Surat dari penggemar rahasia Rama sudah seminggu ini datang menyapa. Remaja itu diperam heran, siapa gerangan yang berani mengusik ketenangan jiwanya. Namun, kali ini dia tidak bercerita kepada kedua sahabatnya. Ketika sendirian, Rama berkali-kali membaca isi surat yang berisi ungkapan hati itu lalu mencium wangi vanila yang menyeruak indra penciuman. “Siapa yang udah bikin gue puyeng, ya? Hem, kayaknya kudu bikin sayembara ini. Kalau yang ngirim surat wanita akan aku jadikan pacar. Kalau yang ngirim surat lelaki ... ah, masa tulisan cakep begini laki yang nulis. Batal-batal sayembaranya, jadi parno kalau beneran laki yang ngirim. Hiii!” Rama bergidik membayangkan yang tidak-tidak. Dia segera melipat surat dan memasukkannya ke saku celana. Gara-gara surat kaleng itu, nafsu makan Rama menghilang sedikit. Catat, hanya sedikit dan berlangsung hanya sehari saja karena ketika berhadapan dengan mi ayam ibu kantin, air liurnya hendak menetes. Tanpa memedulikan kebingungan yang sempat mendekap, remaja itu langsung menyantap makanan hingga tandas tak bersisa. Saking kenyangnya, Rama serdawa sangat keras dan berhasil menarik perhatian beberapa pasang mata yang berada di situ. Dia tidak menghiraukan tatapan mereka, tetapi ketika Vanya yang tersenyum simpul sembari menutup mulut, Rama luar biasa malu. Mampus lo, tengsin gue diketawain Vanya. Mau ditaruh di mana muka gue? Taruh di dompet kurang gede, taruh di ember kegedean. Ya Salam pengen menyublim, deh, rasanya. Rama merutuk dalam hati, lalu beranjak untuk membayar makanan. Setelahnya dia berlari menuju perpustakaan untuk menemui Narendra. “Lo kenapa, Ram? Kayak abis dikejar setan aja.” “Ini lebih seram daripada setan, Ren. Gue dikejar-kejar sama malu. Diketawain orang satu kantin. Tengsin gue.” “Ah, lebay lo.” Rama pun segera mengambil sebuah buku lalu mendirikan agar menutupi aksi tidur siangnya. Tidak lupa dia berpesan agar dibangunkan dan tidak ditinggal seperti tempo hari. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, Rama sengaja mencengkeram lengan Narendra. Erangan kesakitan yang meluncur dari mulut sang sahabat tidak dia indahkan. Sepuluh menit berlalu, Rama terbangun setelah Narendra menggelitik pinggang remaja itu. Dia bangkit dan mengembalikan buku lalu setengah berlari menyusul sang sahabat. “Pulang sekolah ke rumah lo lagi, ya, Ren?” “Dih, lo modus, ya?” “Modus apaan?” “Modus makan gratis plus pulang bisa bawa camilan.” “Tahu aja lo, Ren. Mama gue akhir-akhir ini sering lembur. Masa tiap hari gue makan mi lagi mi lagi tiap malem. Mau beli, tapi porsinya kurang banyak. Maklum gue, kan, masih dalam masa pertumbuhan.” “Makan aja yang lo pikirin, Ram. Badan udah segede gaban, itunya ikut gede juga apa enggak?” Narendra melihat ke bagian bawah perut Rama sembari menaikturunkan alisnya. Rama yang mengikuti arah pandangan mata Narendra spontan mengempit paha lalu menutup pangkal pahanya. Suara gelak tawa sang sahabat memancing geram Rama. Refleks remaja bertubuh gempal itu menggeplak bahu sang sahabat sehingga membuatnya mengerang kesakitan. “Vangke lo, Ren.” “Aduh, sakit tahu, Ram.” “Sukurin! Emang enak. Salahnya sendiri napa bawa-bawa ukuran anu gue.” Narendra cengengesan menanggapi ucapan Rama. Remaja bertubuh gempal itu tahu sang sahabat hanya bercanda, dia tidak benar-benar meledek karena itu Rama selalu nyaman berteman dengan Narendra dan juga Arda. Saat berjalan ke kelas sembari merangkul Narendra, dari arah depan tampak Vanya berjalan menuju ke arah Rama. Remaja bertubuh gempal itu salah tingkah. Dia mengusap tengkuk sembari melemparkan senyum canggung lalu menunduk kala Vanya melewati mereka. Narendra yang mengetahui hal tersebut hanya mampu mengulum senyum. Kelas tampak riuh karena jam pelajaran kosong, tetapi Rama sibuk menulis sesuatu di buku. Sikapnya itu menarik atensi Narendra dan Arda. “Serius amat, Ram. Nulis apaan?” “Kepo lo berdua.” “Hilih, palingan juga nulis surat cinta. Kuno lo, ngomong langsung depan orangnya kalau berani. Iya enggak, Da?” “Yoi, Ren.” Arda dan Narendra melakukan tos tangan lalu sibuk mengobrol dengan teman lainnya. Rama tampak tidak peduli. Dia masih menekuri tulisan di depannya lalu kembali membaca setiap deretan kata yang dia ciptakan. Remaja bertubuh gempal itu diliputi rasa penasaran siapa sebenarnya