logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bab 7 Jalan Berdua

“Jadi lo yang selama ini ngirimi gue surat?”
“Iya. Maaf, gue enggak ada keberanian buat ngomong langsung.”
Suasana mendadak canggung. Hening meningkahi keduanya. Embusan angin kembali menyebarkan aroma vanila dan menyeruak indra penciuman Rama. Jantungnya kembali bertalu, ada denyar aneh yang membuat kelu. Vanya masih menunduk sembari memainkan kaki. Melihat hal itu, Rama berdeham dan membuat gadis di depannya mendongak.
“Ehm, mau jalan?”
“Hah. I-iya, mau.”
Vanya tersenyum hingga membuat debaran dalam dada makin menjadi. Masih berbalut canggung, mereka naik motor meninggalkan halaman sekolah. Rama sengaja melajukan kendaraan roda dua itu perlahan mengingat Vanya berpegangan pada ujung jaket. Berkali-kali remaja bertubuh gempal itu melihat sang gadis lewat kaca spion, lalu menunduk saat aksinya diketahui. Mereka berputar-putar tak tentu arah sampai akhirnya berhenti di depan gerobak penjual batagor.
“Lo suka batagor enggak, Van?”
“Su-suka, kok, Ram.”
“Kita makan ini dulu, ya? Abis itu gue anterin lo pulang. Ehm, lo enggak alergi makan pinggir jalan begini, kan?”
“Enggak. Gue juga sering, kok, nongkrong bareng temen-temen.”
“Oklek. Lo duduk dulu! Biar gue yang pesen. Lo mau es campur apa es teler?”
“Samain aja kayak punya lo, Ram.”
“Oh, oke.”
Rama memesan dua porsi batagor dan es campur. Mereka pun makan dalam diam saat pesanan datang. Rama berkali-kali melirik Vanya yang asyik makan dengan anggunnya. Sekali lagi denyar itu menyelusup memenuhi rongga dada dan membuat remaja bertubuh gempal itu menunduk. Vanya yang mengetahui hanya mengulum senyum.
“Ada yang lucu, Van?”
“Enggak. Muka lo kenapa merah begitu, Ram?”
“Oh, ini ... anu mungkin kepanasan aja. Lo udah selesai belum makannya? Gue anterin pulang, yuk!”
“Ehm, iya.”
Mereka menaiki motor dan kembali menyusuri jalanan menuju rumah Vanya. Remaja bertubuh gempal itu melongo ketika sampai di depan sebuah rumah yang sangat besar. Pagar kayu berwarna hitam tinggi menjulang sehingga halaman dan penampakan rumah tidak terlihat jika pagar itu tertutup. Vanya turun dari motor lalu berdiri di depan pagar.
“Makasih, ya, Ram.”
“Sama-sama. Gue cabut dulu, ya?”
Gadis itu mengangguk lalu melambaikan tangan sebelum meminta satpam untuk membukakan pintu. Selama perjalanan pulang, Rama hanya menggeleng.
Anak horang kayah, bisa-bisanya demen ama gue yang bentukannya kayak gini. Dia rabun apa gimana, ya? Perasaan gue enggak pakai pelet apa-apa. Kenapa dia naksir gue? Wajah aja pas-pasan, dompet tipis cenderung kosong, tunggangan cuma motor doang. Ya Allah, ini anugerah apa ujian?
Rama bermonolog sembari melamun sampai tidak melihat ada lubang selebar dua meter di depan. Tanpa ampun dia menerjang dan hilang kendali sehingga terjatuh dan menyebabkan separuh badan bagian kiri berlepotan lumpur. Remaja itu mengerang kesakitan lalu mencoba bangkit.
“Sialan! Gara-gara mikirin Vanya ini. Hedeh, untung kagak kenapa-napa ini motor. Lecet dikit bisa kena omel tujuh hari tujuh malam.”
Remaja itu pun kembali melajukan motor menuju rumah. Gegas dia berganti baju lalu memandikan kendaraan roda duanya. Tepat saat itu mobil Amaya memasuki halaman. Wanita itu keheranan saat mengetahui Rama mencuci motor.
“Kamu kesambet apa tadi di jalan, Ram?”
“Kamsut Mama apa?”
“Tumben-tumbenan kamu nyuci motor sendiri, biasanya juga dicuciin di bengkel.”
“Tongpes, Ma. Terpaksa nyuci-nyuci sendiri.”
“Awas nanti malam hujan. Besok jalanan becek, enggak ada ojek, yang ada capek.”
“Mamaaa!”
Amaya mengeloyor meninggalkan Rama yang bergeming karena tetes air langit mulai turun membasahi bumi. Remaja itu segera menyiram motornya yang tertutup air sabun lalu beranjak ke kamar untuk membersihkan diri.
Malam harinya hujan menderas dan membasahi setiap jengkal tanah tempat berpijak manusia. Rama masih bergelung dengan tugas meskipun matanya sudah berat dan beberapa kali terlihat dia menguap. Tepat pukul 22.10 dia menutup buku lalu beranjak untuk beristirahat. Dinginnya malam membuai remaja bertubuh gempal itu masuk dalam alam bawah sadar.
Suara kicauan burung lovebird kembali mengusik rungu. Gegas Rama bangkit dan menyahut handuk untuk mandi. Pukul 06.15 dia sudah duduk manis menunggu Amaya selesai menggoreng nasi. Mata remaja itu berbinar saat sang ibu menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan bakso dan telur berwarna merah menggoda yang masih mengepulkan asap. Setelah merapalkan doa, dia pun menjejalkan makanan itu ke mulut.
