan dia doang tau gak, nyuruh lo diem aja dirumah ga kemana-mana, biar dia semakin bebas dan enak berselingkuh dengan pasangan kotornya itu,” celetuk geram Riska, membuat semua yang ada disana diam mematung.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat bagus
02/03
0bagus dan keren
09/01
0ceritanya bagussss🤩
24/12
0Tingnan Lahat