yang telah mengiriminya surat setiap pagi. Oleh karena itu dia memberanikan diri untuk mengajak sang pengiri surat bertemu sepulang sekolah di tempat parkir. Dia pun melipat surat tersebut lalu meletakkan di laci meja. Senyumnya terkembang karena besok akan bertemu dengan sang pengagum rahasia. Sepulang sekolah, Rama dan Arda sudah berada di rumah Narendra. Mata remaja bertubuh gempal itu berbinar saat melihat hidangan yang tersedia di meja makan. Air liurnya hampir saja menetes bila Arda tidak menyenggol lengan dia dan memberitahu untuk duduk. “Kuy kita santap!” “Hasek, enggak salah gue ke mari hari ini.” “Buset, perasaan emang tiap hari lo makan di sini, kan, Ram.” Mereka tergelak sejenak lalu membaca doa dan mulai menyantap makanan dengan lahap. Setelahnya mereka memilih bermain game dari pada basket. Rama yang rebahan di kasur perlahan memejamkan mata karena kantuk yang mendera. Suara teriakan kedua sahabatnya bagai angin lalu. Remaja itu makin pulas dan larut dalam belaian mimpi. Langit menjingga kala Rama menggeliat lalu membuka mata. Dia tergagap saat mendapati kedua sahabatnya tidak ada di kamar. Gegas dia bangkit dan turun ke lantai satu. Ketika menuruni tangga, Rama bertemu dengan adik perempuan Narendra, Nareswari. “Res, Naren ke mana?” “Main basket sama Kak Arda di depan.” “Oklek, tengkyu.” Rama setengah berlari menuju halaman depan di mana kedua sahabatnya sedang bermain basket. Namun, ketika sampai di sana, mereka sedang duduk di bawah ring basket sembari menenggak air mineral. “Rese lo berdua, gue kenapa enggak dibangunin?” “Salah sendiri ngebo. Gue sama Arda udah bangunin lo, ya? Eh, cuma uget-uget abis itu tambah pules.” “Sorry, abis ngantuk berat.” “Dasarrr!” Mereka tergelak bersama. Akhirnya Rama dan Arda memutuskan untuk pamit setelah langit benar-benar menggelap. Rama memacu kendaraan dengan kencang agar sampai di rumah sebelum Amaya sampai. Namun, wanita itu ternyata sudah menunggu sembari bersedekap di ambang pintu. Dia mendengkus kesal kala melihat si bungsu muncul sembari cengengesan. Tak ayal tangan wanita itu terulur untuk menjewer Rama, tetapi remaja bertubuh gempal itu mengelak dan langsung berlari masuk kamar. “Ramaaa!” Remaja itu terkekeh sembari mengunci pintu lalu beranjak untuk membersihkan diri. Setelahnya dia menunaikan salat Magrib dan mulai menekuri tugas yang diberikan guru hari ini. Tiba-tiba suara pintu diketuk membuatnya menoleh. “Masuk, Ma!” “Dikunci, Ram!” Rama dengan malas berjalan untuk membuka pintu, tetapi matanya langsung berbinar saat melihat Amaya membawa sepiring mi goreng. “Buat Rama, Ma?” “Kagak, punya kamu ada di meja, tuh. Lagi ngapain? Tumben enggak nanyain makanan?” “Hehehe. Tugas numpuk, besok ulangan harian pula. Tadi udah makan di rumah Naren, sih.” “Jadi kagak mau, nih?” “Maulah. Makan dulu baru belajar, deh.” “Awas, jangan ngorok! Be-la-jar.” “Siap, Mama.” Remaja itu gegas menghampiri meja makan lalu menyantap mi goreng dengan cepat. Setelah menenggak segelas air putih dia kembali ke kamar dan mulai belajar. Tepat pukul 22.05 dia selesai dan segera menunaikan salat Isya sebelum bergelung di balik selimut. Hujan malam ini membuat suasana makin dingin, Rama makin lelap menjemput mimpi. Jika ada yang terus berlari tanpa bisa dipegang adalah waktu, maka Rama merasakan hal tersebut. Jam terus berputar meninggalkan jejak tak bertepi saat bel tanda pulang berbunyi nyaring. Rama sengaja menolak ajakan kedua sahabatnya untuk bermain game hari itu. Dia ingin menjumpai sang penggemar rahasia. Remaja itu yakin dia sudah membaca balasan surat karena benda itu sudah tidak ada di laci. Dengan jantung yang terus bertalu, Rama berjalan menuju tempat parkir. Suasana sekolah sudah sepi, hanya ada satpam dan beberapa siswa yang tinggal karena mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Sesampainya di sana, tampak seorang gadis dengan kuncir kuda sedang celingukan. Angin bertiup membawa aroma vanila yang diembuskan dari tubuhnya. Rama makin yakin dialah sang pengagum rahasia itu. Tangan remaja bertubuh gempal itu terulur untuk meraih bahu sang gadis. Tiba-tiba gadis itu berbalik dan membuat mereka terkejut. “Vanya?”
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat sukaa
08/05
0bagus
17/06/2025
0bagussss banget
05/06/2025
0Tingnan Lahat