“Hah ... nanas, Ma.”
“Makanya sabar dikit napa jadi orang.”
“Ulu-ulu, Ma.”
“Masih terlalu pagi, Ram. Selow aja selow.”
Rama meniup nasi gorengnya buru-buru lalu menjejalkan ke mulut. Tidak sampai lima menit piring itu bersih tak bersisa. Usai mencium tangan Amaya takzim, Rama bergegas melarikan motornya menuju kediaman Vanya. Dia meminta satpam untuk memberitahu gadis itu agar mereka bisa berangkat bersama. Tidak lama kemudian pintu gerbang terbuka dan muncullah seraut wajah yang berhasil membuat jantung Rama bertalu.
“Berangkat bareng, yuk!”
“Boleh.”
Vanya lantas membonceng dan mereka melaju menuju sekolah. Suasana sepi membuat keduanya leluasa untuk berjalan berdua sampai kelas masing-masing. Bukannya apa-apa, tetapi Rama tidak ingin memancing berbagai pertanyaan yang bisa menimbulkan kekisruhan di SMA Cahaya Kusuma ini. Sesampainya di kelas Vanya, Rama berhenti sejenak.
“Ntar pulang bareng lagi, ya? Tapi nunggu sepi dulu, gue malu diledekin orang.”
Vanya hanya mengangguk. Kali ini rambut panjang sepunggungnya sengaja diurai dan hanya dijepit di atas telinga sebelah kiri. Pipi gadis itu merona saat Rama tersenyum dan melambaikan tangan sebelum beranjak dari tempat. Remaja bertubuh gempal itu masih tersenyum kala duduk di bangkunya. Bahkan saat teman-teman satu kelas sudah mulai berdatangan, senyum itu belum lindap dari wajahnya. Hal tersebut menimbulkan tanya di hati kedua sahabatnya. Narendra sampai menyentuh dahi Rama lalu menempelkan di pantatnya.
“Anget, Da.”
“Ya iyalah anget, orang idup. Kalau dingin berarti udah metong.”
“Lo kenapa, Ram? Senyam-senyum sendiri. Obat lo enggak abis, kan?”
“Sialan lo, Ren. Dikata gue kurang setetes, hah?”
“Eits, sabar, Ram. Kita berdua cuma khawatir sama lo.”
“Iya-iya makasih udah khawatir sama gue. Gue baik, kok. Gue cu—“
Tiba-tiba guru mata pelajaran pertama masuk dan mengucapkan salam sehingga obrolan mereka terhenti dan mulai memasang mode fokus pada materi yang diajarkan. Rama sebenarnya ingin bercerita kepada kedua sahabatnya, tetapi urung karena dia takut dianggap hanya halusinasi semata. Oleh karena itu Rama akan memendam rasa itu sampai waktunya siap untuk mengungkapkan semuanya.
Siang itu hujan kembali mengguyur. Suara rintiknya menenangkan jiwa, menggetarkan sukma. Membuai angan dan melarutkan asa menggapai damai. Rama begitu menikmati jika hujan seperti ini, aroma tanah basah merelaksasi otak agar lebih tenang. Benar-benar tiada duanya semua ciptaan Sang Pencipta. Selalu sempurna mencipta lengkungan senyum dan syukur yang dipanjatkan dalam hati. Saat jam pelajaran berakhir, hujan masih juga belum reda. Namun, beberapa siswa memilih nekat menerobos. Hanya Rama yang masih bergeming di depan kelas, matanya awas memerhatikan setiap siswa yang keluar dari kelas Vanya. Saat melihat gadis itu, gegas dia melambai lalu menghampirinya.
“Nunggu agak redaan, ya? Gimana kalau kita ke kantin?”
“Boleh.”
“Kuylah!”
Mereka berjalan bersisian menuju kantin lalu memilih duduk di sudut yang jauh dari jangkauan pandangan karena terhalang oleh etalase dan showcase. Rama memesan bakso dan teh hangat, sedangkan Vanya hanya memilih jus jeruk hangat sebagai teman menghalau dingin yang membekap.
“Lo enggak apa-apa, kan, pulang agak telat?”
“Enggak apa-apa, Ram. Gue udah bilang, kok, sama ART di rumah.”
“Oklek. Ehm, dari kemarin gue belum tahu nomor HP lo. Boleh minta enggak?”
“Boleh. Apa, sih, yang enggak buat lo, Ram.”
Rama cengengesan lalu mengusap tengkuk, kemudian menyerahkan ponselnya kepada Vanya. Gadis itu segera mengetik dua belas digit angka dan mengembalikan kepada Rama. Setelahnya remaja bertubuh gempal itu menelepon sehingga muncullah deretan angka di layar ponsel Vanya.
“Itu nomor gue, jangan lupa disimpen, ya?”
Vanya hanya mengangguk lalu meneguk perlahan jeruk hangat di depannya, begitu juga Rama segera memakan bakso yang mulai dingin. Lima belas menit kemudian hujan menyisakan rintik, mereka pun nekat pulang karena hari mulai gelap.
Ah, romansa saat SMA memang menimbulkan getaran yang berbeda.

Komento sa Aklat (309)

  • avatar
    Syahfira Indah Ramadani Lubis

    sangat sukaa

    08/05

      0
  • avatar
    WidiastutiSilvia

    bagus

    17/06/2025

      0
  • avatar
    Farisya Maulida

    bagussss banget

    05/06/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata